Imaginary Friend

Imaginary Friend
Eps.22


__ADS_3

Jungkook selamat, tapak tangan apapun yang ada ditubuh Jungkook sudah menghilang, hanya saja lebam lebam yang dihasilkan akibat benturan hebat tidak hilang.


Semakin lemaslah Jungkook, tubuhnya terasa remuk karna sungguh seluruh tubuhnya sangat sakit dirasakannya. Beruntung saja Yoonji berhasil menendang iblis itu kembali ke neraka tanpa membawa oleh oleh dari dunia nyata.


Irene sedang membersihkan luka dan mengobati Jungkook agar tidak terinfeksi lukanya, Wonwoo sedang masak untuk yang lainnya.


Sedangkan Yoongi dan Taehyung sedang membereskan barang yang tadi digunakan kembali ke kamar orang tua Wonwoo dan Yoonji sedang mengobati Jimin sekaligus sedikit memberinya pijatan.


Sesadis apapun Yoonji, sedingin apapun Yoonji dia akan tersentuh kalau orang tersayangnya terluka, Yoonji akan lembut jika orang yang ia sayang terluka, Yoonji akan bersikap keibuan jika orang yang dia sayang terluka.


"Noona, siapa yang membawa iblis itu ke neraka?" Tanya Jungkook sambil menahan sakit saat lukanya disterilkan oleh Irene. "Yoonji"


"Hah?"


"Akupun tidak percaya. Mungkin Yoonji jengah karna dia selalu disebut calon pengantin dan kau disiksa olehnya membuat emosi Yoonji memuncak, jadi ya hm"


"Semungil Yoonji?"


"Kalian membicarakanku?"


Yoonji tiba tiba datang dengan kotak p3k yang lainnya. "Apa ini tidak hilang? Ini sangat mengganggu" ucap Yoonji menunjukan jari jarinya yang kotor karna habis mencolok mata iblis itu.


"Bisa, ambil saja air yang ada dikamar orang tuaku. Botolnya yang berwarna biru muda"


"Biru muda tidak ada yang lainnya kan? Tau tau aku salah ambil"


"Tidak ko, warna botol membedakan fungsi air"


"Jadi penyihir saja keluarga kalian. Benar benar seperti penyihir"


Ucap Yoonji sambil pergi ke kamar orang tua Jungkook. Yoonji benar benar kagum dengan interior rumah Jungkook, luar dan seisi rumah modern sekali tidak ada unsur unsur menyeramkan dan penuh misteri.


Bahkan kamar orang tuanya saja, sungguh seperti manusia normal kebanyakan. Tidak ada unsur unsur kayu, modern namun terlihat menyegarkan.


"Apa benar sekeluarga paranormal? Kenapa bisa normal seperti ini rumahnya?"


Yoonji melihat rak botol yang berbeda warna disetiap raknya. Rak paling atas berwarna merah, rak kedua berwarna ungu pastel, rak ketiga berwarna biru muda. Botol yang diperlukan ada dirak ketiga dari paling atas, sialnya itu tinggi sekali!


Tubuh Yoonji pendek, mana bisa dia sampai bahkan jinjitpun tidak bisa. "Cepatlah tinggi!" Yoonji berteriak kesal pada dirinya sendiri, pasalnya dia sudah mau kelas 12 tapi kenapa tubuhnya pendek seperti ini? 158cm:))


"Kau wanita, masih ada tiga tahun lagi untuk meninggikan tubuhmu"


"Oppa tidak mirror sekali, bahkan pertumbuhan tinggi badan oppa berhenti di 175cm, lihat Jimin dia sekarang lebih tinggi darimu. Jika oppa berdiri diantara Wonwoo oppa, Taehyung, Jimin maka oppa paling mungil mungiiiiiilll sekali"


Ucap Yoonji sambil menunjukan ibu jari dan telunjuk segimana mungilnya Yoongi jika sudah berdiri dengan mereka.


"Kau banyak omong, tidak menurun sifatku. Bukan adikku"


Yoongi mengambil botol berwarna biru mudanya dengan mudah, namun harus jinjit pada botol berwarna ungu pastel dan kalau warna merah harus menggunakan kursi, dan yang bisa mengambil paling atas tanpa bantuan apapun hanya Wonwoo, Jungkook, Taehyung juga appa Wonwoo.


Yoonji dan Yoongi memang tidak pernah mirror, bilang seenaknya tidak melihat fisik mereka yang sama sama bertubuh pendek, namun dalam hal berbicara adik kakak ini juaranya.


Jadi kalau mau debat dengan mereka berdua harus berfikir berkali kali, kalah telak yang ada. Belum lagi kata savage juga pedasnya yang membuat orang yang mendengarnya merasa tersindir padahal ditujukan untuk orang lain.


"Memangnya aku ingin menjadi adikmu, huh? Turun sifat, turunan juga tinggi badanmu yang pendek"


"Kau lebih pendek dariku"


"Aku pendek karna aku menuruni tubuhmu yang pendek"


"Sudah, kalian sama sama pendek tidak perlu berdebat. Seperti kerdil kalian kalau berdebat"

__ADS_1


"Kurobeki mulutmu Taehyung"- Yoongi


"Sudahkan? Wonwoo hyung sudah selesai masak"


"Kami menyusul"


Yoongi mengambil kain kasa dan ia basahi sedikit, lalu Yoongi oleskan pada bekas darah yang membekas pada Yoonji. "Oppa, ini darah iblis itu. Karna ada darahnya disini aku tidak akan terikat padanya dan dia tidak kembali untuk membawaku kan? Itu tidak kan?"


"Menurutku si tidak, kita tanyakan pada pada orang tua mereka, karna bagaimanapun juga Wonwoo dan Jungkook masih belum se-profesional orang tuanya"


"Aku takut" Yoonji memeluk oppanya, walaupun Yoonji saat disana terlihat berani, namun rasa keberanian Yoonji disana berhasil menipu yang lainnya kalau Yoonji ketakutan sekarang.


"Sudah, jangan takut. Oppa tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu sedikitpun, oppa tidak akan membiarkannya sekalipun sosok itu adalah iblis. Karna Min Yoonji alasan oppa tetap bertahan hidup"


Yoongi pernah melakukan selfharm depresi berat karna dulu saat Yoonji masih kecil kedua orang tuanya sering bertengkar hingga Yoongi menjadi lampiasannya saat Yoongi harus melindungi adik kecilnya.


Tapi sekarang sudah berubah karna semuanya sudah berakhir, tidak ada keributan kedua orang tuanya, Yoongi sudah normal dan berhenti melakukan selfharm.


Karna Yoongi ingat adik kecilnya butuh perlindungan saat kedua orang tuanya sibuk bertengkar. Kedua orang tuanya sekarang sudah akur, tidak ada pertengkaran lagi dan seperti keluarga pada umumnya. Bahagia


"Sudah, ayo terlalu lama di kamar orang lain tidak boleh"


Yoongi menggenggam tangan adiknya lalu berjalan menuju ruang makan, ada Jungkook disana namun tubuhnya diikat dengan kain agar Jungkook tidak jatuh karna keadannya sangat lemas.


"Sudah bersih? Tenang saja, kata orang tuaku itu tidak akan mengikat. Karna sudah dibersihkan oleh air do'a dan kalian tidak saling terikat hanya dengan darah yang menempel pada kulit. Itu lucu sekali"


"Terima kasih, dan maaf kalian jadi repot" ucap Jungkook dengan nada penuh sesal. "Tidak apa apa, kita teman sudah seharusnya saling membantu"


Jungkook dan Wonwoo terharu? Jelas! Langka sekali memiliki teman setia, sangat jarang ditemui dan ini adalah hal yang paling berharga, karna masih ada manusia yang setia tersisa untuk Jungkook.


Wonwoo jadi senang pengalaman pertama Jungkook berteman pada orang yang tepat, benar benar bahagia.


Wonwoo menepuk pundak Jungkook senang, Jungkook mengerti apa yang dimaksud oleh hyungnya, Jungkook-pun sama senangnya memiliki teman seperti mereka.


Hanya saja dulu Jimin terlalu dibutakan oleh kenyataan yang berbanding terbalik dengan yang orang lain katakan. Dan sekarang Jimin bersyukur disadarkan oleh orang orang terdekatnya.


Jika itu terus berlangsung, maka Jimin tidak akan pernah merasakan pertemanan tulus dari Jungkook dan yang lainnya.


.


.


.


.


.


"Kita pulang ya Jungkook, Wonu oppa terima kasih masakannya. Enak sekali" Yoonji tersenyum lebar dengan tetap memegang lengan Jimin.


"Kami akan mampir lagi untuk menjengukmu besok kalau kau belum sehat"- Jimin


"Cepatlah sembuh, noona seminggu lagi mengambil surat kelulusan dan dua minggu lagi acara perpisahan"


"Aku akan cepat sembuh noona, terima kasih"


"Cepat sembuh lalu kita akan kerja lagi, membantu kedua polisi itu"


"Ah, aku semalam mendapat pesan darinya kalau mereka membutuhkan kita. Mereka benar benar sudah percaya pada kita"


"Kau sedang sakit jangan memenuhi panggilan dulu, cepat sembuh. Aku pulang"

__ADS_1


"Hati hati, terima kasih sudah datang"


"Dahh Jungkook! Wonu oppa!"


Jungkook dan Wonwoo hanya melambaikan tangannya saja, mobil ketiganya lalu pergi meninggalkan area rumah Jungkook, lalu kembali sepi.


Sebenarnya ada banyak yang ingin Jungkook tanyakan pada hyungnya, saking banyaknya dia sampai bingung ingin menanyakan yang mana.


"Masuk Jungkook, sebentar lagi malam tiba"


"Hm"


Wonwoo memegang lengan Jungkook agar tidak jatuh, jalan perlahan dan wajah Wonwoo sangat sedih sekali. "Aku tidak apa apa hyung, jangan terlalu sedih seperti itu"


"Coba saja hyung tidak berangkat kerja tadi, mungkin hyung bisa menjagamu"


"Tidak, jangan menyalahkan diri sendiri hyung. Hyung tidak salah"


"Tap-"


"Berhenti, jangan menyalahkan diri sendiri, ok? Ini bukan salah hyung, berhenti menyalahkan diri sendiri, aku sakit mendengarnya" Jungkook memeluk hyungnya, dia sangat menyayangi kakaknya ini karna dia berbeda dari yang lain.


Wonwoo menidurkan Jungkook disofa, orang tua Jungkook sedang dalam perjalanan pulang, dipercepat karna sepenting apapun pekerjaan mereka, anak anaknya lah yang menjadi proritas utama mereka.


"Hyung, ada yang ingin aku tanyakan"


"Tanyakan"


"Siapa yang menuntun mereka?"


"Aku"


"Hyung? Bisa?"


"Dua hari yang lalu aku selalu melihat arwah, merasakan aura yang berbeda dari biasanya"


"Hyung menuruninya?"


"Ya begitu"


"Kenapa terlambat?"


"Entah, itu tidak penting. Sekarang kita sekeluarga menuruni orang tua kita, kalau hyung mengembangkan kemampuan hyung maka pekerjaan hyung ada dua, paranormal dan OB. Kau, hyung harap kau fokus pada kuliahmu saja, jangan kerja seperti ini"


"Aku tidak akan fokus jika aku tidak membantu orang lain, terlebih aku sudah terikat kontrak pada polisi polisi itu"


"Kemampuan kita digunakan untuk mencari orang yang melakukan kejahatan, kita seperti menganut setan Jungkook. Kita bisa tahu siapa yang melakukan kejahatan karna diberitahu oleh arwah arwah itu kan?"


"Tapi bayarannya tinggi hyung"


"Jungkook, bayaran tidak penting. Yang penting kita jangan sampai menganut setan, berpegang pada arwah untuk mencari pelaku kejahatan. Hyung lebih baik jadi penjahat dari pada harus berpegang pada arwah arwah"


"Lalu, aku harus bagaimana?"


"Fikirkan kembali, kemampuan kita digunakan untuk membantu orang orang yang berurusan dengan hal hal gaib. Tapi, kalau kau ingin terus membantu polisi itu, belajar pada appamu untuk menerawang tanpa menggunakan arwah, mengerti?"


"Hyung, kita seorang indigo bisa menerawang? Aku kira hanya paranormal biasa, menerawang? Aku tidak yakin keluarga kita bisa"


"Menurutmu siapa yang menemukan sepedamu saat hilang ditaman tanpa berkeliling? Appamu"


"Woah, aku tidak tahu"

__ADS_1


"Kemampuan menerawang jangan sampai bocor pada siapa siapa, nanti kita dikucilkan"


"Baiklah"


__ADS_2