
Maaf karena sudah meragu
Pada cinta tulusmu yang membuatku bagai hidup dalam surga
---
---
"Lo kayak mayat, Dar, jangan terlalu sedih gitu, jelek," kata Anwar mencoba menghibur Darka saat mereka dalam perjalanan pulang. Sandi dan Putra sepakat membawa Darka ke rumah Anwar untuk menyadarkan cowok itu.
Pasalnya, hari ini Darka belum mengucapkan sepatah katapun, jelas ini membuat Anwar, Sandi dan Putra merasa ada yang salah. Mungkin ini tentang Lita dan Darka sedih karenanya.
"Lita mutusin lo lagi?" tanya Sandi akhirnya menyuarakan terkaannya. "Lo coba lagi aja. Ditolak itu, lo kan udah biasa."
"Heh," peringat Putra. "Jangan gitu, nanti karma."
"Iya-iya," balas Anwar sambil cemberut.
"Mungkin Lita butuh waktu, Dar. Tapi gue yakin dia bakal kembali lagi ke lo," kata Putra menenangkan.
"Kadang, cinta itu memang sulit. Jadi harus diperjuangkan," tambah Sandi.
"Ish, bukan gitu," kata Darka, akhirnya bersuara.
"Apa?"
"Hah?"
"Oh?"
Anwar, Sandi dan bahkan Putra menepikan mobil karena sangat terkejut akan suara Darka yang berubah datar dan dingin gitu. Tak ada Darka yang ceria, cerah dan penuh canda.
"Kenapa?" Anwar yang pertama sadar dari keterkejutannya.
"Jelita nggak nolak gue. Gue bahkan nggak sempat ngajak dia," balas Darka dengan suara dalam. "Dia sakit, War."
Darka menunduk, suaranya melemah dan matanya kembali berair. Ia terisak kecil dan membuat Putra langsung menyalakan mobilnya kembali.
"Rumah sakit mana, Dar?"
***
Berbeda dengan hari kemarin, kini seseorang yang Darka pikir adalah ayah Lita menemani Lita tampaknya masih belum sadarkan diri. Bersama tiga temannya, Darka masuk dan menyapa sopan.
Ayah menoleh. Laki-laki berumur kepala tiga yang mirip dengan Lita itu tampak terkejut dan langsung berdiri. Keningnya mengerut heran. "Kalian ini ... temannya Lita, ya?"
Darka mengangguk, agak canggung dan bingung ingin membalas bagaimana. "Iya..."
"Saya ayahnya Lita. Saya ingin bicara sama kalian, ayo keluar dulu." Ayah tersenyum ramah. "Kalau di sini takutnya Lita terganggu."
"Oh, siap, om!" seru Anwar ceria, berusaha menghidupkan suasana agar tak terlalu sedih.
Mereka berlima akhirnya duduk berjejer di kursi tunggu depan kamar rawat Lita. Dengan posisi Darka, Ayah, Putra, Sandi dan Anwar. Mereka hanya terdiam beberapa saat karena ayah bingung mau mulai dari mana dan Darka beserta teman-temannya juga agak malu dan sungkan untuk memulai.
Ayah akhirnya berdeham, membuat pendengaran mereka siaga. Ayah lebih dulu menepuk paha Darka dan menatap anak berusia 17 tahun itu dengan mata serius.
"Saya senang Lita punya teman. Saya kira Lita selalu sendirian. Baru-baru ini dia kena masalah dan khawatir nggak ada yang menemaninya. Tapi ada kalian rupanya, saya lega. Terimakasih," kata ayah pada Darka. Seolah hanya pada Darka, karena ia hanya melihat ke arah Darka. "Terimakasih, nak. Terimakasih."
Mendengar ini, justru lidah Darka kelu untuk menjawab. Bahwa dirinya tak berada di sisi Lita pada saat gadis itu kesulitan.
"Tenang aja, om, ada kita, kok," balas Putra tiba-tiba, membuat ayah menoleh padanya dengan raut wajah bahagia.
"Terimakasih, ya," kata ayah lagi-lagi mengucapkan kata yang sama.
"Saya ini ayah yang buruk bagi Lita. Saya suka mabuk-mabukan dan pulang malam tanpa memerhatikan Lita. Untungnya dia anak yang mandiri dan disiplin, tapi saya jadi merasa malu. Hidup saya seperti sia-sia untuknya, banyak mengecewakan." Ayah bercerita begitu saja, dengan tatapan ke bawah dan gestur tubuhnya sarat akan penyesalan yang mendalam.
"Kalian pasti tahu, kan, ibunya Lita telah pergi untuk selamanya," kata ayah lagi.
"Hah?" Putra terperangah.
"Ha, serius, om?" tanya Sandi ikut terkejut.
"Apa?" Anwar hampir memekik jika tak sadar saat ini dia sedang berada di rumah sakit.
"Oh, kalian belum tahu, ya?" tanya ayah.
"Kita belum dikasih tahu," balas Putra mewakili Sandi dan Anwar.
"Kamu kenapa nggak kaget?" Ayah beralih pada Darka yang hanya terdiam sejak tadi.
Melihat Darka yang tak bereaksi, Putra, Sandi dan Anwar menatap temannya itu dengan penuh tuntutan.
"Kayaknya dia udah tau duluan deh, om," sindir Sandi kesal sendiri, merasa tak dipercaya oleh Darka.
Darka berdeham pura-pura kalem. "Iya, saya udah tahu duluan, om."
Ayah mengangguk-angguk. "Kayaknya Lita lebih dekat sama kamu ya. Siapa namamu, nak?"
"Telor Dadar, om," balas Anwar bercanda.
Ayah mendadak tertawa. Membuat Darka agak kaget karena rupanya ayah Lita ini cukup ramah, tak seketus anaknya meski wajah mereka mirip.
"Saya Darka, om. Jangan dengerin Anwar, dia suka ngibul," balas Darka membela diri.
"Oh, begitu toh. Ini dia lagi namanya siapa?"
"Oh, saya Putra, om. Yang paling cerdas di sini."
"Em, saya Anwar, om. Yang paling ganteng di sini. Visual, visual."
__ADS_1
"Pret, anjir," ledek Sandi pura-pura muntah.
Ayah tertawa lagi. Merasa kembali lagi pada masa mudanya. Kemudian dia berdeham, memasang muka serius lagi. "Saya harap kalian selalu berteman dengan Lita, ya."
"Oh, so pasti, om. Apalagi yang di sebelah kiri om noh, cinta banget sama anak om," kata Putra semangat, membuat Darka langsung melotot terkejut. "Kemarin aja sampai bolos karena nyusul buat melihat anak om."
Mata ayah berbinar. "Oh, ya?"
Darka mengusap tengkuknya. Ia terkekeh kecil dan mengangguk. "Kemarin Darka ke sini. Maaf ya, om, waktu om nggak ada, Darka main masuk-masuk aja."
Baik Putra, Sandi maupun Anwar, ketiga langsung muntah dalam hati melihat bagaimana sopannya Darka bersikap. Dia sangat menjaga image.
"Oh, waktu saya lagi kerja, ya? Nggak apa-apa, santai aja. Semua orang boleh ngejenguk." Ayah tersenyum lebar. "Sekarang silahkan masuk aja. Kapanpun boleh mampir. Tentu aja bukan dengan niat untuk mencelakai Lita. Udah cukup dia kecewa sama saya, sama kalian jangan. Oke?"
"Siap, om," jawab Darka refleks.
"Oke, om," jawab Putra ikut-ikutan.
Kemudian Ayah berdiri, ia mengambil napas banyak-banyak. "Saya mau berangkat kerja dulu. Kalian jagain Lita baik-baik, ya, saya percaya sama kalian. Terimakasih."
Darka dan tiga temannya merjawab sopan dan setelah ayah pergi, mereka berempat akhirnya masuk ke dalam kamar rawat Lita.
Melihat Lita yang masih juga belum sadar, membuat hati Darka semakin teriris. Ia tak kuat melihatnya. Sungguh.
Kenapa secepat ini gadis itu membuatnya sedih?
***
Ini hari ke enam sejak saat ia pertama kali berkunjung dan hari ini Darka kembali menjenguk Lita.
"Jelita..."
Darka menatap wajah cantik itu yang tertidur. Wajahnya terlihat bersih, damai dan tenang. Bulu mata lentiknya, hidung mancungnya, bibir berbentuk hati yang kini pucat itu membuat Darka baru sadar bertapa cantiknya Lita.
Namun, mengapa gadis itu tak juga bangun? Apakah dunia di sana lebih indah dan membuatnya bahagia? Apakah Lita melupakan Darka yang selalu menunggunya?
Setiap hari Darka membasuh tubuhnya, membenarkan rambutnya, menata selimutnya, berdoa setiap malam. Darka tak berani memegang tangannya, ia takut Lita akan lebih lama untuk sadar karena jika dirinya menyentuh Lita, biasanya akan membuat Lita pingsan.
Melihat tangan lentik yang terlihat lemah itu membuat Darka ingin sekali menggenggamnya. Memohon Lita untuk sadarkan diri, menatapnya yang ingin berucap maaf.
Darka mengepalkan kedua tangannya untuk menumpu keningnya dengan siku yang berada di sebelah tubuh Lita dan memejamkan matanya seolah putus asa.
"Jeli..."
"Nggak bosen, apa?"
Mata Darka langsung terbuka. Jantungnya hampir lepas saat melihat Lita yang kini membuka matanya, menatapnya dengan dingin. Darka tak peduli dengan sikap Lita, ia kelewat senang dan hanya mampu tersenyum.
"Akhirnya doa gue terkabul," katanya setelah beberapa saat terdiam. "Lo tau nggak betapa khawatir dan putus asanya gue setiap hari melihat lo hanya terbaring? Sekarang, akhirnya penantian gue terbayarkan, Je. Terimakasih udah bangun."
Lita memejamkan matanya, jengah. Sebenarnya ia telah bangun sejak hari pertama berada di rumah sakit, ia mendengar semuanya. Kedatangan Darka, teman-temannya dan setiap kali Darka memanggil namanya dengan lirih. Namun Lita baru berani membuka mata sekarang, setelah tak tahan menyiksa Darka.
Begitupula dengan ayahnya, ia tak mau menangis di depannya hanya karena penyalin yang akan merenggut nyawanya ini. Tidak akan pernah.
"Lo kenapa deh, Je?" tanya Darka penasaran. "Kemarin-kemarin lo masih sehat aja."
"Lo boleh tinggalin gue kalau malu punya temen penyakitan," balas Lita tanpa menatap Darka. Ia menelan ludahnya kasar. "Gue nggak apa-apa."
Darka seperti tersambar petir mendengarnya. Ia menatap Lita dengan pandangan sendu, ia menggeleng pelan beberapa kali.
Tak lama, matanya mulai berair dan suaranya amat lirih saat keluar. "Mana mungkin gue tinggalin lo, Jelita. Nggak bisa. Nggak akan pernah bisa."
"Kenapa?"
"Lo tau jawabannya tapi masih tanya." Darka tersenyum pahit, menahan air matanya yang hampir keluar. "Gue sayang sama lo."
Suara Darka benar-benar bagai bisikan, namun sangat jelas dan penuh penekanan di telinga Lita.
"Apa lo masih ragu?" tanya Darka hampir putus asa.
Lita menatap Darka dengan tatapan kosong. "Tempat lo seharusnya bukan di sini, Darka. Lo nggak berhak buat sedih, nggak berhak untuk nangis gara-gara gue, gue bukan siapa-siapa untuk hidup lo."
"Jelita, ampun deh," keluh Darka frustasi. Ia melihat ke atas, berusaha kuat untuk tak menangis. "Jangan bercanda sama gue."
"Gue nggak bercanda," kata Lita cepat.
Darka langsung terkejut, ia tak peduli pada air matanya yang telah keluar, membasahi pipinya dan kini matanya memerah dengan kening berkerut. "Lo nggak sayang sama gue?"
Bohong kalau kini telinga Lita tak terasa panas dan wajahnya mulai merona. Dengan kekuatannya yang ada, ia menggerakkan tangan yang tertutup selimut rumah sakit untuk ia hapus air mata Darka.
Darka jelas terkejut, menatap Lita dengan tanda tanya besar.
"Gue sayang sama lo, Darka. Tapi—"
"Gue nggak terima tapi-tapian. Nggak suka." Darka memotong seraya menggenggam tangan Lita yang tertutup selimut itu dengan erat dengan kedua tangan besarnya. "Kita saling sayang dan akan selalu bersama. Itu yang gue mau."
Lidah Lita mendadak kelu untuk menjawab, tenggorokan kering dan dia seolah tak punya tenaga hanya untuk membalas tatapan Darka.
Lita menggerakkan tangannya, berusaha lepas dari genggaman Darka, namun Darka tak menurutinya.
"Ngapain tutup mata? Mau lari?" tanya Darka dengan nada jenaka. "Jangan lari, nanti gue sedih. Jelita, please, jangan bercanda. Gue mau ngomong serius."
Akhirnya Lita menyerah. Ia membuka matanya, namun tak melihat pada Darka. Ia hanya akan mendengarkan karena sepertinya Darka sungguh-sungguh atas perkataannya.
Darka mengambil napas panjang, kemudian mengembuskan pelan-pelan.
"Gue mau minta maaf, Je. Sejak kita dijebak dan gue dikurung di rumah, gue tau lo kesusahan di sekolah. Lo dikata-katain, dibenci dan apapun itu yang bikin lo sedih. Gue benar-benar minta maaf, Je." Darka menunduk dalam, memejamkan matanya dengan was-was. "Kalau gue dimaafin, tolong bilang, 'lo ganteng'."
Lita tertawa kecil, tak habis pikir dengan arah jalan pikiran Darka. Laki-laki itu punya banyak cara untuk membuatnya tahu cara tertawa.
__ADS_1
"Lo selalu ganteng," kata Lita sambil berbisik.
Kepala Darka langsung terangkat, wajah itu langsung memasang raut senang. "Asli?"
"Gangguan telinga," balas Lita kejam. Langsung melepaskan tangannya dari genggaman Darka saat lelaki itu lengah.
Darka cemberut. Ia mendengus sambil membenarkan rambutnya. "Perasaan gue ganteng, deh. Masa lo nggak ngakuin?"
"Pulang sana, gue mau tidur." Lita ingin menyudahi kesenangan ini sebab tak mau membuat dirinya semakin jatuh pada Darka.
"Gue tungguin sampe lo tidur baru gue pulang," kata Darka sambil tersenyum lebar, melihat Lita yang langsung bermuka jutek. "Please?" mohonnya.
Lita memutar bola mata. "Lo ganggu, asli."
"Jangan gitu, ntar kangen," balas Darka tak mau kalah. "Eh, tapi besok gue ke sini, kok, jangan khawatir."
"Terserah," ketus Lita sambil memejamkan matanya. Mulai berusaha tertidur karena perutnya kini terasa sakit dan ia harap sakitnya akan hilang saat ia tertidur.
Darka hanya menatapnya sampai sepuluh menit berlalu. Kemudian tersenyum saat mengira Lita telah tertidur.
"Gue sama sekali nggak bosen ke sini. Gue bisa melihat bidadari, kenapa harus bosen?" Darka menjawab pertanyaan Lita yang pertama kali gadis itu lontarkan saat bangun, ia membenarkan rambut Lita yang menutupi matanya. "Mimpiin gue. Jangan lupa. Semoga cepet sembuh, cahaya-ku."
Darka mendengus. "Gue geli, tapi itu suara hati gue, Jelita."
Laki-laki itu akhirnya bangkit, dan benar-benar meninggalkan kamar rawat Lita setelah lima menit lagi menatap Lita.
Ketika Darka benar-benar pergi, mata Lita terbuka. Ia pura-pura tidur. Kemudian, perlahan, ia menangis tanpa suara.
***
"Ayah, Lita harus gimana?" tanya Lita frustasi pada ayahnya yang sedang makan nasi goreng di sampingnya.
Malam ini ayah berkunjung dan Lita lagi-lagi berbicara panjang dengan ayahnya. Malam-malam kemarin pun dilewati dengan Lita yang menceritakan keluh-kesah hidupnya dan pandangannya terhadap ayah. Lita merasa dirinya harus menghabiskan waktunya lebih banyak dengan ayah, sebelum sesuatu terjadi.
Hubungan Lita dan ayah mulai membaik. Mereka lebih erat dan saling menyayangi. Ayah sudah berubah dan Lita memaafkan ayahnya serta menerima ayah dengan tangan terbuka.
Lita tak menyesal punya ayah seperti ayahnya, tak marah ataupun kesal.
Sebab ayahnya adalah ayahnya. Sejak dulu sampai sekarang.
"Temen kamu yang perhatian itu nggak mau pergi? Justru ayah senang, Lita. Kamu sebenarnya juga suka, kan?"
"Iya, aku juga suka. Tapi kasian dianya."
"Emang dianya kenapa?"
"Dia anak baik. Bahkan selalu jaga aku sejak hari pertama. Dia jadi orang yang paling aku sayang setelah ibu dan ayah."
"Ayah juga setuju kamu sama dia. Dia anaknya baik. Darka, ya, namanya?"
Lita mengangguk kecil. "Dia juga bantu selesaikan masalah aku, juga nemenin aku selama ini. Aku merasa punya sahabat sejati dan rupanya dia ... sayang sama aku, yah."
"Wah?" Ayah langsung berseri-seri. "Bagus, dong, kalau begitu!"
Lita menipiskan bibir. "Tapi aku kan punya penyakit, yah."
Tangan ayah berhenti bergerak. Ia menatap putrinya dengan tak suka. "Kamu pasti sembuh, nak. Jangan khawatir. Ayah jamin."
"Em, iya, deh," balas Lita menurut.
"Anak pintar."
"Eh, yah."
"Iya?"
"Maaf, ya." Lita tak mampu menatap ayah secara langsung, ia malah melihat bintang-bintang kecil yang menghiasi langit lewat jendela kecil di sebelahnya.
"Maaf kenapa?"
"Aku ... belum bisa jadi kebanggaan, kebahagiaan dan ketenangan ayah." Lita menyuarakan bersama dengan mata panas dan mulai berair. "Dulu aku suka keluar malam tanpa sepengetahuan Ayah."
Ayah nampak heran, namun ia langsung menggeleng menolak pernyataan Lita. "Jangan begitu, Lita. Ayah menerima kamu apa adanya, kamu adalah anugerah terindah yang harus ayah jaga. Kamu bahagianya ayah. Jangan pikirin apapun, udah kewajiban ayah untuk mengurus kamu."
Lita memejamkan matanya, kemudian ia terisak, menangis hebat. Setelah ditahan selama hampir seminggu, akhirnya ia luruh juga. Menumpahkan kesedihan dan keputusasaannya.
"Aku sekarang nyusahin. Harusnya aku mati aja langsung."
"Nggak," kata ayah tegas. Ia mengusap air mata Lita dan tersenyum lebar. "Ayah ingin kamu bahagia, nak. Jangan menyerah. Demi ayah, ya?"
Lita memaksa diri untuk tersenyum. Ia tak mau membuat ayahnya semakin sedih melihat menangis seperti ini. "Ayah, bantuin aku bangun."
"Kenapa? Kamu mau ke toilet?"
Menggeleng kecil, tangan Lita meraih ukuran tangan yang mulai keriput milik ayahnya itu. "Bantu bangun aja."
Ayah hanya menurut. Akhirnya Lita kini telah terduduk. Putrinya itu tampak rapuh dan ayah sangat tersiksa melihatnya. Mengapa tak dari dulu ia merawat Lita?
Lalu, tiba-tiba Lita memeluknya erat sekali. Membuatnya terkejut sekaligus terharu karena anaknya masih saja menerima dirinya yang buruk ini. Pelukan itu dibalasnya sama erat.
"Ayah ... aku takut." Lita bersuara lirih.
"Ayah ada di sini, nak. Selalu."
Lita memejamkan matanya. Ibunya juga mengatakan itu, dulu. Namun nyatanya, pada akhirnya, ibu pun meninggalkannya.
Kata 'selalu' itu, tak pernah terealisasikan.
"Aku nggak berani bilang aku juga akan selalu sama ayah," kata Lita disela Isak tangisnya. "Tapi aku akan berusaha untuk sembuh."
__ADS_1
***