
Hal yang tak terduga benar-benar telah terjadi. Kak Aira menciumku dengan bibirnya yang lembut itu.
Aku terkejut dengan kelakuannya, saat aku ingin melepaskan bibirku darinya, dia malah memegang kepalaku dan mulai main lidah.
Rasa manis, lembut, dan basah menjadi bukti mutlak kalau kak Aira benar-benar nafsu padaku.
Aku ingin melepaskannya, tapi aku takut membuat keributan dan membuat seisi perpustakaan terganggu dengan aksi kak Aira yang berani ini.
Setelah beberapa saat, akhirnya kak Aira melepaskan bibir dan lidahnya dariku. Wajahnya cantik dan nafasnya yang berat membuatnya terlihat mempesona.
Dalam sekejap aku memalingkan pandanganku darinya. Melihat reaksiku, kak Aira langsung memegang daguku dan mengarahkan kepalaku ke wajahnya.
......................
^^^"Ris, gimana rasa bibirku?" Tanya kak Aira.^^^
"Ti..tidak ada rasa apapun!"
^^^"Benarkah! Lalu kenapa wajahmu memerah begitu?"^^^
"Aku hanya-" ucapanku terpotong.
^^^"Jangan beralasan kalau kamu kepanasan! Karena disini hawanya sangat sejuk."^^^
"Aku terkejut dengan kelakuanmu yang tadi!"
^^^"Apa aku terlihat cantik di pandanganmu?" ucap kak Aira sambil menatapku dengan senyuman manisnya.^^^
"Iya kak, kamu cantik! Berhentilah bertanya hal-hal seperti itu!" ucapku sambil tersipu.
^^^"Kenapa harus berhenti? Kita masih punya waktu yang panjang di perpustakaan ini."^^^
"Kak, bukannya kau sudah berjanji pada bu Siska untuk tak melakukan hal seperti tadi?"
^^^"Iya, aku memang berjanji seperti itu."^^^
"Lalu kenapa kau mengingkarinya?"
^^^"Karena pesona dan penampilan tampanmu yang membuatku melanggarnya!^^^
"Ha?"
^^^"Dari awal kita bertemu, jujur saja aku sudah tertarik padamu. Bahkan sampai sekarang, perasaanku masih belum berubah."^^^
"Kak, kau ini bicara apa sebenarnya?"
^^^"Aku masih mencintaimu Ris! Apa kamu tak ada rencana berpindah hati padaku?"^^^
"Tidak! Bahkan aku belum memikirkannya."
^^^"Kok gitu! Padahal aku selalu memikirkan dirimu lho!"^^^
"Maaf, tapi aku tidak punya luang untuk memikirkanmu!"
......................
Ekspresi kak Aira berubah, wajahnya terlihat kesal dan kecewa. Lalu dia berdiri dan berpindah kesampingku.
Dan tiba-tiba saja, kak Aira mendorongku dan menahanku. Setelah itu dia melepaskan kancing bajunya satu per satu.
......................
"Kak, apa yang kau lakukan? Tutup kembali kancing bajumu itu!" ucapku sambil panik.
^^^"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"^^^
__ADS_1
"Bukan begitu! Ini perpustakaan, kalau ada yang melihat gimana nanti!"
^^^"Berarti kalau bukan perpustakaan, kamu main gini sama aku?"^^^
"Tidak, bukan begitu juga kak!"
^^^"Lalu kamu ini maunya gimana? Jangan bikin aku bingung!"^^^
......................
Kak Aira mulai kehilangan kendali dan akal sehatnya. Nafasnya yang berat dan wajahnya yang terlihat nakal menjadi bukti yang mutlak.
Lalu dalam sekejap, kak Aira kembali menciumku. Kali ini dia benar-benar agresif padaku. Tangannya yang lembut itu telah masuk ke dalam bajuku, ditambah dadanya yang terlihat karena kancing bajunya telah dilepas tadi.
Kak Aira tak peduli dengan sekitarnya, dia hanya terpaku dengan nafsunya sendiri. Aku sulit lepas darinya, karena posisiku sangat tak menguntungkan. Dan jika aku pakai kemampuanku, pasti akan menyebabkan keributan.
Tak lama kemudian, terdengar langkah yang mendekat ke arahku. Menyadari hal itu, aku langsung menjauhkan kak Aira dengan sedikit tenaga.
Dan saat orang itu datang, aku dan kak Aira bertingkah seperti tak terjadi apa-apa. Orang itu ternyata merupakan rekannya kak Aira, dia kesini untuk mencari dan berbicara dengan kak Aira.
Jujur aku sangat bersyukur, jika bukan karena orang itu, aku pasti sudah kehilangan keperjakaanku.
......................
Setelah aku menyelesaikan dokumen, aku langsung pergi dari perpustakaan.
Singkat cerita aku masuk kelas dan mengikuti pelajaran hingga selesai. Dan saat aku mengemasi barang-barangku, Tina memegang tanganku dan mulai berbicara padaku.
......................
^^^"Ris, hari ini kamu ada waktu kan?" Tanya Tina.^^^
"Kenapa kau tanya seperti itu? Apa kau ingin aku menemanimu ke kafe lagi?"
^^^"Bukan itu! Yang ini berberda!"^^^
^^^"Pokoknya nanti kamu tahu sendiri kalau setuju!"^^^
"Kalau begitu, aku takkan setuju"
^^^"Ayolah! Kumohon!"^^^
"Tidak akan!"
^^^"Kalau kamu nggak mau, aku akan agresif padamu di kelas ini!"^^^
"Mengancam sekalipun takkan mengubah keputusanku!"
......................
Lalu Tina mendekat padaku dan mulai memelukku, setelah itu dia berniat menciumku dihadapan penghuni kelas.
"Hei, berhentilah! Kau gila!" ucapku sambil menutup bibirnya.
^^^"Aku nggak akan berhenti kalau kamu belum setuju!" ucap Tina sambil memegangi tanganku.^^^
"Apa! Kau gila!"
^^^"Setuju atau tidak?" ucap Tina sambil memegangi pipiku.^^^
"Ti..tid-" Ucapanku terpotong.
^^^"......." Tina mulai mendekatkan bibirnya padaku.^^^
"Baiklah! Baiklah! Aku setuju!" ucapku dengan terpaksa.
__ADS_1
^^^"Baiklah kalau begitu, tunggu aku di depan gerbang kampus ya!" ucap Tina sambil berjalan pergi.^^^
"Ha? Kau mau kemana?"
^^^"Ra-ha-si-a sayang!"^^^
......................
Lalu Tina pergi meninggalkanku dengan wajah cerianya. Tak kusangka dia berani melakukan hal itu hanya demi keegoisannya sendiri.
Apa semua wanita akan melakukan itu demi keegoisannya? Tidak, mungkin itu hanya berlaku untuk Tina saja menurutku.
Lain kali, aku harus memikirkan cara agar bisa lolos dari serangan Tina suatu saat nanti.
......................
Singkat cerita, aku menunggu Tina di depan gerbang. Sudah satu jam Tina tidak keluar, padahal aku sudah meneleponya agar tidak membuatku menunggu lama.
......................
^^^"Apa kamu sudah lama menunggu?" Ucap Tina dari belakang.^^^
"Sangat lama! Sebenarnya kau ini ngapain aja sih!" Ucapku sambil menoleh kearahnya.
Lau saat menoleh, aku terkejut dengan penampilan Tina kali ini, dia terlihat cantik dengan pakaian yang dia pakai. Aku bahkan sampai terkagum dengan penampilan barunya ini, hingga memandanginya selama beberapa detik.
^^^"Ris? Apa kamu baik-baik aja?" Tanya Tina.^^^
"I..iya, aku baik-baik saja!"
^^^"Apa aku terlihat aneh dengan baju ini?"^^^
"Tidak aneh kok, malahan kau terlihat cantik!"
...Lalu Tina tersenyum manis....
^^^"Kira-kira cantikan mana antara aku dan bu Siska?"^^^
"Tidak tahu!"
^^^"Kok tidak tahu sih! Kamu kan punya mata, seharusnya kamu bisa menilai dong!"^^^
"Daripada kau berbicara tidak jelas begitu, lebih baik kau jelaskan tujuanmu mengajakku."
^^^"Kau benar! Ayo ikut aku dulu! Nanti akan kujelaskan saat perjalanan." Ucap Tina sambil menarik tanganku^^^
......................
Lalu saat perjalanan, Tina menjelaskan kalau hari ini adalah ulang tahun ibunya yang sedang sakit. Ibunya ingin melihat bahwa putri kesayangannya tidak suram dan dibenci oleh teman-temannya seperti saat SMA dulu.
Dan itulah kenapa Tina mengajakku sebagai bukti mutlak pada ibunya.
Tak terasa kami sudah sampai dirumah ibunya, aku menarik nafas dan membulatkan tekadku ini.
Dan saat aku dan Tina masuk, ibunya telah menunggu di depan pintu. Lalu saat itu pula, Tina memeluk ibunya dengan erat. Dan tentu saja, aku hanya melihat dari belakang saja.
Lalu ibunya Tina bertanya tentang siapa aku.
^^^"Nak, kamu siapa?"^^^
"Oh aku Risan, aku adalah-" ucapanku terpotong.
"Dia pacarku bu!" Ucap Tina dengan bangganya."
^^^"He! Sungguh!"Ibunya Tina terkejut.^^^
__ADS_1
"Iya bu!" jawab Tina.