
Sorry For Typo-
Happy Reading><
--------------------------------------------------
Jungkook baru pulang, habis main di taman hiburan sama temen temennya, tentu tidak pulang kerumah dulu, mereka pulang sekolah langsung pergi kesana.
Disana sangat menyenangkan, dengan Taehyung yang selalu menjahili Jimin juga kadang meniup tengkuk Irene hingga membuat Irene merinding sendiri.
Taehyung tidak berani menganggu Yoonji, karna kalau Taehyung mengganggu Yoonji sama saja berurusan dengan Yoongi, jadi Taehyung lebih memilih menjahili anjingnya saja. Hoba, Min Hoba.
Karna terlalu lama main membuat Irene menjadi lelah, juga tidak hentinya Taehyung menjahili Irene.
Jungkook juga belum izin pada orang tuanya dan sekarang sudah malam, memakai baju seragam, sungguh tubuh Jungkook jadi terasa lengket karna belum mandi.
Jungkook mengayuh pedal sepedanya dengan pelan, menikmati angin malam yang dingin namun mengejukkan, Jungkook sangat suka udara segar terlebih di pagi hari.
"Kookie hyung"
Sayup sayup Jungkook mendengar seseorang memanggilnyanya, seprti suara anak kecil. Sedangkan sekarang hanya ada penjual makanan, orang orang berlalu lalang, tidak ada anak kecil disini.
Hanya ada satu anak kecil yang memanggilnya 'Kookie'
Siapa lagi kalau bukan Mugi? Tapi dimana anak menggemaskan itu? Hanya ada suaranya namun wujudnya tidak ada, mungkin sedang ingin petak umpat.
"Mugi dimana baby?"
"Kookie hyung tidak perlu tau dimana Mugi, Mugi mau ngomong sama hyung"
Jungkook mengayuh kembali pedal sepedanya, lebih enak jalan sambil memgobrol karna tidak akan membuang waktu jika ngobrolnya sambil diam.
"Mugi mau ngomong apa hm?"
"Mugi punya firasat aneh, Mugi ngerasa kalau ada yang akan berkorban untuk Kookie hyung dan atau Kookie hyung yang akan berkorban"
Jungkook memberhentikan sepedanya, apa maksud ucapan Mugi? Akan ada seseorang yang berkorban untuknya? Atau dirinya sendiri yang berkorban?
Tapi, bagaimana bisa sesosok arwah bisa memiliki firasat? Bagaimana Mugi bisa? Ini mustahil sekali kalau arwah memiliki firasat, bahkan mereka saja sudah mati seutuhnya.
"Maafin Mugi kalau Mugi ngomongnya kelewatan, anggap saja omongan Mugi hanya angin lewat"
"Mugi ke kamar Kookie hyung saja ya, kita bicara disana"
Setelahnya tidak ada yang bicara lagi. Jungkook memikirkan ucapan Mugi, apa suatu saat nanti akan terjadi sesuatu padanya?
Mugi itu anaknya sangat menggemaskan, tubuhnya gempal dan pipinya chuby, saat menjadi arwah saja semenggemaskan ini, bagaimana saat dia masih hidup?
Mugi sangat menyayangi Mi Ra, wanita manis itu.
Ah wanita manis, Jungkook jadi merindukan sosok wanita yang pernah hinggap dihatinya, namun itu sudah berlalu.
Menjalin hubungan selama dua tahun, dan awal kelas 11 hubungan itu berakhir, di akhiri oleh dia bukan denga Jungkook sendiri, tidak apa apa selama dia bahagia.
.
.
.
.
.
.
Jungkook sudah sampai dikamarnya, auranya selalu sama karna dikamar Jungkook ada beberapa arwah yang diam disana.
Dan Jungkook merasakan aura Mugi, tapi dimana dia? Dan juga arwah yang dikamar Jungkook berdiam dikolong kasur, ada yg d atas lemari, di pojok kamar sedang merayap dan lain lain.
Jungkook sudah terbiasa tentu saja.
Jungkook merebahkan tubuh lelahnya diranjang, dia hanya cuci muka dan kaki saja, terlalu malas untuk mandi.
__ADS_1
"Kookie hyung"
"Hm?"
Mugi ternyata ada diatas meja Jungkook, dia sedang memainkan gantungan karakter BT21.
"Kookie hyung jangan fikirkan ucapan mugi tadi ya, Mugi hanya anak kecil dan biasanya anak kecil firasatnya selalu salah"
"Hey, karna kau adalah anak kecil maka instingmu kuat. Biasanya firasat anak kecil memang benar, terlebih menyangkut orang yang si anak kecil itu sayang"
"Tapi semoga saja tidak benar! Mugi memang ingin satu alam dengan hyung, tapi kalau Kookie hyung matinya karna berkorban Mugi tidak mau!"
Jungkook duduk dari tidurannya, menatap Mugi horor. Anak itu pengen dirinya mati lebih cepat? Benar benar anak ini.
"Kau ingin hyung mati muda gitu?"
"Ihh tidak! Kookie hyung harus mati saat sudah tua nanti, Kookie hyung harus hidup bahagia bersama istri, anak dan cucu hyung, lalu hyung mati dan kita bertemu dialam lain"
"Hoo begitu? Dan maksud dari ucapanmu?"
"Jangan difikirkan"
Mugi berjalan menghampiri Jungkook, bocah menggemaskan itu duduk didekat kepala Jungkook yang sudah kembali tiduran dikasur.
Mugi memainkan jari panjang Jungkook, Mugi kagum dengan tangan Jungkook yang kekar dan bisepnya yang berbentuk jangan lupa uratnya menonjol walaupun tidak menonjol sekali.
Ah iya, ucapan Mugi. Jungkook sepertinya mengerti, akan ada sesuatu yang membuat Jungkook harus berkorban, tapi ada seseorang yang akan berkorban untuk Jungkook agar Jungkook tidak menjadi korban, mungkin seperti itu.
Tapi kalau yang akan berkorban adalah keluarga, teman teman dan orang yang disayangnya Jungkook tidak ingin, lebih baik Jungkook yang berkorban.
"Mugi, apa akan terjadi sesuatu pada hyung? Siapa yang akan berkorban untuk hyung dan siapa orang yang mengharuskan hyung untuk berkorban?"
"Tuh kan hyung fikirin ucapan Mugi!"
"Janji kalau sudah dijawab tidak akan difikirkan!"
"Janji kelingking"
"Mugi tidak tau siapa yang akan berkorban dan siapa orang yang mengharuskan Kookie hyung untuk berkorban. Tapi semoga saja ini tidak benar"
"Baiklah tidak apa apa"
"Ihhh Kookie hyung ko ajak Mugi ke kamar hyung? Dasar om om pedo"
Jungkook menatap Mugi tajam, enak saja dia dibilang om om pedo, ganteng gini masih muda gagah dan berani dipanggil om, pedo lagi.
"Hyung masih sekolah dan hyung bukan om om ya! Tidak pedo!"
"Tapi Mugi masih enam tahun, Kookie hyung berapa tahun hm? Satu dua tiga empat.. tujuh belas tahun, Mugi sama Kookie hyung beda sebelas tahun"
Ucap Mugi menunjukan Sepuluh jari pendeknyanya tidak lupa kaki kanannya mengangkat dengan ibu jarinya berdiri.
"Lalu?"
"Kookie hyung om om pedo!" Mugi menutupi dadanya dengan kedua tangannya, takut. "Hey, hyung bukan om pedo ngerti? Dan Mugi itu laki laki! Apa apaan hyung memperkosa anak kecil? Laki laki pula, hyung tidak suka sesama jenis!"
"Kan om pedo itu tidak memandang kelamin hyung"
"Dan hyung bukan pedo Mugi astaga" Jungkook berguling guling dikasurnya, anak masih umur enam tahun tapi sudah mengerti yang beginian, belajar dari mana dia:))
"Kau masih kecil mengerti?! Tidak sepantasnya kau bicara seperti itu, bicaralah selayaknya anak kecil, membicarakan film kartun atau bercerita pergi berlibur kerumah nenek, pantai, gunung dan lain lain"
"Ah film kartun hyung! Mugi ingin mengeluh dengan film kartun" Jungkook bangun dan duduk dihadapan Mugi. "Bicaralah"
"Mugi selalu berkeliling kerumah yang memiliki anak seumuran dengan Mugi, mereka selalu menonton film kartun yang movie gitu hyung, tapi Mugi anehnya itu film untuk anak kecil tapi kenapa ada adegan ciumannya hyung? Itu kenapa?"
"Astaga Mugi kau sudah tau soal ciuman?! Belajar dari mana kamu?! Masih kecil Mugi!" Jungkook menarik telinga Mugi gemas, tidak kencang namun gemas sekali.
"Mama! Papa! Marahin Mugi sudah kenal cium ciuman!"
"Hyuuung"
"Tau dari mana kamu tentang seperti itu? Kamu sering nonton hm?"
__ADS_1
"Tidak ish, Mugi pernah tidak sengaja melihat kakak Mi Ra sedang bertempel mulut, Mugi tidak tau itu kenapa dan Mugi bertanya pada Mi Ra noona, dan Mi Ra noona memberi tau kalau itu adalah ciuman, untuk sesama orang yang disayang. Mugi sayang Mi Ra noona boleh ciuman dengannya tidak?"
"Tidak boleh! Kau masih kecil! Itu untuk orang dewasa yang sudah menikah! Jangan bicarakan hal ini hm? Hyung akan marah denganmu"
"Jangan! Janji Mugi tidak akan bertanya lagi dan tidak akan melihatnya lagi!"
"Good boy"
Setelahnya hening, Mugi maupun Jungkook tidak ada yang buka suara. Jungkook bingung kenapa Mugi omongannya bukan seperti anak kecil pada umumnya?
Apa karna Mugi adalah sesosok arwah jadi dia dengan bebas pergi kemanapun, mendengarkan omongan orang orang dewasa dan itu terserap pada otak Mugi?
Ini bisa jadi, tapi gapapalah Mugi sudah meninggal jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Wonu hyung ada dimana?"
"Wonu hyung ada, biarkanlah dia. Dia lelah sehabis bekerja"
"Mmmmm okey, tapi mama dan papa hyung ada?"
"Ada, dikamarnya mungkin kalau tidak dibalkon belakang"
"Yasudah! Mugi mau bertemu mereka dulu"
Mugi menghilang, tapi tidak lama Taehyung datang dengan keadaan lesu, wajahnya sedih sekali. "Ada apa dengan wajahmu?"
Taehyung menunjuk dirinya dan Jungkook mengangguk. "Ganteng gini"
"Bukan itu! Wajahmu lesu sekali"
"Pacarku, sakit"
"Bisakah 'pacarku' tidak perlu ditekan? Aku memang tidak memiliki kekasih, tapi aku punya seorang wanita yang mampu meluluhkan hati siapapun"
"Cih, punya wanita ko tidak cerita?"
"Untuk apa? Untuk kau rebut nanti? Tidak akan, walaupun sudah bukan kekasih namun dia masih yang terbaik"
"Sudah ada Irene untuk apa aku mencari yang lain? Kalau yang terbaik tidak mungkin menjadi mantan Kook, ada apa hingga putus hubungan?"
"Masa lalu tidak perlu diungkit kembali, fikirkan bagaimana kedepannya kita. Masa lalu kita jadikan pembelajaran untuk dimasa depan kita menjadi lebih baik lagi"
"Iya juga, masa lalu memang menjengkelkan dan sangat ingin dilupakan, rasanya menjijikan jika mengingat keburukan kita dimasa lalu"
"Kalau tidak ada masa lalu tidak akan ada pembelajaran buat kita dimasa depan, adanya masa lalu untuk kita jadikan pengalaman, ambil sisi baiknya, saring dan perbaiki yang kurang"
"Hey kenapa jadi seperti ini? Apa masalahmu berat?"
"Entah, aku hanya memberi tau saja siapa tau berguna untukmu"
"Ini akan berguna, perkataanmu akan kusimpan dan akan ku bicarakan untuk anakku nanti dimasa depan"
"Apa kau tidak merasakan sesuatu pada tubuhmu? Ini sudah terlalu lama kau koma"
"Aku sedikit merasa perubahan, entahlah susah dijelaskan. Tidak tau selanjutnya aku akan hidup atau mati, aku takut"
"Yakinkan dirimu kalau kau bisa sadar dan sembuh, jauhkan fikiran negatifmu, fikirkan yang baik baik. Ingat, banyak yang menginginkan kau sadar dari tidur panjangmu, terlebih keluargamu dan juga Irene noona"
"Kalau aku tidak selamat aku titipkan pesanku pada yang lain mau? Dan aku akan sering mengunjungimu untuk bertemu dengan yang lain"
"Tidak, kau harus selamat. Dan jika kau meninggal nanti, semua orang yang sayang padamu ikhlas kau tidak akan ada dibumi lagi, tapi tergantung. Mugi masih ada dibumi walaupun orang yang sayang padanya sudah ikhlas"
"Tapi aku belum siap untuk mati"
"Iya makanya! Kau penuh dosa dan juga kenapa harus koma enam bulan kalau langsung meninggal saja bisa, kenapa harus ribet ribet koma panjang?"
"Kurang ajar, begini ya Jeon Jungkook yang terkenal pendiem ternyata ucapannya tidak bisa disaring"
"Ya, karna saringannya rusak sama Wonu hyung"
Senang sekali bisa bicara dengan bebas, berbicara bebas dengan Taehyung sangat menyenangkan karna Taehyung tidak pernah diambil hati, dibawa santai saja dan kalau Taehyung tersinggung pasti akan mendapat bogeman mentah.
Selama yang diucapkan masih bisa direspon Taehyung dengan tawa, Taehyung tidak diambil hati. Dan kalau abis bicara asal dan tiba tiba kema bogeman itu artinya Taehyung marah karna ucapannya kelewatan.
__ADS_1