
~**FALLBACK**~
Cuaca sangat cerah hari ini, tampak sepasang kekasih sedang ngbrol, satu sama lainnya dibalkon atas sekolah.
"Gimana" ucap pria itu menatap lekat manik mata sang gadis pujaan hatinya. Gadis itu menunduk kepala, ia berfikir dalam diam. Ia bingung mau berkata apa, sungguh dia ambil keputusannya, disatu sisi ia memang sangat menginginkan . Tapi juga masih ragu apakah permintaannya ini akan disetujui. Lelaki itu kembali bersuara. Membuat sang empu yang melamun terlaonjak kaget sambil tersenyum miring menatap kekasihnya. "Amanda, kau tak apa bukan?!."
"Tidak vin, yah.. Aku hanya agak bingung. Bukan aku menolaknya" kini Amanda berkata dengan suara pelan yang bisa dikatakan suara mengandung kata sedih.
"Hmm, aku tidak tahu. Apa balik itu semua. Tapi , tetap .. " kelvin berhenti mengatakan sesuatu katanya, kata katanya tercekat. Ia bisa bisanya hampir membuat keadaan kekasihnya terpuruk.
"Maaf" itulah kata yang keluar dari mulut kelvin. Amanda yang bersandar di bahu sang kekasih mengangkat wajahnya sambil tersenyum. "Tidak, itu tak apa apa." Amanda masih memasang wajah senyum terpaksanya. Kekasih itu tahu apa yang ada pikiran Amanda.
~Dilapangan Kampus~
"Menurutmu bagaimana?!." Ucap sang gadis sambil menatap para anak anak yang bermain dilapangan.
"Entalah, aku juga tidak tahu. Tapi si kelvin sudah mendaftarkan Amanda bukan??. Yah, tak tahu apa yang akan dikatakan nek syakina. Kau tahu sendiri bagaimana nenek Amanda menolak mentah atas bidang yang diinginkan tahun lalu saat Amanda tertarik dengan jurusan itu. Aish, mengingatnya saja membuat ku sakit kepala." Ucap Barnett.
"Hmm, yah aku.. Juga berfikir sama sepertimu. Apa, gak bisa Amanda keluar saja. Dari pendaftaran itu??." Ucap Melena.
"Menurut mu, begitulah!!." Ucap Barnett.
"Lah tambah dipikir tambah pusing tahu." Ucap Melena. "Apalagi, apa gak papa. Nanti jelek lagi nama Amanda. Apalagi kau tahu kan si Kesya dan Tiara bakal apa. Rusuh dan buat semua anak anak kampus menjelekin Amanda balik. Ingat gak loh, tahun lalu si Amanda ikutan kontes, dikira apa. Sih terong busuk nyebar berita yang gak gak."
"Tapi bagaimana lagi, daripada ribut sama neneknya sendiri." Ucap Barnett.
"Yah, yang luh katakan benar Barnett!!." Ucap Melena berfikir fikir, lebih baik harmonis kelurga daripada hancur karena lebih mementingkan kepentingan nama baik di kampus ia.
\*Malam Hari Pukul 19.00\*
Dikediaman keluarga besar Kesya
"Papa kenapa sih, ngotot banget. Aku sama sekali gak suka sama sih dia. Dan kenapa pula, arghh." Ucap kesya kesal. Sambil melemparkan bedak yang berbentuk bunga ukuran diatas meja rias. Mama kesya yang baru tiba dikamar sang anak , seketika berjalan dengan cepat menghampirinya. Ia meletkan nampan makanan diatas yang tak jauh dari kasur.
"Sayang kau kenapa, hmm." Ucap sang mama yang sudah mengambil bedak yang dilemparkan sang anak. Ia pun memgmbil sisir dan menyisiri setiap inci jenjang rambut anaknya. Ia menatap wajahnya anaknya yang masih cemberut, di bayangan cermin. "Ayo tersenyum sayang, princess mama kenapa bisa cemberut begini. Jelek tahu?!."
Kesya pun geram, dan bangun dari sisi tempat duduknya. Ia menghadap wajahnya ke sang mama dengan selut emosi. "Mom, stop. Kesya muak. Momy tahu kan. Aku tidak Terima dijodohkan, aku sudah ada pria yang ku sukai!!." Kesel kesya yang menatap mamanya itu.
"Kes..., tolonglah ini demi." Ucap mama kesya yang terpotong.
"It's okay mom, aku tahu."ucap kesya yang sudah manaki alis matanya geram, ia mengambil tas dan keluar dari kamarnya.
" huft" mama kesya menghela nafas, sungguh ia tak tahu harus apa. Disisi kebahagiaan anaknya disisi lain adalah keserakahan suaminya.
~Di anak tangga menuju ruang tamu~
"Lihat aja luh hector, gue bakal buat mu menerima semua Kesuaensi atas apa yang kau perbuat padaku." Umpat kesya yang masih berjalan di anak tangga, sambil mengotak atik handphone genggamnya. Saat sudah hampir di akhir tangga yang ia jalanin, ia masih tetap jalan, yang melewati dua lelaki yang duduk sambil berbincang. Dan orang itu pun melihat kesya yang sibuk , tengah melewatinya. Yang tak lain sang papa, menyapanya.
"Kesya" suara itu memanggil sesosok gadis yang masik asik mengotak atik layar HP'nya. Seketika itu ia mendenger suara, yang ia kenal. Kesya pun menoleh melihat kedua orang itu, seketika itu juga ia memutar bola matanya malas. "Lagi, dan lagi." Batinnya kesal sambil membuang muka. Ia ingin sekali keluar dari sini, tapi ia ingat acaman sang papa.
__ADS_1
~**Dua Minggu Lalu**~
"*Denger yah kesya, papa gak mau tahu kau harus menikah dengan anak dari jodohan teman papa. Tidak ada bantahan sama sekali." Ucap sang papa kesya dengan nada tak terbantahkan.
"Tapi pa, kesya gak mau. Kesya menolak."ucap kesya dengan nada tinggi, papa yang mendenger sang anak menolak . Ia pun melayangkan tamparan ke wajah sang putri.
" papa pukul aku, tega pah. Papa begini, ahh. Ayo tampar pah. Ayoooo!!!." Ucap kesya yang teselubuk emosi tinggi sambil memegang pipi yang sudah membengkak akibat tamparan sang ayah. Gadis itu pun mengeluarkan tetesan air matanya.
"Pah, udah pah." Ucap sang istri melerai maslah ini.
"Denger mulai hari ini semua fasilitas dari mobil, kartu ATM. Sampe semuanya kamu tidak berhak menggunakannya sebelum kau menyetujui apa yang papa katakan." Ucap sang papa yang menatap tajam ke arah putrinya. Ia pun pergi meninggalkan sang putri dan istri yang masih setia berdiri.
"Hiks, hiks, hiks. Papa jahat, aku benci papa. Aku sangat, sangat benci!!!." Ucap kesya yang menutup mukanya, air mata berderain membasahi seluruh wajah cantiknya. Sang mama yang melihat itu pun bersa sedih.
"Sayang sudah, ayo kita ke kamar dulu. Hmm," ucap sang mama memegang bahu anaknya dan satu tangan memegang lengan tangan sang anak.
"Hiks, papa jahat mah." Hisak kesya.
"Sudah sayang," ucap mama dengan suara khas lembut seorang ibu. Anak dan mama itu pun masuk ke kamar.
~Keesokan harinya~
Terlihat gadis yang sudah memakai pakaian seadanya untuk ke kampus. Ia berjalan keluar dari kamar tanpa ingat apa pun yang terjadi malam hari itu.
*Mungkin saja papanya hanya bercanda berkata, tapi sepertinya tidak disaat...*
"Ah, kau tega pah. Papa serius ingin anak papa seperti Galandengan?!. " ucap kesya tak percaya apa yang dikatakan sang papa, bukanlah hal main main saat malam itu.
"Pak ahok " suara gelegar tinggih menguasahi didalam kediaman itu. Pak ahok pun sudah ada didepan sang nyonya tak lama kemudian. "Yah nyonya, ada perlu apa?!." Ucap pak ahok berdiri didepan snag nyonya manenati jawaban.
"Pak ahok, anterin kesya ke kampus!!." Ucap mama kesya.
"Tapi nyon... Itu, tuan." Ucap pak ahok gagap tak tahu mau bicara apa. Ia bingung, bagaimana menyampaikan suruhan atasan dari suami sang nyonya sendiri.
"Saya tahu, apakah suami saya yang berkata?!." Ucap nyonya menebak kepastian.
"Hmm, I... Ya nyoya." Ucap pak ahok.
"Tak masalh itu urusan saya, kamu anterin saja kesya." Ucap sang nyonya kepada sang supir dirumah ini.
"Baiklah nyonya" pak ahok pun keluar dari ruang makan dan sudah siap di depan rumah. Untuk mengantarkan sang majikan.
"Huft, sudah ku duga." Batin mama kesya.
"Kesya, sudah pergi sana ke kampus. Nanti telat." Ucap sang mama. Ia melihat anaknya masih melamun karena syokk yang di denger perkataan sang papa tak lama barusan.
"Hmmm" gadis itu pun meraih tas mungil Gagandengannya. Ia berdiri tanpa arahan, ia hanya berjalan tanpa pamit dari sang mama. Sang mama yang melihat itu hanya menghela nafas lagi dan lagi.
"Mama tak tahu harus apa, mama hanya bisa berdoa untuk kalian berdua. Mama sungguh bingung," ucap sang mama kesya melihat punggung anaknya sudah mulai menghilang dari hadapannya. Ia pun melanjutkan membersihkan meja makan.
__ADS_1
\*Sesampainya dikampus\*
Waktu istirahat
"Ini bocah kenapa yakk, daritadi melamun mulu. Tumben amat dah!!." Ucap Tiara yang melihat kesya hanya bersandar dimeja dengan melipat kedua tangannya.
"Kes, luh kenapa." Ragu ragu Tiara.
"Hmmm" Tiara yang mendenger respon dari sahabatnya, tentu ia tahu pasti kesya mengalami permasalahan. Tapi apa?!.
"Cerita dong kalau ada masalah, jangan diam baelah???." Ucap Tiara. Kesya yang mendenger itupun responnya menatap tajam wajah temannya itu.
"Jadi apa, uy???." Lagi lagi tak direspon, tak selang lama kemudian. Membisu kian lama, tiara jera dan tak mau tanya apa pun lagi jika ujung ujungnya dicuekin begini.
"Gue dijodohkan" kesya tanpa memelas hanya masih menunduk wajahnya dengan lesu. Tiara yang mendenger hal itu seketika terbatuk batuk. "Huk, huk"
"Yang benar, kes?!. Sama siapa." Ucap Tiara yang sudah penasaran. "Uh, dicuekin lagi."
"Di kaperat itu.".............
"Apaaaaaaaaaa!!!!!."
\*Sepulang kampus\*
Tengah jalanan
"Fuhhh, capek kali jalan kaki. Kenapa yakk, nasib gue sial kali. Kalau tahu teman kampus gue kayak gini, pasti banyak cacian. Akhhhh"
"Itu bukannya, si terong tuh." Ucap kesya yang melihat Melena tengah membeli sesuatu diwarung yang tak jauh dari tempat kesya berada. "Serius amat??."
Kruyuk, kruyuk.....
"Astaga, aku hampir lupa. Kalau aku belum makan dari rumah. Sampe ke kampus sekalipun. Mana duit disita papa. Arghh ini semua salah kau hector." Gerutu kesal Kesya menghentak hentakan kakinya*.
~Saat ini diruang Tamu kediaman Kesya~
"Kesya kemari duduk bersama nak hector ," ajak sang papa kesya.
"Ahhhh" gerutu ia dalam hati, tapi ia tek berani nolak hanya menatap tajam tajam kearah hector yang tengah kedap kedip matanya. Melihat kelakuan hector ia mengerecut bibirnya tak suka. Kesya mau tak mau pun bergabung bersama ayah dan hector.
~**FALLBACK OFF**~
Kini Amaranta sudah berada didalam kamar milik sang amanda. Tak tahu ia mau buat apa, tiba tiba saja dia berada disini karena dua gadis yang menduga ia amanda, sedangkan ia saja tak kenal amanda itu siapa. Dan mengapa mereka menduga kalau aku adalah dia?!.
"Persetan" gadis itu memaki , wajahnya telihat jika ia sedang menahan kekesalannya. Ia duduk diujung kasur, sambil milirik dekorasi yang ada dikamar ini. Kuasa yang ada dalam kamar sederhana tidak semewah kamar milik ia, tapi ia kagum walau kamar kecil begini dekorasi memuja dimata.
"Lumayan" itu lah yang terlontar dari bibir gadis itu, seketika itu juga. Ia menoleh, ada sesuatu yang menarik perhatiannya yaitu bingkai foto yang tak jauh dari kasur, ia pun mengambil foto itu, betapa terkejutnya gadis itu.
"Kenapa foto ini persis seperti diriku, apa ini.. " ucapnya masi tak percaya yang ia lihat saat ini, ia mendenger sesuatu diluar jendela. Ia pun melihat apakah gerangan itu. Dan, tampaklah sesosok pemuda dengan senyuman khasnya sambil melambai tangan dari luar jendela kepada Amaranta.
__ADS_1
Siapa lagi dia???.
*🍒 To Continue🍒*