
Terlihat mobil yang berhenti didepan gedung yang menjulang itu, sepasang sepatu keluar dari bilik pintu mobil. Ia membenarkan kemeja bajunya. Pria yang mengenakan pakaian berkulit baju berwarna kecoklatan berjalan masuk ke dalam gedung itu. Tampak terlalu hati dari belakang baru keluar sepasang suami istri dari dalam mobil. "Ckck, papa tak menyangka ia juga bisa hadir. Mama sungguh hebat membujuknya."
"Hmm," sang istri hanya menanggapi sang suami dengan seadanya. Ia pun dan suaminya juga menyusul sang putra untuk masuk. Sang supir mobil memperkirakan mobilnya ke tempat yang khusus untuk prakiraan mobil.
~Di Dalam Aula Gedung~
Setelah kepergian kedua sepasang kekasih itu. Amanda pun dibuat kebingungan, disini tempat asing baginya, dia menggit kue cake rasa red velvet perpaduan rasa buttermilk, bubuk kakao, kopi, cuka, dan pewarna makanan merah. Saat cake itu masuk ke mulut amanda terpukau dengan rasa yang masuk ke mulut,rasa esensi menyertai lidah . Rasa makanan buatan ini tak asing baginya. "Makanan ini persis seperti buatan nenek," gumam amanda sambil memandang piring yang diatas berisi cake . " Cake buatan ini sama sekali persis, nenek sudah lama tidak membuatkan ini sewaktu aku kecil."
Lelaki itu saat memasuki dalam gedung, ia sudah disambut oleh beberapa pria, yah itu adalah teman dari pria yang tak lain adalah Dirka. Mereka nongkrong dibagain kursi khusus untuk meminum minuman keras. Efek setiap minum berbeda, ada berbagai jenis wine yang diminum oleh para orang kaya. Dari Chateau Lafite, Domaine de Ia Romanee Conti , Penfolds Grange Hermitage, Chateau Margaux dan lainnya. Sebagain ada beralkohol rendah Medium-bodied Red Wine, Dessert Wine, dan jenis berbeda yang disediakan alkohol rendah.
"Tumben luh dirka, datang ke acara seperti ini. Biasa kau menjahui hal terlarang ini bukan. Bukannya kau sangat membenci keramaian?!." selidik teman prianya itu.
"Terkadang kau jangan banyak kepo atau bertnya . Karena itu akan merugikan mu sendiri. Pernah kau mendengar sebuah pepatah." ucapnya. Pria itu hanya memutar bola mata, sih Rion perusu datang membuat semua yang ada disikitar. Males dan jengah.
"It's okay," ucap pria itu malas.
"Kenapa kau tidak bergabung saja pada bedebah lain." usulnya pada Rion.
"Bangsat luh, yakali gue mau." ucap rion kesal. Sambil meminun Wine, teman pria yang ada disekitar hanya merasa geli dan ketawa. "Hahahaha"
__ADS_1
"Mana sang pujaan hati loh, gak ngebet deket nih." ucap teman lainnya.
"Mungkin ditolak kali yah sama angel, risih lihat dia. Apalagi yang ada kita. Hahaha," ketawa pria itu.
"Persetan kalian semua, syuuuu, syuu sana pergi kepelukan istri istri kalian. Gasar kecebong tengik." balas Rion kesal.
Dirka sama sekali tak terusik apa yang mereka cakap kan, ia hanya asik meneguk wine yang ada. Hampir gelas yang berisi wine tinggal setengah. Ia menelusuri ruangan yang ada. hampir semua ruang di penuhi orang orang pembinis yang salah satu dari sekian banyak ia kenal. Ia meneguk sedikit wine ke dalam mulutnya, lalu matanya melirik seorang gadis yang ia kenal. Dirka pun bangkit dari tempat duduknya dengan membawa gelas berisi wine.
"Aish dimana Amaranta yah, kok gak kelihatan dimana pun. Mana tante cariin dia pula, nih bocah gak bisa diam kalau ada pesta seperti ini. Gasar anak liar" ucapnya kesel. "Nah itu bukannya" angel menganga mulut terbuka. Ia melihat Amaranta bersama seorang lelaki yang tak ia kenal.
"Siapa pria itu yah??. kok, kek kenal. Tapi dimana yah." ucap angel mengingat ingat sesuatu yang ia lupakan. "Tapi apa?!."
"Apakah nona cantik bersedia berdansa dengan saya. Saya merasa terhormat jika anda menerima menjadi pasangan dansa saya malam ini." ucap Dirka.
Amanda bukan kaget kepalang lagi. Seseorang yang tak ia kenal mengajaknya dansa. Apakah ini semua mimpi, jika iya. bangunkan ia dari mimpi aneh ini. "Ahh" Refleks Dirka menarik amanda ke ruang tari. Dirka lalu menolah kearah pemutar musik, dan berkata "Mainkan satu lagu."
Amaranta masuk ke dalam rumah, ia pun membuka pintu kamar dan merebahkan tubuhnya yang lelah diatas kasur yang empuk. lama kelamaan ia pun terpejam kelopak matanya karena saking capeknya ia hari ini. Terbukalah pintu kamar Amaranta " Krieetttt" lalu seseorang itu menutup pintu dengan pelan dan menghampiri cucunya yang sedang terlelep tidur sambil mengelon bantal gulingnya. Yah ia adalah nenek syakina, nenek syakina duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut cucunya.
"Dunia penuh dengan tipu muslihat, tak ada kebenarannya. Semua hanya ilusi belaka, omongan tak dapat dipercaya. Kita hanya bisa mengandalkan diri kita untuk mencapai sesuatu. Nenek harap tregedi pada ibu mu tidak akan pernah terjadi kepada mu sayang." batin nenek syakina, tanpa tersa air matanya membasahi kedua pipinya itu.
__ADS_1
"Ahhh tolong, mama." ucap gadis kecil, yang hampir tenggelam dalam air sungai.
"Naaa," ucap salah satu gadis yang juga hampir kehabisan nafas. Ia mencoba menarik tangan sang adik, tapi tangannya tak tergapai.
Terlihat segerombolan beberapa orang ramai datang untuk membantu anak yang tenggelam itu. yang satu membawa gadis kecil dengan luka kepala berdarah. Dan satu lagi dibawah oleh seorang wanita seusia 45 tahun membawanya kedalam pelukan. Seluruh badan anak itu dipenuhi dengan darah yang mengalir, " sayang bangun," ucap perempuan itu sambil menepuk pelan pipi sang cucu. Tapi tak ada respo. Ia pun menatap tajam ke arah wanita muda itu.
"Menjauhlah dari kehidupan cucuku, kau tidak pantas menjadi ibunya." ucap perempuan tua itu menipis tangan wanita muda yang ingin memegang anaknya. Apakah sang anak baik baik saja. Rasa perasan ibu mana yang tidak bisa merasa persaan khwatir ini. "Na,... Bu na apa dia tak apa." ucap perempuan mudah itu yang ingin kembali menyentuh sang anak tapi lagi lagi ditepis wanita tua itu. "Menjauhlah dari kehidupan kami"
"Uhuk, uhuk," gadis kecil dalam pulang wanita tua itu mengerjap matanya. Ia melirik anak seusianya. "Lii, ka.. U tak apa bukan??." gadis kecil yang ditanya sambil tersenyum dan mengagumkan kepala. "Yah."
"Ayo kita pergi, semua bereskan apa yang ada. Kalian mengerti," ucap perempuan tua itu kepada anak buahnya. Gadis itu sambil memegang tangan satu sama lainnya tapi terpisah. Tangan yang digengam pun terlepas. Kedua anak kecil itu hanya bisa memandang tanpa berkedip. "Naa"... " Li" air mata mengalir dari kedua gadis itu.
~Aula Pesta Dansa~
Kedua pasangan itu pun menari dengan mengikuti irama musik yang ada. Walau saat pertama mulai musik agak kaku tapi mereka berdua seimbang dengan gerakan cekatan mereka. Dirka memegang pinggul gadis itu, serta tangan satu lainnya menggenggam tangan lain dari gadis nya. Kedua psangan itu menatap mata satu sama lainnya tanpa berkedip. Lalu dirka memutar tubuh amanda . Gerakan akhir dansa mereka, kedua tangan amanda ada di bahu dirka. Amanda malu dan menghindar,tapi tangannya ditarik oleh dirka, refleks. Tubuh amanda dipegang.lagi lagi mereka melakukan kontak mata."Deg,deg,deg" suara pacuan dua orang itu. Akhir musik dansa pun habis. Memberi tepukan meriah dari para penonton. Amanda dan dirka kembali ke posisi awal. Canggung itulah yang dirasakan oleh Amanda.
"Detak jantung ku," gumam amanda sambil memegang dadanya. Posisi ia membelakangi dirka, amanda sungguh merasa malu. "Apa yang kulakukan barusan."
🍒TO CONTINUE🍒
__ADS_1