Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
14. Akan Menjadi Teman


__ADS_3

Aku butuh dirimu, nomor ponselmu


Panggil aku jika kamu juga butuh


---


Lita terkejut ketika mendapatkan Sandi, Putra, dan Anwar berdiri di depan kelasnya. Menjadikan Lita pusat perhatian setelah lama tak terdengar kabarnya.


"Kalian ... ngapain?"


"EH CANTIIIK!" Putra langsung menyerobot begitu melihat Lita keluar dari kelas.


"Minggir bego ditebas Darka lo nanti." Anwar segera menabok Putra dan menariknya mundur.


"Hai Lita." Kini giliran Sandi yang maju. Ia menaikkan sebelah alisnya sambil bergaya macho yang malah membuat Lita sakit mata melihatnya.


Anwar menghela napas dan menutupi Sandi, membuat pemuda itu protes. "Kita butuh bantuan lo," ucapnya tanpa basa-basi.


Lita bergantian menatap Anwar, Sandi, dan Putra yang memasang wajah serius. Pasti ada hubungannya dengan Darka. "Kalau gue bisa bantu, pasti gue bantu."


Anwar tampak senang mendengar jawaban dari Lita, matanya berbinar-binar, senyumnya mengembang. "Thanks, Lit! Lo the best lah pokoknya!"


"Iya iya, kalian mau gue bantu apa?"


***


Rupanya benar sesuai dugaan Lita, ini tentang Darka. Anwar menunjukkan kursi Darka yang sejak pelajaran pertama tidak pernah ditinggalkan pemuda itu. Ketiganya mengatakan bahwa Darka selalu seperti itu sejak dua minggu yang lalu.


Dua minggu memang sudah berlalu sejak malam itu Darka memberi tahu Lita tentang semuanya. Pemuda itu menjauh sendiri, meninggalkan Lita yang dilema. Bahkan ketika gadis itu mencoba mendekat seperti kala di perpustakaan, Darka tidak ingin bertemu Lita.


"Gue mau Darka yang dulu, Lit. Yang gak murung kaya gini," ujar Sandi. Diikuti anggukan dari Anwar dan Putra.


"Dia kaya gitu sejak gak deket lagi sama lo. Sebenernya kalian kenapa sih?" Anwar jadi penasaran. Tetapi Lita hanya menggeleng tanda tak ada yang perlu ia jawab.


Sepertinya, Darka tidak pernah memberi tahu hal itu pada siapapun. Bahkan pada ketiga sahabatnya. Tapi kenapa Darka memberi tahunya pada Lita? Kenapa harus gadis itu?


"Sekarang, lo bertiga cukup fokus sama Darka dan hibur dia aja. Soal gue sama Darka... itu gue bisa selesaiin sendiri." Lita tersenyum tipis demi meyakinkan Anwar, Sandi, dan Putra. Gadis itu juga tidak ingin terus melihat Darka murung. Apalagi Lita merasa ini adalah salahnya.


"Terus gimana caranya?"


Lita berpikir keras, diikuti Anwar, Sandi, dan Putra yang ... tidak banyak membantu. Sebuah ide tiba-tiba terbesit dalam pikirannya. "Kalian tau gak apa yang paling ditakutin sama Darka?"


Putra menjentikkan jarinya. "Hantu!"


Lita spontan menoleh ke kanan dan kiri, mengira Putra melihat seorang hantu. "Eh-apa?"


"Lo inget gak sih pas Persami Darka jerit-jerit kabur pas jurit malem? Bahkan sampe gemeteran di tenda saking takutnya!"


Kalau soal aib sahabat, memang Putra ini yang paling pandai mengungkit-ungkit.


"OH YA GUE INGET ANJIR GOBLOK HAHAHAH!" Sandi bagian tertawa yang paling keras sementara Anwar fokus pada rencana yang akan dikatakan oleh Lita.


"Kita takutin dia pake hantu aja giamana?" tapi Anwar muncul dengan ide itu lebih dulu. Lita sedikit ragu, Sandi dan Putra segera mengangguk setuju.


"Kita takutin di rumah dia sendiri pas gaada orang!"


"Biasanya pas pulang sekolah Darka itu sendirian. Ayah sama ibunya kerja, pembantunya gak ada di rumah utama, jadi otomatis cuma Darka." Anwar menjelaskan.


Lita menatap mereka satu per satu. "Kalian yakin?"


"YAKIN BANGET DONG!"

__ADS_1


***


"Gue gak ngeti kalian kesambet apaan sampe maksa pengen main di rumah gue hari ini." Darka mendecak sambil membuka pintu rumahnya.


"Yah, Ka sekali-kali kita main ke rumah lo biar lo gak sendirian." Putra melangkah masuk.


"Lagi, gak takut apa sendirian tiap hari?" Sandi memancing.


Darka hanya melirik sekilas dan menaiki tangga. "Gak, biasa aja."


"Eh, Ka. Gue mau buang air kecil dulu deh kayaknya, di mana?" Anwar mulai menjalankan aksinya. Darka menunjuk salah satu kamar mandi khusus tamu di lantai bawah.


"Lo udah dari jaman kapan sama gue, rumah gue masih gak apal."


Anwar hanya terkekeh dan bergerak turun. Sandi dan Putra terus mengoceh sepanjang perjalanan sampai mereka masuk ke kamar Darka. Setelah Darka larut dalam permbicaraan Sandi dan Putra, tiba-tiba lampu kamar Darka mati.


"Eh kenapa nih?"


"AAAHHHH!!"


Terdengar suara Anwar berteriak dari lantai bawah, disusul dengan bunyi barang yang jatuh dan pecah. Darka menoleh, tepat ketika suara lain menyusul.


"ANWAR!"


Ini pasti hanya ilusi Darka. Tidak mungkin ada gadis itu di rumah ini. Kenapa pula dia ada di sini? Darka pasti salah dengar. Tapi perasaan buruk menyelimutinya hingga bulu kuduk Darka meremang.


"Lo sama Sandi pergi ke taman belakang, nyalain pusat listrik yang turun!" Darka segera menyalakan flash light di ponselnya dan berlari keluar kamar. Sandi saling bertatapan dengan Putra di kamar, memikirkan hal yang sama.


"Sebentar, emang ada skenario Anwar sama Lita teriak-teriak gitu?"


Sandi menggeleng. "Enggak bego, kita kan cuma bawa Lita yang udah pake kostum hantu ke rumah Darka, terus takutin Darka pas Darka lagi ambil minum buat kita di dapur, Anwar tuh harusnya kebawah cuma buat jemput Lita-"


***


Darka terkejut ketika ruang tamunya berubah menjadi gelap. Tirai-tirai tertutup, semua mati lampu, bahkan cahaya siang dari luar sulit masuk, seolah seseorang menghalanginya agar rumah Darka segelap malam.


"Anwar! Anwar lo dimana?!" Darka memutari rumahnya yang anehnya terasa jauh untuk menemukan Anwar. "Anwar?!"


Drap! Drap! Drap!


Dari sudut matanya, Darka menangkap seorang anak kecil dengan kulit pucat berlari begitu cepat hingga hilang dari pengelihatannya. Demi Tuhan Darka takut setengah mati. Tapi dia harus menemukan Anwar dan ... Lita.


"Lita! Lita lo dimana?!" Darka memanggil frustasi. "JELI!" teriaknya.


Seseorang menarik pundaknya dari belakang, Darka berteriak lebih keras sambil menutup mata.


"Darka! Ini gue Lita!"


Darka yang meringkuk di lantai ragu-ragu membuka matanya. Tapi gadis di depannya sekarang benar-benar Lita. Benar-benar Jeli-nya.


"Jangan takut! Mereka bakalan lebih brutal kalau lo takut!" Lita mengingatkan. "Rumah lo banyak aura negatifnya."


Lita memperhatikan sekelilingnya sementara Darka mengambil kesempatan itu untuk mengamati garis wajah gadis yang sudah lama sekali tak ia temui. Tapi Darka segera menarik keinginannya untuk mengamati Lita lebih lama dan fokus pada kalimat Lita yang sebelumnya.


"Tau dari mana lo?"


Lita melirik Darka dengan gugup. Ia tak sengaja mengatakannya karna melihat Darka panik dan ketakutan. Ini kali pertama Lita meliat Darka yang terkenal tangguh menjadi Darka yang ciut pada hal yang ditakuti.


"Gue bisa melihat mereka yang gak bisa lo lihat."


Darka membelalak. "Jadi itu sebabnya-di toilet perempuan waktu itu!"

__ADS_1


"Kita nggak ada waktu Darka! Anwar gak tau kemana! Sandi dan Putra juga-"


"Mereka ada di taman belakang. Biarin aja, ini pasti kerjaan mereka ngebawa lo kesini kan?" Darka sudah curiga sejak awal, tapi ia tak pernah mengira mereka akan bertindak sejauh membawa Lita ke rumahnya.


"Berarti Anwar." Lita menghela napas.


"Lo bisa ngusir mereka kan?"


"Kalau gue bisa ngeliat mereka bukan berarti gue bisa usir mereka, Darka."


"Lo harus coba!" Darka bergidik takut. "Lo harus tau betapa tersiksanya gue kalau sendirian dan terus-terusan ngerasa merinding kan?"


Lita menggigit bibirnya. Dia tidak bisa ditekan seperti ini, Lita jadi panik dan tidak tahu harus apa.


"Lo pasti bisa, Jel." Darka menatap Lita penuh keyakinan. Tatapan yang pernah Lita jadikan api untuk menyalakan keberaniannya. "Atau kalau lo gak mau gue buka aja kartu lo depan banyak orang," ancamnya di tengah-tengah keadaan rumit yang membuat Lita ingin menggebuknya saat itu juga.


"For your information, gue juga punya kartu lo, Darka Samudra."


Darka menggeram. "Pokoknya harus coba, Jel," rengeknya jadi seperti anak kecil.


Lita menghela napas. Ia juga sedikit penasaran apakah ia bisa benar-benar mengusir mereka? Pada akhirnya gadis itu mengangguk ragu.


"Dimana mereka sering muncul?"


Darka menunjuk dapurnya.


***


Lita menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Tak butuh waktu lama sampai hantu-hantu anak kecil itu berkumpul di hadapannya.


Darka tidak bisa melihat apapun. Tapi pemuda itu bisa merasakan atmosfer yang tiba-tiba menjadi panas dan dingin. Gelas-gelas di dapurnya bergerak kecil. Sementara Lita tak gentar dari tempatnya berdiri meski Darka bisa melihat tangan gadis itu bergetar kecil.


"Pergi, jangan di rumah ini. Jangan ganggu Darka."


"Ka-kami janji gak akan ganggu lagi! Tapi tolong jangan usir!"


"Numpang! Kami cuma numpang!"


Darka dapat mendengar bisikan meski kecil. Ia terus memperhatikan Lita yang berbicara pelan. Kemudian secara tiba-tiba tirai di rumahnya terbuka kembali, lampu-lampu menyala, sinar matahari masuk, dan yang terpenting adalah Anwar.


Dia sudah kembali setelah secara tak sadar berjalan sendirian di taman depan dan memutarinya berulang kali.


"Gue gak tau gimana kalau gak ada lo, Jel."


Lita menaruh telunjuknya di depan bibir, tanda Darka harus merahasiakan apa yang ia lihat hari ini. Bahkan pada Anwar, Sandi, dan Putra. Darka juga mengatakan pada Lita untuk tidak lagi membahas apa yang pernah ia katakan sebelumnya dan tidak memberi tahunya pada siapapun.


"Kalau ada apa-apa, gue boleh minta bantuan lo lagi kan?"


"Mereka gak akan gangguin lo lagi kok, gue yakin."


Darka merogoh kantungnya dan menyerahkan ponsel yang ia ambil pada Lita. "Nomor lo. Gue gak bisa tenang kalau lo belum kasih."


Lita mengambilnya dan menulis nomornya. "Jangan telepon atau chat kalau gak penting."


"Kalau kangen gimana?"


"Mulai deh, Darka."


Darka tertawa. Kini ia bisa lebih lega setelah membuka semuanya pada Lita dan gadis itu juga melakukan hal yang sama. Membuat Darka merasa dipercayai dan diakui sebagai teman. Ribuan kupu-kupu seolah menggelitik perutnya.


Dan yang terpenting, Darka dapet nomor Lita!

__ADS_1


__ADS_2