
Bahkan manusia terbaik di dunia pun punya rahasianya sendiri
---
"Abra?"
Lita menatap tak percaya. Kenapa ia harus bertemu Abra di kondisi seperti saat ini? Memalukan! Lita hampir kehilangan kata-kata.
"Ng-ngapain lo di sini?"
"Bukannya itu harusnya pertanyaan gue?" Abra mendengus. Ia menatap Lita dari ujung kepala sampai kaki, diam-diam menertawai kostum hantu Lita. Abra bahkan hampir tidak bisa mengenalinya. "Dari dulu sampe sekarang, lo emang cuma cewek aneh."
Wajah Lita merah padam menahan malu dan emosi, tapi ia tidak bisa melakukan apapun.
"Kenapa, Bra? Kamu kenal sama hantunya?" Seorang gadis berparas cantik yang sebelumnya menjerit paling keras mendekat pada Abra. Ia bahkan terang-terangan memegang lengan Abra di depan Lita karna masih takut.
"Nggak. Aku gak kenal."
Jawaban Abra membuat Lita tertohok. Lita mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan diri. Kepalanya tertunduk, tapi Lita dapat melihat sekilas garis wajah Abra yang mengeras.
"Dan gue rasa kita gak perlu ketemu lagi."
Abra menatap Lita dengan kilat mata yang menusuk tajam. Laki-laki itu benar-benar menunjukkan kebenciannya pada Lita dan menyalahkannya atas kejadian masa lalu. Ia mengambil satu langkah mendekat, meninggalkan gadis yang memegang lengannya dengan wajah kebingungan.
"Karna gue udah punya kehidupan baru gue yang sangat sempurna sekarang, Jelita." Abra berbisik dengan nada mengintimidasi. "Setelah lo ngancurin semuanya, gue bisa di titik bahagia gue lagi, gue udah pindah sekolah, gue balik jadi Abra yang dulu, dan lo liat cewe itu?"
Lita melirik ragu-ragu pada gadis yang berdiri di belakang Abra.
"Dia cewe yang bakal gue lindungin kalau-kalau lo berani ganggu dia sebagaimana lo ganggu hidup gue yang dulu. Jadi," Abra menggeratakkan giginya. "Jangan pernah tunjukkin wajah lo di depan gue lagi."
Lita membelalak dengan ancaman yang keluar dari mulut Abra, pemuda yang dulu pernah ia kagumi lebih dari siapapun sebelum kekuatan ini menghancurkan hubungan mereka. Mata Lita memanas, gadis itu menahan apa pun yang berusaha keluar dari sana dengan sekuat tenaga.
"Abra?"
Gadis itu menarik Abra. "Kenapa?"
Abra hanya tersenyum dan menggeleng. Ia merangkul gadis itu dan melirik Lita dengan tatapan tajam sekali lagi sebelum benar-benar pergi bersama kelompoknya yang ikut menatap Lita dengan tatapan aneh.
Selepas kepergian Abra, air mata Lita meleleh. Lita seolah terkoyak dengan sikap Abra yang masih menyalahkannya atas kejadian masa lalu, yang bahkan Lita tidak memiliki niat untuk menghancurkan apapun.
-
Lita menatap tangannya, meratapi kekuatannya yang sudah membuat semua berantakan. Ia kembali membenci dirinya sendiri.
-
Lita berjalan di sepanjang koridor sambil menundukkan kepalanya. Kata-kata Abra masih membekas di ingatan Lita.
"Jeli! Jeli! Okky Jeli drink!"
Lita menghela napas, mengenali suara itu. Siapa lagi kalau bukan Darka Samudra. Tapi Lita sekarang tidak ingin menanggapi Darka. Gadis itu hanya lewat begitu saja. Matanya menatap kosong, kembali tenggelam pada dunia sendiri.
"Yah, yah, kejar Ka!" senggol Sandi. Darka segera menyamai langkah Lita.
"Jeli, apa gue terlalu ganteng sampe lo gak tahan liat gue?" Darka memasang wajah tertampan dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Lita masih berjalan, tidak menyadari kehadiran Darka yang berjalan menyusulnya.
"Lita?"
Darka melambaikan tangannya di depan wajah Lita sampai Lita berhenti dan menoleh.
"Abra?"
"Hah Abra?"
Lita mengerjapkan matanya kemudian tersadar bahwa pemuda di depannya bukanlah Abra, tapi Darka.
"Sorri," Lita menepuk keningnya dan berjalan melewati Darka
Darka menatap Lita yang berjalan dengan langkah gontai sambil menundukkan pandangan. Ada yang salah dengan Lita. Gadis itu terlihat sedih hari ini. Sial, Darka tidak bisa dibuat penasaran. Dia lebih tidak suka lagi jika hal itu ternyata membuat Lita murung.
"Kenapa tuh, kok Lita pergi?" Putra menghampiri lebih dulu.
"Lo ada yang kenal siapa Abra?"
Anwar segera bertatapan dengan Sandi dan Putra. Darka melirik ketiganya yang sepertinya tahu sesuatu.
-
Sementara Lita menatap paper bag di tangannya. Paper bag itu berisi baju Tia yang ia pinjam saat pergi ke pesta ulang tahunnya. Ia berniat akan mengembalikannya sekarang.
Lita berjalan menuju kelas Tia terlebih dulu. Beberapa pasang mata menatapnya. Tetapi Lita berusaha fokus pada tujuannya mencari Tia.
"Lita!"
Tia melambaikan tangannya begitu melihat Lita. Ia segera menghampiri Lita dan melirik paper bag di tangan Lita.
Lita mengangguk. "Thanks ya udah minjemin."
Tia tersenyum dan mengambil paper bagnya. "Padahal gak di balikin juga gapapa lho."
"Si Tia baik banget ya mau minjemin baju ke Lita. Ngapain coba?"
"Cewe aneh."
"Tia ngapain sih?"
Tia mendelik pada teman-temannya yang segera mengunci mulut. "Jangan di dengerin ya, Lit." Tia melukis senyum tipis. "Gue balik dulu." Tia melambaikan tangannya.
Lita merasa senyum Tia tertular padanya. Gadis itu ikut tersenyum dan melambaikan tangannya.
Grace, salah satu teman Tia merasa tersinggung dengan sikap Tia yang tiba-tiba mendelik kepadanya. Ia menggeram pada Lita.
"Gue punya ide."
Rena, yang sedari tadi berdiri di samping Grace menatap bingung. "Apaan sih Grace? Eh lo ngapa--"
Rena menganga ketika Grace berjalan menuju pintu kelas dan menjegal kaki Lita yang sedang berjalan.
BRUK! Lita tersungkur di hadapan banyak orang. Grace tertawa lebih dulu.
__ADS_1
"Ups, sorri, gue gak sengaja."
Tawa berderai disertai tatapan aneh. Lita semakin menunduk, deja vu mendatanginya, ia kembali pada kejadian semalam saat Abra dan kelompoknya menatapnya dengan pandangan seolah Lita adalah 'gadis aneh.'
"Grace apa-apaan sih lo?!" Tia berjalan berlari menuju Lita dan membantu gadis itu berdiri.
Grace mengerutkan kening. Seharusnya Tia menyukai pemandangan ini, tapi ia malah membantu Lita.
"Ayo, Lita. Gue--"
"Minggir."
Tia berhenti. Ia menatap Darka yang tiba-tiba datang dan menyingkirkan tangan Tia. Pemuda itu segera menggendong Lita yang terkejut.
"DARKA WOY TURUNIN GUE!"
"Berisik. Mereka harus tau gimana cara memperlakukan cewe seberharga lo."
Darka mengatupkan bibir, diam diam menggeretakkan gigi karna kesal. Dia tahu Grace dengan sengaja menjegal kaki Lita untuk mempermalukannya.
Lita menunduk malu, menyembunyikan kepalanya pada dada Darka. Sementara Darka tidak ingin mendengarkan Lita kali ini. Ia menuruni tangga menuju UKS, melewati banyak orang yang heboh di sepanjang koridor.
Darka membuka pintu UKS dengan sikutnya dan menundukkan Lita di atas salah satu kasur.
"Darka apa-apaan sih, gue gapapa!"
"Lo emang gaada luka di fisik, tapi di sini," Darka menunjuk dadanya. "Hati lo yang apa-apa, Jelita!"
Lita mengerutkan keningnya. Darka menatap Lita lamat-lamat, mengingat apa yang dikatakan Anwar, Sandi, dan Putra yang memberi tahunya soal Lita dan Abra.
"Abra itu dulu waketos di sini, tapi dia pindah. Padahal pinter banget, makanya bisa jadi waketos."
"Mungkin lo gak tau karna waktu itu lo lagi mogok sekolah, inget kan? Tapi Abra itu dulu juga mantan Lita."
"Putra tuh tau banyak, dulu kan deket sama Abra."
"Gue sebenernya juga gak tau banyak karna gak sedeket itu. Tapi Abra bilang Lita selalu neror dia karna gak terima dia putus sama Abra. Tapi gue rasa Lita nggak kaya gitu."
"Gue juga mikir gitu, Ka. Pokoknya lo fokus aja sama Lita sekarang. Kita gak tau yang sebenernya kan."
"Alah itu bisaan orang-orang aja banyak banget mulutnya ngurus Lita-Abra."
"Cih, dari dulu juga Abra banyak yang gak suka. Baik sih, tapi dia emang keras anaknya."
"Pokoknya buat sekarang yang lo perluin itu istirahat, Jeli." Darka tersenyum menenangkan. "Gue gak tau apa yang sebenernya terjadi, tapi yang perlu lo tau adalah gue selalu ada dipihak lo."
Lita berusaha menahan diri untuk tidak menunjukan sisi lemahnya. Darka sudah terlalu banyak melihat, tapi kenapa pemuda itu tidak juga kunjung pergi dan malah tetap berada dipihaknya?
Gadis itu pada akhirnya hanya mengangguk. Darka rasanya ingin sekali mengggenggam tangan Lita, tapi takut-takut jika Lita pingsan.
Darka membiarkan Lita berbaring di tempat tidur UKS. Ia berusaha meyakinkan Lita, sesekali bolos tidak akan merugikannya.
Pemuda itu menatap lembut Lita yang lambat laun tertidur pulas.
"Tidur, Jeli, jangan pikirin apa kata orang-orang yang cuma bisa liat dari satu sisi."
__ADS_1
Sial, Darka semakin larut dalam sisi Lita yang lain dan semakin Darka tahu, semakin ia tidak ingin Lita terpuruk.
***