
"Apaan sih loh kegeeran tingkat tinggi amat." ucap Melena.
"Duh, kenapa pake bertengkar lagi sih." gumam Amanda.
"Kenapa rame banget yah di ruang musik. wah, wah!!! kayaknya ada peperangan sengit antara wanita nih. Mendingan usah sana dehhh," ucap Leon yang sudah ada depan ruang musik. hanya beberapa langkah kaki saja untuk mencapai ke ruang musik, tapi Leon melihat ada gaduhan dari empat wanita itu, jadi ia urungkan niat-Nya ke sana.
"Tunggu, bukannya itu wanita yang menendang bokong ku sembarangan tadi. Uh, kita ketemu lagi. Aku ingin sekali memberi pelajaran padanya," ucap Leon menatap tajam ke arah Melena. Raut wajah Leon terlihat jelas jika ia amat kesal sama si wanita itu.
" kalian?!, len yuk kita pergi." ucap amanda sudah tidak tahu mau ngapain, terpaksa ia menyuruh Melena untuk pergi. Ia tarik tangan Melena , " Len!!!." panggil amanda lagi.
Ia hempaskan tangan amanda yang memegang pergelangan tangan kanannya. "Bentar deh amanda, aku mau beri mereka berdua ini pelajaran. Mereka udah keterlaluan, aku muak tahu." ucap Melena menatap wajah amanda dengan wajah yang tidak senang akan yang amanda suruh . Amanda hanya bisa memohon dengan wajah memelas, tapi Melena tak mengubis Amanda.
"Ckckck, lihat betapa pengecut-Nya si Amanda." ucap Kesya.
"Iya, kes!!!. Apalagi...lihat. emang dia bisa ngpain kita. Paling hanya Nyelonyot doang," ucap Tiara.
"Denger kalian yah," bentak Melena berbalik badan menatap wajah kedua perempuan itu dengan kesal yang amat kesal.
" Ohw, Ohw... Lihat ada yang marah nih!!." ucap Kesya yang pura pura takut.
"Ihhh, jadi takut dehh." sambung Tiara.
"Tapi bohong, hahahahahaha." ucap Tiara dan Kesya secara serempak. Melena kesel melihat tingkah laku mereka dan segera maju kehadapan mereka dengan sambil mengangkat satu tangan kanan , menunjuk jari manis ke dua perempuan itu.
"Kalian yah, benar benar. Tak punya etika bicara." ucap Melena yang marah mengebuh-ngebuh di dalam dirinya.
"Emang siapa dirimu, mengatur urusan kami. Kami tetaplah diri kami, maka dari itu urus etika mu sendiri. Bukannya cara bicara mu sama sahaja yakk." ucap Tiara yang gak mau kalah.
"Benarkah..." ucap Melena tersenyum jahat. "Kalau begitu ayo buktikan."
__ADS_1
"Hey, Wanita." ucap Leon yang menarik tangan kanan Melena dan itu sponton membuat mereka saling menghadap mata satu sama lain.
Tepat saat itu juga Kelvin keluar dari Ruang musik, "Kalian kenapa ribut ribut disini." ucap Kelvin yang baru keluar, ia masih memegang knop pintu itu dan menarik pintu ruang musik hingga tertutup rapat.
Sponton kata kata yang keluar dari mulut Kelvin itu membuat Tiara, Kesya, maupun Amanda berbalik melihat sosok bagaikan malaikat dimata. Sedangkan Melena dan Leon masih sengit menatap mata tidak suka, dan menganggap kata kata Kelvin seperti angin lewat sahaja.
"Ah, kami hanya lewat saja. Tapi tidak tahu mengapa wanita aneh ini dan si Amanda tiba tiba mengajak ribut." ucap Kesya yang bohong, kata katanya terlalu manis dan manja jika di denger. Ia menunjuk Melena dan Amanda, sebagai tersangka bersalah.
"Kes, bukannya yang kau katakan itu seperti tebalik. Kita loh yang ngajak ribut duluan, bukan mereka.kau sakit yah!!!." ucap Tiara .
"Tiara... Is. Kau ini, gak bisa apa kau itu jaga ucapan mu." ucap Kesya menatap tajam ke Tiara, kata kata suaranya kecil hanya dia dan Tiara yang bisa mendengar. "Kau goblok setera mu, tapi jangan bawa kegoblokan mu itu di situasi yang sama sekali merugikan,kau paham tak."
"Ohw, gitu. Aku sama sekali gak tahu Kes, kau tak membilangi diriku. Dan aku hanya mengatakan kebenaran," ucap Tiara yang amat bodoh. Ia sama sekali belum paham apa yang dimaksud Kesya.
"Astga, kau itu Tiara." ucap Kesya sudah pusing melihat betapa gobloknya Si temannya Tiara.
"Kau" ucap Melena dan Leon serempak.
Ia hempaskan pergelangan tangan yang digenggam oleh Leon dengan kasar, " Berani sekali kau menyentuh ku pria. Belum puas kah, kau?! apa yang ku lakukan padamu tadi." ucap Melena menatap manik mata hijauh Leon dengan tatapan tak suka.
"Dan kau...wahai wanita, berani sekali kau menyentuh bongkong kesyangan ku." ucap Leon membalas tatapan tajam Melena padanya.
"Kau tidak sadar kah, kau sendiri yang salah. Itulah yang pantas kau Terima, sepertinya otak mu bermasalah. Apa perlu kita beda isi otak mu itu." ucap Melena dengan wajah kesal.
"Gasar *****." ucap Leon.
"Gasar pria Playboy." ucap Melena tak kalah.
Kini Melena dan Leon melontarkan kata kata yang menyinggung diri sendiri satu sama lain. Diantara dua orang ini tak ada yang mau kalah sama sekali, posisi mereka berdua sedang menghada- hadap tubuh satu sama lain. dengan satu tangan terangkat saling menunjuk pada diri mereka. Raut wajah dari kedua orang ini menunjukan tidak suka sama sekali dengan kata kata yang mereka katakan.
__ADS_1
Kelvin yang melihat sosok wanita yang ditunjuk Kesya seketika kaget bercampur senang karena ia bertemu lagi dengan wanita ini. Udara disekitar mereka terasa terhenti, kini Kelvin menatap tajam lekat manik Ungu amanda. Mereka berdua saling menatap lagi untuk ketiga kalinya. Dan ketiga kali lagi mereka berdua bertemu, apakah ini bisa di sebut jodoh masa depan kita.
"Apa dia juga .., apa kami sekampus?!. Itu sangat bagus jika dipikirkan. Ah, Kelvin apa yang kau pikirkan." batin kelvin beradu debat dipikirannya, tatapan-Nya masih mengaarah ke amanda, ia sama sekali gak ada alihan dari dua orang yang sedang melihat mereka.
"Duh, ada apa dengan detak jantung ku hari ini. Kenapa berdebar debar yah." batin Amanda. " kenapa setiap kali melihatnya, hati ku berbunga bunga."
Kesya maupun Tiara saling tatap menatap, melihat tingkah Dari ke empat orang ini. " Apa mereka sudah saling mengenal " itulah kata-kata yang terucapkan oleh kedua perempuan itu. Dan baru beberapa saat mereka menggeleng gelengkan kepala mereka pertanda tidak setuju. Tapi kemungkinan pasti adalah IYA .
"Yah, teman teman mu tadi datang." ucap Mama angkat Lestia dari seberang telepon.
"Terus, kenapa Bunda memperlakukan mereka seperti itu." ucap Lestie dari seberang telepon.
"Kamu tahu kan Bunda gak suka orang kayak gitu." ucap mama angkat Lestie.
"Tapi mereka beda Bund, mereka baik dan yang terutama adalah mereka teman aku." ucap Lestie tak Terima akan yang diucapkan mama angkagnya itu.
"Teman tidak bisa dipercaya. Apa kamu ingat dulu." ucap mama angkat Lestie, Lestia yang dia seberang telepon hanya diam tak merespon.ia tak tahu mau berakta apa, antara bimbang dan yakin itulah yang di terpikirkan di otak kepalanya. "Sudah bunda matikan sambungan teleponnya . jaga ibunu baik baik di sana!!!." ucap Mama angkat Letis.
__ADS_1