Imaginary Friend

Imaginary Friend
Eps.24


__ADS_3

Dua hari berlalu, Jungkook sudah pulih walaupun lebamnya masih belum hilang sepenuhnya. Untuk anak kelas dua belas sudah selesai hanya tinggal seminggu lagi mereka akan mengambil surat kelulusan.


Pasal kejadian dirumah Jungkook tidak ada yang menceritakan, biarkan ini menjadi rahasia mereka yang melihatnya langsung, benar benar menegangkan saat Jungkook terbanting sana sini.


Kalau misalkan Jungkook bukan anak indigo mungkin sudah trauma, namun Jungkook? Dia santai sekali seperti tidak terjadi apapun sebelumnya, kagum dengan Jungkook, saking terbiasanya hingga Jungkook sangat mudah melupakannya.


.


.


.


.


.


Jungkook sma Yoonji lagi dijalan ke kantin, sedangkan Jimin sma Taehyung sudah pergi lebih dulu ke kantin. Mmmm sudah dua hari dan tiga hari dengan sekarang mereka sedang menjalani Ulangan Kenaikan Kelas.


Dua hari lagi mereka selesai dan seterusnya mereka libur untuk masuk lagi sebulan kemudian, saat Irene mengambil surat kelulusan mereka berencana akan hadir.


Tentu saja untuk merayakan kelulusan Irene dan dia akan melanjutkan pendidikannya di Universitas Reveluv, mimpi Irene bisa masuk kesana, tidak mudah. Namun berkat kecerdasan, kreatif, pintar dan bakat Irene berhasil masuk kesana.


Tentu Taehyung bangga memiliki kekasih seperti Irene, sudah cantik, murah hati, berbakat dan paket komplit untuk Taehyung, tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.


Tapi Jungkook hanya menganggap Irene kakak sendiri, karna Jungkook masih tetap dengan pendiriannya. Hatinya hanya untuk wanitanya saja.


"Jungkook"


"Hm?"


Yoonji jika ingin bicara dengan Jungkook harus mendongak, sungguh Jungkook tinggi sekali untuk anak sekolahan, sepantar dengan Taehyung yang tingginya 178cm.


Jimin saja kalah dengan mereka berdua. "Aku sedang masanya"


Jungkook mengerti pasti rasanya sakit. "Sakit kan?" Yoonji mengangguk, wajah Yoonjipun pucat Jungkook jadi tidak tega.


Jungkook berjongkok didepan Yoonji, Yoonji tersenyum senang Jungkook mengerti apa maksudnya. "Hehe, makasihh Jungkook"


Yoonji sudah ada dipunggung Jungkook, Jungkook hanya mengangguk saja dan tersenyum tipis. Tapi karna senyum tipisnya itu membuat wanita yang melihatnya merasa takjub. TAMPAN SEKALI!


Yoonji manja kepada siapapun, kalau sudah manja pasti sangat menggemaskan. Tapi Yoonji jarang manja pada Jimin, karna Jimin tidak peka!


Tapi Yoonji sayang:((


"Disana Jimin dan Taehyung!"


Yoonji menunjuk pojok kantin yang sudah diisi oleh dua manusia yang asik bermain game, kedatangan Yoonji yang digendong oleh Jungkook menjadi pusat perhatian.


Tidak, tidak ada yang menduga kalau Jungkook mengambil Yoonji. Karna Jungkook itu sangat baik, terlalu baik malah. Terlebih Jungkook peka terhadap apapun.


Cocok sekali untuk dijadikan pacar, namun Jungkook tetap pada wanitanya.


"Jimiiin"


Yoonji merengek pada Jimin, namun Jimin masih tetap bermain game. Yoonji mengerucutkan bibirnya jengah, Jungkook hanya terkekeh geli saja.


"Jungkook, kau saja yang jadi kekasihku. Jimin tidak asik"


Yoonji memeluk lengan kekar Jungkook, Jimin berhenti memainkan gamenya dan menatap horor Yoonji juga Jungkook, apa lagi Jungkook wajahnya menantang sekali dengan smirknya.


"Ya, kau jadi kekasihku saja. Bantet itu tidak peka denganmu"


"Yak apa apaan ini, kau menikung temanmu sendiri? Eoh, sini kau"


Jimin menarik Yoonji agar duduk disampingnya, namun sudah pada dasarnya wanita yang sedang masanya malas karna sakitnya tidak tertahankan.


"Gendong aku, aku sedang masanya"


"Ck"


"Apa?! Tidak mau?! Cowok apaan kamu?!"


Ok Jimin melakukan kesalahan, jangan buat kesal wanita yang sedang masanya, menakutkan juga mengancam jiwa.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Sehabis istirahat ada satu pelajaran lagi, matematika. Jadi untuk menyiapkan mental membaca soalnya mereka memilih makan terlebih dahulu dengan sedikit berbincang bincang.


"Oh ya, Jung ada yang mau kutanyakan"


Gumaman pelan sebagai jawaban Jungkook atas pertanyaan Taehyung. "Rasanya jiwamu dikendalikan bagaimana?"


"Kalau yang dari kurasakan saat itu, aku bingung harus mengikuti yang mana. Ketika kita sedang sibuk memikirkan mengikuti yang mana  rasanya kepalaku sakit, karna disatu sisi dengarkan diriku, disisi lainnya dengarkan yang mengendalikan jiwaku tanpa seizinku"


"kurang mengerti"


"Seperti labirin, kau bingung ingin lewat mana. Ada yang bilang kekanan, lurus, atau ke kiri dan kau bingung harus memilih yang mana. Seperti itulah"


"Intinya, kita susah mengendalikan diri kita sendiri"


.


.


.


.


.


Jungkook pulang sekolah langsung tertidur, karna lelah juga soal matematika yang membuatnya pusing, arwah yang tinggal d rumah Jungkook sudah berbeda lagi.


Namun lebih banyak dan semuanya sudah normal kembali, tentu dengan bantuan orang tuanya semuanya jadi normal kembali.


Jungkook terbangun jam lima sore, dan tepat saat dia bangun tiba tiba Taehyung membanting pintu kamarnya, sungguh ingin memukulnya karna dia belum sepenuhnya sadar sudah dikejutkan.


"ADA APA?!" Teriak Jungkook kesal sedangkan yang diteriaki tersenyum tidak bersalah. "Pak Hansol memanggil kita untuk kasus pembunuhan disebuah gedung bekas"


"Aishh, aku pulang sekolah sudah disuguhi lima panggilan untukku, kasus pembunuhan itu nanti saja, lima panggilan tadi aku alihkan pada Wonu hyung"


"Yak cepatlah! Jangan menunda pekerjaan! Setelah ini kita akan dapat uang!"


Taehyung menarik paksa kaki Jungkook hingga yang ditarik terjatuh dari kasurnya. "Kurang ajar! Keluarlah dulu! Arghhh"


Jungkook mengusak surainya pusing, Taehyung membanting lagi pintu rumah Jungkook membuat Jungkook berjengit.


"Rusak! Rusak pintunya! Rusak!"


Emosi, Jungkook mengambil handuk dan segera mandi. "Yak keluar!"


Jungkook meneriaki arwah yang berada dikamar mandi, merasa arwah arwah itu mesum berada dikamar mandi melihat seorang pria mandi.


"Tubuhku bukan konsumsi publik! Keluar!"


Jungkook merasa kesal sekali hari ini, panggilan banyak, pelajaran matematika, Taehyung tidak manusiawi menarik Jungkook hingga wajahnya ciuman dengan lantai.


Selesai mandi Jungkook turun kebawah melihat Taehyung dan Wonwoo sedang bergulat, mengingat Wonwoo akan memukuli Taehyung karna ulahnya.


"Bocah"


"Yak lepaskan aku!"


"Tidak. Ini balasanmu sudah menjahiliku"


Wonwoo mengapit leher Taehyung diketiaknya sedangkan Taehyung menarik rambut Wonwoo agar Wonwoo mau melepaskannya.


"Hyung, apa kau sudah melayani panggilanku?"


"Sudah, selesai tiga"


"Cepat sekali"


"Ten-YAAKKKK SAKIT HEY SAKITTT"


Wonwoo refleks teriak saat Taehyung malah menggigit pinggas atasnya, benar benar sakit sekali. "Hyung lepaskan aku dulu, mau aku mati?"


"Cepat Taehyung, mau tidak?"

__ADS_1


"Ayo berangkat"


Taehyung merapihkan pakaiannya, namun sebelum itu Taehyung menusuk pinggang Wonwoo menggunakan jari telunjuknya.


"Kurang ajar!"


Wonwoo sangat sensitif jika pinggangnya ditusuk, antara sakit dan geli dirasanya. "Untung kau bukan saudaraku, berisik sudah rumahku"


"Hehe"


.


.


.


.


.


Jungkook dan Taehyung sudah dimobil polisi untuk pergi kelokasi kejadian, yang menjadi korban adalah seorang pria.


"Aku tidak melihat ada beritanya"


"Kau tidur ada beritanya"


"Hmm"


Jungkook menatap jalanan yang mulai sepi, tempatnya jauh sekali dan ini sudah pukul setengah tujuh malam.


Jungkook bingung, apa tujuan mereka melakukan pembunuhan, padahal sama sama manusia namun kenapa ada saja yang berniat jahat.


Sedang melamun melihat jalanan, Jungkook terkejut saat dijendela mobil tiba tiba ada yang menempel.


"Tolong aku"


"Berhenti"


Jungkook menyuruh berhenti dan turun dari mobil, Jungkook menghampiri seorang pria yang diselimuti aura hitam.


"Masuk ketubuhku"


Arwah pria itu masuk kedalam tubuh Jungkook, dan Jungkook bisa melihat semuanya dengan jelas.


Bagaimana seorang pria itu disekap oleh satu orang pria yang tubuhnya lebih besar, tubuhnya ditikam berkali kali dengan pisau namun sebelumnya kepala dia dihantam oleh batu besar.


Sangat mengerikan, namun Jungkook merasakan sesuatu dari orang yang membunuh pria ini. Yang membunuhnya punya rasa iri yang mendalam.


Karna pria ini mempunyai semuanya, namun sungguh pria ini tidak sombong bahkan menawarkan bantuan pada orang lain, lalu kenapa dia membunuhnya?


Jungkook pingsan sebentar, lalu dia kembali bangkit dan menyuruh polisi untuk putar balik, Jungkook sepertinya tau siapa yang membunuh pria ini.


.


.


.


.


.


"Jung, kau yakin dia?"


"Tentu, aku melihatnya sangat jelas"


●•●•●•●•●


"Johnny hyung, kenapa?"


"Maaf"


Johnny yang membunuh Yuta, Johnny adalah teman Wonwoo, teman semasa SMA Wonwoo, Jungkook tidak memberi tahu Wonwoo karna takut Wonwoo akan sangat marah.


Untuk Yuta, Jungkook tidak kenal Yuta siapa. "Tolong sampaikan maafku pada keluarga kalian"


Jungkook meninggalkan sel Johnny dengan rasa kecewa, harus bilang bagaimana pada keluarganya? Jungkook benar benar tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2