
"Oh, aku hampir lupa. Nenek," ucap Amanda, nenek Syakina lalu menoleh ke cucunya. Ia meletakkan semua barang belanja waktu saat berbelanja-beli.
"Ada apa nda?!." Tanya nenek Syakina. Amanda ragu untuk menanyakan. Ia mengurung niatnya untuk berbicara soal kejadian tadi malam. "Tidak ada." Elak Amanda. "nenek pasti sangat lelah. Biar Amanda yang memasak untuk hari ini." Amanda merebut sayur mayur yang ada ditangan nenek Syakina. Nenek Syakina kaget, ia melihat wajah sang cucu yang ada dihadapannya. Ada rasa kegelisahan dan cemas terpapang. Nenek Syakina lalu bertanya. "Nda, apakah ada yang dipikirkan. Cerita saja pada nenek." Tambahnya.
Amanda terkejut, ia membuang rasa terkejutnya dengan menutupi sambil tersenyum. "Nenek Amanda hanya memikirkan Tahun baru,mungkin saja Amanda bisa berkumpul dengan teman teman lain, sudah lama tidak kumpul bareng." Bohong Amanda, kebohongan ucapan Amanda sudah terlihat oleh nenek Syakina. Tapi ia tidak ingin menanyakan apa pun, karena mungkin ada hal yang mengganggu pikiran Amanda. Nenek membalas senyuman cucunya itu. "Yasudah, jangan berfikir panjang. Hmm, nenek ke atas dulu." Timpal nenek Syakina menenangkan Amanda.
"Maaf Amanda nek, Amanda hanya tidak pasti. Amanda akan mencari tahu sendiri, apa sebenarnya terjadi!!." Gumamnya, ia pun melanjutkan mengiris cabe dan sayur mayur yang sudah disiapakn.
- Apartemen Alvin -
Wanita itu duduk disofa, melipatkan kedua kakinya. Ia melihat jam terus terusan , tampak Ia menahan kekesalan.
"Aku lupa membawa dokumen penting, hampir saja." Ucap Alvin yang sudah masuk apartemen untuk menuju ke kamar.
"Alvin" ucap wanita rambut sebahu, Alvin pun menghentikan langkah kakinya menuju ke kamar. Ia berbalik badan, dan menatap tajam siapa orang yang ada dihadapannya. "Kau" ucap Alvin tak percaya siapa yang ada dihadapannya.
"Siapa wanita tadi, mengapa kau membawa perempuan ke apartemen mu??." Kesel wanita itu.
Alvin bingung apa yang di bicarakan oleh wanita ini. Ia teringat sesuatu, dan tersenyum , "Mengapa??. itu bukan urusan mu, uruslah urusan mu sendiri. Jangan mencampuri urusan orang lain. Tidak cukup kah, kau sudah membuat masalah sepuluh tahun lalu." Tegur Alvin yang muak melihat wanita ini mengatur kehidupannya.
"Denger Alvin, aku peringatkan padamu jangan pernah berfikir untuk melakukan yang ada dibenak mu." Ancam wanita itu, ia lalu mengambil tas mungilnya disofa. Ia berjalan meninggalkan Alvin, langkah kakinya berhenti . Ia lalu berbalik badan dan menatap tajam Alvin. "Denger Alvin jangan mencoba hal hal yang tak berguna untuk kehidupan mu. Kau akan menyesel," Tambahnya, Ia lalu pergi menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
Ia menatap punggung wanita itu yang telah menghilang. "Kau pikir aku melakukan hal bodoh. Hmp, inilah yang seharusnya terjadi. Karena harapan dihatiku sudah pupus sejak sepuluh tahun lalu." Gumamnya.
- Disisi Tara Yang Sudah Meninggalkan Apartemen Alvin -
"Kurang aja, gasar luh kira gue bakal ambil cowok itu. Gue gak sudi ambil aja, cuih wanita yang menjijikkan." Ucap Tara yang tengah meluapkan isi hatinya. "Akhh"
"Hei luh, punya mata gak sih kalau jalan. Mata entah dibawah kemana, gasar menyebalkan." Bengis Tara yang memegang lengan tangannya, ia menatap tidak suka kearah pria yang ada dihadapannya.
"Maaf, bukannya anda sendiri yang salah. anda yang menabrak , kenapa malah saya yang disalahkan?!." Ucap pria itu.
"Hei, luh muka tampan. Lagak gaya gak sama persis muka loh. Udah tahu salah, bukannya minta maaf. Pria gilakk." Maki Tara ke wajah Pria yang telah menyenggolnya. Pria itu termenung, melihat wanita dihadapannya marah-marah gak jelas.
"Apa!!, kenapa lihat lihat mau tak cungkil Mata luh. Cih, menjijikkan kesel gue hari ini. Hari hari diriku tidak ada yang menyenangkan...." Kesal Tara yang sudah pergi dari hadapan Pria itu.
Pria itu melihat handphone ditangannya bergetar lalu ia mengangkat telepon. "Iya mah, Barnett gak bakal lama kok. Ini udah nyampai." Ucap Barnett kepada mamanya ditelepon. Barnett pun mematikan teleponnya. Ia melihat wanita yang memaki dirinya , Barnett tersenyum melihat punggung wanita itu. "Wanita aneh, tapi sungguh sangat mengemaskan." Timpalnya.
"Gue pamit duluan yah teman teman," ucap Melena yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Yaelah, udahlah temanin kita kita aja. Ngapain pacar sih yang diutamakan." Ejek Jia, Melena hanya tercibir, "oh, oh, carilah Pacar agar anda tidak terlalu cemburu." Ucap Melena kepada Jia.
"Dih, gue mah singel . Ribet kalau membuat sebuah hubungan. Apalagi namanya pacaran. Uh, " ucap Jia males.
__ADS_1
"Gasar wanita gak laku." Cibir Melena. Jia menatap sengit kearah Melena. "Eh, tunggu. Main pergi aja luh, denger aku bukannya gak laku tapi males aja menjalini hubungan." Ucap Jia kepada Melena yang sudah berjalan pergi. Melena hanya membalas , "Sama aja tuh." Teriaknya. Tampak terlihat wajah kesel Jia, "Sudahlah Jia, kamu jangan dibawah hati omongan Melena." Ucap Mara menenangkan sahabatnya.
"Huhuhu, Mara kenapa luh hanya melihat sahabat mu dianiaya kepada iblish." Ucap Jia memelas. Mara yang melihatnya hanya pusing kepala.
"Dimana Melena?!."Ucap Sarah yang sudah kembali ke tempat . Melihat kakanya kembali ia membalas." Dia sudah pergi kak, katanya ada urusan." Sarah hanya membalas. "Oh, begitu kah!!."
- Dikediaman Mehendra -
"Bagaimana Welly, apakah ada kabar tentang kedua kakak mu." Tanya nyonya Mahendra yang dibalas gelengan sang anak.
Wanita tua yang disamping nyoya Mahendra menghela nafas. "Mah,"
Wanita tua itu hanya berkata" Sudahla aku tidak apa apa." Nenek tua itu memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Selamat datang non Amaranta." Sapa kepala pelayan sambil membungkuk. Amaranta hanya melihat sekilas , sambil berkata "Hmm"
Semua kelurga yang ada diruang itu langsung melihat asal suara. Amaranta datang menuju ke sofa, ia duduk. Sambil menatap nenek dan Mamanya. "Mah, nek!!. Kenapa kalian semua berkumpul disini?!. Kalian tampak terlihat tidak baik." Tanya Amaranta."Apakah terjadi sesuatu??." Tambahnya.
"Kau darimana saja semalam Amaranta, mama, nenek, adik, serta semua sangat khwatir padamu. Kau tahu kan bagaimana jika papa mu tahu, jaga tingkah laku mu." Ceroces nyona Mahendra pada putrinya.
"Aku pulang," ucap seorang gadis yang langsung duduk tak berjauhan dari Amaranta. Lengsung pipi gadis itu cemberut, tampak emosi terpendam dalam hatinya. Semua yang ada disana melihat gadis itu yang tak lain adalah Tara.
__ADS_1
"Lihat gadis liar ini, tak punya tata sopan santun. Sehabis kemana kau membawa kakak mu." Tanya wanita tua itu, yang tak lain adalah nenek dari kedua orang yang diinterogasi. "Kau tahu sendiri, kakak mu tidak bisa terlalu banyak minuman. Apalagi kau mengajak keluar sana. Sehabis kemana kau Tara." Teriak wanita tua itu. Tara yang mendengar itu langsung meledak ledak pikiran. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa nenek menyalahkannya seorang.
"Nenek, jika nenek hanya menilai sekilas bukan kah itu tidak masuk akal. Kau hanya membela cucu mu yang satu itu, kau selalu menyalahkan ku. Tidak bisakah kau melihat dengan jelas, bukan aku. Tapi dia, dia yang... Hiks, hiks." Ucap Tara, berlari meninggalkan kelurganya, Ia menangis sambil menutup mulutnya. Berjalan menuju kamar, dengan air mata berlinang.