
Bu Siska dan kak Aira benar-benar terkejut setelah melihat tubuhku kembali seperti sedia kala. Padahal kemarin aku benar-benar penuh luka di tubuhku.
Lalu kak Aira mendekat padaku dan memastikan keadaan tubuhku. Apakah lukaku benar-benar sembuh atau tidak.
......................
"Kak Aira, apa yang kau lakukan?" Ucapku.
^^^"A..aku hanya memastikan seluruh luka yang ada di tubuhmu ini." Ucap kak Aira.^^^
"Aku sudah sembuh kak! Jadi berhentilah meraba-raba tubuhku! Itu geli tahu!" Ucapku.
^^^"Benarkah! Kalau begitu, rasakan ini!" Ucap kak Aira sambil menggelitik tubuhku.^^^
"Ahahahaa...hahaha.. Kak berhentilah! Hahaha." Aku tertawa.
"Aira, berhentilah menjahilinya! Cepat makan! Nanti kita bisa telat kerja." Ucap bu Siska.
^^^"Kenapa aku harus makan, kalau kakak saja tidak mau memberikan dia padaku." ucap kak Aira.^^^
"Pacar kakak bukanlah barang! Mana mungkin kakak memberikannya padamu!" Ucap bu Siska.
^^^"Kalau kakak tidak mau memberikan dia padaku, maka akan merebutnya dari kakak!" Ucap kak Aira.^^^
"Kalau kamu bisa, coba rebutlah!" Ucap bu Siska.
^^^"Kenapa kakak bisa berani mengatakan itu?" Tanya kak Aira.^^^
"Karena aku tahu, kalau dia bukanlah tipe berhati lemah." Ucap bu Siska.
^^^"Berhati lemah? Apa maksudnya itu?" Tanya kak Aira.^^^
"Dengan kata lain, dia sosok yang setia!" Ucap bu Siska.
^^^"Kakak, kurasa kau terlalu percaya padanya!" Ucap kak Aira.^^^
"Benarkah? Kalau begitu, kau boleh membuktikannya." Ucap bu Siska.
......................
Lalu kak Aira langsung menatapku, dan dengan cepat aku memalingkan pandanganku sambil makan.
Kak Aira masih menatapku dengan wajah penuh rencana. Aku takut kalau dia akan menjebakku dan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang buruk.
Lalu kak Aira tersenyum manis dan dia langsung kembali makan dengan wajahnya yang penuh tipu muslihat.
Singkat cerita, setelah makan kak Aira dan bu Siska berangkat ke kampus. Dan aku juga langsung pulang dengan melompati atap-atap rumah setelah mereka sudah jauh dari pandangan.
...-----...
Sesampainya di rumah, aku melihat kak Mila yang sedang mengunci pintu rumah. Untuk sementara waku, aku berdiam dulu di atas pohon sampai kak Mila pergi.
Tapi siapa sangka, kak Mila menoleh kearah pohon tempat aku bersembunyi. Dengan cepat aku langsung menunduk di balik ranting-ranting pohon.
Kak Mila benar-benar masih menatap ke arah pohon yang kubuat sembunyi. Jujur saja aku mulai kecapekan dengan posisi sembunyiku yang unik. Karena aku hanya bertumpu pada beberapa ranting saja.
Tak lama setelah itu, Kak Mila memalingkan pandangannya dan langsung masuk ke mobil untuk berangkat kerja. Lalu tiba-tiba saja ranting yang kupakai untuk bertumpu patah, seketika aku langsung jatuh dari pohon tersebut. Untung saja kak Mila telah pergi jauh dengan mobilnya.
Kemudian aku berjalan masuk ke rumah. Tiba-tiba dari belakang, ada seseorang memanggilku. Dan saat aku menengok, ternyata bu Karin yang memanggilku.
...----------------...
^^^"Ris!"^^^
"Iya, ada apa bu?"
__ADS_1
^^^"Bisakah kau kesini sebentar! Aku perlu bantuanmu!"^^^
"Iya, aku akan kesana."
...Lalu aku berjalan ke rumahnya....
"Ada perlu apa bu?"
^^^"Bisakah kau pasangkan lampu-lampu ini! Aku tidak bisa memasangnya karena takut jatuh nanti."^^^
"Baiklah bu, biar kupasangkan sebentar."
......................
Lalu saat aku memasang lampu di beberapa ruangan, bu Karin terus menatapku dari bawah sana. Dia menatap ke arah tubuhku yang terlihat, jujur saja itu membuatku malu.
Dan saat aku turun dari tangga, kakiku salah menginjak anak tangga, jadi aku terjatuh.
Dan pada saat yang bersamaan, bu Karin malah bergerak dari posisinya untuk menangkapku.
..."Bhukkk!"...
Untung saja kami jatuh ke sofa. Jadi tidak ada benjolan di kepala nanti.
Tapi masalah utamanya, aku terjatuh tepat di dada bu Karin. Saat aku sadar dengan apa yang kutindih dengan kepalaku. Aku langsung berdiri dengan cepat, tapi bu Karin malah mengalungkan tangannya di belakang leherku. Dan wajah cantiknya mulai berubah.
......................
"Bu, apa yang kau lakukan? Bisakah kau melepaskan tanganmu dariku?"
^^^"Kenapa terburu-buru begitu! Kita santai aja dulu disini."^^^
"Tapi posisi ini sangat berbahaya jika ada yang melihat nanti."
^^^"Apanya yang berbahaya? Dan siapa yang akan melihat ini?"^^^
^^^"Kalau begitu, kamu mau nggak jadi suamiku? Aku mau kok punya suami tampan dan seksi sepertimu."^^^
"Hahaha.. Ibu ini suka bercanda!" Ucapku sambil berusaha melepaskan diri.
^^^"Hahaha.. Tapi aku serius lho! Dan jangan harap kamu bisa lepas dariku!" Ucap bu Karin sambil mengencangkan tangannya dan melilitkan kakinya ke tubuhku.^^^
"Bu, lepaskan aku! Aku belum siap untuk menikah, karena aku masih suka dengan masa mudaku."
^^^"Hahaha.. Nggak perlu khawatir, masa mudamu akan meriah saat bersamaku."^^^
"Meriah itu hanya untukmu, tapi suram bagiku!"
^^^"Ngomong-ngomong kamu tahu nggak yang namanya malam pertama?"^^^
"Aku tidak tahu, tahu sekalipun aku takkan membahasnya."
^^^"Karena kamu sudah tahu, gimana kalau kita bermain ritual malam pertama?"^^^
"Ha? Apa maksudmu dengan bermain? Lagipula aku ini bukan suamimu!"
^^^"Tidak apa-apa, kan kita cuma bermain. Jadi ok ok aja!" ucap bu Karin sambil tersenyum manis."^^^
"Apanya yang bermain, itu namanya ngeseks."
...----------------...
Dengan usaha yang keras, aku lepas dari pelukan bu Karin. Lalu aku berlari keluar dan menjauh darinya.
Namun itu sia-sia, karena bu Karin juga tak tinggal diam, dia langsung melompat dari sofa dan menangkapku dengan cepat.
__ADS_1
Lalu dia langsung meciumku dengan brutal, setelah itu dia mendorongku ke dinding sambil menahan kedua tanganku.
"Uummmmm...Uhmm..Uuhhmm..mmm." Bu Siska benar-benar tidak melepaskanku. Bahkan lidahnya tak berhenti bergoyang di dalam mulutku.
Setelah itu dia mulai bertindak nakal padaku.
......................
^^^"Ayo Ris, lepaskan celanamu ini!"^^^
"Hei..hei.. Tidak boleh!
^^^"Nggak usah malu gitu, kita hanya main adegan malam pertama."^^^
"Sudah kubilang itu namanya ngeseks, dan jangan lampiaskan nafsumu padaku."
...----------------...
Lalu aku menjauhkannya dariku dan langsung berlari keluar.
"Maaf bu, aku tahu kau kesepian dan butuh sentuhan pria. Tapi aku belum siap untuk itu! Jadi kau bisa lakukan pada calon suamimu nanti." ucapku sambil berlari meninggalkannya.
Dan akhirnya, aku berlari hingga ke rumah dan langsung masuk sambil mengunci pintunya.
"Hah..hah..hah." Nafasku terengah-engah.
"Ya ampun, tak kusangka dia begitu agresif. Kalau aku terlambat sedikit saja, mungkin aku sudah kehilangan keperjakaanku."
"Seingatku, aku pernah mengubah ingatanya. Tapi kenapa tetap sama saja? Mungkin ini bukan masalah dari ingatannya, melainkan memang hasrat asli dari lahir."
"Lain kali aku akan waspada dan menjaga jarak darinya."
......................
Lalu saat aku hendak masuk ke kamar, hpku berdering. Dan saat kulihat, ternyata Tina yang meneleponku.
"Halo Tina, ada apa kau meneleponku?"
^^^"Kamu nggak masuk kampus lagi kenapa? Kamu sakit?"^^^
"Tidak, hanya kelelahan saja. Jadi aku butuh istirahat."
^^^"Ngomong-ngomong besok kamu ada waktu nggak?"^^^
"Iya ada, memang kamu mau apa?"
^^^"Besok kamu ikut ya!"^^^
"Kemana?"
^^^"Udah nurut aja! Nanti aku kasih tahu setelah ketemu besok."^^^
"Kuharap kau tidak melibatkanku pada masalahmu kali ini."
^^^"A..hahaha..haha.. Mana ada!" Tina menjawab dengan nada yang tidak meyakinkan.^^^
"Aku mencium bau masalah, kupikir aku tidak akan ikut denganmu."
^^^"Ha! Mana bisa gitu! Pokoknya besok, pulang kampus ikut aku! Dan tidak ada alasan apapun untuk menolak."^^^
......................
Lalu Tina langsung mematikan teleponnya.
Aku curiga kalau Tina akan menggunakan ku sebagai tameng untuk masalahnya besok. Apa aku harus libur lagi besok?
__ADS_1
Tidak-tidak, kak Mila akan curiga nantinya kalau aku tidak berangkat kuliah. Kurasa cara yang paling efektif adalah lari dari Tina jika ada kesempatan.