
Jungkook menatap wanita yang berdiri disamping jendela, sebagian wajah manita itu tertutup dengan darah dan diperutnya terdapat pisau yang menancap, tidak lupa dibagian dadanya dan juga bajunya compang camping.
Arwah manusia yang baru saja meninggal dan bergentayangan pasti terlihat seperti ini, masih menyisakan bentuk tubuh bagaimana saat dia meninggal dan itu menjijikan.
Walaupun tidak semua, ada saja arwah yang membiarkan tubuhnya seperti dia meninggal hanya untuk menakut nakuti orang saja.
"Kenapa kau tidak mencegahku Jungkook? Kenapa?"
Jungkook menunduk, salahnya memang kenapa juga harus dia lupa kalau dia bisa melihat orang yang akan meninggal dalam waktu satu jam.
"Kenapa Jungkook? Kenapa?!"
"A-aku ceroboh noona, aku ceroboh"
Jungkook menarik surainya dan ia terjatuh lagi pada ranjangnya, dia sangat ceroboh. Hanya merasakan familiar dan tidak sadar akan aura itu, apa Jungkook juga menjadi seorang pembunuh?
"A-apa yang kau inginkan noona"
"Bawa pembunuh itu dan aku akan membuatnya gila didalam penjara"
"Apa kau tidak dendam padaku noona? Jika aku sadar dan tidak lupa mungkin sampai sekarang kau masih bernafas"
Wanita itu berjalan menghampiri Jungkook, duduk disebelahnya dan mengedarkan pandangannya pada kamar Jungkook.
Sejenak wanita itu berfikir dan tersenyum walaupun kalau dilihat orang lain itu akan sangat menyeramkan dengan wajah berdarah, perut tertancap pisau dan bagian dada juga baju compang camping.
"Manusia memang pelupa, aku tidak bisa menyalahkan itu. Lagi pula ini memang sudah takdirku, aku tidak bisa menyalahkan siapapun termasuk dirimu, sebenarnya aku marah tapi kalau jalanku sudah seperti ini.. aku harus menerimanya"
"Tapi tetap saja aku bersalah, aku minta gambaran pembunuhmu"
"Namaku Yiren"
Wanita itu memegang kening Jungkook, wanita itu juga Jungkook menutup matanya hingga satu jam sebelum wanita itu mati. Dan gambaran itu terlihat sangat jelas.
*Yiren masuk kedalam lift dan bareng dengan Jungkook, tapi tidak lama Jungkook sepertinya gelisah, namun Yiren berusaha untuk tidak menanyakan apapun pada Jungkook.
Bukannya apa apa, tapi takutnya Jungkook gelisah karna kehidupan pribadinya jadi Yiren membiarkan Jungkook, tidak membuka suara sama sekali.
Sudah keluar dari lift Yireb terus menatap punggung Jungkook, saat sudah dirumah sakit Yiren mengerutkan dahinya bingung, dia bicara sendiri.
Yiren tidak mengetahui Jungkook, dia hanya sekelebat tau tentang Jungkook namun tidak dengan wajahnya jadi Yiren tidak tau kalau dia adalah Jeon Jungkook si anak paranormal.
Yiren ingin bersantai dulu ditaman kota untuk menenangkan fikirannya, kekaishnya dirawat dirumah sakit tadi karna dia selesai operasi usus buntu.
Sampai ditaman kota, Yiren menghampiri beberapa penjual makanan untuk menenaminya makan sambil streaming film, beruntung sekali taman ini menyediakan 3 wifi gratis agar tidak terlalu lemot.
Yiren mulai menonton filmnya, namun percuma baru saja berjalan 15 menit wifinya mulai lemot dan Yiren tidak suka ini.
Makanannya pun sudah habis jadi Yiren memilih untuk pulang saja keburu semakin larut malam, tapi Yiren dibuat gelisah karna ada 2 orang pria yang sepertinya mengikuti dirinya.
Tempatnya sudah mulai jauh dari taman kota dan Yiren lari, 2 pria itu juga lari dan tidak lama Yiren tertangkap langsung membungkam mulut Yiren agar tidak berteriak.
Yiren panik dan berusaha berontak namun sebuah hantaman dikepalanya membuat Yiren tidak sadarkan diri, selanjutnya Yiren diperkosa habis habisan dan selesainya Yiren dibunuh*.
Jungkook membuka matanya dan tubuhnya bergetar, tidak pernah Jungkook melihat pembunuhan walaupun hanya dari gambaran sesosok arwah, itu sangat menyeramkan.
Tapi Jungkook bisa melihat 2 pelakunya, setidaknya Jungkook melihat wajah dua pelaku itu dan tinggal mencari keberadaan 2 pria itu.
"Jungkook-astaga!"
Taehyung datang, tapi Taehyung tersentak saat melihat sesosok wanita duduk disamping Jungkook. "Ada apa?"
"Aku mendengar percakapan polisi itu, katanya dia ingin meminta keterangan darimu karna kau anak indigo dan mungkin kau mendapat sesuatu dari mmmm noona-ahaha halo noona"
Taehyung tersenyum konyol walaupun dia sedikit ketakutan, Taehyung biasa melihat arwah yang utuh tanpa luka, tapi melihat Yiren rasanya Taehyung ingin sadar dari komanya.
"Aku sudah"
Jungkook menuju meja belajarnya, untung saja Jungkook sangat ahli menggambar dan Jungkook mulai menggambar pria yang ada dipenglihatannya.
Dengan lihai Jungkook menggambar setiap inci wajah pelaku pelaku itu, mulai dari depan wajah dan dari samping wajah agar memudahkan para polisi menemukan pelaku itu.
Satu jam berlalu, 2 gambar dari depan sudah selesai. Menggambar dari samping tidak terlalu membuang waktu banyak, 30 menit sudah selesai.
.
.
.
.
Selesai menggambar Jungkook segera pergi ke kantor polisi dengan empat lembar kertas ditangannya. "Aku mencari polisi yang bernama Hansol dan Chanyeol"
"Tunggu sebentar"
Jungkook dan Taehyung duduk dikursi panjang menunggu dua polisi itu datang, tidak lama mereka berdua datang dan langsung menyuruh Jungkook untuk ikut keruangannya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
__ADS_1
"Sebelumnya maafkan kelakuan Taehyung, dia menguping pembicaraan kalian berdua-aww" Taehyung memukul kepala Jungkook kesal karna memberi tau dua polisi itu.
"Ahaha tidak apa apa, jadi kau sudah tau kan?"
"Ya aku sudah tau, dan ini gambaran dua pelaku itu dari depan dan dari samping"
Hansol dan Chanyeol melihat gambar itu dan terkesima dengan hasil gambarnya, sangat bagus, sangat rapih dan sangat teliti sekali.
"Kalau gambarnya seperti ini sangat mudah sekali ditemui, tapi apa kau bisa memberinya warna agar lebih mudah?"
"Bisa, tapi aku tidak membawa alatnya"
"Tidak apa, Chanyeol ambilkan dilemari sana tolong"
Chanyeol mengambil alat gambar milik keponakan Hansol yang sengaja ditinggalkan disini karna keponakannya suka datang kesini.
Jungkook mewarnai hasil menggambarnya, gradasi dan lain lain sangat rapih membuat dua polisi juga Taehyung sangat kagum dengan kemampuan menggambar Jungkook.
Waktu berlalu, Jungkook selesai mewarnai dan hasilnya sangat memuaskan. Ingin sekali memasukkan Jungkook dalam kepolisian, dengan mengandalkan kemampuannya tentu saja akan memudahkan para polisi.
"Ah Jungkook-lulus sekolah rasanya aku sangat ingin merekrutmu tanpa pelatihan terlebih dahulu"
"Ahaha saya dengan senang hati"
"Kau mau?!"
"Ya, tidak masalah selama aku mendapatkan uang untukku kuliah dan kebutuhan rumah"
"Akan kudaftarkan sekarang agar saat kau sudah lulus sekolah kau langsung terikat kontrak, Chanyeol kontrakan Jungkook"
"Baik"
"Nah, kau boleh pulang. Bawahan saya akan mengangarmu"
"Terima kasih"
.
.
.
.
.
.
Sana ada disini untuk membantu Wonwoo menyiapkan sesuatu untuknya dibawa nanti, sedangkan Jungkook membeli makanan.
Sebenarnya Jungkook diajak, namun Jungkook menolak lebih baik istirahat dirumah, lagi pula Jungkook tidak terlalu suka mendaki.
Taehyung juga ikut siapa tau Taehyung melihat dua pelaku pembunuhan semalam. Sudah bayar d kasir Jungkook langsung menuju kesepedanya dengan Taehyung yang duduk dibelakangnya.
Belanjaannya Jungkook gantung dilengannya, supermarket tidak terlalu jauh. Saat sudah keluar dari komplek perumahaan maka naik sepeda hanya akan memakan waktu 5 menit dan sampai.
"Kook-Kook berenti" Taehyung menepuk pundak Jungkook menyuruhnya untuk berhenti. "Ada apa?"
"Lihat kesamping kananmu"
Jungkook menengok k kanannya dan melihat dua orang pria yang sedang menghisap rokok dibawah pohon, dua pria yang menjadi pelaku pembunuhan semalam.
"Tangkap dia?" Jungkook mengangguk dan menyuruh Taehyung untuk turun. "Kau yang menangkap"
"Aku? Aku bagaimana bisa? Menyentuh orang lain saja tembus kecuali menyentuhmu"
"Kau menjadi sosok menyeramkan dan genggam tangan mereka berdua"
"Tidak bisa! Akan tembus seperti memegang angin"
"Percaya padaku, aku sudah mengembangkan kemampuanku ini. Tutup matamu dan bayangkan sosok arwah yang menyeramkan"
Taehyung menutup matanya dan Jungkook meraba wajah Taehyung naik turun, Jungkook sudah mempelajari ini dari mamanya dan semoga bisa.
"Nah sudah, buka matamu"
Ternyata Taehyung benar benar membayangkan arwah yang benar benar menyeramkan bahkan Jungkook sampai bergidik ngeri.
Jungkook mengeluarkan hpnya dan membuka kamera membuat menjadi kamera depan. "Lihat wajahmu"
"Roh tidak bisa berkaca"
"Bisa"
Taehyung melihat wajahnya. "Astaga makhluk apaan itu" Taehyung menutup matanya ketakutan, benar benar ketakutan. "Hey, kau yang membayangkan dan kau yang ketakutan, ini wajahmu"
"Apa bisa kembali? Itu sangat menyeramkan" mata Taehyung yang keluar satu hingga menggangtung dipipinya, kepala bolong sebelah seperti dihantam palu besar.
Rahang yang sudah hampir terlepas juga luka dileher yang terbuka memperlihatkan bagaimana tenggorokan itu. "Bisa saja, kau takuti mereka tahan tangannya dan mereka akan pingsan, aku akan menelpon polisi"
__ADS_1
Taehyung menghilang sedangkan Jungkook menghubungi Hansol agar mereka datang k sini, sebentar lagi akan sampai digerbang komplek perumahan.
Taehyung muncul didahan pohon menatap dua pria yang duduk dibawah pohon itu dengan asik menghisap rokok dengan dua botol soju.
Taehyung menjatuhkan rantingnya, saat kedua manusia itu menatap ke atas, Taehyung segera menghilang dan muncul dihadapan mereka. Saat mereka tidak lagi menatap ke atas, wajah Taehyung tepat dihadapannya.
"Aarghhh apaan itu!
"Setan! Pergi kau!!"
Dua pria itu menutup wajahnya ketakutan melihat rupa Taehyung, mereka hendak pergi namun Taehyung menahan tangan mereka.
"Pergi! Jangan ganggu kami!"
"Lepaskan kumohon! Lepaskan!"
"Saat seorang wanita memohon untuk dilepaskan, apa kalian melepaskannya?"
"Wanita apa?! Kami tidak beurusan dengan siapapun!"
Taehyung menarik kepala mereka berdua agar mata mereka menatapnya, semakin histeris dan Taehyung menyeringai seram, semakin ketakutan mereka dan tiba tiba mereka pingsan.
"Cih sama yang beginian saja pingsan"
Taehyung menghampiri Jungkook dan Jungkook mengerti merubah kembali rupa Taehyung agar menjadi seperti semula, hebat sekali Jungkook ini.
"Sebentar lagi polisi datang"
Jungkook menunggu beberapa menit dengan Taehyung yang tiduran di trotoar menatap siang hari yang cerah tanpa awan mendung.
Tidak lama dua mobil polisi datang dengan Hansol yang keluar terlebih dahulu. "Dimana mereka Jungkook?" Jungkook menunjuk bawah pohon yang tergeletak mengenaskan disana.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?"
"Taehyung yang melakukannya bukan aku"
"Apa apaan itu! Kau yang menyuruhku!"
"Berterima kasihlah padaku karna membuatmu membantu polisi juga walaupun sampai membuatnya pingsan"
"Apa yang kalian lakukan?"
"Merubah Taehyung menjadi menyeramkan dan menakuti mereka hingga pingsan"
"Ahh kalian berdua saja yang kurekrut"
"Saat Taehyung sadar nanti dia tidak akan bisa menakut nakuti"
"Benar juga, tapi tidak apa apa. Terima kasih Jungkook, dan Taehyung, kalau bukan karna kalian berdua mungkin kami akan sedikit kesulitan, terima kasih sekali"
"Tidak masalah, sudah sepatutnya kami saling membantu"
"Jungkook bilang padanya, apa kami tidak mendapatkan upah?"
"Kau mata duitan sekali" Taehyung hanya tersenyum konyol.
"Aku tau, tentu kalian mendapatkan upah, akan ku transfer uangnya, apa kau punya rekening?"
"Punya"
"Kirimkan nomor rekeningnya padaku dan akan kuisi, kau sebaiknya pulanglah"
"Terima kasih, apa kau ingin makanan atau minuman?"
"Itu tidak perlu, aku pergi"
"Baiklah"
Jungkook pulang dengan Taehyung yang girang karna mendapatkan upah, tidak menyangka Taehyung itu mata duitan walaupun tidak parah tapi itu memalukan. Shit
Jungkook meletakan belanjaannya dimeja makan membiarkan Sana yang merapihkannya, satu kantung milik Jungkook dan Jungkook sudah memberi tau itu.
Ponsel Jungkook bergetar tanda pesan masuk, Jungkook membukanya dan membelakan matanya, kalau rekening Jungkook sudah terisi.
"Woah daebak! Taehyung kita bagi dua upahnya!"
"Apakah banyak?!"
"Bagi anak sekolah ini banyak!"
"Woahh!! Kerja kita hanya begitu saja tapi mendapatkan upah banyak?! Aku akan bekerja bersamamu jika akan terus mendapatkan upah"
"Bekerjalah! Kita akan mendapatkan uang!"
"Ada apa ini?" Tanya Wonwoo ikut duduk disamping Jungkook, tidak tau saja kalau Wonwoo menduduki Taehyung.
"Untung seperti angin" dengan wajah Taehyung yang asam sekali, Jungkook hanya tertawa. "Kami membantu polisi menemukan pembunuh yang semalam dan kami mendapatkan upah dan baru masuk ke rekeningku"
"Pintar sekali, simpanlah uang dalam rekeningmu untuk kau kuliah nanti"
__ADS_1
"Tentu saja"