Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
07. Melangkah Keluar


__ADS_3

Matahari butuh terbit untuk menjadikan dirinya sunset yang keindahannya dikagumi semua nyawa


Begitupula dirimu


---


Lita mempercepat langkahnya menuju kelas, ia hampir kesiangan. Napasnya mulai terengah-engah dan ia bisa bernapas lega saat tiba di kelasnya yang masih belum dimasuki guru.


Kehadiran dirinya membuat beberapa mata memerhatikan, mungkin heran mengapa Lita bisa datang siang. Biasanya gadis itu yang pertama datang.


Lita duduk di barisan paling jauh dari pintu pada kursi urutan ke tiga dari lima. Ia duduk sendiri karena jumlah muridnya ganjil. Tak ada yang mau duduk di sebelahnya dan itu membuat Lita bersyukur. Ia membuka jaket merahnya setiap pelajaran berlangsung.


Tak lama, Pak Subroto masuk. Beliau mengabsen terlebih dahulu kemudian tiba-tiba menyuruh Lita untuk menulis di papan tulis karena dirinya adalah sekretaris.


Lita menurut, dia berjalan ke depan dan menerima buku dari tangan Pak Subroto. Namun, ketika Pak Subroto melihat tangannya, guru Bahasa Inggris tersebut segera menahannya.


Lita tersentak, refleks, matanya terpejam.


Pagi hari. Ketika Pak Subroto tengah sarapan, di hadapannya ada istrinya. Wajah Pak Subroto tampak sangat marah, kemudian tanpa segan melempar sendok pada kening istrinya itu hingga keningnya berdarah. Pak Subroto berteriak emosi.


Mata Lita membelalak, ia langsung berkeringat dan sadar saat suara Pak Subroto menegurnya.


"Ayo, cepet tulis! Saya kira kuku kamu di kutek, rupanya memang berwarna seperti itu." Pak Subroto menjelaskan dengan tegas. Dirinya selaku kesiswaan tak ingin melihat anak didiknya berdandan berlebihan.


Harusnya Lita merasa biasa saja, tapi saat tangannya mulai menulis di papan tulis, ia bergetar ketakutan. Masih kaget saat melihat Pak Subroto bisa semarah itu.


"Hari ini, kita akan belajar tense baru," kata Pak Subroto, memulai pembelajaran.


"Em, Pak," interupsi Lita takut-takut.


"Iya, kenapa?"


"Boleh saja ijin ke toilet?" tanya Lita dengan wajah pias.


Pak Subroto akhirnya dengan berat mengangguk. Lita langsung pergi keluar dari kelas sementara Pak Subroto menunjuk Talia untuk menggantikan dirinya.


Bukannya Lita melebih-lebihkan, tapi sungguh, ia tak kuat, ia perlu waktu. Meski tak melihat langsung, ia bisa merasakan dengan jelas seperti apa kemarahan Pak Subroto yang mana menunjukkan sisi aslinya.


Lita harus menenangkan diri. Ia berbohong, bukan toilet tujuannya, melainkan perpustakaan. Area sepi yang menyejukkan dan bisa membuat pikirannya tenang.


Cukup sering Lita ke sini membuatnya segera menemukan tempat nyaman untuk memejamkan mata. Ia duduk di meja pojok rak yang paling jauh dari pintu. Zona paling sepi dan jauh dari keramaian.


Ia menatap telapak tangannya dengan sendu. Mengapa harus dirinya? Ketika ketakutan seperti ini, harusnya ada Ibu.


Ah, Lita rindu Ibu. Kapan dia akan menyusulnya? Lita berharap secepatnya. Ia telah lelah. Oleh karenanya, Lita memejamkan matanya, berharap segalanya membaik saat ia kembali membuka mata.


Biasanya Lita butuh sepuluh menit, namun sesuatu mengganggunya. Seseorang terdengar mendekat, lalu derita kursi yang menandakan ada yang duduk di seberangnya. Kemudian Hela napas, lalu jari telunjuk yang tiba-tiba mendekat ke lubang hidungnya.


Mata Lita refleks terbuka, langsung menepis tangan itu dan sekelebat bayangan hitam langsung menyerangnya. Lita meringis, memegangi kepalanya yang seketika pusing.


Lita dapat menebak siapa yang mengganggunya ini.


"Oh, masih hidup rupanya." Darka tertawa kecil, memandang Lita dengan penuh tanya. "Lo sakit, ya?"


"Tinggalin gue sendiri."


Mendengar ketusnya gadis itu, Darka yakin Lita tak sakit. "Oh, lo bolos? Wah, hobi kita sama rupanya."


Alis Lita menekuk tajam, tak suka akan perkataan Darka yang tiba-tiba. "Gue nggak punya hobi."


"Ah, masa? Nggak percaya tuh," balas Darka sambil tersenyum mengejek. "Bolos pelajaran apa?"


"Gue nggak bolos. Gue cuma menghindari Pak Subroto," jawab Lita kesal. Ia melipat tangannya di atas meja dan menatap Darka dengan tajam. "Jangan ganggu gue."


"Oh, lo nggak suka juga sama Bahasa Inggris? Sama, dong. Gila sih, kita sebenarnya punya berapa banyak kesamaan?" Darka tersenyum lebar, mengabaikan perkataan Lita yang terakhir.


Diamnya Lita tak membuat Darka menyerah untuk dapat tanggapan gadis yang baru-baru menyita perhatiannya itu. "Lo nggak pake jaket merah? Kenapa?"


Lita bangkit, hendak meninggalkan Darka sebab laki-laki terlalu berisik. Namun, menyerah tak ada dalam kamus Darka. Laki-laki itu ikut bangkit, menghadang langkah Lita dengan berdiri di depannya sambil merentangkan tangan.


Otomatis, langkah Lita terhenti. Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil mundur tiga langkah dan menatap Darka dengan kesal. "Masalah lo apa sih?"

__ADS_1


"Oh, selow, Jelita." Darka terkekeh pelan. "Maaf kalau gue ganggu, tapi gue ingin tahu sesuatu."


Kaki Darka melangkah mendekat. Refleks membuat Lita ikut mundur. Ketika Darka ingin merah tangannya, Lita dengan cepat mengelak dan buru-buru mengambil buku untuk ia jadikan perisai.


"Lo ngapain?" tanya Lita merasa horor sendiri. "Selangkah lagi lo maju, gue nggak akan ragu buat lempar ini buku."


"Justru lo yang kenapa. Lo menghindari gue. Lo nggak mau bersentuhan barang seincipun." Darka menatap Lita serius, membuat Lita ikut was-was jika Darka mengetahui rahasia terbesarnya.


"Gue udah denger dari Anwar, Sandi dan Putra. Gue udah tanya orang-orang. Lo nggak pernah bergaul, lo selalu sendirian, lo nggak mau pegangan ataupun bersentuhan sama orang lain. Katanya, lo bawa kutukan."


Lita merasa lega sebab Darka percaya rumor gila itu. Setidaknya, dirinya tak perlu khawatir Darka tahu yang sebenarnya dan membuat kehidupannya semakin rumit.


Darka menyipitkan matanya. "Tapi gue nggak percaya."


"Ke-kenapa?" Lita tak mengerti mengapa suaranya jadi begitu. Kakinya tak mau diajak kerjasama. Harusnya ia pergi saja, tapi otaknya ingin Lita di sini, mengikis rasa penasarannya atas jawaban Darka.


"Gue nggak percaya begituan. Hantu, sihir, guna-guna, santet, apapun itu sejenisnya." Lita mengernyit mendengar jawabannya. "Jadi, gue berpikir gini."


Darka melangkah mendekat, namun Lita tak menahannya, seolah mempersilahkan. Mungkin ini efek penasaran, Lita jadi lupa yang lainnya.


"Lo alergi kontak fisik sama manusia, ya?" Darka tiba-tiba mengambil tangan Lita untuk mengambil buku dalam genggamannya untuk setelahnya ia lepas kembali tangan dingin itu. "Kalau sentuhan, lo bisa pingsan. Apalagi sama gue. Right?"


Kekuatan itu bekerja sekejap. Lita sedikit merasa pusing, namun ia lebih terkejut karena perlakuan cepat itu.


Darka bertepuk tangan, menyimpulkan begitu saja saat Lita masih tertegun. "Gue bener. Tapi lo tenang aja, gue jago jaga kartu."


"Lo gila," tukas Lita datar, kemudian meninggalkan Darka dalam langkah cepat-cepat.


Sebenarnya Lita menahan tawa, di balik wajah datarnya.



Lita membuka pintu rumahnya. Ia mengernyit saat melihat keadaan rumah yang lebih berantakan. Tatan sofa, taplak mejanya, boneka-boneka, foto keluarga dan beberapa pajangan milik Ibu tergeletak di lantai.


Tak ada tersangka lain, ini pasti perbuatan Ayahnya.


"Ayah!" seru Lita seraya berjalan menuju kamarnya, ia menyimpan tas dan amat marah saat mendapati laci meja belajarnya sudah kosong.


Tempatnya menyimpan liontin, cincin dan perhiasan Ibu yang dititipkan padanya. Lita menggeram, tak kuasa menahan cairan hangat untuk turun saat mulai menjelajahi rumah untuk mencari Ayahnya.


Napasnya semakin memburu saat mendapati Ayahnya berada di teras belakang rumah dengan uang berserakan di sekitar tubuhnya yang tertidur karena mabuk. Lita bisa mencium alkoholnya.


Kaki Lita lemas, tak kuasa untuk berdiri. Ia terduduk amat terpuruk.


"Ayah..."


Tangisnya pecah. Suara isak terdengar jelas saat menyadari keadaannya. Meski matanya membuatnya karena air mata, Lita dapat melihat Ayahnya bangun dan duduk menghadapnya.


"Oh, anak Ayah udah pulang," kata Ayahnya hangat. Nada bicaranya senang, jelas karena ia memiliki banyak uang.


"Yah, ini nggak bener, Yah," balas Lita lemah. Tenaganya seolah habis ketika membayangkan dirinya tak punya lagi jejak Ibu.


"Kenapa? Ayah akan selesaikan administrasi sekolah kamu sampai lulus. Beruntung kita masih punya harta. Ayah nggak bisa bayangkan—"


"Tapi Ayah nggak perlu jual punya aku sama Ibu!"


Lita berteriak, dengan suara tangisnya. Ia menangis hebat. Matanya semakin memburam. "Ayah bisa kerja. Ayah bisa jual yang lain. Ayah bisa berhutang. Jangan jual jejak Ibu, Yah."


Plak!


Rasanya panas, perih dan sesak. Seketika, Lita menjadi bayi lagi. Dia cengeng, kini semakin menangis keras. Tak peduli seberapa kacau wajahnya kini.


Sementara Ayahnya menggeram. Menatap anaknya dengan mata memerah, marah.


"Kamu pikir Ayah nggak capek urusin kamu? Kamu pikir Ayah nggak stress pikirin utang kita? Kamu pikir Ayah nggak sedih karena jual ini?" Ayahnya bertanya frustasi, sama terlukanya dengan Lita. "Ayah berpikir satu tahun untuk memutuskan jual perhiasan kita. Ayah tak punya jalan lain. Kita sama-sama berjuang. Ini juga buat kamu."


Lita tak berpikir, dia bodoh. Ia menunduk dalam, menggigit bibirnya kuat-kuat supaya tangisnya reda.


"Kalau Ayah nggak sayang Ibumu dan kamu, Ayah udah lama kabur dari rumah ini. Mencari kehidupan baru yang jelas-jelas bisa bikin Ayah bahagia," lanjut Ayahnya dengan suara pelan, jelas sekali ia putus asa. "Kamu harus dukung Ayah, nak."


Tangis Lita mulai menelan, ia mengusap kasar matanya dan menatap Ayah dengan sisa dayanya.

__ADS_1


"Untuk sekolahmu, makanmu, hidupmu. Uang ini, dari peninggalan Ibumu. Akan digunakan. Jangan marah."


Kemudian Ayahnya bangkit, mengambil uang-uangnya dan meninggalkan Lita. Yang ingin Lita lakukan sekarang adalah menangis, menangis dan menangis, namun sesungguhnya, yang harus Lita sekarang adalah lari.


Ia harus berpikir rasional.


Seharusnya, dari dulu ia bekerja, mencari uang. Untuk hidupnya, ia tak bisa terus bergantung pada orang tua. Apa jadinya jika mereka telah tiada? Apakah kau akan menyerah dan menyusul mereka?


Lita bukan orang bodoh yang akan berpikir seperti itu. Apa gunanya hidup jika tak berusaha sampai akhir, sampai Dia menjemputmu?


Lebih baik tak dilahirkan sekalian.


Memaksa diri, mengecut kaki, *** hati, memukul kepala. Itulah yang dilakukan Lita ketika berlari ke jalanan, berharap bertemu sesuatu yang ia butuhkan.


Ia harus kerja apa, ke mana, bagaimana. Lita bingung dan frustasi.


Hari mulai sore, langit tampak jingga karena sorot surya di barat yang mulai tenggelam. Indah. Berbeda sekali dengan perasaannya yang kacau.


Lita menarik napas panjang, kemudian menghembuskan sekali. Terus dilakukannya berulang-ulang, sampai sesuatu menimpa wajahnya karena angin, menghalangi pandangannya.


Ia mengambilnya. Rupanya sebuah brosur. Penasaran, Lita membacanya. Rumah hantu yang terletak tak jauh dari sekolahnya akan dibuka Minggu depan dan di bawahnya terdapat tulisan yang membuat senyum Lita terukir.


Dibutuhkan kuntilanak cantik


Yang serius minat hubungi nomor di bawah ini


Waktu SMP, bersama Ibunya, Lita pernah berkunjung pada rumah hantu. Supaya dirinya lebih berani dan rumah hantu sangat seru baginya. Ia berpikir, tak perlu takut karena hantunya manusia, sama sepertinya.


Dan menjadi hantu mungkin akan menjadi hal baru.


Lita ingin keluar dari zona nyamannya. Ia pikir, menjadi hantu juga tak akan melakukan kontak fisik.


Karena itu, ini pekerjaan yang cocok untuknya. Semoga semuanya lancar.



"Namamu Jelita Geannesa, masih sekolah, nggak punya pengalaman kerja dan pengen punya penghasilan untuk diri sendiri. Nyalimu besar sekali, Jelita."


Lita meneguk ludahnya kasar. Penampilannya masih sama seperti tadi, bedanya ia telah membasuh wajah dan menyisir rambut kuncir ekor kudanya supaya enak dilihat. Dirinya berada di ruang interview untuk menjadi bagian Waktu Malam, nama rumah hantu itu.


Dirinya kurang persiapan, karena itu ia takut tak diterima. Lita langsung menghubungi dan datang tanpa berpikir panjang.


"Kamu serius ingin bekerja dengan Waktu Malam?" tanya seorang wanita berusia 30 bernama Mia yang menjadi ketua dari rumah hantu ini. "Kami di sini bukan untuk main-main. Kami sudah dapat surat ijin usaha dan legal di mata negara."


Lita mengangguk cepat, berkali-kali. "Aku serius, Kak. Ayah nggak punya pekerjaan tetap dan Ibuku sudah tiada. Setidaknya aku harus punya penghasilan dan aku sangat suka rumah hantu."


Mia menatap wajah Lita lamat-lamat. Matanya memicing, ketika Lita balas menatapnya dengan keseriusan penuh.


"Oke." Mia menyodorkan kertas berisi kontrak kerja mereka dengan senyum lebar. "Selamat, kamu jadi maknae hantu Waktu Malam!"


"YEAY ADA DEGEM!"


Lita benar-benar terkejut saat tiba-tiba sepuluh orang keluar dari tirai belakang Mia. Mereka berseri-seri, melambai-lambai pada Lita.


"Ye, urusan yang cantik langsung nyaut aja, ya." Mita berkata ketus pada cowok yang berteriak barusan. "Jelita, ini tim kamu. Umur mereka nggak jauh beda sama kamu. Ada yang masih sekolah juga. Bertemanlah."


Lita mengangguk kaku sambil tersenyum. "Makasih, Kak."


"Tanda tangan aja langsung," kata seorang cewek yang merupakan salah satu dari tim Lita.


"Baca dulu baik-baik," kata Mia.


Lita membacanya cepat karena terlalu senang. Tanpa lama lagi, Lita menandatanganinya dan resmilah ia memiliki pekerjaan.


Betapa senangnya Lita.



Ketika Lita pulang, Ayahnya telah tertidur di sofa. Wajahnya lelahnya terlihat jelas. Lita menghela napas kecil, mengutuki dirinya yang selama ini ketus pada Ayah karena sering mabuk.


Padahal selama ini Ayah juga berusaha. Harusnya Lita menghargai.

__ADS_1


Lita mengambil selimutnya di kamar, kemudian menyelimuti Ayahnya dengan perlahan. Menutup tubuh lelah itu agar bisa beristirahat lebih baik. Dadanya sesak, melihat beberapa luka di kaki Ayahnya, entah sebab apa.


"Ayah baik-baik ya, mulai hari ini Lita akan berjuang bersama Ayah. Kita sama-sama senangin Ibu."


__ADS_2