
Aku akan ambil semua bahagiaku
Sebab semua bahagiaku kini,
ada pada dirimu
---
Lita berjalan keluar dari kamarnya dan melirik Ayahnya yang masih tertidur pulas di atas sofa. Sepertinya, beliau lagi-lagi mabuk hingga tidak sanggup pergi ke kamar. Lita segera kembali ke kamarnya. Gadis itu mengambil selimut dan menyelimuti Ayahnya.
"Lita pergi kerja dulu ya. Kita pasti bisa kumpulin uang." Lita tersenyum masam.
Seburuk apapun ayahnya, Lita tetap tidak akan meninggalkannya sendirian. Bagaimanapun, ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa untuk Lita.
Lita mengunci pintu rumah dan mengerutkan keningya ketika melihat sebuah motor terparkir di depan rumah. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat Darka bersandar di motor itu.
"Darka?! Lo ngapain?" Lita tak habis pikir kenapa Darka bisa ada di depan rumahnya.
Darka menyunggingkan senyum jahilnya yang biasa Lita lihat. Pemuda itu sudah bak pangeran yang siap berkencan dengan baju bergaya dan rambut klimis. "Mau jemput tuan putri."
"Jemput gue?"
"Enggak, jemput setan. Ya jemput lo lah, Jel!" Darka jadi gemas sendiri.
"Mau ngapain?"
Darka **** bibir. "Umm, ada tempat yang mau gue tunjukkin. Itu pun kalau lo mau ikut ge ke sana hari ini. Yes or yes?"
Lita menggelengkan kepalanya tanda penolakan. "Gak bisa, gue harus kerja hari ini."
Raut wajah Darka berubah. "Kerja? Lo kerja part time?"
Begitu melihat Lita menganggukkan kepala sebagai jawaban Darka segera memakai helmnya. "Ayo, gue anter lo ke tempat kerja sekarang."
"Gausah, gue udah telat."
"Justru karna lo udah telat gue anter biar lebih cepet."
"Gausah, gue bisa-" kalimat Lita terpenggal.
Tidak, Darka sudah begitu baik padanya. Bukan hanya saat pesta ulang tahun Tia, tapi juga saat ia tersandung dan dipermalukan oleh Grace. Darka bahkan menghiburnya tanpa banyak bertanya soal masa lalu Lita dan membuatnya istirahat setelah pekerjaan yang melelahkan dan pertemuannya dengan Abra. Rasanya tidak pantas jika Lita terus menolah Darka.
"Gimana? Naik motor gue ya Jeli, hm?"
Darka memasang wajah puppy eyes yang minta dikasihani tapi malah berakhir ingin Lita hujat. Ia menghela napas. "Oke, sekali ini aja."
"ALHAMDULILLAH YA RABB JELI MAU NAIK MOTOR DARKA!"
"Berisik!"
***
Darka memarkirkan motornya di tempat kerja Lita yang rupanya adalah Rumah Hantu. Awalnya pemuda itu bingung apa sebenarnya perkerjaan Lita, tapi setelah masuk ke dalam, rupanya tugasnya adalah menjadi hantu.
"Kalau hantunya kaya lo, gue mau digentayangin tiap malem, Jel. Lo aja udah bergentayangan di mimpi gue," Darka mengangkat sebelah alisnya sambil mendekat.
Lita segera melangkah mundur dan pura-pura memperagakan gestur muntah, menolak untuk menelan semua gombalan Darka. "Basi lo."
Darka tersenyum. Ia tidak menangka justru akan merasa senang jika Lita kembali datar dan cuek padanya. Ini lebih baik ketimbang harus melihat Lita murung di sepanjang hari.
"CIE SIAPA NIH, LIT?"
"GILA, GILA, MAKNAE UDAH DAPET GANDENGAN AJA."
Lita terkejut saat ia datang sudah mendapat sambutan dari Siska dan Gio. Sementara Darka di belakang terus mengiyakan dalam hati sambil tersenyum bangga.
"KASEP YAH CEM-CEMAN LITA!" Dara, gadis cantik yang sudah bersiap dengan kostum none belanda ikut mengintip dari tirai ruang ganti.
"Hush! Masuk-masuk, malu!" Mia panik begitu Dara menyembulkan kepala dari dalam ruang ganti dan mendorong kepalanya masuk. "Temen kamu ya, Lita? Ayo ajak duduk aja dulu, jam buka kita diundur kok hari ini."
Lita terkejut dengan sambutan ramah yang tiba-tiba ditunjukkan pada Darka. "Eh, enggak kok dia sebentar lagi per-"
"Wah boleh nih?! Sekalian liat Jeli dandan!"
Lita jadi menoleh pada Darka. Mempelototinya hingga matanya hampir keluar. Darka hanya mengangkat kedua alis dan bertanya 'apa?' tanpa suara dan wajah tak berdosa.
Satu persatu orang yang ada di Rumah Hantu mulai saling berkenalan dengan Darka. Bahkan Bagas, yang juga baru saja bergabung seperti Lita bisa sangat cepat akrab dengan Darka. Belum lagi ekspresi Darka ketika ia melihat Lita dengan kostum hantunya. Darka tertawa terpingkal-pingkal.
"Muka datarnya udah pas banget di lo, Jel!"
Wajah Lita merah padam, tetapi Darka segera mengambil satu langkah maju dan mendekatkan wajahnya pada wajah Lita. Ia tersenyum manis bak anak kecil.
"Gapapa, tetep cantik kok. Masih Jeli-Jeli yang gue kenal."
Sesaat, semburat merah terlukis di pipi Lita, gadis itu mendorong Darka yang tertawa puas sudah berhasil menggoda Lita sementara Gio dan Siska bersorak paling heboh.
"Maaf ya Darka, emang orang jomblo suka gitu, bisanya jadi penonton doang." Anna angkat bicara.
__ADS_1
"EH GUE JOMBLO LO APA?" Siska jadi misuh-misuh sendiri.
"Makanya sama gue aja Ann, jadi sama-sama gak jomblo kan kita?" tembak Gio.
"Ogah! Mending gue sama setan!"
Lita dan seisi Rumah Hantu tertawa. Diam-diam Lita membatin, kalau tahu mereka seperti apa, dijamin Anna bakal lebih memilih Gio.
***
"Darka, rumah gue belok ke kiri." Lita sedikit berteriak saat sedang menempuh jarak bersama Darka ke rumahnya, namun cowok itu justru pergi ke arah yang berlawanan dari rumahnya. "Lo mau ke mana? Gue lapor polisi, ya."
"Gue mau pinjem waktu lo setengah jam, aja. Boleh, ya?" tanya Darka dengan nada serius.
"Ngapain, ish?" Lita mendesis tak suka.
"Udah, ikutin aja," kata Darka menenangkan.
"Kalau tau gini, gue nggak bakal ngijinin lo nganterin gue pulang. Kapok gue diculik begini," gerutu Lita, membuat Darka tertawa.
"Kalau penculiknya ganteng kayak gue, lo nggak bisa nolak."
Plak!
Lita menabok helm Darka dengan kesal. "Lo fokus aja nyetirnya!"
"Iya, bunda, iya-"
"Apasih jayus," potong Lita benar-benar merasa jijik.
Perjalanan berlanjut hening karena Darka benar-benar fokus menyetir sebab jalanannya agak gelap dan banyak kendaraan. Kecepatannya normal. Sampai lima menit kemudian, mereka berhenti di sebuah rumah.
"Ini rumah Anwar. Gue udah bilang kok, ijin pake balkon kamar orang tuanya. Lo harus ke sana. Beuh, ayo!" ajak Darma setelah dia turun dan menarik tangan Lita yang terbalut kain jaket merahnya untuk masuk ke rumah yang tak dikunci sama sekali.
"Anwar tinggal sendiri?" tanya Lita was-was.
"Iya, aman kok, kalau ada bahaya gue siap lindungin," kata Darka seolah mengerti kekhawatiran Lita.
Lita hanya mengikuti. Rumahnya sangat sepi dan luas. Anwar sendiri berada di ruang santai sambil menonton TV, hanya melambai dan menyuruh Darka bertindak senyamannya saat Darka dan Lita melewatinya untuk menuju tangga dan naik ke lantai dua.
Mereka masih berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah pintu yang tertutup. Darka tanpa ragu membukanya, dan terlihatlah kamar dengan jendela besar menuju balkon.
Dari jendela saja Lita bisa melihat pemandangan komplek, pohon-pohon dan gedung-gedung yang berhiaskan lampu-lampu cantik. Di tambah langit malam yang semarak akan bintang dan bulan purnama, membuat Lita tak bisa berhenti menatapnya.
Indah sekali.
Lita menyentuh kaca jendelanya. Dia tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Lo belum tau killing part-nya," kata Darka, membuat Lita penasaran dan ketika itu juga, Darka membuka jendelanya. Angin lembut langsung menerpa wajah Lita, menerbangkan anak rambutnya dan secara refleks matanya terpejam.
Darka di sampingnya menatapnya, tersenyum lebar dan ikut memejamkan matanya, menikmati hawa dingin menenangkan.
"Ini tempat gue kalau sedih, tempat gue kalau senang dan tempat gue kalau nanti mau nembak cewek," jelas Darka tanpa diminta. "Jelas, gue bawa lo karena gue senang."
"Kenapa lo senang?"
"Gue ketemu sama lo, gue penasaran sama lo dan gue tertarik sama lo. Semua itu bikin gue senang."
"Lo gila." Lita mencerca, namun Darka tak menanggapi.
"Lo kenapa sih?" tanya Darka. "Lo kayak nggak bergairah buat hidup. Lo kayak udah mati."
Lita terdiam, dia sibuk menatap kelip bintang dan akhirnya tersenyum tipis. "Sejam Ini pergi, hidup gue seolah hilang. Sekarang gue cuma nunggu waktu gue habis."
"Asli? Hidup lo segaring itu?" tanya Darka tak percaya.
"Emang hidup harus basah?" Lita balas bertanya dengan nada kecewa.
"Ye, anjir, bukan gitu juga!" seru Darka, tertawa keras. "Lo nggak tau konotasi, ya. Lo nggak punya keinginan gitu? Suatu harapan?"
Lita menggeleng kecil. "Nggak tertarik."
"Lo liat deh bintang-bintang. Mereka ada kira-kira untuk apa?" tanya Darka tiba-tiba, mengangkat topik yang lain dan itu membuat Lita tak bosan untuk mendengarkannya.
"Untuk menghiasi langit, udah jelas kan?"
Darka menggeleng, tak setuju dengan jawaban Lita. "Mereka punya kekuatan khusus."
"Hah?"
"Lo bisa buat keinginan sama mereka."
"Itu kalau ada bintang jatuh," sergah Lita merasa tak setuju. "Ngaco, lo."
"Gue percaya kelip bintang bisa kabulkan harapan. Udah deh, lo ikutin gue." Darka berdecak dengan wajah serius. "Pejamkan mata lo, lalu katakan keinginan untuk hidup lo ke depannya."
"Tapi gue nggak punya keinginan apapun," balas Lita, membuat Darka berdecak lagi dengan wajah tak percaya.
__ADS_1
Darka hampir menyerah, namun ia mempunyai saran lain. "Lo minta aja umur panjang."
"Nggak mau," jawab Lita begitu saja.
"Jangan begitu. Gue sedih," kata Darka serius. "Lo minta bahagia aja. Udah, nggak ada bantahan lagi. Berharap, mulai."
Lita akhirnya mengikuti gerakan Darka untuk menutup mata dan berharap pada kelip bintang. Langit malam penuh bintang bersama bulan purnama, menjadi bukti bahwa harapan diperlukan untuk menjadi motivasi terus hidup.
Setidaknya, mulai hari ini Lita punya harapan untuk bahagia. Semoga kelip bintang mengabulkan harapannya.
"Kayak anak kecil, ya," kata Darka setelah selesai berharap, ia tertawa dan mengusap hidungnya dengan canggung. "Gue cuma main-main dan jelas kelip bintang nggak bisa ngabisin harapan gue. Hanya Sang Pencipta yang bisa."
Lita tersenyum tipis. "Sadar juga lo."
"Jadi, tadi lo berharap apa?"
"Bahagia. Apa lagi? Kata lo kan begitu."
"Mau tau harapan gue, nggak?"
Lita mengernyit heran. "Sebenarnya nggak-"
"Gue pengen dekat sama lo. Gue tertarik sama lo. Keberatan kah?"
***
Keesokan harinya, Darka terus mendekati Lita. Pemuda itu berusaha mengajaknya ke kantin bersama meski Lita menolak. Darka tidak akan menyerah sampai Lita mau.
Tempat yang biasanya diisi Darka, Sandi, Putra, dan Anwar kini kadang juga diisi oleh Lita. Membuat para fans Darka jadi sedikit ragu untuk mendekat.
Darka? Darka sih senang-senang saja. Iya, ada Lita soalnya.
"Eh, eh lo tau gak, Lit tadi si Darka di lempa-AAAHHH!" belum selesai bicara, Sandi sudah menjerit duluan karna Darka secara tiba-tiba menginjak kakinya.
"DI LEMPAR PENGHAPUS ANJIR SAMA BU EKO GOBLOK BANGET HAHAHA!" Putra melanjutkan dan jadi rusuh. Anwar ketawa ngakak sampai tak ada suara yang keluar dan berusaha ikut menjelaskan.
"Lagian ngelamun aja, di tanyain 'DARKA KAMU MERHATIIN IBU GAK?!'"
"Nggak, bu!" Sandi menyambar suara buat-buatan Anwar yang persis dengan Bu Eko, guru bahasa yang sudah berumur dan terkesan galak.
"Dilempar penghapus dong sampe muka item!" Putra makin rusuh menggebrak meja sambil tertawa. Lita jadi ikut menertawai tingkat ketiganya yang sukses membuat Darka malu.
"Udah, udah! Ah elah lo pada mah malah jatohin image gue anjir!" Darka mencuatkan bibir, membuat Lita diam-diam tersenyum dengan tingkahnya yang makin hari seperti anak kecil.
"Lita lo gak boleh ketawa! Kalau ketawa pulang bareng gue!"
"Apaan sih, Ka?" Lita malah jadi tertawa kecil. Darka menahan diri untuk tidak ambyar sekarang.
"Gabisa, gabisa, lo udah ketawa tadi."
"Eh, ini pelanggaran HAM! Ketawa kan hak gue-"
"POKOKNYA JELI PULANG BARENG DARKA HARI INI YA ALLAH!"
"Aduh iya iya!" Lita segera mengisyaratkan jari telunjuk di depan mulut agar Darka diam. Pemuda itu merasa menang lagi.
Darka menjulurkan lidahnya. "2-0, Jeli."
***
Darka tersenyum sepanjang perjalanannya menuju rumah. Jarang sekali ia seperti ini. Sebelumnya Darka tidak pernah sampai terbawa ke rumah. Ia memarkirkan motornya di garasi.
Sebuah mobil sedan sudah terparkir di sana. Ayahnya hari ini pasti pulang lebih cepat. Darka menghela napas dan masuk ke dalam pintu. Niat Darka pada awalnya adalah melewati ayahnya dan segera masuk ke kamar, tapi rupanya ayahnya menunggu Darka di soda ruang tamu.
"Darka."
Darka berhenti di anak tangga pertama. Tanpa membalik punggungnya, Darka menjawab. "Ya?"
"Ayah dapet laporan dari guru kalau kamu gak konsen belajar akhir-akhir ini."
"Pah-"
"DENGER YA DARKA!" Ayahnya sudah memotongnya lebih dulu. "Ayah gak mau liat kamu berulah lagi! Belum selesai kemarin, sekarang kamu sudah bikin ulah lagi?!"
"Udah, kasian Darka baru pulang!" Ibunya lebih dulu melerai sambil terus mengelus bahu Ayahnya. "Darka, kamu naik ke atas sekarang ya?"
"Kamu tuh harusnya jangan manjain dia! Makin ngelunjak dia jadinya! Buat apa capek-capek dibesarkan jadi anak pembuat onar?!"
"Udah! Darka kamu naik."
Darka menuruni perintah ibunya. Ia segera berlari menuju lantai atas kamarnya dan membanting pintu. Darka berusaha mengusir rasa panas di matanya.
Tidak, ayahnya memang benar. Darka seharusnya tidak tumbuh jadi pembuat onar. Dia seharusnya menjaga apa yang sudah diberikan adik kecilnya padanya.
Darka menatap foto yang terpajang di meja nakasnya. Rasa bersalah berkecamuk di dalam dadanya. Seharusnya Darka bisa lebih baik dari pada ini. Tapi Darka tidak bisa melakukannya ketika orang yang dulunya sangat berharga bagi Darka, justru harus pergi karna Darka.
"Gue kangen lo, Sifa. Gue kangen banget sama lo, dek."
__ADS_1