
Jungkook sudah tidak pendiam lagi, Jungkook jadi banyak ngobrol dan makin banyak yang suka juga dengan Jungkook karna Jungkook itu menyenangkan.
Wanita wanitapun semakin banyak yang suka karna senyum tampan Jungkook, tubuh tinggi juga kekar, cocok sekali untuk dijadikan pacar.
Namun Jungkook tidak ingin mengisi hatinya untuk wanita lain selain wanita yang dulu pernah mengisi hatinya, orang pertama yang mengisi hatinya.
Jungkook tau 'dia' terpaksa memutus hubungan dengan Jungkook, ini demi kebaikan Jungkook karna ada orang lain yang tidak suka kalau Jungkook berpacaran dengan 'dia'.
Kalau Jungkook memaksa terus melanjutkan hubungan juga 'dia' yang kena imbasnya, saling melindungi untuk kebaikan hubungan mereka.
Jungkook sekarang lebih banyak ngobrol dengan orang lain, sering diajak masuk kedalam kelompok belajar, karna Jungkook sangat pintar walaupun tidak semua mata pelajaran.
Hidupnya benar benar berubah sejak Jungkook berani bicara panjang lebar, memang tidak ada salahnya kalau berani, itu akan merubah semuanya.
Menyerah dengan keadaan itu yang tidak boleh, jika memang ingin berubah apa salahnya berusaha walaupun banyak yang tidak suka.
.
.
.
.
"Selama temenan sma Taehyung, dia itu gimana?"- Jihyo
"Dia jail, kesemua anggota keluargaku, tapi dia sangat baik selalu membantuku kalau sedang kerja"
"Kerja yang kau maksud itu membantu orang orang yang-"
"Hm benar, sudah dua kali Taehyung masuk kedalam alam bawah sadar manusia, akupun terkejut Taehyung bisa masuk kesana padahal sangat kecil kemungkinan roh orang yang sedang koma ikut masuk kesana"
"Alam bawah sadar manusia yang kau datangi seperti apa?"
"Aku menutup mata mencoba tenang dan rohku akan keluar dari tubuh, awalnya roh kita tetap ada ditempat dimana kita diam, namun bedanya disana gelap dan berkabut, lalu jika kita ingin keluar maka kita harus mencari pintu merah"
"Keluar rumah begitu?"
"Bukan, ke tempat dimana para arwah tinggal"
"Apa itu menyeramkan?"
"Ya, bagi yang pertama kali datang akan sangat menyeramkan dan itu sangat cocok untuk uji nyali, bahkan tingkat kematian dan terjebak disana sangat besar kalau kita ceroboh"
Jihyo terdiam memikirkan beberapa pertanyaan, disini posisi mereka sedang berjalan menuju kelas musik, itu ekskul mereka berdua, Jihyo mengambil biola sedangkan Jungkook piano.
"Ah! Apakah semua orang bisa melepas rohnya sendiri?"
"Tidak semua orang bisa, itu sangat jarang sekali"
"Lalu, kenapa kau bisa?"
"Karna aku dari keturunan kedua orang tuaku, mereka bisa melalukan itu tentu saja turun padaku"
"Apa hyungmu bisa?"
"Kami belum mencobanya"
"Menyenangkan sekali menjadi anak indigo"
"Tidak menyenangman awalnya, aku selalu melihat arwah dimana mana, tapi kalau belajar terbiasa maka kita akan melihat arwah seperti melihat manusia biasa"
"Woah, bisa seperti itu. Keren sekali"
Mereka sampai dikelas musik, satu kelas dibagi menjadi 3 ruangan, tentu kelasnya tiga kali lebih luas dari kelas biasa, hampir menyamai lapangan upacara, bisa dibilang aula kedua.
Masing masing ruangan kedap suara, satu ruangan untuk orkestra, yang diambil Jungkook juga Jihyo. Satu untuk band juga satunya lagi untuk paduan suara.
Luas sekali memang, tapi kalau sedang tidak latihan orkestra para murid hanya perlu mengembangkan alat musik yang mereka pilih saja.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Satu bulan terlewati, Jungkook sama sekali tidak melihat Taehyung ada dimana mana, tidak merasakan aura sama sekali bahkan kedua orang tuanya tidak tau Taehyung ada dimana.
Tapi biarlah mungkin saja Taehyung sedang mengunjungi orang tuanya atau pergi kemana menemui sepupu paman bibinya, lagi pula ini bukan urusan Jungkook juga.
Jungkook sedang ikut dengan mamanya, membeli beberapa buku bacaan do'a dan lain lain, bukan seperti mantra seperti dukun, tidak.
Justru keluarga Jungkook tidak suka yang seperti itu, itu malah seperti bersekutu dengan setan.
Yang mereka butuhkan hanyalah dadu huruf, buku tulis, alat gambar saja. Tidak ada yang aneh aneh, bahkan jika tidak ingin dirasuki mereka berkomunikasi dengan arwah menggunakan dadu huruf saja.
"Dua bulan lagi kau akan ulangan kenaikan kelas, apa ingin membeli buku lain?"
"Sepertinya tidak, aku hanya ingin membeli hoodie saja"
"Baiklah, kita pisah disini saja"
Jungkook mengangguk, untuk bagian pakaian ada dilantai 2 sedangkan yang dituju oleh mamanya ada di lantai 1. Jungkook sendiri ke lantai 2.
Saat menaiki eskalator Jungkook berpapasan dengan seorang pria yang umurnya mungkin dua puluh tahunan, tapi ada parasit yang menggigiti pundak pria itu.
Jungkook menengok ke belakangnya, tidak ada orang. Dengan sigap Jungkook memegang leher parasit itu dan melepas perlahan gigitan dipundaknya.
"Meresahkan parasit sepertimu"
Jungkook membersihkan pundak pria itu, seketika pria itu pingsan. Untung saja sudah tidak dieskalator, keamanan dilantai 2 sigap membantu pria itu.
Jungkook berjalan menuju kamar mandi dengan parasit yang tidak bisa diam ingin lepas dari cengkraman Jungkook, sangat sakit dan panas karna Jungkook membacakan do'a do'a.
"Bisakah parasit hilang saja"
Jungkook membuang parasit itu kedalam kloset duduk dan menyalakan air agar parasit itu terbawa air dan terbuang jauh jauh.
Jungkook mencuci tangannya dan segera kembali keluar, pria yang tadi sudah sadar dan tidak pucat lagi, dia sudah bebas dari parasit.
"Pria itu!"
Jungkook bingung, pria itu menunjuk pada Jungkook dan satu petugas keamaan bergegas menghampiri Jungkook dan membawanya pada pria tadi.
"Kau sadar aku yang melakukannya?"
"Sekilas aku ingat wajahmu yang sangat jengkel saat sudah melepaskan sesuatu yang melekat padaku"
"Wajahku.. ah tidak apa apa, sudah tugasku" Jungkook tersenyum lebar dan membungkukan tubuhnya lalu pergi mencari hoodie yang diinginkannya.
"Tunggu! Sebagai rasa terima kasihku, akan ku belanjakan apa yang kau beli"
"Itu tidak perlu, gunakan uangmu untuk kebutuhan lainnya"
"Tapi aku tidak bisa tidak membalas kebaikan orang lain"
"Tidak apa apa, aku ikhlas"
"Tidak, ayo kau ingin membeli apa?"
"Baiklah, aku hanya ingin beli satu hoodie saja"
"Berangkat"
Jungkook sudah menemukan hoodie keinginannya, tidak mahal tapi ini sangat bagus. Jungkook tau aturan untuk tidak membeli hoodie yang mahal karna ini dibayari oleh orang lain.
Walaupun pria itu memaksa untuk membeli yang sedikit lebih mahal dengan kualitas bagus, tapi Jungkook tetap menolaknya.
"Terima kasih sudah membayari hoodieku"
"Tidak masalah, hati hatilah"
"Kau juga, jangan gegabah ditempat lain"
"Akanku ingat pesanmu agar terhindar dari itu semua"
"Ahaha bagus itu"
__ADS_1
Tidak lama pria itu pergi, mama Jungkook datang tergesa gesa, wajahnya panik sekali. "Ayo cepat pulang"
"Ada apa? Sudah membeli barangnya?"
"Itu semua sudah, ayo cepat"
Jungkook segera berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, mama Jungkook diam didepan pintu pusat perbelanjaan.
Saat mama Jungkook sudah masuk, menyuruhnya untuk ngebut lewat jalan pintas, Jungkook masih sekolah d suruh bawa mobil ngebut? Ini bukan Jungkook sekali.
"Ada apa?"
"Partisipan mama kerasukan dan parahnya bibi, paman dan adiknya juga kena imbas"
"Itu sangat bahaya ma! Aku ikut ya!"
"Tidak perlu, papa sudah ada dijalan menuju rumahnya"
"Tapi kenapa kita harus pulang dulu?"
"Papamu yang ceroboh melupakan membawa air do'a!"
"Astaga"
Sepuluh menit sampai dirumah, dengan tergesa gesa mama mencari air do'anya dan segera mengambil paksa kunci mobil dari Jungkook.
"Mama hati hati!"
"Kalau mau makan panaskan saja yang ada dikulkas!"
Mamanya pergi, dirumah sendirian tanpa Wonwoo yang sedang kerja dan kemana Taehyung? Dia tidak ada muncul sama sekali.
"Hey kamu tau dimana Taehyung?" Tanya Jungkook pada salah satu arwah anak kecil yang memainkan buah diatas meja makan.
Arwah anak kecil itu menggelengkan kepala, anak kecil itu sudah ada dirumah Jungkook sejak tiga tahun yang lalu, dia meninggal karna diracun oleh mamanya sendiri.
Untuk apa susah susah melahirkan namun akhirnya diracun juga, membuang buang tenaga saja padahal saat melahirkan saja sangat sakit, tapi dia membunuhnya.
Entah dimana fikiran orang tua yang tega membunuh anaknya, ada juga anak yang tega membunuh orang tuanya. Dimana otak manusia seperti itu?
.
.
.
.
.
Jungkook sedang memasak nasi goreng kimchi, sore sore dia lapar setelah tertidur pulas selama lima jam lamanya.
Tapi saat Jungkook hendak menaruh nasi goreng pada piring dia merasakan aura aneh, dia menengok kebelakangnya dan terkejut melihat Taehyung.
Dia sangat pucat dan luka didahi juga tangannya sudah tidak ada, dia mulus tanpa luka sama sekali.
"Kau kemana saja"
"Aku diam disamping tubuhku yang berkali kali nyaris kehilangan nyawa"
"Kau akan sembuh aku yakin"
"Entahlah, aku pergi ya"
Taehyung tersenyum lebar, apa apaan itu senyumnya? Ini seperti perpisahan.
"Jangan pergi kerumah sakit aku mohon, jika aku tidak selamat ini permintaan terakhirku, jangan pergi kerumah sakit"
"Tapi aku yakin kau se-apa apaan ini?"
Jungkook tidak bisa menyentuh Taehyung, rasanya seperti angin. "Titip salamku pada yang lain jika aku tidak selamat"
"Bicara apa si? Kau akan selamat aku yakin! Yak Kim Taehyung!"
Taehyung perlahan menghilang, Jungkook ingin ke rumah sakit, tapi permintaan terakhir Taehyung jangan kerumah sakit.
__ADS_1
Jungkook tidak mau percaya kalau Taehyung tidak selamat, tapi Jungkook juga tidak ingin Taehyung kecewa karna tidak memenuhi permintaannya.
"Aku harus apa?"