Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
10. Bertemu Lagi dengan Kelam


__ADS_3

Yang dulu dicintai, sekarang menjadi lubang hitam yang paling dihindari


Mantan namanya


---


Mereka masih terus berjalan beriringan.


Larut dalam pikiran mereka masing-masing. Lita pada kehidupannya, dan Darka pada gadis yang disampingnya sekarang ini.


Jalan di depan mereka seolah tak berujung. Kaki mereka hanya melangkah sesuai dengan naluri mereka. Sudah hampir setengah jam mereka berjalan santai seperti ini tak ada satupun yang memulai percakapan lagi.


Sejak insiden Darka-bercerita-lalu-menangis,cowok itu terdiam seketika. Merasa malu pada Lita karena telah menangis di depan gadis itu.


Hilang sudah karisma seorang Darka Samudra di depan gadis Jelita.


Lita yang memang terlalu kaku dan pendiam tidak tahu topik apa yang harus dibicarakan dengan pemuda itu. Lagipula, Lita juga malas mengakrabkan diri dengan pemuda itu. Walau pemuda itu begitu baik menolong Lita berkali-kali.


“Jel—“


“Ka—“


Keduanya terdiam. Berbarengan mengucapkan penggalan nama masing-masing. Bagaimana bisa mereka serentak berbicara seperti tadi. Memalukan.


“Lo duluan,”  ucap Darka.


“Gue mau ke suatu tempat.”


“Terus?”


“Jangan ikutin gue,” ucap Lita penuh penekanan.


Darka memutar bola matanya malas. “Yaelah emang gue kurang kerjaan apa ngikutin lo?”


“Berarti tadi itu lo lagi kurang kerjaan ya?”


Darka terdiam. Dia memalingkan wajah malu. Skakmat pada perkataan Lita barusan.


“Ya—kan gue—gue gak sengaja ketemu elo. Sekalian pulang bareng tau.”


“Gak jelas lo.”


Lita buru-buru meninggalkan Darka yang masih diam ditempat. Gadis itu kemudian terhenti, teringat sesuatu yang hendak ia ucapkan pada pemuda itu.


“Darka.”


“Apaa? Tadi katanya gak mau diikutin. Malah manggil-manggil. Mau lo apasih, hah?” tanya pemuda itu ketus.


“Gue emang nggak mau lo ngikutin gue.”


“Ya, terus?”


“Gue cuma mau bilang makasih,” ucap Lita memandangi pemuda yang berjarak beberapa langkah darinya itu.


“Makasih karena lo menolong gue beberapa kali.”


Lita memamerkan sedikit senyumnya. Tapi beberapa saat kemudian ia tersadar akan apa yang ia lakukan.


“Ngapain sih gue,” gumamnya sembari mendecak. Berbalik badan tanpa melihat wajah pemuda itu.


Darka melongo, mengerjapkan mata layaknya orang bodoh. Lebih kepada tak menyangka jika gadis itu tiba-tiba berterimakasih kepadanya.


Setelah sekian lama, akhirnya Darka mendapatkan ucapan terimakasih dari Si Jaket Merah. Tak sia-sia perjuangannya untuk mendapat pengakuan.


Merasa tak percaya,  Darka mengangkat tangan, lalu memukul pipinya sendiri sampai berbunyi keras. Ia meringis, lalu mengelus pipinya lagi.

__ADS_1


“Rupanya diri ini tidak bermimpi.”


Darka kemudian tersenyum girang. Hatinya serasa melambung tinggi hanya dengan ucapan terimakasih.


“ANYTHING FOR YOU BABE,” teriak Darka, tentu saja tak di dengar Lita karena gadis itu telah semakin jauh dari pandangan mata.


****


“Pagi, Lita.”


Suara lembut nan manis milik Tia membuat perhatian Lita terhadap makanan yang ada di depannya menjadi teralihkan. Gadis cantik itu sekarang duduk di depan Lita, dan sekali lagi membuat pandangan beberapa orang mengarah kepada mereka.


“Ehh itu cewek kan yang buat rusuh di pesta Tia.”


“Ho’oh. Bikin heboh aja tau gak.”


“Tia kok bego banget sih masih deketin tuh anak.”


“Baik banget si Tia.”


“Cewek gatau malu. Udah ngancurin pesta orang, sok tersakiti lagi mukanya.”


Lita mengepalkan tangan, menahan emosi mendengar cibiran itu. Walaupun tidak menyindir dengan suara keras, namun tetap saja bisik-bisik mereka terdengar karena sekarang kantin tidak terlalu ramai.


“Lo gimana keadaannya? Udah baikan?” tanya Tia berusaha mengalihkan perhatian Lita. Gadis cantik itu tahu betul bahwa gadis di depannya ini terlihat kesal akibat cibiran-cibiran yang mendengarnya saja sudah membuat ulu hati terasa sakit.


Lita menarik napas kasar, menatap Tia dengan dingin. “Kenapa sih lo terus dateng kesini?” tanyanya tajam.


Tia mendesah pelan, “Kan gue udah bilang kalo gue mau berteman sama lo,” ucap Tia setulus mungkin.


“Tapi gue udah ngehancurin pesta lo.” ucap Lita dengan ekspresi tak terbaca. “Jangan terlalu baik sama orang.”


“Lita, dengerin gue.”


Tia hendak menyentuh tangan Lita, ingin menggenggam tangan pucat milik gadis itu. Tau maksud dari pergerakan Tia, Lita langsung menarik tangannya dari meja.


“Gue hanya ingin berteman dengan lo. Gue ingin lo punya temen. Karena gak ada yang deketin lo, gak ada salahnya dong kalo gue berinisiatif untuk bergerak duluan,” jelas Tia. “Kalau masalah soal pesta kemarin, lo kan emang gak sengaja. Gak ada yang harus disalahkan, termasuk lo.”


Lita mengerutkan dahi, pikirannya jadi menjauh kemana-mana. Matanya fokus menatap kedua mata legam indah milik Tia. Tampak teduh menatap Lita, seolah berharap bahwa gadis seperti Lita akan menerima Tia menjadi temannya.


Sayangnya, tidak ada kebohongan di kedua mata Tia. Gadis itu tampaknya tulus pada Lita.


“Oke,” ucap Lita singkat.


Wajah Tia langsung ceria, menatap Lita berbinar. “Beneran, Lit?”


Lita pun mengangguk.


“Wah!” Tia mendadak heboh, menutup mulut tak percaya. “Makasih ya, Lit. Gue janji. Gue bakalan jadi temen yang baik buat lo,” ucap Tia penuh penekanan.


“Nggak usah segitunya. Yang penting temenan aja.”


Tia menganggukkan kepala, sambil mengangkat jempolnya. “Kalo lo ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan dateng ke gue, ya. Gue siap bantu lo.”


Lita menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman, kembali mengaduk-aduk makanannya. Sesekali menatap Tia yang kini bercerita tentang kehidupannya, sembari menunggu Lita selesai makan.


Gadis itu menatap gadis cantik itu sesekali. Dengan celotehannya yang penuh semangat, senyum dan tawa yang membuat Lita mau tak mau ikut tersenyum.


Untuk saat ini, biar saja Lita menerimanya. Walau hati Lita sebenarnya masih setengah-setengah.


Gadis itu hanya berharap, semoga keputusannya kali ini sudah benar.


****


“Dek, ini alat make upnya.”

__ADS_1


Lita menerima make up beserta teman-temannya itu dari Siska, teman kerja Lita. Mulai hari ini, dia akan melakukan pekerjaannya di rumah hantu.


Tujuh harinya benar-benar terpakai sekarang. Terpakai karena bersekolah, terpakai karena bekerja. Gadis itu harus bekerja keras demi kelangsungan hidupnya.


Hidupnya memang menyedihkan. Tidak bergairah di usianya yang masih muda. Putus asa juga sering ia rasakan. Tapi, setidaknya dia tidak boleh menyusahkan ayahnya. Dia tetap harus bekerja walau gajinya pas-pasan.


Lita segera memoles wajahnya, menyamar sebagai kuntilanak. Sembari tangannnya sibuk mendandani dirinya sendiri, dia berusaha mengingat-ngingat wajah beberapa hantu yang cukup menyeramkan. Ia jadi merinding usai membayangkannya.


“HUWAAAAA!”


“AHHHHHH SETANNNNNN.”


Lita mengangkat alis menatap dari pantulan cermin. Memandangi teman sekerjanya sekarang telah berdandan menjadi hantu sungguhan. Dengan lebam-lebam hitam dan juga bercak-bercak darah disekitar baju putihnya yang penuh dengan robekan disana-sini.


“Gak takut dia, njir,” gumam pemuda itu, ternyata berniat menakut-nakuti Lita. Seisi ruangan itupun tertawa. Menatap ekspresi datar Lita, juga menatap ekspresi muram si pemuda yang gagal menakuti Lita itu.


“Gio, gio. Tampang lo itu cuma bisa nakutin pengunjung, bukan Lita,” celetuk Siska, sibuk memoles dirinya agar lebih seram.


“Ya kirain dia takut. Kan baru gabung kerja bareng kita," ucap Gio.


Lita hanya menggelengkan kepala, sambil membatin, ‘Takut enggak, bosan iya.’


“Lit, lain kali kalo Gio nakutin lo, lo pura-pura takut aja." Ana, salah satu hantu menyamar ikut nimbrung setelah memoles wajah Gio yang minta agar riasannya dibuat lebih seram. “Soalnya cita-cita Gio itu adalah buat nakut-nakutin anak baru.”


“Padahal anak barunya cuma diem aja gak nanggepin,” ledek Siska lagi. Tawa mereka kembali pecah, tapi tidak dengan Lita.


Lita hanya bisa memandangi mereka satu-persatu  lewat cermin. Ahh, apa semenyenangkan itu jika melepaskan tawa bersama-sama?


Rasanya banyak yang berubah dalam hidup Lita beberapa hari terakhir ini. Bertemu Darka si manusia cacing kepanasan karena bertemu Lita dimanapun dan kapanpun, Tia si gadis cantik yang berinisiatif menjadi temannya.


Dan yang terakhir, teman-teman kerjanya.


Mereka tak mengajak Lita berteman. Tapi setidaknya dengan melihat mereka, bebannya sedikit terlupakan.


Inikah rasanya jika bertemu dengan orang-orang lucu?


“Woi jangan bacot mulu dah. Siap-siap lo semua,” teriak Mia dari luar. Membuat mereka jadi grasak grusuk, mempersiapkan diri.


“Buruan dah keburu mak lampir yang asli ngamuk.”


****


“Nanti pas pengunjungnya mulai masuk terus jalan kemari, kamu langsung maju ya. Pasang wajah blank aja mereka pasti langsung takut,” jelas Mia pada Lita. Gadis itu hanya perlu memasang wajah datar. Tentu bisa ia lakukan dengan mudah.


Itukan sudah bawaan Lita sejak dahulu kala.


Satu persatu pengunjung pun mulai masuk. Baru beberapa maju beberapa langkah dari pintu, teriakan mereka sudah menggema. Siska dan Gio benar-benar bekerja keras dengan polesan wajah seram di wajah mereka.


Lita yang bersembunyi di dekat tembok hanya melengos. Ternyata hantu bohongan pun bisa membuat mereka takut. Mereka tidak tahu saja jika Lita sudah melihat yang asli, pasti mereka akan langsung melambaikan tangan ke kamera sangking tidak kuatnya. Apalagi jika sudah diajak mereka. Semakin tak kuat pastinya.


Langkah kaki beberapa orang itu semakin mendekat. Lita bersiap-siap, melakukan sesuai yang diperintahkan oleh Mia tadi.


Lita maju untuk menampakkan diri, berniat untuk menakuti pengunjung yang datang.


Sampai pada akhirnya..


“AHHHHHH…..”


Teriakan dominasi melengking khas milik perempuan sukses memekikkan telinga. Membuat beberapa dari mereka berlari kencang, berlalu meninggalkan Lita yang hanya mematung disana.


Tapi tidak dengan laki-laki yang di depannya. Melebarkan mata melihat siapa yang sekarang menjadi hantu itu.


Begitu juga dengan Lita, yang benar-benar mematung juga, menatapi laki-laki itu.


“Lita?”

__ADS_1


“Abra.”


***


__ADS_2