Illusion Various Love

Illusion Various Love
Chapter:41


__ADS_3

"Ayolah semalam, tak mungkin bukan." ingin sekali Amanda berteriak. Ia perlahan lahan menggerakan kepalanya ke sisi tempat tidur sambil memejamkan mata. Lalu ia perlahan lahan membuka kelopak matanya betapa terkejutnya ia siapa yang ada disisi tempat tidur itu. Mata Amanda membelak karena tak percaya dengan apa yang ada saat ini.


"Dia" gumam Amanda. Lenguh suara dari mulut gadis itu keluar dari mulutnya. Ia sudah membelak mata menatap wajah Amanda. Gadis itu sambil berkata" Selamat pagi kak " lalu gadis itu menggerakan badan dari sisi membelakangi Amanda. " ah, mengapa Kak Amaranta ada dikamar ku??." gadis itu bangkit dari tidurannya.


"Mengapa kakak ada dikamar ku, apakah kakak kekurangan fasilitas yang sudah disediakan nenek atau kakak ingin merebut kamar ku. Karena kakak sudah bosen dengan kamar lama mu benar bukan?!. Baiklah ambil saja, aku mengalah." ucap Tara, apa yang akan dilakukan Amaranta ia sudah tahu. Apalagi dengan kedatangan ia di kamar pastinya ada sesuatu yang sangat ia kagumi. Tara pun bangkit hendak menuju keluar kamar. Ia melihat dekorasi kamar disekeliling. "Sebenrnya ini dimana?!, kamar siapa ini. Apakah aku diculik!!."


Gadis itu membelak sambil memuter muter kepalanya. "Apakah reaksi dari alkohol tadi malam masih ada??." Ia lalu berbalik badan sambil mentap kakaknya yang masih setia di tempat tidur. Ia bertnya " Sebenarnya kita ada dimana" respon Amanda hanya berkata Ia sama sekali tak tahu.


Terdenger suara barang jatuh dari sisi luar kamar yang saat ini ditempati gadis itu. "Suara apa itu, apakah itu pemilik rumah ini?!." Gumam Amanda.


"Oh, ayolah, apa kami diculik dan akan langsung dibunuh. Astga, itu tidak mungkin. Pasti tidak!!." Batin Tara yang berfikir keras suara apa itu.


Kedua gadis itu pun bersama sama keluar dari kamar dan menuju ke asal suara yang ada. Terlihat sosok lelaki yang lagi membersihkan serpihan pecah kaca piring. "Alvin" ucap Amanda. Alvin pun yang sudah selesai membersihkan pecahan kaca itu. Mengakat, dan segera ingin membuang pecahan kaca yang ia kutip lalu.


"Kalian sudah bangun?!, Mari bersihkan diri lalu kita serapan bareng!!." Alvin melihat mereka tampak terkejut tapi ia memberikan senyuman hangat lalu berjalan pergi meninggalkan kedua orang itu.


- Dua Puluh Lima Menit Kemudian -


Mereka bertiga pun memakan lahap makan yang tertera diatas meja. Hanya suara dentuman sendok yang ada ditangan mereka. Tak lama usai mereka selesai makan, Amanda mengajukan pertanyaan. "Vin, bukannya kau akan mengantar ku untuk pulang mengapa kau membawa ke sini?!. Sejak kapan kau tinggal disini, bukannya...Kau tinggal bersama aba mu,?Kau tak pernah memberi kabar walau hanya sedikit kepada teman teman??.


Alis Alvin berkerut untuk menjawab pertanyaan dari Amanda. " Maaf jika aku lama tidak menelpon kalian, kau sendiri tahu bukan?!. aku menjalankan bisnis. Lain waktu, aku.. Akan ngumpul bareng kalian pada tahun baru." Tara hanya menatap lekat kearah Alvin yang sedang berbicara pada Amanda. "Dia sangat tampan saat ditersenyum." Batin Tara, " Apa yang telah kupikirkan, jauh jauh. Bisa bisanya aku berfikiran begitu"


"Soal tadi malam...maaf, aku membawa kau ke apartemen ku tanpa memberi tahu kalian. Soalnya aku gak tahu alamat rumah baru yang kau tempatin saat ini." Ucap Alvin apa adanya , ia melirik kearah Tara yang masih setia mentapnya. Saat itu lekat manik kelopak mata mereka saling betemu satu sama lainnya. Tara menghindari dengan melihat arah tempat lain isi apartemen ini, "astga dia menatapku, mengapa juga pasti dia berfikir yang gak gak saat aku, ugh menyebalkan." Batin Tara. Alvin yang melihat Tara hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.


"Yah, tak masalah . Kau juga tak tahu bukan, aits dimana Handphone ku berada. Apa masih di atas, aku keatas duluan bentar!!." Ucap Amanda bangkit dari duduknya untuk menuju ke kamar mengambil handphonenya. "Nenek pasti menghawatirkan diriku " gumam Amanda.

__ADS_1


- Di Rumah Nenek Syakina -


"Ukuran bajunya dengan diriku pas , sudahlah aku hanya memijem baju. aku bakal membalikan baju yang lebih baru daripada baju seperti ini." Ucap Amaranta kepada foto pemilik kamar saat ini ia tempatin. "Aku harus keluar dari rumah ini, bagaimana dengan perjalan pesta semalam?!." Gadis itu menuruni tangga, dan menatap sekitar rumah, "kosong, dimana nenek tua itu?!. Apakah mereka hanya tinggal berdua dirumah ini. Sungguh menyedihkan." Sinis Amaranta, sambil mentap sekeliling isi rumah. " Rumah yang sungguh sangat sederhana"


Suara bunyi telepon disekitar meja yang tak jauh dilewatin Amaranta. Amaranta pun berjalan mundur sambil mengambil handphone yang ada diatas meja itu. Ia menatap lekat nama yang tertera di layar. "Amanda" gumam Amaranta. "Apakah wanita ini adalah cucu nenek tua itu, parasnya sungguh sangat mirip dengan ku. Apakah benar, uh..aku ingin tahu." Ia pun mengakat telepon, dan telepon itu pun tersambung.


"Haloo nek, Amanda minta maaf karena gak pulang tadi malam. Maaf banget yah nenek, Amanda gak ngabarin nenek tadi malam. Nek, halooo... Nenek masih disitu kan. Nenek masih marah kah sama Amanda?!." Ucap Amanda dari seberang telepon. Tapi mendadak sambungan teleponnya dimatikan. "Haloo, ah teleponnya dimatikan. Apakah nenek sangat marah. Sepertinya aku harus segara cepat pulang."


"Menarik," seyum yang mengembang dari sudut bibirnya. Ia pun mencatat nomor telepon gadis yang bernama Amanda. Amaranta pun bergeges keluar dari rumah itu.


*


*


*


*


*


"Hmm, ayolah ini hanya biasa saja. Kamu ini terlalu memuji," ucap Mara malu dengan ucapan yang dilontarakan oleh sahabat pekerjanya.


"Hai Mara, Jia" suara keras mengalihkan pembicaraan kedua sahabat itu. Mereka mentap lekat kearah Melena yang melambaikan tangan kearah Mara dan Jia. Jia dan Mara berfikiran bersama dalam hati. " hanya Melena seorang yang memiliki suara nyaring begini."


"Kalian sedang apa?!. Wow kamu pandai sekali merangakai hiasan bunga Mara." Puji Melena.

__ADS_1


"Tuh kan Melena juga berfikiran sama seperti diriku Mara" ucap Jia. Mara hanya tersenyum mendengernya. "Kalian ini."


"Oiyaa kenapa kau datang ke sini Melen. Apakah ada sesuatu terjadi?!." ucap Mara yang sudah meletkan hiasan ditempat bunga bunga yang terpapang ditokoh.


"Tidak ada, aku hanya mampir ke tokoh bunga mu, dan alasan utamanya." Ucap Melana terpotong saat mendenger suara sang kakak Mara. "Mara, Jia ayo kesini" ucap suara yang lumayan keras dari Sarah sang kakak Mara.


"Iya kak, Mara akan kesana." Sahut Mara. "Ayo Jia, Melena." Ajak Mara kepada kedua sahabatnya itu. Mereka pun berjalan ke belakang tokoh. Terlihat disana ada meja dan kursi kecil. Diatas meja sudah ada berbagai aneka kue dari cake, jus, pudding dan banyak lainnya.


"Aneka makan manis yang unyu. Uh, ini yang sangat ku sukai." Batin Melena menatap makan itu dan tersenyum kepada Sarah. "Ini semua buatan kak Sarah, sungguh sangat hebat" Puji Melena terhadap Sarah.


"Eh, ada Melena ayo mari." Ucap Sarah tersenyum melihat Melena. Melena membalas senyuman Sarah.


- Di Apartemen Alvin -


"Kalau boleh tahu nama nona siapa?!." Ucap Alvin kepada Tara. Tara yang mendengar itu langsung tersenyum kearah Alvin. "Nama saya Tara Mahendra."


"Nama yang sungguh sangat cantik sama seperti orangnya. Perkenalkan Nama saya Alvin. " ucap Alvin.


"Eh, Amanda kau mau kemana??." Ucap Alvin yang melihat Amanda sudah membawa gandengan tasnya.


"Ohw, aku mau cepatan pulang Vin. Takut nenek khwatir, tadi aja telepon aku dimatikan. " ucap Amanda Khwatir sekaligus merasa bersalah terhadap neneknya.


"Aku antar yah." Tawar Alvin kepada Amanda untuk mengatarnya pulang. "Sekalian aku ingin tahu rumah baru mu?!."


"Baiklah," ucap Amanda mengiyakan tawaran Alvin.

__ADS_1


"Tunggu tadi dia panggil siapa wanita ini. Amanda??." Heran Tara dalam lubuk hatinya.


__ADS_2