Illusion Various Love

Illusion Various Love
Chapter:44


__ADS_3

Nyonya Mahendra melihat anaknya yang tengah menangis sambil berlari menuju kearah kamarnya. Ia melihat Welly, mengisyaratkannya agar menyusul ke kamar Tara. Welly mengerti dari tatapan sang mama, Ia pun berjalan pergi meninggalkan orang orang yang mengalami kegalauan hati diruang keluarga.


"Mah, tenangkan hatimu. Mama jangan terlalu banyak berfikir, atau penyakit mama kambuh lagi." Ucap Nyonya Mahendra menenangkan ibu mertuanya yang lagi syok sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


"Nenek, nenek tidak apa apa kan?!." Tanya Amaranta yang khwatir melihat keadaan sang nenek. Ia pun menghampiri neneknya, memegang erat tangannya. "Maafkan Amaranta nek, ini semua salah Amaranta. Seharusnya Amaranta tidak pergi tanpa pamit. Amaranta janji, Amaranta bakal tidak pergi kemana pun tanpa persetujuan dari nenek dulu." Tambahnya, "Tapi nenek juga harus janji, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting dan nenek harus jaga kesehatan mu nek!!."


Sang nenek pun terseyum mendengar ucapan dari cucunya. "Iya sayang nenek janji, nenek hanya tidak habis pikir bagaimana Tara,..." Ucap sang nenek.


"Nek...nenek, aku harap nenek tidak menyalahkan kesalahan sepenuhnya pada Tara. Ini juga salah Amaranta nek." Ucap Amaranta, yang dibalas anggukan sang nenek. "Gasar kau Tara tengik, kau membuat nenek ku seperti ini, akan ku balas perbuatan mu." Timpalnya dalam hati penuh kebencian pada Tara.


"Syukurlah, masalah tidak menjadi perpanjangan." Batin nyonya Mahendra terseyum senang melihat Amaranta sudah bersikap dewasa. Nyonya Mahendra awalnya takut, sikap keegoisan Amaranta tidak bisa bersikap leluasa dan berfikir jernih, akibat kasih sayang dari sang nenek berlebihan. Tapi dugaan yang salah, ia melihat sendiri jika anak perempuannya kini sudah bisa bersikap dewasa.


"Kalau gitu Amaranta, ke kamar duluan yah nek. Mah, tan..." Pamit Amaranta.


"Akhirnya drama sudah selesai," ucap Aqtna. Yang dibalas tatapan tajam dari sang kakak. Aqtna yang melihat itu hanya memutar bola mata. "Ugh, sepertinya aku ada janjian ketemuan untuk Minikur dengan yang lain." Aqtna pun bergegeas pergi, ia malas mendapat peringatan dari sang kakak lagi dan lagi.


"Biar saya bantu mama untuk ke kamar." Ucap nyonya Mahendra memegang satu tangan ibu mertua. Ia pun mentatih ibu mertua menuju ke kamar.


- Cafe , Tempat Melena Dan Leon Janjian -


"Yonn, ngapa luh ngajak janjian. Tumben," ucap Melena manaiki alis matanya. "Hmm, hmm.. " Goda Melena, tapi ia melihat wajah serius Leon. Lalu Melena bertnya balik. "Ada apa Yonn, apakah ada sesuatu hal yang penting yang ingin kau bicarakan, sampai sampai tidak ingin bergabung ketempat acara Mara dan kakaknya?!." Tambahnya, yang hanya di diamini oleh Leon. "Yoon... Hey Leon!!." Melena mendobrak meja sambil berdiri, aksinya itu menjadi pusat perhatian dari para tamu dicafe. Leon menatap manik mata Melena. Ia tersadar dari lamunannya. "Maaf," itulah kata kata yang keluar dari mulut Leon.

__ADS_1


"Maaf, maaf untuk apa?!." Tanya Melena cemas apa yang akan dikatakan Leon.


"Tolong duduk lah Melena, kita bicara dengan tenang. Lihat lah aksi mu itu mengundang para orang dicafe ke kita." Ucap Leon memaksa tersenyum.


"Kenapa firasat gue mengatakan hal yang tidak baik akan terjadi." Batin Melena, Ia mau tak mau pun menuruti perkataan Leon untuk duduk. Karena memang benar yang Leon katakan, saat ini semua orang yang ada dicafe melihat ke meja mereka berdua.


"Ekhmm...jadi apa yang ingin kau bicarakan Yonn?!." Tanya Melena, sambil berdehem menghilangkan canggung diantara mereka. Tampak terlihat Leon berdiam cukup lama, Ia lalu membuka suaranya. "Melena, gua bakal balik ke inggris." Ucap Leon. Melena kaget apa yang diucapkan oleh lelaki didepannya.


"Apa yang luh katakan Yonn, luh mau balik ke Inggris. Kenapa mendadak begini." Cerocos Melena menatap Leon untuk menunggu jawabannya.


"Huff, jadi gini Melena. Tapi tolong, jangan kasih tahu Amanda." Minta Leon kepada Melena, yang direspon bingung oleh Melena.


"Memang ada apa Yonn??." Tanya Melena lagi. Leon tampak berfikir, "Singkatnya adalah aku dan Kelvin bakal pergi. Ini berkaitan kelurga Kelvin. Tapi, maaf Melena aku belum bisa kasih tahu. Tapi tolong mengertiin aku, mungkin agak berbahaya. Jadi, ku mohon jangan katakan ini pada Amanda." Ucap Leon.


"Melena." Leon pun berdiri dan langsung memeluk tubuh Melena untuk menenangkannya. "Len, ini semua berkaiatan... "


- Sedangkan Angel Yang Cemas Dirumahnya -


"Aduh, kenapa bisa Amaranta hilang sih. Kemana tuh bocah." Ucapnya yang sudah keluar dari kamar.


Mama Angel melihat anaknya, lalu bertnya" Loh, Angel mau kemana nak. Pagi pagi begini??." Melena pun tersenyum melihat mamanya. "Anu, mah.... Hmm, aku ingin pergi cara Amaranta." Jawab Angel kegagapan.

__ADS_1


"Memangnya Amaranta kamana??." Tanya mama Angel. Angel yang mendengar pertanyaan mamanya langsung salah tingkah, Ia pun mengagruk kepalanya yang tak gatal sama sekali."itu, mah... Hilang" sang mama Angel membalas dengan rasa keterkejutan. "Ahhh, gimana bisa nak."


"Nah itu Angel juga gak tahu gimana mah," pusing Angel. "Yaudah gih mah, Angel pamit pergi dulu." Angel pun pamit pada sang mama.


*


*


*


*


*


"Kau," seru wanita itu ketakutan, ia mudur kebelakang . Lelaki yang ada dihadapannya hanya tersenyum miring, "Oh, dimana keberanian kau sebelumnya, apakah itu sudah terganti dengan rasa takut. Hahaha..." Tawa gelegar memenuhi ruangan itu.


"Mau apa lagi kau," ucap wanita itu mengepalkan tangannya dari belakang. "Hahaha, mau apa. Tentu saja aku mau.. "


"Plak" tamparan mendarat di pipi pria itu.


"Berani sekali kau, apakah kau masih sayang sama tangan mu itu." Pria itu menarik kasar pergelangan tangan wanita yang ada dihadapannya. Perempuan itu meringis kesakitan. "Lepaskan, Baj*ing*an. Sekeras apa pun kau menyiksa ku, aku tidak akan memberitahu mu, dimana keberadaannya."

__ADS_1


Lelaki ku menciun bibir gadis itu, gadis itu terus memberontak dengan memukul dada pria itu. "Mmm, " tapi kedua tangan gadis itu dikunci oleh pria yang ada dihadapannya. Ia mendorong tubuh gadis itu di dinding. "Akhh" suara ringisan sakit terdenger dimulut pria itu. Darah mengalir dari bibirnya. "Kau seperti Shio Anjing. Kau tidak berubah, sayang.. " pria itu mengusap dengan lembut pipi wanita yang baru dia cium dengan paksa. Pria itu berjalan pergi dari ruangan itu sambil berkata dengan tawa jahatnya.


"Hahaha, permainan barulah dimulai!!." Tawa gelegar yang menurut sang wanita sangat menjijikan. Ingin sekali Ia membunuh pria itu sekarang juga. "Hiks, hiks,." Wanita itu terduduk dilantai sambil merapatkan kedua tangannya dipaha. Ia membenam wajah, Ia menangis tersedu sedu. "hiks, Semoga kau baik baik saja." Ucap wanita itu menatap langit langit dinding dengan air mata berderaian.


__ADS_2