Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
20. Jangan Selalu Bersedih


__ADS_3

Jangan hidup sia-sia


Yang selalu bersedih, karena ditinggal dia yang dicinta


Hei, bahagia sedang menunggumu, bahkan selalu mengajak


Kau tak tergoda?


---


“Jel, kenapa sih?”


Pertanyaan dari Darka membuat Lita menoleh ke belakang, mendapati sekarang Darka sudah berhenti berjalan.


“Udah. Gapapa.” Lita menggerakkan tangan seolah mengajak pemuda itu. Menyuruhnya mengikuti langkah kakinya.


Darka kembali berjalan di belakang,


“Lagian, tumben banget temen-temen kerja lo nyariin gue,” celetuk Darka.


Sudah hampir satu minggu sejak kejadian Lita mengetahui semua rahasia tentang dirinya, ia juga ikut menjauhi Lita secara perlahan-lahan. Bukan cuek, melainkan hanya berbicara dengan Lita seperlunya. Kemudian meninggalkan gadis itu dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


Hingga suatu hari, Anwar, yang sudah mengambil kontak Lita dari hape Darka secara diam-diam, akhirnya menghubungi gadis itu.


Ingat hari dimana Anwar mempunyai kontak Lita? Dia tidak langsung menghubungi gadis itu dengan alasan takut pada Lita. Membayangkan wajah garang gadis itu dengan tatapan menusuk membuat Anwar jadi menciut.


Dengan penjelasan Anwar, akhirnya Lita sendirilah yang berinisiatif untuk menghibur pemuda itu. Menemaninya bekerja, sekaligus mengajaknya masuk ke ruangan tempat teman-teman kerjanya berkumpul.


“Mereka pada kangen sama lo. Apalagi Kak Mia sama Siska. Nggak bisa cuci mata lagi karena lo nggak dateng main lagi kemari,” ujar Lita bercerita.


“Bisa aja,” celetuk Darka meringis malu-malu, namun kesannya dibuat-buat. “Gue ganteng banget ya, Jel, sampai dikangenin begitu?”


Lita mencibir. “Ganteng banget.”


Darka tersenyum puas.


“Tapi dilihat dari lubang sedotan.”


Senyum Darka langsung luntur. Ia mengumpat pelan, melayangkan tinju ke udara. Sedangkan Lita terus berjalan lebih cepat, mengabaikan Darka yang sudah misuh-misuh habis diterbangkan tinggi malah dihempaskan ke bawah secara paksa.


“Nggak bisa emang lihat pangerannya buat senyum,” gumam Darka kesal.


***


Baru sampai di depan pintu, Darka dan Lita sudah terdengar suara berisik dari dalam ruangan itu, Gadis berjaket merah itu membuka pintu, dan benar saja. Keadaan ruangan itu sudah heboh bukan main.


“Eh, ada Jelita sudah sampai,” kata Anna ceria. Mood gadis itu tengah berbunga-bunga. Terlihat dari senyumnya yang sangat tulus.


Lita tersenyum sebentar, melangkah menuju kursi yang biasa ia duduki. Sebelumnya, Lita menyuruh Darka duduk di sofa. Darka tersenyum kepada mereka semua.


“Tumben Darka main kemari, Lit,” celetuk Siska.


Lita terdiam sebentar, teringat akan kejadian Siska kesurupan arwahnya Sifa. “Iya, kak. Gue yang ngajakin kemari.”


“Bosen dirumah mulu. Mending main kemari,” ujar Darka. Menatap mereka semua yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, bersiap-siap melakukan pekerjaan mereka.


“Jangan memilih aku, bila kamu tak sanggup setia.”


Dara kaget sewaktu mendengar suara Gio menyanyi di depannya, berdandan dengan wig kribo yang sudah melekat diatas kepala. Tak lupa syal hitam melingkar pas di lehernya.


“Kau tak mengerti aku, diriku, yang pernah terluka.”


Lalu, munculah Bagas menyambung nyanyian Gio sembari membawa sapu ijuk memakai topi coboy dan menggunakan sapu ijuk itu selayaknya orang tengah berkuda.


Kemudian, pemuda itu saling bertatapan. Memasang wajah seolah menghayati lagu.


“Cintaaaa…”


Mulut Dara semakin menganga, bingung kenapa dua manusia ini bernyanyi di depannya demikian.


Kedua pemuda itu jika saat menyamar menjadi hantu tampak sangat menyeramkan, maka jika dalam keadaan tak bekerja akan terlihat seperti ini.


Sangat tidak jelas.


“Suara lo berdua bagus. Tapi lebih bagus nggak usah nyanyi sih,” sahut Anna berkomentar. Lita mengangguk setuju.


“Lagian lo berdua ngapain nyanyi di depan gue, njir? Emang gue jurinya apa.”  Dara membalikkan badan menghadap kaca.


“Lo mah bukan juri, tapi jurig,” sahut Gio membuat semuanya tertawa kecuali Dara dan Lita.


Senyum dan tawa Lita mahal. Mohon maaf sekedar mengingatkan.


“Gila, gila. Ternyata kalau gue ngaca gue ganteng ya,” celetuk Bagas random.


“Gantengan gue lah kemana-mana,” sahut Gio tak terima mendengar kata ganteng jika diucapkan oleh Bagas.

__ADS_1


“Percuma ganteng kalo jomblo,” kata Siska mengejek.


“Percuma ganteng kalo ternyata ajakan ngedatenya ditolak,” ucap Anna mengompori.


“Ciaa yang ditolak ciaaa…” Gio yang merasa kalau itu bukan dia, justru malah meledek Bagas.


“Diem lo.” Bagas melempar sapu ijuknya asal, merasa dongkol dengan ejekan teman-temannya. Pemuda itu menarik kursi, duduk di samping Lita. Ia menyenggol kursi gadis itu, sedari tadi memperhatikan mereka semua dalam diam. “Lit, belain gue dong.”


“Belain gimana?” tanya Lita mengerutkan dahi. “Kan emang kenyataan.”


“Lita kamu nggak belain aku?” pekik pemuda itu, melebarkan kedua matanya, memandangi Lita yang diam-diam mendukung aksi mengejek dirinya. “Tega kamu sama aku, Lit.”


“Hahahaha, makan nih rambut kribo gua,” tukas Gio melepas wignya dan melemparkan kearah Bagas. Bagas menerimanya, mengusap-usap ujung matanya menggunakan wig itu.


“Eh, itu bukannya lo dapet dari tempat sampah depan ya?” tanya Ana pada Gio, memperhatikan wig kribo itu.


“Hah?” Gio memandangi wig kribo itu lamat-lamat, kemudian ia menjentikkan jarinya. “Iya, njir. Pantesan bau sampah.”


Bagas yang mendengarnya langsung membuang wig kribo itu ke sembarang arah, mendelik merasa jijik. Pemuda itu mengusap-usap wajahnya kasar, berteriak kesal karena ulah Gio.


Lita tersenyum pelan, pandangannya lalu tertuju pada Darka yang duduk di sofa dekat pintu depan. Perlahan, senyum Lita memudar. Mata gadis itu sedikit berbinar, mendapati pemuda itu tertawa pelan.


Menampilkan deretan gigi putihnya dan mata menyipit karena tertawa, sangat sempurna terpahat di wajahnya.


Tanpa ia sadari mulai terpesona pada pemuda yang awalnya membuat ia jengkel, semakin jatuh pada pesona pemuda itu, hingga ke dasar yang tak bisa dijangkau lagi.


***


Lita turun dari motor Darka sambil melepas helm. Memakai tudung jaketnya karena ia tadi memakai helm.


“Makasih ya, Jel.”


Lita mengangkat wajah, mendapati Darka duduk diatas motornya sudah menatapnya sambil tersenyum lembut. “Buat apaan?”


“Atas ajakan bertemu dengan teman-teman lo yang rada gesrek itu,” jawab Darka cepat.


Lita mengangguk kecil, “Sama-sama. Oh iya, Dar…” Lita menelan ludah, agak gugup melanjutkan ucapannya. “Masalah lo sama….”


“Udah selesai kok. Lo tenang aja. Gue nggak akan salah-salahin diri gue lagi.” Kata Darka mengerti maksud Lita. “Sifa bener. Ini semua tuh takdir. Jadi ya mau gimana lagi.”


“Sana masuk. Udah malem banget ini. Bokap lo pasti udah balik,” kata Darka menyuruh gadis itu masuk ke rumahnya. Darka menyalakan mesin motornya, bergegas ingin pulang ke rumahnya juga.


“Darka," panggil Lita.


“Apa?”


Darka melongo di tempat, matanya mengerjap beberapa kali seolah tak percaya ini nyata. Pemuda itu merasa pipinya memanas. Kedua sudut bibirnya terangkat, menatap Lita dengan mata hangat.


"Makasih."


"Ah, iya, lo tau festival lampion di jalan Deket sekolah?" tanya Lita tiba-tiba, teringat sesuatu.


Darka mengernyit. "Gue tau. Tapi kenapa lo tiba-tiba nanyain?"


"Mau ke sana?"


"Hah? Kok?" Darka sangat terkejut melihat antusiasme Lita malam ini, ia berbeda dari biasanya. "Serius?"


Lita mengangguk. "Ayo."


Mereka akhirnya melakukan perjalanan lagi. Menuju festival lampion yang diadakan di jalan sekitar sekolahnya. Tadi teman-teman sekelasnya ramai membicarakan itu. Lita kira ia tak akan bisa melihatnya, namun kini angannya terealisasikan juga.


Ibunya, sangat menyukai lampion. Sewaktu Ibunya masih hidup, mereka sering membuat lampion dari balon dan menghias rumahnya dengan itu. Namun, semenjak Ibunya meninggal, Ayah membakar semua lampion itu, bersama keping-keping kenangan.


Tak terasa, kini mereka telah sampai di jalan yang langitnya bertabur lampion-lampion yang mulai mengudara. Lita terkagum-kagum, tanpa sadar bahwa sedari tadi Darka menatap wajahnya.


Tidak, Darka sama sekali tidak menyukai lampion. Bahkan ia merasa keindahan Lita kini lebih dari pada indahnya lampion.


"Lo kok nggak begitu seneng, ya?" tanya Lita akhirnya sadar bahwa Darka hanya diam. Di tengah keramaian jalan, laki-laki itu tampak seperti patung. Padahal banyak anak sekolahannya dan suara-suara ramai. Biasanya Darka ceria.


"Entahlah—"


"Ayolah, Dar, jangan sedih terus. Lo kayak anak kecil," potong Lita merasa greget. "Gue harus gimana buat bikin lo balik lagi kayak dulu?"


Darka tersenyum tipis. "Semenjak adek gue nggak ada, hidup gue udah nggak sama lagi, Je."


"Gue juga sama." Lita ikut menatap Darka dengan tatapan kosong. Hatinya berkecamuk saat mengingat kepergian Ibunya yang meninggalkan banyak kesedihan. "Sejak Ibu gue meninggalkan, hidup gue kosong. Gue rasanya ingin mati aja dan kalaupun masih hidup, hidup gue dijalani tanpa kesan karena dari awal gue nggak begitu senang masih hidup."


"Heh, lo, kalau ngomong suka ngawur," kata Darka tak suka.


"Lo juga gitu sekarang. Hidup lo bukan sedih melulu, lo harus rasain senangnya. Gue nggak mau ada orang kayak gue lagi." Lita berkata serius. "Yang hidupnya dihabiskan sia-sia, hanya karena bersedih ditinggalkan orang yang dicinta."


Darka terdiam. Tiba-tiba ia mendongak, menatap lampion-lampion bercahaya di udara. Matanya membulat kala sadar satu hal.


"Ada cahaya."

__ADS_1


"Hm?" Lita mengernyit bingung.


"Gue percaya, setiap ada cahaya, di sana ada harapan." Darka tersenyum ceria, ia menatap Lita dengan penuh semangat. "Kita bikin harapan, yuk!"


Lita tertawa. Semenjak mengenal Darka, ia mulai mengenal adanya harap. Harapan untuk selalu bahagia dalam hidupnya.


Sebab tak ada hal lain yang ia inginkan selain bahagia.


Kau juga, sama kan?


***


Ada dua hal yang membuat Lita bahagia hari ini.


Pertama, berhasil membuat mood Darka membaik.


Kedua, mendapat gaji pertama dari hasil jerih payahnya.


Meskipun hasilnya tak seberapa, gadis itu sudah bersyukur. Uang ini akan ia tunjukkan kepada Ayahnya sebagai bentuk kalau dia mampu menghasilkan uang dengan caranya sendiri.


Ekspektasinya malam ini ayahnya dalam keadaan normal. Maksudnya, tidak mabuk seperti biasanya. Lalu, Lita menunjukkan uang yang ia dapat, menyerahkannya pada Ayah untuk disimpan dan akan digunakan untuk keperluan mereka nanti.


Namun, realita yang ia terima…..


“Darimana kamu, hah?!”


Ayahnya duduk di kursi, mengenggam botol berisi alkohol yang sudah habis setengah. Di ambang kesadaran yang masih tersisa, beliau berdiri mendekat pada Lita.


Gadis itu mengepalkan tangan, menatap Ayahnya dengan tajam. “Aku baru pulang kerja.”


“Kerja?” tanya ayahnya sinis. “Kerja apaan kamu malam-malam begini?”


“Kerja nyamar jadi hantu. Aku juga baru dapat gaji pertama.”


“Hmmmmm…” Tangan pria berumur hampir lima puluh tahun itu terbuka, tubuhnya sempat lunglai akibat efek mabuknya.


“Mana duitnya?”


“Mau aku simpan, ditabung buat kebutuhan kal—.”


“SINI DUITNYA!”


Lita memejamkan mata rapat-rapat. Teriakan Ayahnya sangat memekikkan telinga dan hatinya.


Gadis itu meraba saku celana jeansnya, mengambil uang itu, hasil kerja kerasnya selama sebulan ini yang penuh keringat dan air mata. Memberikan pada Ayah tanpa ragu. Ayah menatap uang itu, lalu tersenyum miring.


“Sana kamu. Masuk kamar,” ucap Ayah mendorong bahu Lita.


Gadis itu meringis pelan akibat dorongan Ayahnya tadi, membuat ia pusing sebentar. Ayah berjalan menuju kamarnya sambil tertawa, mengabaikan Lita yang mulai menitikan air matanya.


Ekspektasi dan realita bagi Jelita Geannesa tak pernah sejalan sesuai yang ia harapkan.


***


Lita merunduk, fokus memakan roti coklatnya di kelas. Menghabiskan istirahat pertama di dalam kelas adalah salah satu rutinitasnya. Gadis itu tak sarapan pagi ini karena telat bangun. Sakit di pinggangnya lagi-lagi kambuh.


“Guys, cek grup kelas,” teriak salah satu teman sekelasnya.


“Emang ada apaan?”


“Lihat aja. Ada Darka di kantin sama cewek baru.”


Deg


Lita terdiam. Tak berani mengangkat kepala, memilih memakan roti coklatnya belagak tenang. Beberapa siswa, termasuk sekelasnya sudah tahu bahwa gadis itu dekat dengan Darka.


“Eh, jangan keras-keras ngomongnya. Entar ada yang kesindir lagi,” kata gadis berponi rata, menoleh ke belakang, tepatnya kearah Lita.


Beberapa siswa itu menatap kearahnya, membuat Lita semakin menunduk.


“Kasihan banget ya di php buaya darat terkenal satu sekolah,” cibir gadis berambut bob, dengan tawa sarkasnya.


Lita menghembuskan nafas pelan, mencoba menguasai diri. Gadis itu merasa dadanya sakit, tak suka mendengar ia menceritakan hal-hal tentang Darka.


Saat kelas dirasa mulai sunyi, Lita meraih hapenya di laci meja. Membuka roomchat grup sekelasnya. Ada banyak pesan disana karena gadis itu membisukan notifikasi dan jarang membuka pesan.


Gadis itu menscroll layar hape beberapa kali, hingga ia menemukan apa yang ia cari.


Tiga foto yang diambil beberapa menit yang lalu. Foto Darka dan seorang gadis cantik. Bukan, bukan Tia. Tapi yang lain.


Ada foto tertawa bersama, Darka memandangi gadis itu, dan foto terakhir.


Keduanya saling berpandangan.


Foto-foto itu memang diambil secara sengaja, namun tetap saja terlihat romantis.

__ADS_1


Harusnya Lita tak langsung jatuh. Ia merutukki diri, merasa benar-benar sakit namun tak bisa juga menyalahkan Darka.


Dirinya sendiri yang memilih untuk jatuh.


__ADS_2