Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
06. Tak Berbalas


__ADS_3

Perlu matahari tuk lelehkan es


Aku perlu bara hasratku tuk dekatmu


---


“DOAKAN SAJA AKU PERGI~~”


“SEMOGA PULANG DOMPETKU TERISI~”


“TERENG TERENG TENG!”


“Serrr! Tarik maaang!” Anwar sudah berjoget ria di sisi Putra sambil memegang sapu ijuk sebagai mik ala-ala. Sandi bagian ngakak di depan kelas sambil terus mendorong bahu Darka yang hari ini bengong.


“Eh, lo kenapa anjir?” Sandi yang merasakan perubahan Darka jadi berhenti. Anwar dan Putra menghentikan aksi dangdut mereka.


“Jelita Geannesa.”


“Hah?” Sandi melongo. Ia menatap Anwar dan Putra yang membalasnya dengan tatapan yang sama bingung.


“Eh kayaknya gue tau, cewek yang di kantin itu kali.”


“Oh, yang kemarin?” Putra menjentikkan jarinya.


“Darka kepincut kali,” celetuk Anwar.


Darka jadi terusik dan bangkit dari kursinya. “Banyak cewek yang lebih cantik kali, kenapa pula gue harus kepincut?” Darka berjalan dengan pedenya bak playboy kelas kakap.


Anwar mencibir di belakang. “Awas abis ngomong gitu beneran suka terus baru nyadar abis ceweknya pergi.”


Putra jadi gemas dan ingin menoyor kepala Darka. “Kebanyakan nonton Uttaran lo.”


“Gaada hubunganya bego, yang bener drama korea.”


Darka berjalan mendahului teman-temannya. Mulai dari adik kelas sampai kakak kelas membelah jalan untuk Darka sambil memandangnya. Darka memasang senyum terbaiknya seolah sedang berjalan di atas karpet merah sambil melambai pada adik-adik kelas yang berbisik-bisik atau menyapanya.


“Kak Darka!”


“Itu, itu Kak Darka yang sering gue omongin.”


“Nikmat mana lagi yang engkau dustakan.”


Anwar, Putra, dan Sandi sih tenang-tenang saja dibelakang, sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini dan bahkan tidak ada protes. Justru mereka senang karna kecipratan perhatian. Sandi malah ikut melambaikan tangan mengikuti gerakan Darka, lalu ditabok Anwar.


Keempatnya sampai di pintu kantin. Darka, Anwar, Putra, dan Sandi mengambil tempat seperti biasa dan memesan soto.


“Eh,” suara Putra menyikut Darka. Dagunya menunjuk pada seorang gadis cantik dengan gincu merah terang dibibirnya. “Tulip, tulip.”

__ADS_1


Darka hanya melirik sekilas tanpa minat. “Terus kenapa?”


Anwar mengerjapkan matanya. “Padahal beberapa hari yang lalu kayaknya lo bilang lo cinta mati sama Tia.”


“Namanya juga Darka, jatuh cintanya cepet, berpalingnya juga cepet.” Sandi menghela napas dengan kelakuan sahabatnya sendiri. Ia memilih untuk menyantap soto yang sudah disajikan di depannya. Sampai seorang gadis berjalan di depannya.


“Eh, itu bukannya Jelita yang bilang?”


Darka segera mengalihkan pandanganya. “Mana?”


Anwar yang juga melihat segera menunjuk. “Itu yang jaket merah kan?”


Darka mengikuti arah telunjuk Anwar yang dan menemukan gadis itu. Darka sering mendapatkan Lita memakai jaket merah. Hal itu seolah sudah menjadi ciri khas Lita yang akan Darka ingat setiap kali melihatnya lewat.


Fans Darka yang sudah mulai berjalan menuju meja Darka mulai mengerubunginya dengan berbagai pertanyaan dan mengenalkan diri tanpa ditanya. Tia yang sebenarnya sudah menyadari kehadiran Darka dan yang teman-temannya melirik hal itu dengan tak suka. Tapi dia lebih tidak ingin lagi bergabung dan menjatuhkan harga dirinya dengan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Darka sudah mempermalukannya kemarin.


Cih, Darka pikir setelah ini Tia akan tetap menyukainya?


Tia kembali fokus pada makanannya dan hanya tertawa sekilas dengan celotehan temannya. Tapi matanya membelalak kaget saat Darka berdiri dan memilih untuk tidak menggubris penggemaranya.


“Kak Darka, aku boleh minta nomor WA kakak gak?”


“Kak Darka suka coklat gak?”


“Kak, aku Gemma, kelas sepuluh satu, jangan lupa ya!”


Darka keluar dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri seorang gadis. Iya, Jelita Gannesa. Pemuda itu bersandar pada bilik siomay, jajanan yang debeli Lita sambil memasang wajah tertampannya dan melipat kedua tangan di depan dada.


“Hai cantik. Eh bukan deh, Jelita. Cantik Jelita.”


Lita menatap datar.


“Gimana? Udah gak pusing lagi kan? Tadi pagi pucet banget loh.” Darka bertanya serius meski dengan nada yang dilembutkan.


Lita hanya bergumam singkat. “Hm, udah nggak.”


“HATI-HATI LITA, DARKA ADA SUSUKNYA!” Putra mengingatkan dari tempatnya. Darka melotot ke arah Sandi dan Arwan yang bukannya menutup mulut Putra malah tertawa ngakak.


Lita tidak menjawab dan hanya fokus pada siomay pesanannya. “Agak cepet ya, Bu.”


Darka tertenggu ketika Lita bahkan tidak menatapnya dan menghiraukannya sepenuhnya. Membuat pemuda itu semakin gemas dan tertantang. Darka segera menghalangi fokus Lita dan membuat gadis itu mau tak mau menatapnya.


“Apaan sih?”


“PETRUS JAKANDOR KA!” Putra menyalakan kompor.


“GAS!”

__ADS_1


“NGEEEENGGGG!”


Putra, Anwar, dan Sandi ribut di mejanya, menyebabkan banyak perhatian seketika jadi teralih pada Lita dan Darka. Membuat gadis itu sedikit tak nyaman.


“Lita, bapak kamu tukang listrik ya?”


“Mau bapak gue tukang listrik, orang kantoran, direktur, bukan urusan lo.”


Darka tertohok. Pemuda itu tak memikirkan jawaban Lita. Anwar, Sandi, dan Putra tertawa ngakak di tempatnya. Sudah keren-keren pemuda itu disemangati tapi dia malah menggunakan gombalan lama sebagai senjata.


Siomay pesanan Lita diberikan. Lita mengambilnya dan menatap Darka yang menutup jalan. “Minggir gak?”


Darka tak menyerah pemuda itu malah semakin menghalangi jalan Lita. “Lo cewe yang pertama yang ngomong gitu ke gue.”


“Terus?”


Lita memutari badan Darka untuk melewatinya dan pergi begitu saja.


“Fiks, Jelita Gannesa ditandain Darka kalau gini.” Putra yang sudah hapal menatap Lita yang tidak menggubris Darka.


“Eh bentar, itu Jelita Gannesa yang banyak rumor anehnya bukan sih?” Anwar mengingat-ingat jaket merah Lita setelah lama melihat gadis itu.


“Aneh atau gak aneh, kalau cantik ya dipepet sama Darka. Lagian paling cuma sebentar, kalau udah dapet atau nggak tertarik lagi ya ditinggal.”


Anwar awalnya tampak setuju dengan pernyataan Sandi, tapi pemuda itu kemudian menatap Darka. Yang bahkan setelah Lita sudah lama pergi masih berdiri di sana memperhatikan jejak Lita, tanpa menjawab satupun pertanyaan penggemarnya.


“Kayaknya Jelita Gannesa nggak segampang itu.”


Sementara Tia yang memperhatikan semuanya dari tempat duduknya juga menyadari hal yang sama. Gadis itu menggeram tak suka. Secepat itu Darka berpaling dari menggilai dirinya? Bakan Sandi, Anwar, dan Putra tidak keberatan sama sekali ketika Darka mencampakkannya.


“Cewel tadi.”


“Hah, kenapa Ti?” temannya menyadari Tia  yang baru saja bicara setelah diam beberapa saat.


“Cewek tadi namanya siapa?”


“Oh, Jelita?”


“Namanya Jelita?”


“Iya. Tapi gue gak ngerti deh kenapa Darka jadi tiba-tiba kenal Lita, padahal anaknya freak banget. Penyendiri, gaada temennya, banyak rumor aneh lagi. Cakepan lu kemana-mana, Ti.”


Tapi bahkan setelah setelah pujian-pujian untuknya, dan cemooh untuk Lita itu, Tia belum merasa tinggi. Gadis itu belum puas jika belum mengetahui apa yang dimiliki Lita dan ia tidak memilikinya. Kenapa Darka dan teman-temannya menaruh perhatian pada gadis aneh yang tiba-tiba muncul?


“Tadi siapa namanya?”


“Jelita. Jelita Geannesa.”

__ADS_1


__ADS_2