
Kini Amanda dibawah masuk kedalam mobil, dengan gaun yang lumayan mewah . Saat waktu masuk kedalam mobil angel sudah menyeret Amanda untuk berganti dengan gaun yang sudah ditentukan . Amanda yang disuruh memakai gaun hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan perempuan yang tak dikenalnya.
"Oke kali ini, biarkan aku yang menyetir, yah. Yah jangan melihat ku begitu . Aku tahu kau ingin cepat sampai ditempat tujuan. tapi, akhhh Aku mual tahu saat kau menyetir gak karuan. Jangan begitu, kita akan mengemudi dengan kecepatan noramp eh normal," ucap angel, yang tak sadar jika tatapan Amanda bukan karena marah tapi bingung apa yang diucapkannya.
"Tapi Aku" Amanda mengatakannya tapi lagi lagi ucapannya terpotong. "Stop Amaranta, Aku pusing. Sudah sepakat, titik." Ucap angel yang sudah melajukan mobil dengan kecepatan sedang "Brummm"
Duh ini sebenarnya kenapa, sepakat apa?!. Siapa Amaranta ???. Aku Amanda, Amanda. Dan ini kita mau kemana, kenapa perempuan yang didepan ini... Mengapa Ia memanggil diriku dengan sebutan Amaranta ??.
Amanda ingin protes dan menjelaskan tapi lagi lagi omongannya terpotong oleh angela. Ia hanya bisa diam membisu menatap jalanan yang dipenuhi dengan pepohonan. Sungguh malam ini begitu indah, langit dihias dengan bintang kelap kelip diatas. Corak malam cocok dengan suasana malam ini. Pantulan rembulan memghiasi baju yang dikenakan Amanda.
"Brakk" terdenger suara nyaring penutup pintu mobil. Amanda pun tersadar dari lamunanya, Ia menatap kaget dimana Ia sekarang. Ia pun tanda sadar membuka pintu mobil dan menatap keatas gedung yang amat mewah dan besar di pandang mata . "Aku sebenarnya dibawah kemana sama perempuan ini, apakah Aku, akan dijual." Batin Amanda, Ia tak tahu apa yang Ia pikirkan . Yang hanya ada di otak Amanda adalah hal hal yang gak akan terjadi. Ia mengigit jari karena ketakutan, dan mulai berjalan mundur.
"Puk" angel menepuk pelan bahu kiri Amanda, seketika Amanda berbalik badan dengan posisi yang masih berkeringat dan penuh tanda tanya dikepalanya. "Kenapa diam saja, ayolah masuk. Kamu ber..seperti gugup, astga . Come back Amaranta, hihi!!. Lest go," ucap angel yang lagi lagi menarik tangan Amanda penuh semangat. Sedangkan Amanda tak berdaya, ia hanya mengikuti orang yang menarik tangannya.
Apakah ada sesuatu yang tidak ku ketahui
"Tunggu" cegat angel sebelum ia membuka pintu. Sedangkan Amanda bingung tiba tiba saja wanita dengan rambut setengah kepang itu menyerahkan beberapa bungkusan kado kepadanya.
Apa lagi ini?!
__ADS_1
Amanda menatap tumpungkan kado yang sudah ia pengang. "Sudahlah ayo, tidak mungkin kau ingin menyuruhku membawa kado ini bukan!!. Sudah bersyukur dibantu memilih kado, kau kira aku ini pelayan mu. Setiap waktu akan menurutin mu." Decis angel yang benar benar tak suka setiap perlakuan yang dibuat Amaranta padanya setiap saat. "Ukhmm, mengingat itu saja memuat ku kesal." Ucap lagi lagi angel, sedangkan orang ia ajak bicara sama sekali tak mengerti alir ceritanya.
Ahh , umm
"Astga, hahahaha gue becanda Amaranta. Jangan dimasuk ke hati. Ayo kita masuk," ucap angel tak enak hati atas ucapannya barusan.
Apakah dia marah, astga angel luh. Mulut tak bisa ditahan...
"Eh nona Amaranta dan angel sudah datang, mari silakan masuk." Ucap pria berusia tiga puluh tahunan itu kepada kedua nona besar yang tak lain pria itu adalah doorman penjaga pintu hotel keluarga besar Amaranta, yah bisa dikatakan hotel yang sekarang ditempatin mengadakan pesta milik kelurga Amaranta. Penjaga itu membuka pintu aula kepada kedua nona itu, satu tangan membuka pintu dan satu tangan memegang dada sambil badan menunduk tanda sopan santun dari keluarga. Yah setiap kelurga besar memiliki aturan tersendiri.
"Terima pak" ucap angel tersipu malu. Pak penjaga itu hanya menyahut dengan sekenanya dengan pesosinya. "Baiklah nona, Mari akan saya antarkan." Ucap penjaga itu. Kedua perempuan itu hanya mengikuti dari belakang , sedangkan Amanda masih gugup dengan membawa bebarapa kado.
Sebenarnya apa yang akan dilakukan, duh yang benar aja.
"Ekhmmm," seketika itu otomatis angel berbalik badan ia mengenal deheman milik orang itu. "Apa" ucap angel menatap peria itu entah tatapan apa, seperti sulit diartikan.
"Sepertinya kau menyukainya" laki laki itu berkata sambil melihat sekilas punggung badan penjaga yang tak lama mengantar kedua perempuan ini. " apakah kau sedang cemburu." Ucap angel menaiki alis matanya.
"Tidak" ucap pria itu mengelak.
__ADS_1
"Ohw begitu'kah , sepertinya aku harus mengajaknya berkencan besok." Goda angel lagi kepala pria itu, sedangkan pria yang ada dihadapannya. Seketika mengambil tangan angel tanpa ijin dan mencium telapak tangan itu. "Saya akan menjadi teman kencan mu, apakah kamu kekurangan?!. sampe ingin mengajak seseorang yang padahal ada orang didepan." Laki laki itu berkata dengan nada penuh keseriusan. Angel yang merasakan itu otomatis pipinya menjadi bak tomat.
"Astga kau ini, ehmm... Baiklah akan aku Terima tawaran mu tuan cemburu." Ucap angel yang masih tersipu, ia tersenyum manis kearah pria itu.
"Apakah tidak ada sebutan lain, selain kata tuan cemburu. hmm?!." Ucap pria itu, yang agak risih dengan kata yang dilontarkan kekasihnya. "Tidak"
Pria itu seketika tak mood lagi melanjutkan arah bicara kekasihnya. Kekasih perempuanya sungguh jika diajak bicara akan menang. "Aduh, aduh ada yang ngambek nih." Ucap angel yang menggoda sang kekasihnya, lagi dan lagi.
"Apakah kau tidak akan memberi ku sesuatu, atas apa yang kau perbuat tadi. Ayo!!." Ucap pria itu sambil menujuk pipi kirinya dengan jari telunjuk.
"Ish, kau ini. Apakah kau tak malu dimana kita sekarang, apalagi Amaranta ada disamping kita." Ucap angel berasa malu, pria itu seketika melihat ke samping kekasihnya.
"Astga, maafkan sahabat mu ini Amaranta. Hehehehe, bagaimana kabar mu??." Ucap pria itu.
"Eh, I..ya.aku baik baik saja." Ucap Amanda terbatas bata mengatakannya kepada pria itu.
"Lihat kan, dia jadi tak enak melihat kita Rion. Kau ini. Ishhh," ucap angel cemberut.
"Hehehehe , sorry." Ucap Rion.
__ADS_1
Sungguh aku tak mengerti arah bicara mereka, tapi aku pastikan mereka pasti sepasang kekasih. Tapi kenapa aku disini?!. dan bagaimana dengan nenek ku dirumah, aduh memikirkannya saja membuat ku pusing. Sepertinya aku akan terjebak disini untuk waktu cukup lama, Melena, lestia dimana kalian!!!. Tolong sahabat kalian, aku terjebak di kalangan bangsawan . Hiks, bagaimana bisa mereka mengira aku Amaranta... Amanda hanya menangis dalam diam, tak ada satu tetes air mata keluar kelopak matanya. Tetapi sudah dipastikan hatinya sungguh meringis merasakan pahitnya dia saat bicara selalu tak ada yang mendengarnya. Apakah aku sungguh dianggap oleh mereka. Uh menyebalkan??.
🍒TO CONTINUE🍒