
Terimakasih telah ada saat aku akan pergi sebentar lagi
Maaf karena baru menunjukkan bahwa aku sayang kamu
---
"Hai," sapa Lita datar.
"HUWWAAAAAA!"
"AAAAAAAA IBUUUUUU!"
"MAMAHHHHHH!"
"OH MY GOD, OH MY GOD!"
Senyum Lita terukir tipis melihat pelanggan Waktu Malam yang berlari terbirit-birit dan ketakutan. Lima menit berlalu, waktu kerjanya telah selesai.
Lita membersihkan riasan kuntilanak di wajahnya sambil bercermin. Siska duduk di sampingnya, melakukan hal yang sama.
"Lo pulang naik apa?" tanyanya seperti biasa.
"Biasa deh, naik grab," balas Lita spontan.
"Asli deh, pengunjung pada serem liat lo dan karenanya Waktu Malam bisa makin banyak aja pengunjungnya," jelas Siska memuji Lita.
"Berarti gue seremnya alami, ya," tukas Lita sambil tertawa kecil.
"Idih, kok gitu? Ah, lo salah paham," balas Siska ikut tertawa, namun dengan rasa bersalah. "Maksud gue, lo itu kunci keberhasilan Waktu Malam."
"GUE JUGA DONG!"
"GUE JUGA, GUE JUGA!"
"DAN KARENA HARI INI BAGAS ULTAH..."
"... KITA MAIN-MAIN, MAKAN-MAKAN DAN BERSENANG-SENANG, BERSENANG-SENANG!"
"WOHUUUUUU!"
"Gue ... nggak ikut, ya," kata Lita tiba-tiba.
Dara langsung melotot. "Kenapa?"
"Udah malem, gue pengen istirahat," jawab Lita jujur. Tubuhnya terasa lelah dan ada sesuatu yang menyakitkan terasa dalam tubuhnya.
"Yah.... besok Minggu kali, bisa istirahat sepuasnya," tukas Anna, mencoba memotivasi Lita untuk ikut.
"Gue anterin pulang deh, ongkos ditanggung Bagas," tambah Gio ikut membujuk.
"Anjeng, gue cuma traktir dua puluh, ya," ancam Bagas sambil menjitak kepala Gio dengan kesal.
"Nggak apa-apa, gue nggak ikut aja. Maaf ya," cetus Lita masih pada pendiriannya. Ia bangkit dan hendak pulang, namun tangan Siska menahannya, membuat Lita berhenti dan berbalik dengan kening berkerut.
"Lo harus ikut. Asli, gue maksa, nih," kata Siska seram, tanpa nada dan mata tajam yang menusuk mata Lita.
Lita mengerjap beberapa kali, menatap teman-temannya bergantian. Wajah mereka menatapnya penuh pengharapan, dan jujur, Lita tak kuasa melihatnya.
"Lit, kita udah satu kelompok selama dua bulan, masa lo nggak mau ikut? Gue selaku sponsor menyarankan lo ikut. Ayo," ajak Bagas ikut-ikutan membujuk Lita.
"Ayo, Jelita," tambah Anna sambil memasang mata memohon.
"Litaaaaaa," rengek Dara mulai berlebihan.
Sungguh, mereka sangat baik dan Lita terharu.
Akhirnya, ia mengangguk kecil.
"HOREEEEE!"
"PERTAMA, SUDAH PASTI KAROKE DULU, KAROKE!!!!"
"CUSS AH!"
Bersama Siska, Gio, Anna, Dara dan Bagas, Lita keluar dari ruangan rias dan melewati pintu yang langsung menghubungkan mereka dengan jalanan ramai yang menjadi pusat kota. Mulai dari perbelanjaan, kuliner sampai wisata.
Semuanya terpusat di sini dan sangat ramai. Lita biasanya menyumpal telinga dengan earphone dan menyetel musik agak keras, namun sekarang tidak. Karenanya ia terkejut, suara-suara lain yang ia dengar bisa sekuat ini.
Mereka bercampur, saking banyaknya membuat Lita pusing sendiri menyimaknya.
"Lita, jangan bengong, ayo!" seru Dara sambil menarik tangannya, mengikuti yang lain yang telah berada di depan pintu masuk karaoke.
Bagas yang mengurus biayanya, karenanya yang lain langsung boking tempat dan tertawa-tawa sambil memilih musik. Lita hanya mengikuti, sesekali tertawa karena tingkah teman-temannya yang gila dan berisik itu.
"Heh, waktunya tiga puluh menit, ya," kata Bagas saat bergabung setelah membayar dan membeli paket dengan waktu tertentu.
"OKE, BOS!" seru Siska semangat. "GUE DONG PERTAMA! PENGEN NYANYI LASKAR PELANGI!"
OH, BOLEH-BOLEH!" balas Dara tak kalah semangat.
"Gue giliran ending aja," kata Gio yang memutuskan duduk di sebelah Lita yang hanya memerhatikan. Gio menoleh pada Lita. "Maaf ya, mereka kadang miring."
Lita tertawa. "Nanti giliran lo juga ketahuan, ikutan miring atau nggak."
"Dih, gue anaknya kalem, anti kesurupan setan kayak Dara, noh, liat," balas Gio tak terima sambil menunjuk Dara yang kini telah berlagak memainkan gitar elektrik sampai rambutnya tak beraturan lagi karena terus bergerak ke atas dan ke bawah secara cepat.
Lita hanya tertawa. Ia melihat Bagas. Cowok itu sama semangatnya, bernyanyi-nyanyi sambil tertawa dan kadang menari dengan Dara. Sementara Anna sibuk melakukan lipsinc dengan gaya aneh yang gila.
Semua orang seolah sudah akrab dan nyaman. Lita pun merasa begitu dan ia bersyukur.
Sampai akhirnya di waktu terakhir, giliran Gio akhirnya tiba.
"EMANG LAGI SYANTIK, TAPI BUKAN SOK SYANTIK..."
Dia adalah spesies teman tergila yang pernah Lita kenal. Anna, Siska, Bagas dan Dara saja sampai melongo dibuatnya.
Ah, senangnya bisa berteman dengan mereka. Malam ini, Lita mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk makan di KFC terdekat dan memesan kotak nasi beserta kentang goreng dan minumannya. Mereka kelelahan, karenanya makannya lahap.
Kecuali Lita. Bibirnya kini pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia lelah dan sakit.
"Eh, gue baru sadar, Lita tadi nggak nyanyi," kata Siska disela kunyahannya.
"Makannya pun nggak lahap," tambah Anna khawatir. "Lo sakit, ya, Ta?"
__ADS_1
"Gue maksanya keterlaluan, ya? Maaf deh, lo jadi nggak nyaman gitu." Gio akhirnya bangkit dan membantu Lita bangun karena kelihatan gadis itu tak baik-baik saja. "Ayo, gue anterin."
Mendadak, perutnya sakit dan kepalanya pening. Lita tak sanggup bicara, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Ia melambaikan tangannya pada yang lain saat Gio menuntunnya menuju motornya.
Gio membuka jaketnya, menggantungnya pada pundak Lita dan menutup kancingnya setelah Lita setelah memakainya tanpa protes.
Gio benar-benar khawatir dan tak banyak bicara. Ia dengan cepat mengantar Lita lewat telunjuk Lita yang mengarahkan dan akhirnya sampai dengan selamat.
Lita turun dan berdiri di samping Gio yang masih duduk di motornya.
"Ta, maaf, ya," kata Gio merasa bersalah.
Lita menggeleng kecil. "Makasih," ucapnya pelan, berusaha keras untuk bersuara.
"Istirahat yang cukup," kata Gio sambil tersenyum tipis. "Gue pamit."
Tangan Lita terangkat ke atas, melambai menatap kepergian Gio. Kemudian ia berbalik, berjalan menuju pintu rumah dan membukanya. Perut bagian bawahnya terasa menyakitkan, menyiksa dan seperti ditusuk-tusuk jarum berkali-kali.
Jalannya berubah terseok-seok, nafasnya mulai tersengal-sengal, ia bersuara lirih saat merasa tak kuasa berjalan menuju kamarnya.
Ia melihat Ayahnya tertidur di sofa dengan posisi duduk, seolah tertidur karena menunggu Lita pulang. Ia berharap seperti itu.
"Ayah...."
Lita memegang perutnya, memejamkan matanya dan berusaha melangkah. Ia meneguk ludah, dan memekik tertahan saat sakitnya makin menjadi.
Bruk!
Akhirnya ia ambruk. Terjatuh dan mengenaskan. Lita merintih, tangannya mencakar lantai dan memegang perutnya dengan tangan yang lain.
"Ayah... sakit... ayah.... tolong..."
Sekuat tenaga Lita berdoa, menjerit dan bersuara. Berharap ayahnya mendengar. Dan di ujung penghabisan energinya, ia sayup-sayup merasa tubuhnya diangkat dan dipeluk erat.
"Lita, kamu kenapa, nak? Ayah mohon, bertahanlah..."
Dan gelap menyelimuti Lita.
***
"Dok, anda serius?" tanya ayah dengan wajah yang pias dan raut penuh terkejut serta khawatir.
"Saya tak akan menyebar bohong, memang ada untungnya bagi saya?"
Ayah benar-benar merasa terpukul. Ia jatuh ke dalam jurang terdalam dan segalanya terlihat gelap. Melihat putrinya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang membuat hatinya teriris. Ia mengambil tangan Lita dan menggenggam untuk ia tempelkan di kening.
Ayah berdoa, memohon dan berserah diri. Ia ingin menyalurkan kekuatannya pada Lita dan berharap anaknya itu bisa bangun.
"Maafin ayah, nak..."
Air matanya luruh, mengalir ke tangan Lita dan terus seperti itu sambil setengah jam berlalu. Ayah lelah, raganya hampa dan hatinya terluka.
Ayah menyelimuti Lita dan mencium keningnya untuk setelahnya pergi dari kamar itu. Ia akan kembali lagi esok hari, setelah menenangkan diri.
Malam ini, dirinya benar-benar berhenti mabuk dan ingin menyambut putrinya yang pulang dengan pelukan. Ayah sudah berubah dan sadar akan kewajibannya mempunyai Lita.
Namun, Lita datang dengan keadaan lemah dan tak sadarkan diri setelah ia peluk. Lalu ayah membawanya ke rumah sakit dan fakta pedih pun ia terima.
Ayah merasa tak mampu hidup lagi, ia merasa sangat bersalah pada istrinya.
Rumah sangat lenggang saat ayah masuk. Suasananya dingin, gelap dan sunyi. Rumah yang terasa sepi tanpa dua perempuan yang ia cintai.
Kepergian istrinya membuat ayah terpuruk, amat merasa kehilangan. Hingga ia lupa akan kewajibannya sebagai ayah dari seorang anak. Ayah hanya bekerja untuk mabuk, berharap melupakan kesedihannya.
Namun kini, kesedihan yang lain menghampirinya.
Ayah masuk ke dalam kamar Lita. Kamar itu rapi, mencerminkan penghuni yang disiplin dan bersih. Tak ada satupun barang yang lain selain buku dan alat tulis di atas mejanya.
Melihat foto yang tergeletak di atas ranjang, ayah melihatnya dan seketika merasa amat sesak. Itu foto keluarganya. Melihat istrinya yang tersenyum, dirinya yang tergelak dan Lita yang cemberut, sungguh menggerus hatinya.
Sebab kini kebahagiaan dalam foto itu telah hilang.
Beberapa tahun lalu, mereka bahagia bersama. Namun satu hari di mana Lita ulang tahun, sesuatu terjadi.
Mereka bertiga hanya keluarga sederhana yang bahagia. Ayah dan ibu berencana untuk piknik dan merayakan ulang tahun anak sematawayangnya. Namun sayang, dalam perjalanan, mereka harus melewati kecelakaan yang mengenaskan.
Mereka bertiga tak sadarkan diri karena menabrak pohon untuk menghindarkan mobil yang di tumpangi menabrak sebuah truk. Ayah dan Lita hanya cidera ringan, namun entah bagaimana nyawa ibu tak terselamatkan.
Hari itu menjadi kelam, menjadi awal kegelapan dalam hidup Lita dan ayah.
Dalam kesedihannya, dalam menghadapi petaka ini, ayah kehilangan kesadarannya. Ia tak memerhatikan hati anaknya.
Harusnya ia juga menyadari, bahwa anaknya juga sedih akibat kehilangan sosok ibunya, ditambah dia tak punya sandaran karena ayahnya ini sangat berprilaku buruk.
Harusnya ia bisa menjadi pengganti ibunya untuk Lita.
Dirinya tak dapat menjadi ayah yang baik dan kini anak satu-satunya jatuh sakit. Ayah menyepelekan harapan istrinya, membuat sedih anaknya karena egois.
Ayah hanya memikirkan dirinya tanpa memerhatikan pertumbuhan atau perkembangan Lita.
Bagaimana dia belajar, bagaimana dia tertawa, bagaimana dia jatuh cinta, bagaimana dia sekolah, bagaimana dia makan, bagaimana dia bisa menjadi remaja 17 tahun yang baik, ayah benar-benar tak tahu segalanya.
Bagaimana dia bisa menjadi ayah yang dipasangkan dengan anak seperti Lita?
Sungguh, takdir yang sangat jahat. Ayah tak tega pada Lita.
***
"Lo masih nggak enak ya sama dia?" tanya Anwar sambil membuka bukunya untuk mencatat rangkuman dari buku Putra. Ini jam istirahat, tapi mereka berempat tak pergi ke kantin.
Penyebabnya tentu Darka, ia tak ingin bertemu Lita, karenanya ia berdiam diri di kelas. Beruntung Putra dan Sandi membawa makanan ringan dan membeli roti tadi pagi.
"Gue nggak tau caranya supaya gue bisa percaya diri di hadapan dia," keluh Darka sambil *** rambutnya frustasi. "Gue nggak bisa. Gue jahat banget rasanya."
"Andai kita nggak ngasih tahu tentang Lita yang dijahatin satu sekolah, pasti lo sekarang ngerdus lagi," kata Sandi ikut-ikutan.
"Elo sih," tuduh Anwar.
"Kok gue? Noh, Putra yang dulu buka-bukaan," tuduh Sandi pada Putra yang sibuk main game di belakang. Putra tak menyahut, karena telinganya tersumpal earphone dan karenanya Anwar mendelik.
"Budek dadakan dia," katanya menghina.
"Intinya, gue nggak ada maksud apa-apa, Dar," jelas Sandi.
"Justru bagus dong kalian ngasih tau. Biar gue tau diri. Waktu pemeriksaan itu gue biasa aja karena nggak tau, tapi setelah tau, gue nggak berani muncul lagi di hadapan dia. Asli." Darka mengeluh panjang. "Kasian banget Jeli. Gara-gara gue."
__ADS_1
Anwar menjentikkan jarinya di depan wajah Darka dan membuat Darka mengernyit.
"Gue ada ide."
"Apa?"
"Lo minta maaf aja, ngasih apa kek gitu. Bikin seromantis mungkin dan bilang, 'gue akan selalu ada di sisi lo. Janji.' gitu."
"Nah! Bagus tuh, bagus!" seru Sandi semangat. "Pake bunga, balon sama boneka. Asli, cewek manapun pasti meleleh."
Mata Darka membulat, senang. Dia tak tahan dua minggu ini menjauh dari Lita. "Bantuin gue, oke?"
"Asyiappp!"
***
Hari ini Darka membuka meet and greet lagi dan rupanya penggemarnya tak berkurang, masih banyak dan mengantri panjang. Lapangan agak ramai dan berisik.
"KAK DARKA MAAF YA KEMARIN AKU KEMAKAN OMONGAN TETANGGA!"
"KAK DARKA MAAF YA KEMARIN AKU KEBAWA GOSIP MURAHAN!"
"KAK DARKA MAAF YA KEMARIN AKU KHILAF MALAH NGEHUJAT KAKAK!"
"KAKAK MAAFKAN KAMI, KAK!"
"KAKAK AKAN SELALU KAMI CINTAI, KOK. JANGAN SEDIH LAGI."
"Perasaan ini bukan lomba teriak-teriak kenceng, selow aja deh, ini kasihan telinganya," kata Anwar menasehati. "Kalau kalian menyesal, cintai kembali Darka aja, itu udah cukup. Nggak perlu sampai teriak-teriak."
"Oh, iya, kak, maaf, hehe." Perempuan itu terkekeh kecil, kemudian menatap Darka dengan sedih. "Kakak yang sabar ya. Kalau pelakunya ketangkap, aku pasti jadi yang paling depan buat mukulin dia."
Darka tertawa. "Iya, makasih, ya. Makasih karena masih mempercayai kakak."
"Oke! Oppa, saranghe!"
"Ye, sekarang balik lagi pas Darkanya udah bersih. Pas kotor aja ngehujatnya minta ampun," sindir Putra tak suka dengan kelabilan fans Darka itu.
"Ya, kan kemarin aku—"
"Harusnya lo ngasih dukungan, nggak langsung percaya. Gue mulai ragu sama fans-fans lo, Dar. Aneh, liat lo dari apa sih?"
"Ih! Aku marah karena ngira Kalo Darka beneran ngelakuin itu, sama cewek aneh pula! Aku jijik dan—"
"Dia Jelita. Cantik, lembut dan lucu. Kamu nggak boleh bilang dia aneh," potong Darka dengan senyum sabar. "Sekarang semuanya udah clear. Kakak sama kayak Pak Azel, suka kedamaian karena dia indah. Kita damai aja, oke?"
Perempuan itu mengganguk kecil. "Siap, kak, oke."
"Oke, Tra?" Darka beralih pada Putra.
Putra mendengus kecil. "Udah, waktu lo abis, lanjut. Tinggal lima lagi."
***
Semuanya telah disiapkan sesuai rencana. Lokasinya di balkon kamar orang tua Anwar. Balon-balon dan boneka-boneka telah disusun sedemikian rupa. Darka hanya tinggal membawa Lita ke sini dan menyuarakan isi hatinya.
"Makasih udah bantu, bro," kata Darka sambil menatap ketiga temannya dengan senyum tulus. "War, San, Tra."
"Anytime," balas Putra dengan senyum tipis.
"Sekarang lo tinggal ajakin," kata Anwar memberi instruksi.
"Tapi gue nggak pernah liat dia deh sejak Senin kemarin dan sekarang udah dua minggu sejak Senin itu. Dia biasanya di kelas, tapi gue kadang liat dia ke kantin sebentar atau sama Tia di hari-hari sebelumnya." Darka mendesah pelan. "Ke mana ya dia?"
"Lo ke kelasnya dulu aja, kita tunggu di kantin," kata Sandi memberi saran.
"Kelas berapa dia?" tanya Darka polos.
Sandi menatap Darka tak percaya. "Wah—"
"Jangan hujat dulu, kasih tau aja dah," potong Darka mulai dongkol.
"IPA 1 anjir," jawab Putra tanpa basa-basi.
"Oh, oke," balas Darka untuk setelahnya berbalik, berlari menuju kelas di ujung koridor ini. Meninggalkan teman-teman yang hanya mampu menggeleng kepala.
"Temen lo tuh," kata Anwar pada Sandi.
"Temen sebangku lo tuh," balas Sandi pada Anwar.
"Begonya nggak ketulungan," kata mereka berdua bersamaan. Membuat tawa keras mengudara begitu saja.
"Temen kita anjir," kata Putra tulus. Ini baru yang namanya teman sejati.
Sementara itu, Darka telah sampai di ambang pintu kelas XII IPA 1 dan melingokkan kepalanya. Ia tersenyum sopan dan menyapa sesaat.
"Kalau boleh tahu, Jelita ke mana ya?" tanyanya saat tak kunjung menemukan perempuan berjaket merah itu.
"Jelita?" seorang perempuan menyahut. Ia membawa buku absen dan menghampiri Darka. "Dia udah nggak sekolah dari minggu lalu. Kita berencana jenguk dia juga, tapi minggu depannya. Lo temen deketnya?"
"Kenapa? Jeli sakit apa?" tanya Darka bagai tersambar petir. Ia langsung khawatir dan was-was.
"Gue nggak tahu, surat sakitnya ada di wali kelas."
"Wali kelas lo siapa?"
"Pak Ardi."
Setelah mendengarnya, ia berlari menuju ruang guru. Mencari papan nama Pak Ardi dan begitu menemukannya ia langsung membujuk agak guru itu mau menunjukkan surat sakit Lita.
Awalnya Pak Ardi menolak karena ini adalah privasi seseorang, namun Darka berjanji jika ada hal buruk terjadi, ia siap disalahkan.
Dan dari keterangan yang diberi Pak Ardi, di sini lah kini Darka berada. Dengan peluh dan nafas memburu, ia berjalan terseok-seok di lorong sebuah rumah sakit.
Darka tak peduli apapun, tak sekolahnya, juga ayahnya yang akan marah karena dirinya membolos, ia hanya ingin melihat Lita.
Apa gadis itu baik-baik saja?
Raganya lelah dan seolah tak mau menompang dirinya. Jiwanya luruh, sedih dan terpuruk. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu kamar yang di dalamnya terdapat Lita. Matanya refleks terpejam saat pintu itu mulai terbuka, Darka mendorongnya pelan-pelan.
Darka tak mampu membuka matanya saat pintu akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia mengambil napas banyak-banyak, kemudian matanya terbuka perlahan.
Di atas ranjang putih itu, terbaring seseorang yang amat Darka rindukan. Matanya terpejam dan wajahnya tersapu cantik oleh sinar mentari lembut dari jendela di sebelahnya.
Dada Darka terasa diremat kuat-kuat, kakinya sekuat tenaga melangkah, mendekatinya dan membuat kejelasan bahwa kini Lita sedang berbaring tak sadarkan diri dan tentunya ... sakit.
__ADS_1
Seluruh tenaganya luruh, badannya jatuh beserta tetes air mata yang menitik untuk mengawali tangis Darka yang sarat akan kesedihan.