Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
27. Menemukan Kunci


__ADS_3

Jangan menahan diri pada kebaikan, jangan menunda-nunda kebaikan, jangan hiraukan suara hatimu


Jangan melakukan hal-hal yang dapat membuat penyesalanmu bertambah banyak


---


"Jelita udah sembuh?" tanya Sandi gembira ketika Darka telah menceritakan tentang fakta yang ia temukan kemarin.


"Dia sakit apa?" tanya Putra penasaran.


Darka menggeleng lemah. "Gue nggak dikasih tau."


"Lo ... nggak berencana untuk berpaling, kan?" tanya Anwar khawatir. "Asli, lucu kalau lo sekarang udah mau jadi buaya lagi. Lo udah tobat, padahal."


"Kasian Lita anjir," kata Sandi sedih. "Kasian ayahnya juga. Dar, kalau lo nyakitin Lita, gue nggak bakal segan-segan buat bogem lo. Ibunya udah nggak ada, goblok."


"Kalau lo cuma ingin mengenal tanpa mau berjuang, lebih baik nggak dari awal, Telor Dadar," tambah Putra ikut menceramahi Darka.


Mendengar itu, Darka mendengus geli. "Ada niatan buat lirik cewek udah ludes semenjak gue liat Jelita. Dia yang paling jelita diantara yang lain. Asli. Gue nggak akan pernah ninggalin dia."


Anwar berdecak kagum. "Benar-benar udah tobat ternyata."


"Bagus," puji Sandi sambil menepuk-nepuk pundak Darka dengan bangga.


"Lo pada tenang ajalah, gue sekarang lagi pusing abis belajar sama Pak Anto, bikin puisi mulu, njir. Udah hafal gue nggak itu nggak tau diksi-diksian." Darka membuka tutup teh botolnya dan meneguknya, berharap kepalanya menjadi segar.


"Oh, lo mumet juga? Sama, bro," kata Anwar sambil tertawa.


"Emang, ya, cuma gue yang pinter. Bikin puisi itu b aja menurut gue, gampang bahkan," balas Putra, menyombongkan diri.


Sementara Darka dan Anwar hanya berdecak, Sandi langsung membalas dengan sewot.


"Jangan salah, gue juga jago, dong!"


"Idih—"


"Ka, boleh gue minta waktu buat ngomong sesuatu?" Tia tiba-tiba datang dan memotong perkataan Anwar begitu saja. Membuatnya menjadi pusat perhatian empat cowok di meja itu. "Ini penting. Serius."


Alis Darka terangkat sebelah. "Kalau lo mau ngajak balikan, sori—"


"Darka, serius." Tia lagi-lagi memotong perkataan, kali ini membuat Darka menautkan alisnya dengan bingung.


"Kalau mau ngomong sesuatu, bisa di sini aja, kan," kaya Darka agak tak minat. Serius, ia tak ingin membuat Lita cemburu.


Tia mendengus kecil. "Ikutin gue atau lo akan menyesal." Dan Tia pergi berbalik dalam langkah cepat-cepat yang membuat Darka tak punya pilihan karena penasaran.


"Awas balikan lagi!" seru Anwar saat Darka berbelok keluar dari kantin.


Darka mendesah frustasi, kemudian segera berlari saat Tia sudah duduk di kursi semen dekat lab IPA yang terkenal sepi karena angker. Darka sebenarnya agak gemetar dan bulu kuduknya sudah berdiri, tapi wajah datar menutup ketakutannya.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Darka langsung, tak ingin berlama-lama dan berbelit-belit.


"Lo nggak duduk?" tanya Tia basa-basi.


"Nggak. Udah, deh, langsung aja ngomong."


"Oke." Tia berdeham, mengambil napas dan mengeluarkan untuk membuatnya lebih tenang. Kemudian benar-benar bersuara. "Gue yang fitnah lo sama Lita."


Beberapa saat Darka hanya mengangguk seolah kata-kata Tia tak penting baginya. Namun saat ia sadar akan sesuatu, Darka langsung melotot dan menusuk Tia dengan tatapan marahnya.


"Apa?!" tanyanya, langsung mencengkram pundak Tia dan membuatnya berdiri saling berhadapan. Napas Tia langsung terengah-engah sebab takut, meski dirinya sudah mempersiapkan diri. "Lo serius?"


"Ngapain gue bohong?" tanya Tia pelan. Dia benar-benar takut sekarang.


"Kenapa?" tanya Darka mulai marah. "Lo tau seberapa tersiksanya Lita gara-gara lo? Lo paham gara-gara lo gue marahan lagi sama bokap? Lo kenapa sih, hah?"


Tia memejamkan matanya sebelum benar-benar mengunci Darka dalam tatapan penuh marahnya. Tia akan menumpahkan isi hatinya sekarang juga.


"Gue nggak terima sama sikap lo, Darka!" seru Tia akhirnya, keras. Benar-benar membuat Darka terkejut dan refleks menjauh dengan pandangan tanya. "Lo tiba-tiba deketin gue, bikin gue ketawa, bilang sayang ke gue, ajakin gue jalan, traktir gue makan, muji gue, bahkan rangkul gue saat gue lagi sedih karena bonyok gue mau cerai. Lo bikin gue seneng, seolah lo ada untuk gue, seolah lo adalah takdir gue."


Napas Tia mulai memburu. Ia marah, namun juga sedih. Semuanya membuncah dan membuat air matanya tak tertahankan. Ia tetap bersuara, ingin mengeluarkan keluh hatinya meski suara sudah sangat pelan dan kurang jelas.


Sementara Darka, dia tak mengucap apa-apa, tapi hatinya bergejolak. Ia juga marah, namun di sini dia sangat merasa bersalah.


"Gue percaya itu dan gue benar-benar jatuh sama lo, Darka." Tia mengusap air matanya dengan kasar, menatap Darka yang kini menunduk dengan tatapan sendu. "Tapi ... esok harinya bilang kita bukan apa-apa, gue bukan siapa-siapa, setelah kemarin lo bilang kalau gue punya lo, 'jangan sungkan untuk berteduh'! Lo harusnya paham seberapa hancurnya hati gue, Darka? Lo harusnya mengerti sakitnya gue bagaimana! Tapi lo tetep seneng-seneng dan bahkan kini dekat dengan Lita. Lo memang buaya sejati, Darka."


Darka menjambak rambutnya, frustasi. Dia tak tahu perilakunya bisa menghancurkan hati seseorang sedahsyat ini.


"Gue pikir dengan menjauhkan Lita, lo bisa merasakan bertapa sakitnya jadi gue. Gue akhirnya jebak kalian dalam foto itu. Gue berusaha untuk bujuk Lita, jauhin lo karena lo itu bahaya. Dia nurut, dan itu bikin gue seneng banget." Tia tertawa untuk membahagiakan dirinya sendiri. "Lo harus mengerti betapa sakitnya ditinggalkan saat benar-benar jatuh."


"Gue ngerti, Tia." Darka akhirnya bersuara. Ia juga tampak merasa bersalah, ia juga merasakan bagaimana sakitnya saat Lita mulai menjauh dan cuek lagi padanya saat dia benar-benar menyayangi gadis itu. "Makasih udah ajarin gue cara merasakan sakit itu. Gue sangat tersentuh."


Tia terkejut. "Apa?"


"Iya, gue terima kemarahan lo dan ingin gue merasakan rasa sakit yang sama kayak lo." Darka mengambil napas dalam-dalam. "Tapi lo nyakitin Jelita! Lo bikin dia sengsara dan sakit hati! Lo tau seberapa tersiksanya dia saat dikata-katain?! Lo boleh aja nyakitin gue, tapi jangan Jelita!"


Tia mengalihkan pandangan ke samping. Ia tertawa miris. "Lo sayang banget sama dia, ya."


"Lo jahat, Tia, sangat jahat," dengus Darka kecewa. Membuat Tia merasa tertusuk pisau tumpul yang berusaha untuk menembus hatinya. Sakit, lama, menyiksa. "Jelita ... sekarang dia sakit, di rumah sakit."


"A-apa?"


***


"Jelita, buka matanya dong, gue tau lo pura-pura tidur," kata Darka saat telah sampai di kamar rawat Lita dan melihat gadis itu yang awalnya menatap jendela, langsung menutup matanya saat melihat kedatangannya.


Darka duduk di samping ranjangnya, seolah sudah biasa dan familiar, ia merasa nyaman-nyaman saja.


"Hei, Jelita."


Mata itu masih terpejam.


"Jeli."


Masih pura-pura tertidur.


"Please, jangan bercanda, dong," mohon Darka, kini benar-benar mengerti bahwa dibercandakan itu sama sekali tak enak.

__ADS_1


"Kenapa, sih?" tanya Lita akhirnya membuka mata dan langsung mengubah posisi menjadi terduduk. Kondisinya mulai membaik dan Lita bersyukur pada Tuhan.


"Wah, lo udah mendingan?" Mata Darka membulat gembira. Ia langsung bertepuk tangan dengan meriah. "Besok gue bawa sesuatu sebagai perayaan."


Lita ingin menolak, namun sekarang ia hanya mengangkat bahunya. "Terserah."


Darka menipiskan bibir. Langsung memberi jempol pada Lita dengan senyum lebar, menatap wajah Lita yang terhias cahaya senja. "Bagus, cantik. Nurut dong sama suami."


Tangan Lita langsung melayang, menepuk pundak laki-laki yang sering bercanda itu. Darka meringis kecil sambil membuka tasnya dan membawa secarik kertas.


"Lo mau apa? Kayaknya ada yang penting."


"Gue tadi belajar puisi. Sekarang mau bacain buat lo," kata Darka masih mempertahankan senyumannya. "Gue juga tadi belajar bahasa Inggris sama fisika. Gue berusaha buat ngerti, buat ngajarin lo. Jangan karena lo sakit, lo jadi nggak belajar. Nanti bego."


Lita tertawa kecil, masih tak percaya dengan pikiran laki-laki di depannya ini.


"Yang bego gue aja, lo jangan."


Tawa Lita meledak keras. Air matanya sampai keluar saking tergelaknya dia.


Darka menatap Lita dengan pandangan tak percaya. Matanya mengerjap beberapa kali dengan perlahan. Kemudian Lita sadar dirinya diperhatikan Darka, tawanya seketika berhenti dan berdeham salah tingkah.


"A-apa?" tanyanya tergagap tanpa terkendali.


"Lo lucu, deh. Cantik juga. Coba ketawa kayak gitu tiap hari," saran Darka.


"Gue gila dong," ketus Lita tak suka.


"Eits dah, nggaklah, asal ketawanya tiap deket gue doang," balas Darka sambil menaik-naik kedua alisnya.


"Udah deh, sini buku lo," kata Lita kesal.


"Buku apa?"


"Bahasa Inggris sama Fisika. Gue mau belajar. Lo nyuruh gue belajar, kan?" Lita menengadahkan tangannya.


"Eits, dengerin dulu puisi gue," kata Darka sambil menggerakkan telunjuknya. Lita memutar bola matanya sementara Darka segera berdeham, bersiap-siap untuk membaca puisinya. "Mencari Kunci karya Darka Samudra."


Suara berat laki-laki itu membuat Lita terdiam, mulai menghayati dan penasaran akan isinya.


"Laki-laki itu berlari, mencari-cari


Di bawah dedaunan kering, sampai bawah batu kali


Di atas ranting, sampai pucuk daun jeruk bali


Di pinggir pot bunga, sampai ke atas lemari."


Kening Lita mengerut, merasa dipermainkan, namun melihat Darka yang serius dalam membacakannya, Lita berusaha untuk menyimak dengan baik.


"Tak ditemukan.


Laki-laki itu menyerah.


Tidak, ia hampir menyerah.


Laki-laki itu tersentak, ia menyadari sesuatu.


Kunci itu berada dalam hatinya."


Mata Lita melebar, terkejut puisi buatan Darka bisa sedalam ini. Suara laki-laki itu serius, sarat akan sebuah tujuan.


"Kunci itu tak hanya bisa membuka pintu.


Namun juga bisa melelehkan hati yang beku.


Bisa merampungkan pertahanan batu.


Bisa menghangatkan cinta yang sudah layu.


Bisa menyambung kembali tali yang putus.


Bisa melambungkan jiwa yang redup.


Dan yang terpenting dia punya kuasa untuk mengubah."


Darka mengambil napas dengan was-was dan bersuara amat pelan di akhir. "Kisah kelam kita yang kelabu, menjadi cinta abadi yang tak bisa rapuh."


Lita menggigit bibir, amat tersentuh dan ia menyembunyikan air matanya yang menggenang dengan memalingkan wajahnya.


"Jadi, kuncinya ada di mana?


Akhirnya laki-laki itu mengerti, kuncinya di sini.


Berada di hati."


Darka menghela napas panjang setelah melakukan pertunjukan kecil itu. "Gue bikin puisi ini saat temanya tentang Kodok. Jadi gue dihujat gitu. Gue bikin ini buat lo. Gimana?"


Suasana menjadi hening beberapa saat. Lita menunggu air matanya kering, sementara Darka menunggu reaksi Lita.


Sampai sebuah tepuk tangan di ambang pintu sana mengejutkan Lita. Ia langsung menoleh dan menatap Tia dengan tatapan heran. Ia menuding Darka dengan tajam.


"Peace," kata Darka sambil membentuk jarinya menjadi huruf V.


Lita mendesis tajam. Sementara Tia mulai berjalan mendekat dan merentangkan tangannya dengan tatapan ingin menangis.


"Eh?" Lita heran karena tiba-tiba Tia memeluknya setelah Darka berdiri dan hanya melihat dari sisi lain sementara tempatnya di ambil alih oleh Tia.


"Maafin gue, Lita," kata Tia tiba-tiba sudah diiringi isak dan suaranya mulai memelan.


"Hah?" Lita kebingungan setengah mati. Tia tiba-tiba datang dan meminta maaf padahal perempuan itu sama sekali tak membuat Lita harus menerima maafnya. Justru Lita harus berterimakasih karena Tia mau menjadi temannya. "Lo kenapa, sih?"


"Gue pamit, ya. Nanti ke sini lagi." Darka akhirnya memutuskan keluar karena merasa ini khusus perempuan.


Darka terpaksa memberitahu Tia tentang Lita dan rumah sakit ini karena Tia memaksa. Ia ingin meminta maaf sejadinya dan berdamai karena ia juga telah mengaku pada seluruh warga sekolah serta menerima hukuman skors dua minggu.


"Lita, gue langsung aja ya, tapi jangan kaget," kata Tia saat melepas pelukannya dan menatap Lita dengan mata berair.

__ADS_1


"Ha... kenapa?"


"Gue ... gue yang ngejebak lo sama Darka di foto itu. Gue benci sama Darka karena dia mempermainkan gue--lo pasti tau dia itu playboy, tapi malah juga berdampak pada lo. Maaf," kata Tia benar-benar menyesal. Hatinya sungguh sakit saat melihat Lita kini benar-benar sakit. "Gue nggak ada maksud apa-apa untuk celakain lo. Gue hanya ingin membalas perlakuan Darka lewat lo. Maaf, Lita, maaf, maaf, maaf."


Lita mendadak menyentuh pundaknya dengan lembut, kemudian tersenyum menatap Tia yang bingung dibuatnya.


"Gue maafin, Tia." Lita tersenyum lebar, membuat Tia langsung tersenyum cerah. "Gue jelas marah, ternyata orang yang bikin gue sakit karena dicaci maki adalah sahabat gue sendiri, tapi gue ngerti. Lo korbannya Darka, ya. Gue justru berterimakasih karena lo mau temenan sama gue. Setidaknya, dengan adanya lo, gue bisa merasakan gimana rasanya punya sahabat cewek."


"Lo—"


"Gue nggak pernah temenan. Mereka nggak suka cewek cuek kayak gue, apalagi yang aneh."


"Lo nggak aneh, asli."


Lita tertawa. "Itu yang membuat gue suka sama lo."


"Jangan begitu, gue udah jahatin lo, lho," peringat Tia agak sedih.


"Itu buat balas Darka, kan? Ada kalanya balas dendam dilakukan untuk menyadarkan seseorang."


"Nanti bilangin juga, jangan ninggalin cewek kalau udah bikin cewek itu berharap," keluh Tia kesal, mendadak curhat.


"Lah, kok ke gue?"


"Lo kan sekarang dicintai Darka, banget," kata Tia, berhasil membuat Lita sedikit salah tingkah.


"Ih, apa sih," keluh Lita merasa tak nyaman.


Tia terkekeh melihatnya. "Semoga lo cepat sembuh. Gue dukung lo sama Darka, serius."


"Lo udah nggak ada rasa, ya?"


"Benci sih ada," jawab Tia ketus. "Gue itu—"


"Maafannya udah, ya. Wah, cepet banget!" seru Darka tiba-tiba masuk dengan kantung plastik transparan yang di dalamnya terdapat roti dan susu UHT. "Tia, Jelita, sekarang sahabatan, ya. Wah!"


"Apasih, Darka, datang-datang nggak jelas," kata Lita tak nyaman. "Kita emang udah sahabatan dari dulu kali."


Tia tiba-tiba tertawa. "Asli ini lucu. Kalau gue nggak deket sama Darka, mungkin gue nggak akan temenan sama Lita. Thanks, Dar. Gue jadi tambah temen lagi. Dan lo," kata Tia kini beralih pada Lita. Lalu mencubit pipinya gemas. "Kok baik banget sih? Gue bisa-bisa ngasih semua koleksi lipstik gue ke lo biar bisa dandan cantik!"


"Lo fokus jualin aja. Jangan coret-coret Jelita, dia udah cantik apa adanya," kata Darka tak suka dengan seruan Tia.


Tia mendesis. "Gilbang lo. Lita aja nggak nolak, ya kan?"


"Kalau gue sembuh, gue nggak keberatan," balas Lita agak meringis kecil.


"Lo pasti sembuh!" seru Tia dan Darka berbarengan. Keduanya langsung berpandangan, lalu saling memalingkan muka dengan dengus kecil.


"Makasih, ya," kata Lita benar-benar bahagia. Ditemani dua temannya di sore yang cantik ini, ia mulai memiliki harap untuk bisa sembuh.


"Eh, gue pulang dulu ya, udah sore, hehe," pamit Tia tiba-tiba, sambil menenteng tasnya dan akhirnya keluar dari kamar rawat Lita setelah dijawab Lita dan Darka.


Kini ditinggal berdua, mereka merasa agak canggung.


Entahlah, Lita hanya ingin melihat cahaya senja dan langit jingga melalui jendela kamar ini sambil memikirkan puisi Darka tadi. Katanya kunci itu berada di hati, untuk mengubah cerita kelam menjadi cinta sejati yang tak bisa rapuh.


Itu yang Lita tangkap dan ia merasa kata-kata itu ditujukan untuk cerita mereka. Lita dan Darka.


"Lo mau makan?" suara Darka mengejutkan Lita. Rupanya Darka terdiam karena sedang melahap roti.


"Nggak," jawab Lita sambil tertawa kecil melihat Darka yang sedang makan. "Lo makan aja."


Darka mengacungkan jempol. Mereka tanpa sadar saling berpandangan. Namun Darka tak menghentikan makannya, justru terpaku pada mata Lita bahkan saat ia sedang meminum susunya.


"Lo cantik."


"Darka."


Mereka bersuara bersamaan. Mendengar suara Darka, Lita agak salah tingkah dan menutupnya dengan mencubit lengan cowok itu yang tertutup seragam. Darka langsung meringis.


"Kok nyubit?" perotesnya tak terima.


"Lo nggak pulang? Nanti dimarahin ayah," kata Lita begitu saja. Ia baru sadar hari telah lewat dan kini malam hampir menjemput. Biasanya Darka menemaninya sampai sore.


"Nggak apa-apa, udah biasa. Setiap hari gue debat, kok, santai," kata Darka enteng. Ia menatap Lita dengan serius. "Lo lebih penting menurut gue."


"Hm?" Lita merasa kurang percaya.


"Jauuuuuuh lebih penting daripada apapun bagi gue." Darka tersenyum lebar. "Jelita adalah prioritas Darka. Serius."


Lita tersenyum tipis. Air matanya hampir menetes. "Makasih," katanya sambil menyentuh rambut Darka.


Darka menatap tangan Lita yang ada di rambutnya, bermain-main di sana. "Lo nggak pusing?"


Lita memejamkan matanya. "Sedikit," jawabannya sambil tersenyum lebih lebar.


Darka menatapnya khawatir, namun Lita segera melakukan gerakan lain. Ia mengambil selimutnya dan menutup wajahnya sendiri dengan benda lembut itu.


"Lo ngapain?"


Lita merentangkan tangannya lebar-lebar. Dia tak akan ragu-ragu lagi pada Darka. Sungguh. Lita tak akan bermain-main lagi, ia akan menuruti hatinya.


"Sini, peluk gue," pintanya di balik wajah yang tertutup selimut.


Darka mengerutkan keningnya. "Serius? Boleh?"


"Cepet, tangan gue pengel," keluh Lita mulai kesal.


Tawa Darka pecah. Tanpa menunggu apapun lagi, ia memeluk tubuh kecil itu dengan erat. Erat sekali sampai Lita terkejut dan hampir kehabisan napas.


Darka menepuk-nepuk punggung Lita, membuatnya merasa amat dilindungi.


"Cepet sembuh, Jelita."


Lita memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin berpisah. Ini adalah pelukan hangat dan ... yang paling ia nantikan setelah pelukan ayahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2