Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
09. Tempat Ini


__ADS_3

Yang sama bisa jadi kebetulan,


atau juga takdir


---


Siang itu adalah siang yang paling sejuk udaranya bagi Darka. Sambil membawa sebuah buket bunga mawar, pemuda itu berjalan lurus ke depan. Lengkap dengan pakaian serba hitam yang melekat pada tubuhnya, Darka berjalan memasuki sebuah pemakaman.


Ia sibuk mencari-cari dimana makam yang ia cari. Sambil melangkah, pemuda itu berusaha mengingat-ngingat letaknya. Maklum, rasanya sudah lama sekali tidak kesini. Padahal ia tak pernah absen untuk datang kemari setiap setahun sekali.


Setiap tanggal dan hari itu tiba tepatnya.


Setelah beberapa menit melangkah, akhirnya ia mendapatkan makam yang ia cari. Pemuda itu kemudian berjongkok di samping makam tersebut. Pandangannya berubah sendu ketika melihat nama seseorang di batu nisan. Seseorang yang paling ia kasihi.


Sifa, adik semata wayangnya dan adik kesayangannya.


“Hai, adeknya kakak,” lirih Darka sembari menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman, meletakkan buket bunga mawar itu disamping batu nisan. “Kakak dateng lagi.”


Darka mengusap-usap nisan itu, tanpa sadar air matanya menetes. “Maafin kakak.”


Lagi-lagi, setiap ia datang kemari hanya itulah yang mampu diucapkan oleh seorang Darka Samudra.


Maaf, maaf, dan maaf.


Setelah itu ia akan menangis tiada henti. Terakhir kali ia meraung-raung, menangis sampai ia benar-benar kelelahan.


Alasan yang selalu sama ia bawa setiap mengucapkan kata maaf, yaitu rasa bersalah.


“Kalo aja kakak gak bodoh, kamu gak mungkin kayak gini,” isak pemuda itu. “Pasti kamu sekarang udah gede, cantik, tinggi, dan jadi model seperti yang kamu mau,” katanya sambil mengucapkan impian gadis itu saat ia masih hidup.


Pemuda itu berusaha menghentikan air matanya, tapi tak kunjung berhasil. Ia menundukkan kepala, seolah memohon ampun terhadap apa yang ia perbuat. Darka menyerah jika mengingat tentang adiknya.


Ketika teman-temannya menceritakan kekesalan mereka akan adiknya, diam-diam Darka ingin merasakannya juga. Ketika teman-temannya melindungi adik perempuan mereka dari lelaki yang hanya ingin mempermainkan adik mereka, diam-diam Darka berharap bisa melakukan hal tersebut pada adiknya. Ketika ia melihat pertengkaran kecil antara temannya dan adik perempuannya, Darka hanya bisa menatap iri pada mereka.


Darka ingin punya saudara. Laki-laki ataupun perempuan. Darka ingin menjaga mereka, setidaknya hanya satu kali dalam hidupnya.


Namun yang Darka lakukan kepada adiknya semua sia-sia.


Ia gagal menjadi seorang kakak bagi adiknya.


Terlebih ketika tanggal ini tiba pada bulan yang sama juga. Pemuda itu akan datang kemari, mengenang sang adik yang telah lama pergi. Mengenang masa-masa yang pernah ia lalui dengan adiknya, mengutarakan harapan agar ia dibangunkan dari mimpi buruk tentang adiknya, adiknya yang sudah pergi untuk selamanya.


Namun, ia harus sadar. Semua ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan pahit yang harus ia terima dan yang harus ia jalani.


Adiknya benar-benar tiada.


“Maafin kakak belum bisa dateng sama mama dan papa,” kata Darka penuh rasa penyesalan. “Kakak gak bisa…kakak bener-bener gak bisa dateng sama mereka.”


Darka kembali teringat akan pertengkaran dengan ayahnya beberapa waktu lalu. Itu kembali membuatnya terpuruk, seolah-olah memang benar dialah yang menjadi penyebab adiknya meninggal.


Setiap tahun Darka pergi sendiri ke pemakaman. Bukan berarti kedua orangtuanya tidak hadir, melainkan ia tak ingin datang bersama kedua orangtuanya.


Kedua orangtuanya sudah datang lebih awal. Darka sengaja mengulur waktu agar tidak datang disaat bersamaan dengan orangtuanya. Dia bahkan datang dua jam lebih lambat supaya tidak bertemu dengan kedua orangtuanya.


Darka mengusap kedua pipinya yang sudah lembab karena air mata. Perlahan, pemuda itu memejamkan mata lalu menundukkan kepala. Mengirim doa untuk sang adik.


Dalam benak Darka ada doa yang ingin ia sampaikan kepada Sang Pencipta. Semoga adiknya memaafkan segala kesalahannya, adiknya tenang di alam sana. Dan seandainya diberikan kesempatan, Darka ingin berjumpa dengan adiknya walau hanya di dalam mimpi semata.


Pemuda itu lalu membuka mata, mengusap nisan itu sekali lagi. Lalu ia bangkit berdiri, hendak pergi meninggalkan makam itu.


Namun yang ia lakukan hanya berdiri di tempat, tak melangkah sedikit pun. Pemuda itu justru tak sengaja menangkap pemandangan salah seorang yang berada agak jauh ditempat ia berdiri sekarang.


Si jaket merah.


“Jeli?” Refleks pemuda itu mengucapkan nama si pemilik jaket itu. Panggilan yang ia sematkan pada gadis itu.


****


Lita masih berjongkok di depan makam yang ia temui. Gadis itu memeluk kedua kakinya sambil menopang dagunya di kakinya itu. Diam-diam gadis itu terisak, dadanya terasa sesak menahan rindu kepada seseorang yang telah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Ibunya.


Wanita tangguh yang paling ia kasihi. Wanita yang seharusnya menjadi kekuatannya selama ini. Kekuatan dalam menghadapi segala keterpurukan karena kelebihan yang ia alami.


Namun gadis itu menganggap bahwa yang ia miliki sekarang menimbulkan kesialan bagi dirinya sendiri.


“Ibu, aku takut.” Rengek gadis itu.


“Kemaren aku pingsan gara-gara kekuatan sialan ini,” kata Lita menyinggung apa yang terjadi padanya saat ia tak sengaja bersentuhan dengan Darka dan berakhir dibawa kerumah pemuda itu.


Gadis itu kembali merutuki dirinya sendiri. Menyalahkan kekuatan yang ada pada dirinya.


Kekuatan itu seharusnya menjadi anugerah. Tapi bagi Lita itu adalah sebuah kesialan. Ia menganggap dirinya tidak normal. Dia hanya ingin menjadi manusia biasa. Manusia normal yang tidak tahu apapun mengenai alam lain. Sungguh. Dia sangat menginginkan itu.


“Di rumahnya juga banyak hantu. Mereka semua mengangguku, Ibu,” Lita semakin menunduk lesu. “Lita gak kuat. Lita mau nyerah aja tau gak.”


“Belum lagi ada yang ngundang aku ke pestanya, Bu. Tapi…hiks….tapi Lita mengacaukan pestanya.” Lita menarik isaknya pelan, berusaha kuat untuk melanjutkan ucapannya.


“Lita benci, Bu. Lita benci lihat diri Lita sendiri.”


Gadis itu berusaha menahan tangisnya. Ia ingin terlihat tangguh juga, sama seperti ibunya di kala masih hidup. Gadis itu ingin menjadi kuat, memasang wajah datar supaya tak banyak yang mendekatinya. Memasang benteng pertahanan antara ia dan orang lain. Ia merasa takut jika ada orang yang tahu akan keistimewaan yang ia punya.


Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan. Karena sekeras apapun ia membentengi diri diantara para hantu, semua pasti akan runtuh begitu saja.


Sejak sang Ibu pergi, kehidupan gadis itu runtuh seketika. Ia merasa kehilangan separuh jiwanya.


Tak ada lagi yang mengingatkan dirinya untuk tetap kuat. Tak ada lagi yang menyemangati dirinya saat ia ketakutan terhadap hantu-hantu yang selalu menganggunya. Tak ada lagi yang ia mendengarkan setiap ceritanya usai menyentuh seseorang, menceritakan masa kelam yang dimiliki oleh orang yang ia sentuh itu.


Gadis itu merasa hampa seketika.


***


Sesaat kemudian Lita pergi, Darka diam-diam melangkah menuju makam yang Lita kunjungi tadi.  Dengan cepat pemuda itu melangkah, memastikan siapa yang gadis itu datangi makamnya disini.


Darka berdiri di makam tersebut, membaca apa yang tertulis di batu nisan itu dengan seksama. Setelah selesai, pemuda itu langsung melebarkan mata. Tak percaya apa yang ia baca barusan.


“Ini makam ibunya, toh,” gumam pemuda itu sambil menganggukkan kepala kecil.


Punggung gadis itu semakin tak terlihat, membuat Darka kembali melangkah. Baru satu langkah, pemuda itu kembali berbalik menatap batu nisan makam tersebut.


“Senang bertemu dengan anda, ibunya Jeli.”


****


Lita menarik tudung jaketnya semakin ke depan, hampir menutupi setengah wajahnya. Gadis itu berusaha untuk berjalan terus, tidak memperdulikan firasat buruk yang tiba-tiba menghinggapi dirinya.


Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa sekarang ia diikuti seseorang, tapi berusaha untuk tidak peduli. Mungkin saja itu orang yang juga kebetulan berjalan searah dengannya.


“Hey, ada orang yang mengikutimu.”


Lita mengumpat dalam hati. Suara hantu berperawakan wanita paruh baya mengejutkannya.


Sial.


Lita harusnya terbiasa dengan semua ini, tapi tetap saja ia akan tetap terkejut jika mendengar suara teriakan yang mendadak seperti tadi.


“Tante bisa diem gak?” gerutu gadis itu, melotot tajam kearah samping, di tempat si wanita paruh baya itu berdiri.


Sementara itu, tepat di belakang Lita, Darka terkejut gadis di depannya itu berhenti,  menggerakkan kepala ke arah samping. Refleks, pemuda itu pun ikut berhenti.


“Mampus dah mampus ketahuan gue ketahuan, ketahuan,” batin Darka bergejolak sambil mematung melihat gadis itu.


“Ihh dibilangin malah ngeyel kamu.” Omel hantu itu jadinya. “Kalo gak percaya, tuh balik badan. Lihat sendiri! Nyesel kamu soalnya yang ngikutin cowok ganteng.”


Apa katanya? Cowok ganteng?


Lita terdiam. Menelan ludahnya pelan, sudah pasti yang dimaksud hantu itu adalah manusia yang menganggunya beberapa hari terakhir ini.


“Tante serius?” tanya Lita memastikannya sekali lagi.

__ADS_1


Hantu itu mengangguk, “Dia sekarang lagi berhenti tuh. Takut karena bentar lagi keciduk.”


Lita jadi menegakkan diri, melangkah lebih lambat dari sebelumnya. Gadis itu benar-benar harus memberi pemuda lancang itu pelajaran. Biar mampus dia terkejut bukan main nantinya.


Darka mengelus dadanya. Ternyata ia tidak kedapatan mengikuti gadis itu. Menurut perkiraannya demikian.


Sebenarnya hanya menunggu waktu saja. Lita berbalik, maka semua rencana Darka mengikuti gadis itu menjadi berantakan.


Selama lima menit mereka berjalan beriringan semua nampak tenang. Kecuali pendengaran Lita yang sudah berisik sejak tadi. Para makhluk-makhluk halus itu menganggu Lita. Lagi-lagi memberitahu bahwa gadis itu tengah diikuti oleh seseorang.


“Bisa gak sih untuk gak mengikuti gue.”


Suara dingin itu mengejutkan Darka. Sampai-sampai matanya melotot seperti hendak keluar.


“Gue tahu itu lo, Darka.”


Darka **** bibir nya dalam, berdehem pelan untuk mengendalikan dirinya agar tetap tenang. “Ap—apaan sih gue cuma kebetulan lewat doang kok hehehe.”


Gadis itu berbalik, berjalan mendekat menuju pemuda itu, menatap Darka dari atas sampai bawah. Ia lalu mengangkat alisnya. “Ngikutin orang dengan pakaian serba hitam? Lo berniat buat culik gue.”


Darka menatap Lita tak percaya. “Nyulik? Elo? Gue—gak berani lah,” ucap pemuda itu melemah.


“Ngapain lo ngikutin gue?” tanya Lita.


“Gue gak niat ngikutin lo,” elak Darka. “Gue kebetulan lewat jadi ya mau pulang. Jalan gue pulang ya jalan ini lah,” lanjut Darka beralasan.


Lita mendengus kasar, balik badan meninggalkan pemuda itu tak peduli. Walau dalam hati ia bersyukur dapat berjumpa dengan pemuda ini. Sekedar berterimakasih karena menjadi penyelamatnya saat pesta ulangtahun Tia kemaren.


“Jeli, tungguin.”


Pemuda itu setengah berlari mengejar gadis yang lebih pendek darinya itu. “Gila ... lo cepet banget larinya.”


“Gue jalan, btw.”


“Ah, itu maksud gue.”


Pada akhirnya, mereka berjalan beriringan. Menikmati angin yang menerpa wajah mereka. Angin itu seolah hadir menjadi obat ketenangan bagi mereka berdua. Ketenangan yang mereka cari di saat penenang mereka telah pergi.


“Gue gak sengaja lihat lo tadi di makam.”


Lita tersentak, tapi tidak ia tunjukkan. Ia merasa tak suka ada orang yang tahu bahwa ia pergi ke makam, mengunjungi makam seseorang.


“Gue kebetulan ada disana. Mengunjungi makam adek gue.”


Gadis itu bernapas lega. Syukurlah pemuda ini tak menanyakan hal lebih padanya. Semoga ini pertanda kepekaan Darka Samudra, bahwa gadis itu tak suka diusik urusan pribadinya.


“Adek gue udah lama meninggal. Dan hari ini adalah hari peringatan kematiannya.”


Entah apa yang merasuki Darka. Dia membeberkan alasan terbesar yang menjadi kelemahannya. Yang bahkan teman-temannya tidak tahu tentang ini.


“Lo tau? Saat semua orang bilang bahwa hidup gue menyenangkan, saat itu juga gue bangga. Bangga telah menyembunyikan fakta kalau gue adalah manusia paling sial karena kehilangan adek gue.” Lita memperhatikan wajah pemuda itu, yang kini menunduk lesu.


“Gue sepengecut itu. Bener-bener gak guna.”


Sesaat langkah kaki mereka serentak berhenti. Darka tertunduk lemas, sekali lagi. Menunjukkan sisi rapuh yang selama ini dikatakan hantu pada Lita beberapa waktu lalu.


Lita terdiam. Ia hanya kebingungan. Jujur, dia tidak tahu cara menenangkan seseorang ketika sedang menangis.


Dia menangis saja pun menenangkan diri dengan cara makan pop mie. Apakah ia harus membawa Darka ke minimarket untuk makan pop mie juga?


Gadis itu perlahan mengangkat tangannya. Bergerak kaku menuju pundak pemuda itu. Bergerak ragu, kebingungan apakah yang ia lakukan ini benar atau tidak.


Sampai akhirnya, gadis itu meletakkan tangannya di pundak pemuda itu. Mengusap, lalu menepuk-nepuk nya pelan.


Setidaknya dengan begini, Darka dapat tenang usai menceritakan semuanya pada Lita.


Ia hanya berharap, semoga Darka mengerti. Bahwa Lita juga merasakan hal yang sama seperti yang Darka rasakan.


Merasakan kehilangan terhadap orang yang mereka sayangi.

__ADS_1


***


__ADS_2