Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
16. Indah dalam Kelam


__ADS_3

Selalu ada pengganti bahagia yang telah mati


Entah itu benda, atau nyawa


Kalau diriku


Kau pasti tau, bahagiaku dirimu


---


Dalam beberapa kejadian dalam kehidupan, terlalu banyak yang telah dilalui. Ada bahagia, ada kesedihan, ada penyesalan, ada rasa syukur, dan yang lainnya tak bisa dideskripsikan hanya dalam sekedar kata “ada” di awalnya.


Dan sebagian besar hidupnya terisi oleh adiknya, Sifa. Darka selalu bersamanya, dalam keadaan apapun dan adiknya selalu menerimanya apa adanya. Bisa dibilang daripada orang tuanya, Darka lebih dekat dengan Sifa.


Bagi Darka, yang ia alami semua punya rasa. Tapi, ketika ia mengalaminya dan menjalani hidupnya sampai sekarang, pemuda itu dapat menyimpulkan,


Nahwa rasa penyesalanlah yang jauh lebih mendominasi.


Darka memulai cerita masa lalunya, menceritakan segalanya pada Lita. Berawal dari kejadian kala ia berumur empat belas tahun, umur yang masih sangat belia. Sementara adiknya, Sifa Alenandra masih berumur tiga belas tahun.


“Adek gue berada di makam yang waktu itu juga lo kunjungin.” Darka mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. “Dia udah meninggal beberapa tahun yang lalu.”


“Kejadiannya waktu itu gue ngajak adek gue naik mobil. Gue baru belajar nyetir, niatnya mau nunjukin ke adek gue bahwa gue hebat. Tapi yang ada….” Darka mengambil napas, menatap lurus ke depan dengan nanar.


“Kita kecelakaan, dan dia yang gak selamat.”


Lita tertegun, **** bibir. Membiarkan Darka berbicara walau terbata-bata. Dia bisa merasakan betapa Darka berusaha keras menjelaskan semuanya pada Lita. Begitu tahu rasanya ditinggalkan oleh orang tersayang.


“Gue baru tau setelah seminggu kemudian, karena situasi gue saat itu lagi koma.” Darka menyeka air matanya yang mulai jatuh. “Gue belum sempat lihat kondisi adek gue, untuk terakhir kali.”


Darka menunduk, seperti biasa ia lakukan ketika mulai merasa akan menangis. Kehilangan adiknya sangat menorehkan luka dan mengingatnya kembali bagai memberi garam pada luka itu.


“Lo inget waktu pertama kali ke rumah gue, bokap gue nyuruh gue masuk ke dalam rumah? Itu bukan karena gak suka lihat lo,” katanya lebih tenang.


“Dia marahin gue karena berulah di sekolah. Yang sebenarnya bukan keinginan gue juga buat berantem sama bokap, tapi dia ngotot dengan keras kepalanya dia.”


Hatinya kembali meremuk, pikirannya langsung kacau terbayang bagaimana kalimat pedas ayahnya begitu menembus hingga ke dalam hati dan ingatannya.


“Gue udah jadi anak tunggal langsung merasa gak guna jadi anak ayah. Dia sangkut pautin gue sama adek gue. Banding-bandingin gue sama adek gue. Karena cuma adek gue yang menurut dia paling bisa dibanggakan, gue cuma anak buangan.” Darka menelan ludahnya kasar. "Gue nakal. Bodohnya, gue ajakin adik gue untuk jatuh ke lubang yang sama. Bego, emang."


Hati Lita langsung mencelos seperti jatuh ke dasar yang paling menyakitkan mendengar cerita Darka. Ayah yang seharusnya menjadi sosok yang ia banggakan, menjadi sosok yang paling membuatnya tak merasa bangga.


Pada dirinya sendiri.


Lita menghapus air matanya kasar. Air mata itu sudah menggenang sejak tadi dalam diamnya. Berbeda dengan Darka yang sampai terisak-isak. Atap ini begitu sepi.


Setidaknya Darka aman meluapkan emosinya selama berada di atap sekolah itu.


Lita mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya, mengulurkan sapu tangan itu pada Darka. Darka menoleh, melihat mata sembab Lita yang ternyata ikut menangisi ceritanya yang begitu memilukan dan juga sapu tangan yang dipegang Darka.


“Maaf,” cicit Lita pelan. “Gue gak bermaksud untuk—”


“Gapapa kok,” sela Darka cepat. “Gue emang pengen berbagi juga sama lo. Gue merasa emang harus cerita ke elo, bukan ke orang lain,” kata Darka lagi, menerima sapu tangan itu sembari tersenyum simpul.


Lita **** bibir sejenak. Merasa bersyukur kalau pemuda itu tak merasa merugi memberitahukan keluh kesahnya pada Lita.


Tapi tetap saja, ada rasa penasaran yang masih mengganjal di dalam hati Lita.


Apa itu ada hubungannya dengan hantu yang ia lihat? Entahlah.


****


Darka memasuki rumah dengan tenang. Tubuhnya serasa meringan seolah beban dalam pikiran maupun tubuhnya telah berkurang begitu saja.


Dia tidak tahu kalau ternyata bercerita dengan orang lain akan membuatnya merasa lebih baik. Apalagi dia bercerita dengan Lita. Gadis yang baru saja melabeli dirinya sendiri sebagai teman Darka.


“Kenapa pulang sore banget?”


Suara ayahnya yang terdengar dari ruang tv membuat langkah Darka yang berjalan menuju kamar menjadi terhenti. Ia tak berniat menolehkan kepala, memandang sang Ayah.


“Jam pulang sekolah itu dari sejam yang lalu dan kamu baru pulang jam segini,” kata Ayah begitu dingin. Memperbaiki kacamata bulat yang menutupi mata bulat khas milik pria paruh baya itu.


“Tadi habis main dari rumah Anwar.”


“Main mulu belajar nggak,” kata ayah remeh. “Kamu tuh kapan pinternya kalau kerja kamu main aja, hah? Malu-maluin keluarga aja kamu.”

__ADS_1


“Mau ayah apa? Darka mengurung diri di kamar terus belajar sampe mampus, gituh?”


"Kalau ayah bilang iya, apa kamu akan menurutinya?" tanya ayah, membuat Darka kehabisan kata-kata karena barusan dia hanya bercanda. Ayah tersenyum sinis melihatnya. "Udah sini duduk, jangan keras kepala."


Darka melipat tangan di depan dada. "Mau ngapain?"


"Duduk. Atau ayah potong uang jajan kamu," balas ayah dengan mata mengancam dan mau tau mau Darka duduk di sebelah ayahnya.


"Mau apa?" tanya Darka ketus. Merasa panas sendiri entah kenapa.


"Kamu di sekolah ngapain aja?" tanya Ayah langsung.


Darka langsung memutar bola mata dan segera bangkit untuk pergi. "Kalau ayah mau ngomong—"


"Ayah sayang sama kamu, Hitam!"


Tubuh Darka mematung. Matanya membulat dan badannya berbalik menatap ayahnya dengan mulut menganga. "Ayah homo?!" pekiknya sambil menutup mulut.


Ayah mendesis, langsung menarik baju Darka dan membuat anak laki-lakinya itu terpaksa duduk lagi disebelahnya. Darka langsung bergerak menjauh, membuat ayah mengumpat tanpa suara.


"Anak siapa sih kamu?"


"Anaknya Joe Taslim dong," jawab Darka percaya diri, dengan enteng.


Ayah menjitak kepala Darka dengan sekuat tenaga. Darka mendengus sambil meringis.


"Kalau bukan ayah, udah Darka piting itu leher. Euh," gemas Darka sambil memegang bagian dari kepalanya yang sakit.


Ayah tertawa meremehkan. "Jangan gitu, dosa. Kamu mau masuk neraka?"


"Itu pertanyaan yang sangat retorik, ayah."


"Kamu ayah namain Darka. Pengen tau alasannya?" tanya ayah tiba-tiba, membuat atmosfer di sana serius dan membuat Darka ikut serius.


"Kenapa?" tanya Darka refleks.


"Dark. Itu dari bahasa Inggris yang artinya gelap. Gelap berarti hitam. Ayah suka hitam dan hitam adalah kebahagiaan ayah. Nggak mungkin kan ayah namain kamu black atau dark doang?" Ayah tertawa. "Makanya ayah namain Darka. Supaya ayah bisa bahagia dan kamu sumbernya."


Darka benar-benar baru tahu hal ini dan sangat terkejut saat mengetahuinya.


"Tapi, kamu rupanya bukan kebahagiaan ayah." Ayah menatap mata Darka dan Darka amat terpukul dengan kata-katanya. "Kamu justru merenggut kebahagiaan ayah. Kamu mengecewakan dan ayah kecewa sama kamu."


Ayah menggangguk kecil. "Jangan sampai ayah ngulang bicara ini lagi. Belajar yang bener, jangan kecewakan kita lagi. Adikmu bisa benar-benar sedih."


"Ah, iya, Darka ngerti," tukas Darka masih datar. Ia tak sanggup membayangkan adiknya dan tuntutan-tuntutan setelah adiknya itu pergi.


Dirinya harus pintar-lah, sopan-lah, sukses-lah, dan dia terpaksa mengubur mimpinya demi semua itu.


Darka tak bisa, tak mampu dan lelah.


"Jangan ngerti-ngerti, tapi nggak dilaksanakan. Sekali lagi nilai-nilaimu buruk, ayah nggak akan segan-segan untuk menghukummu."


"Iya, iya," balas Darka sambil bangkit dengan lunglai.


Ayah yang melihatnya begitu, langsung emosi dan menendang bokong anaknya itu hingga Darka tersungkur ke depan, lututnya  menghantam lantai dengan keras.


"AAA IBU, AYAH MAU MERKOSA DARKA!" teriak Darka emosi, terlanjur begitu karena kesakitan akan siksaan ayah.


“DARKA!” teriak ayah tak habis pikir.


Sang Ibu muncul dari dapur sebab teriakan bariton itu, melihat kedua laki-laki yang ia sayangi secara bergantian.


“Ayah! Jangan pake kekerasan juga!” pekik Ibu tak bisa menahan diri lagi akibat ulah suaminya itu. Lalu beralih menatap Darka. “Nak kamu—”


Darka langsung berjalan cepat, meninggalkan Ibu yang belum sempat menyelesaikan ucapannya. Pemuda itu berbelok menuju kamarnya, membanting pintu kamar itu begitu kuat sampai membuat Ibu terkejut.


Darka mengunci pintu kamar, mengabaikan teriakan frustasi ayahnya. Ia mengambil earphone dari tasnya beserta hp di sana.


Buru-buru pemuda itu memasang earphone setelah memutar musik yang ia pilih secara acak, menekan tombol volume sampai full. Berharap dengan caranya ini dia tak mendengar Ayah dan Ibunya kembali berdebat perihal dirinya.


Mata pemuda itu memerah, kali ini menahan tangisnya. Sudah cukup tadi dia menangis hingga sesegukan. Untuk saat ini, ia tidak mau.


Pemuda itu lalu merebahkan diri. Sesaat dia mengingat satu nama, yang mungkin bisa menjadi tempatnya untuk meluapkan segala emosinya.


Sepertinya, pemuda itu akan pergi lagi malam ini.

__ADS_1


***


Lita mendorong pintu minimarket pelan, tersenyum sebentar pada penjaga kasir. Ia berjalan menuju rak tempat pop mie, seperti biasa.


“Selamat malam, Jelita,” sapa si penjaga kasir. Lita terhenti, mengangkat alis menatap si penjaga kasir itu. Tumben sekali menyapanya.


“Tuh, udah ditungguin sama masnya.”


“H—hah?”


Lita menggerakkan kepala kearah tempat yang biasa ia duduki. Dia melebarkan mata, melihat seorang pemuda berkaos oblong biru muda sedang sibuk menunduk memainkan hape. Di meja sudah ada dua cup pop mie dan juga dua botol air mineral dingin.


Lita berjalan mendekati pemuda itu, menendang kursi yang diduduki Darka. Sampai membuat Darka terlonjak kaget.


“Ngapain lo disini?” tanya Lita tajam.


Darka tersenyum sumringah, matanya mengerjap-ngerjap agar tampak terlihat lucu. “Hai, Okky jelly drink,” sapa Darka seramah mungkin. “Ternyata tidak sia-sia, ya, aku datang kemari untuk menemuimu,” katanya secara berlebihan.


“Bacot.”


Tawa Darka langsung meledak. “Udah duduk dulu yaelah galak amat,” ujar Darka menunjuk kursi di sebelahnya.


Kursi yang seharusnya diduduki si hantu minimarket yang biasa menemani Lita setiap datang kemari.


Lita mengedarkan pandangan ke sekitar minimarket. Gadis itu tersentak pelan, merasa pundaknya tengah disentuh.


“Selaw, ae. Hari ini ditemenin sama cogan dulu, aku mau kencan sama gebetan," kata hantu itu sambil cekikikan.


Darka mendelik, menatap Lita curiga.


“Kenapa lo? Ada hantu nih pasti disini. Ya kan? Ya kan?” tanya Darka panik.


“Enggak, enggak.” Lita mendudukkan diri di kursi. “Tadi ada nyamuk.”


“Ini pop mie nya satu buat gue kan? Gue makan ya,” tukasnya mengalihkan perhatian Darka.


“Iya. Buat lo,” ujar Darka acuh. Ikut memakan pop mie nya juga.


“Gue itu lagi sama bokap,” ucap Darka tiba-tiba. Lita membuka tutup botol air mineralnya lalu meminum air itu. Tak menyela pemuda itu bicara.


“Cuma masalah pulang telat, dibesar-besarin sampe bawa-bawa adek gue,” kata Darka jadi bercerita. “Bisaan banget cari perkara ama gue.”


Lita mendengus kasar, “Lo tau kenapa gue tiap malem selalu kesini?” tanya Lita random. Darka mengerutkan dahi, reaksi atas pertanyaan Lita.


“Gue gak betah ketemu bokap gue.”


Darka melebarkan mata, “Lo juga bermasalah sama bokap lo?” tanya Darka memekik tertahan. “Kok bisa?”


Lita mengangkat bahu, “Sejak nyokap meninggal, kita berdua sama-sama kacau,” katanya menyudahi. Kembali meneguk air pada botol air mineral, berusaha menenangkan diri agar tidak menggebu-gebu bercerita soal keburukan ayahnya.


“Samaan mulu kita,” tawa Darka pelan, “Sama-sama mengenaskan.”


Lita tertawa sinis. “Makanya gue ngerasa gak sendiri.”


“Maksud lo?”


“Gue punya alasan buat bertahan hidup,” kata gadis itu menatap mata Darka secara tulus. “Itu lo.”


“Gue?” tanya Darka sembari menunjuk dirinya. Lita mengangguk sembari tersenyum tulus.


“Setidaknya dengan ngerasain semangat lo buat terus bertahan, membuat gue merasa harus hidup dengan semangat juga,” kata Lita jujur.


Lita mengatakannya penuh ketulusan dan itu dapat dirasakan oleh Darka. Darka tentu saja senang bukan main.


Ada rasa penyesalan yang tak bisa ia hapus, mungkin saja seumur hidup tak bisa ia hilangkan. Namun, ada rasa bahagia yang baru, dengan harapan kelak menutupi rasa penyesalannya itu.


Rasa bahagia.


Bahagia telah membuat gadis di depannya seolah merasakan kehidupan. Dari cerita yang ia alami, tanpa harus menjadi pelaku dalam cerita kelam yang ia perankan.


Gadis itu bisa merasakan segala penyesalannya. Dan dia bersyukur akan hal itu.


“Terimakasih udah membuat gue merasa lebih baik, Lita. Senang bisa menjadi bagian dari alasan kehidupan lo.”


Pada malam itu, ditemani sinar rembulan dan juga bintang yang menghiasi langit sepekat malam, kedua orang itu saling terhubung satu sama lain. Diam-diam berterimakasih kepada Tuhan karena dipertemukan di hari-hari yang lalu demi bisa saling menguatkan.

__ADS_1


***


Happy Sunday!


__ADS_2