Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
22. Ancaman Tak Bisa Bersama


__ADS_3

Akan kupakai hidupku tuk bahagiamu


Aku tak diajarkan orang tua untuk menjadi egois, tenang saja


---


“Lit, kok muka lo pucet banget sih?”


Anna–yang menyadari keadaan Lita sebelum Lita sendiri–menegurnya. Wajah Lita hampir seputih mayat, bibirnya sudah tak lagi merah, dan tampaknya Lita berkeringat dingin.


“Eh iya?” Lita menyentuh wajahnya sendiri, ia nyaris tak menyadari perubahan apapun.


“Tuh, lo sakit!” Anna menunjuk tangan Lita yang berkeringat dan memeriksa panas di dahinya sekilas. “Izin aja deh hari ini gimana? Lo udah setengah hari ini kok.”


Lita menggeleng keras. “Nggak deh, Ann. Gue gak–” tubuh Lita mulai oleng, gadis itu segera bersandar pada tembok ruang ganti. Pinggangnya berdenyut pelan, membuat Lita meringis sambil mencengkram kostumnya. Anna dengan sigap mengambil bangku.


“Nah kan lo sih maksa! Udah, udah gue panggil kak Mia dulu!” Anna membantu Lita duduk dan segera memanggil Mia agar mendapat izin untuk memulangkan Lita. Anna tahu gadis itu sudah terlihat tidak sehat sejak pertama datang hari ini.


Tak lama, Mia datang dengan terpogoh-pogoh bersama Anna. “Lita gak apa-apa? Pulang aja ya?”


“Eh ini cuma sakit biasa–”


“Duh siapa ya yang bisa anter?” Mia tidak mendengarkan dan melihat sekelilingnya. “Telepon Darka aja gimana? biar dia anter kamu.”


Lita menggleng cepat, hendak protes lagi. Tetapi Anna yang mengetahui kode ponsel Lita segera menelepon Darka sementara Lita hanya pasrah di tempat duduknya, sudah tidak memiliki tenaga lagi.


“Halo? Darka woy Lita pingsan!”


Lita membelalak. “Anna! Gue kan gak pingsan!”


Anna memberi isyarat agar Lita diam saja. “ADUH WOY ANJIR GIMANA NIH KA? MANA PUCET BANGET! JEMPUT DONG!”


Lita dapat mendenger suara Darka yang berteriak di sebrang sana lewat ponsel dalam genggaman Anna. “MELUNCUURRR!”


Lita menghela napas.


***


Darka menganga saat yang ditemuinya malah sedang duduk minum teh di ruang rias. Kaki pemuda itu seolah berubah menjadi jeli, lemas dan jatuh ke lantai begitu saja.


“Lo pake kecepatan cahaya ke sini?” Lita terheran-heran. Jarak dari tempat kerjanya ke rumah Lita saja 1 kilometer, butuh sekiranya 30-40 menit, sementara Darka yang lebih jauh lagi malah sampai dalam 15 menit.


“GILA! GUE PIKIR LO KENAPA-NAPA JELI! LO GAK TAU GUE HAMPIR DI KEJAR POLISI GARA-GARA NGEBUT, HAH?!”


Lita terkejut dengan semprotan Darka yang ngegas. Sementara Siska, Anna, dan Gio yang merupakan dalang kompor tertawa cekikikan. Darka menahan emosinya yang hampir meluap, seolah rasa khawatirnya sedang dipermainkan.


“Ya maaf, tadi Anna yang kasih tau gue pingsan, tapi gue gak apa-apa kok.” Lita menunduk dengan bibir mengkerucut yang malah membuat Darka gemas dan tak jadi marah.


“Bohong tuh, Ka. Tadi si Lita mual-mual,” celetuk Bagas.


Darka menghela napas dan mengambil termometer yang digunakan Mia untuk memeriksa panas Lita sebelum ia datang.


“Hm tapi beneran panas. Baju lo juga basah karna keringet dingin.” Darka kini menatap khawatir. “Ayo pulang, Jel.”


Disertai sorakan para jomblo dan jomblowati rumah hantu, Darka menuntun Lita keluar dan memastikan gadis itu sudah berpegangan erat diatas motornya. Mereka segera berkendara menuju rumah Lita.


Tanpa menyadari bahwa ada hantu anak perempuan sedang memperhatikan mereka dari jauh. Mengawasi setiap langkah yang di lalui motor Darka dengan binar mata yang menyala, seolah ia seorang manusia yang masih hidup. Mata yang sangat mirip dengan mata Darka.


***


Lita memutuskan untuk mengunjungi dokter beberapa hari setelahnya. Dengan bujukan Darka tentu saja. Tapi Lita merahasiakan kedatangannya ke rumah sakit hari ini dari Darka.


Juga, Ayahnya.


Alasannya? Gadis itu mulai takut dengan hasil yang akan ia terima. Sakit di pinggang, mudah lelah, dan muntah-muntah mulai terus di alami Lita belakangan ini memang membuat Lita jadi sedikit takut.


Lita tidak pernah menyukai rumah sakit. Bau obat, suara bising meja administrasi, sampai koridor panjang tempat berlalu lalang, di setiap sudutnya ia bisa melihat ‘mereka.’ Sejak Lita menginjakkan kaki di rumah sakit, perasaannya sudah tak enak.


Proses yang dilalui Lita untuk mendapatkan hasil juga tidak semudah yang ia pikirkan. Ia bahkan harus menjalani tes urine.


Sampai akhirnya dokternya memberikannya sebuah amplop berisi surat vonis. Dunia Lita hampir runtuh ketika membaca kalimat yang tertera di sana.


“Kamu masih muda, Jelita. Meskipun kecil kemungkinannya, ini baru awal. Dan kamu masih bisa sembuh.” Dokter Lita menyemangati. Namun tak ada tanggapan dari Lita. Gadis itu hanya menggumamkan kata ‘terima kasih, permisi’ dan pergi begitu saja.


Lita melangkah lebih cepat menyusuri koridor rumah sakit. Yang ia inginkan sekarang adalah pulang dan merenungkannya. Tidak, mungkin ia akan menangis, Lita tidak akan tahu harus berbuat apa. Dunianya baru saja berwarna setelah Darka menyatakan perasaannya.


Kenapa harus sekarang?


Kenapa harus ketika dirinya sudah menemukan Darka?


“Kak, aku mau minta bantuan!"


Lita terkejut dan langsung berhenti melangkah saat tiba-tiba ada arwah yang muncul di depannya.


***


"Kamu kenapa bohongi aku? Kamu meragukan cintaku?" tanya lelaki itu dengan raut wajah kecewa yang amat dalam.


Perempuan yang menjadi lawan mainnya itu menangis kecil, namun sarat akan sakit yang menyayat hati. "Bukan, begitu! Aku cinta padamu, tapi kamu nggak seharusnya mencintai diriku! Aku cacat!"


"Masa bodo, aku tak akan menyerahkan padamu, cintaku!"


Dua orang yang peran di atas panggung itu berpelukan, saling menangis dan mencintai. Menyuguhkan akhir bahagia, menunjukkan cinta sejati yang terjalin di antara mereka.


Suara tepuk tangan langsung menggema di ruang pentas teater itu. Lita dan Darka bersama Anwar, Sandi serta Putra menjadi salah satu penontonnya.


Darka bergabung dengan sebuah komunitas teater dan hari ini ada pertunjukan teater. Tentu ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengajak Lita untuk menonton.


Namun yang dilihatnya perempuan itu justru memasang tatapan kosong dengan wajah memucat. Padahal Darka berusaha untuk menunjukkan hal yang ia sukai pada Lita.


Teater dan dunia akting.


"Je, lo oke kan?" tanya Darka khawatir. "Btw, gue akan tampil Minggu depan. Lo mau nonton kan? Asli, gue akan maksa buat lo nonton."


Click!


“Eh?”

__ADS_1


Lita mengerjap ketika Darka menjetikkan jarinya di depan matanya. Pemuda itu menatapnya dengan bibir mengerucut kesal. “Jeli, denger nggak sih dari tadi gua ngomong apa?”


“I-iya. Jadi lo gabung ke komunitas teater belakangan ini dan seminggu lagi pentas perdananya kan?” Lita segera kembali memperhatikan Darka.


“Iya!” Darka tersenyum bak anak kecil. “Cita-cita gue sejak dulu itu jadi aktor, terus punya gedung teater gue sendiri. Tapi Ayah gue gak pernah setuju gue jadi aktor. Cuma ini yang bisa gue lakuin supaya bisa terus di dunia akting.” Darka menghela napas dan bersandar pada sofa di rumah Anwar.


Iya, Sandi, Putra, dan Anwar sudah menyingkir sejak tadi demi menghindari sejoli ini daripada harus makan hati karna menerima kenyataan pahit masih sendiri.


“Dateng ya Lita ke pentas drama gue? Please? Masa lo gak mau liat gue lagi ganteng-gantengnya pake kostum pangeran?”


Lita kini tersenyum tipis. “Iya, gue pasti dateng. Lo harus inget kalau gue bakalan terus dukung lo, oke?” kini gadis itu menatapnya dalam-dalam, memberikan Darka semua dukungannnya dalam satu waktu.


Lita memberikan Darka keberanian untuk tetap maju melangkah meski artinya harus membantah apa yang diinginkan orang tuanya. Masa bodo, Darka mau mengejar impiannya. Lita harus disana, melihat Darka sukses dengan mimpi-mimpinya.


Sementara Lita harus sadar bahwa waktunya tak banyak. Dia hanya punya satu bulan sampai ulang tahun Darka.


Ya, ini akan jadi langkah terakhir Lita untuk melakukan sesuatu yang mungkin dapat merubah dunia Darka.


Lita teringat kembali apa yang di katakan hantu itu tempo hari di rumah sakit. Oh, bukan. Arwah adik Darka. Lebih tepatnya adik kembar.


“Satu bulan lagu. Tepat ketika ulang tahun Darka, kamu mau bantu kan Kak?”


“Bantu apa?”


“Biarkan aku … pinjam tubuh Kakak. Aku ingin Kak Darka nggak lagi hidup dihantui rasa bersalah. Ini buat aku nggak tenang! Tolong, Kak, ini demi Darka!”


“Jadi Darka–?”


“Kak Darka nggak pernah bunuh siapapun. Dia cuma nyalahin diri dia sendiri. Bantu aku jelasin sekali lagi semuanya ke Kak Darka, cuma Kakak yang bisa.”


Lita menggigit bibirnya. Ini berbahaya. Tubuh Lita tidak pernah sekuat anak-anak lain. Tubuhnya jauh lebih lemah. Lalu vonis penyakit yang dideritanya … Lita akan semakin melemah setiap harinya. Ini adalah peringatan yang pernah diberi tahukan Ibunya.


Tapi kalau ini dapat merubah hidup Darka maka …


“Oke. Aku akan bantu kamu. Demi Darka.”


***


“Jeli! Jeli! Okki jeli drink!”


“Ih Darka ngeselin banget deh!”


Lita kesal sendiri sementara Darka berlari dari kejaran Lita sambil tertawa puas. Malam ini keduanya menikmati udara malam di taman hiburan setelah Lita selesai dengan pekerjaannya. Padahal sudah terlalu larut, tapi Darka tetap ingin bermain ke sana.


Memang tidak ada yang bisa menghentikan pemuda itu jika dia susah bersi keras.


Akhir-akhir ini tubuh Lita memang mulai lebih sering lelah. Berlari sebentar saja sudah membuat Lita kehabisan napas. Gadis itu menyerah mengejar Darka dan memilih duduk di bangku taman.


“Yah! Jelinya capek! Huuu lemah banget,” ledek Darka yang tidak dipedulikan oleh Lita. Ia mendengus ketika Darka ikut duduk di sampingnya.


“Darka Samudra, emang jagonya bikin orang emosi.”


“Tapi sayang kan?”


Lita segera berupura-pura muntah mendengar kalimat Darka, membuat pemuda itu melotot. Memangnya dia hama bau? Enak saja, seandainya Lita tahu berapa gadis yang akan mengantri untuk Darka. Eh, kalau cewe seperti Lita sih, dia mana peduli.


Tak sampai lima menit, Darka kembali dengan dua cone es krim coklat dan vanila. Darka memberikan rasa vanila untuk Lita.


“Kok lo tau gue suka es krim vanila?” Lita mengerutkan keningnya sambil menerima es krim dari Darka.


“Apa sih yang Darka Samudra gak tau?” tanyanya dengan sombong. Padahal Darka itu semua karna Darka pernah bertanya kesukaan Lita pada teman-teman kerjanya di rumah hantu.


Lita memilih untuk tidak menanggapi dan mulai menikmati es krimnya. Sampai ketika Darka mendekatkan wajahnya pada wajah Lita.


“Belepotan tuh, kaya anak kecil deh.”


“Hm?”


Lita diam sejenak. Setelah sadar, ia segera mengusap kasar bibirnya agar tidak ada satupun bekas es krim. Darka tersenyum miring dengan puas ketika mendapatkan wajah Lita yang memerah bak kepiting rebus.


Mereka tak menyadari, seseorang berdiri tak jauh dari mereka, dengan ponsel yang tegak diarahkan pada Darka dan Lita.


-


Bel sekolah bahkan belum berbunyi, tapi Lita sudah mendapat tatapan sinis dan bisikan-bisikan di sepanjang koridor yang lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya. Perasaan buruk menyelimuti Lita.


Notifikasi ponselnya terus menyala. Banyak nomor tak dikenal mengirimkan foto pada Lita yang belum gadis itu lihat. Tapi notifikasi teratas di ponselnya sekarang adalah nomor Darka.


Darka : jangan buka medsos apapun hari ini.


Kenapa? Apa yang terjadi? Lita bertanya-tanya ketika tiba-tiba notifikasi dari Tia muncul. Lita menelan ludahnya dan membuka foto dari Tia.


Tia : Lit … ini serius lo sama Darka?


Tia sent a picture.


Jantung Lita hampir mencelus ke perut melihat foto yang dikirimkan Tia. Sejak kapan ia dan Darka berciuman?!


Siapa orang yang mengirimkan ini? Lagipula, editan macam apa ini? Kenapa semua orang percaya? Perasaan panik bergemuruh di dadanya hingga Lita tidak tau apa yang harus ia lakukan.


Tia : Lit, lo gak apa-apa kan?


Tia : kalau gak kuat jangan buka medsos apapun hari ini


Sementara dibalik pesan-pesan dan bisikan-bisikan rumor yang meluas itu, seseorang tersenyum puas dengan hasil yang ia terima. Gadis di belakangnya bertepuk tangan pelan.


“Gila, lo jahat banget. Tapi ini brilian.”


“Ya, kita liat aja gimana cara Darka nyelesaiin masalah ini. Biar dia sadar gimana rasanya dipermalukan.”


-


Sekali ada kabar burung yang tak jelas, kabar lainnya akan ikut terbawa. Orang-orang lebih menyukainya lagi jika kabar itu dilebih-lebihkan sampai sangat menyimpang dari kenyataannya sebenarnya.


Darka dan Lita merasakannya sekarang. Dari hanya foto editan ciuman dirinya dan Darka yang ia yakin diambil ketika mereka pergi ke taman hiburan semalam, rumor itu menjadi semakin menyimpang.


Apa kata mereka? Berhubungan badan?

__ADS_1


Darka mengepalkan tangannya. Apa mereka pikir Lita begitu mudah? Lita bukan gadis yang akan melemparkan dirinya sendiri pada sembarang orang.


BRAK! Darka menggebrak mejanya ketika mendengar suara bisikan yang semakin mengeras dan menyimpang soalnya dan Lita.


“Tenang Dar, jangan di dengerin.” Sandi mengelus pundak Darka.


Anwar dan Putra yang masih setia di sisi Darka ikut mengangguk. “Lo tenang aja, lo masih ada kita,” kata Putra dramatis.


“Darka, disenyumin aja ambyar sama Lita, ini lagi ehem-ehem,” celetuk Anwar yang membuat Putra dan Sandi melotot karna waktunya sangat tak tepat.


Suasana serius beru saja mencair, tiba-tiba ketua kelas Darka masuk da  membisikkan sesuatu pada Darka. Pemuda itu menghela napas kasar dan bangkit dari kursinya.


“Ehh, eh mau kemana, Ka?” Anwar bertanya namun Darka tak menjawab dan berlari menuruni tangga. Langkahnya berhenti ketika menemukan Lita sedang berdiri di depan ruang kesiswaan.


Mereka saling menatap sekilas. Lita tersenyum menenangkan dan mengagguk. Mereka harus menghadapinya panggilan kesiswaan bersama untuk menyelesaikannya. Darka bergerak lebih dulu masuk seolah ingin melindungi Lita di balik punggungnya, kemudian pintu ruang kesiswaan ditutup.


-


PLAK!


“Saya gak pernah ajarin kamu buat bertindak tidak senonoh, Darka!”


“Udah, berhenti!” Ibu Darka segera memeluk Darka sambil mengelus kepalanya agar tidak lagi terkena tamparan untuk ketiga kalinya. Bibir Darka sudah robek, darah yang mengucur membuat hati Ibu Darka terluka.


“Kamu belain dia?! Anak kamu ini udah malu-maluin satu keluarga!”


“Darka udah bilang kalau dia gak ngelakuin itu, kenapa sih kamu gak percaya?! Dia anak aku, dan aku tau kapan Darka jujur atau bohong!”


“Mana ada maling yang ngaku!”


“Sekolah bahkan bilang kalau mereka akan menyelediki kasusnya selama satu minggu, kenapa kamu gak tunggu aja sih?!”


“Kalau gitu Darka dikurung di kamarnya selama satu minggu!”


Darka yang sebelumnya hanya bisa diam mendengarkan seketika membelalak. Ia segera melepaskan diri dari perlindungan Ibunya dan menatap tajam Ayahnya. Tidak bisa. Lita pasti akan di bully, gadis itu kemarin saja sudah menghindarinya terus-terusan, tak membiarkan Darka berbicara atau setidaknya menenangkannya.


Apa yang akan terjadi jika Lita di bully dan Darka tidak ada di sana?


“Darka harus masuk pah! Aku gak bisa–”


PLAK! Tamparan selanjutnya datang menyusul. Ibunya menangis melihat Darka menjadi kacau.


“Sudah bertindak memalukan, masih berani ya kamu membantah saya Darka? MASUK KAMU KE KAMAR SEKARANG!”


Suara bentakan yang begitu keras itu seolah menginjak tekad Darka bak semut kecil yang mati. Pemuda itu melemparkan tatapan sengit yang dibalas dengan tatapan bengis dan menyeret langkahnya menuju kamar.


Namun Darka secepatnya segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor Sandi.


-


Pagi Lita disambut dengan kulit pisang, sampah plastik yang masih ada minumannya, sampai bekas makanan yang sudah berjamur di lokernya.


“Baunya busuk banget, sesuai orangnya haha.”


“Gara-gara dia Darka jadi kehilangan fans-fansnya yang berubah jadi haters.”


“Apaan sih kok masih berani nunjukin muka?”


“Gak punya malu ya?”


“Darka bayar berapa ya?”


“Hah? Yang ada dia yang ngasih secara cuma-cuma!”


“Haha! Sam–”


“SAMPAH.”


Lita yang terus menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya. Sandi, Anwar, dan Putra kini sedang menatapnya sambil tersenyum. Putra mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat.


Suasana mendadak hening ketika ketiganya datang. Bahkan orang-orang dari kelas lain ikut mengintip penasaran.


“Orang yang bisanya cuma ngerendahin orang lain itu sampah.” Anwar bicara lebih keras, melanjutkan kata-katanya yang memotong semua bisikan tadi.


“Aduh! Sampahnya banyak banget!” Putra memekik dramatis. Alih-alih melihat pada loker Lita yang diisi sampah, tatapannya tertuju pada segerombolan orang yang sebelumnya menyindir Lita dengan terang-terangan. Mereka langsung bungkam.


“Kenapa kok diem?” tantang Anwar.


“Kalian gak perlu gini–” Lita yang hendak menarik ujung baju Anwar ditahan oleh Sandi. Pemuda itu tersenyum tipis.


“Darka gak bakal masuk sekolah selama seminggu, lo cukup diem dan biarin kita yang urus, oke? Ini permintaan Darka.”


Lita menggigit bibirnya. Dadanya semakin sesak karna rasa bersalah yang tidak seharusnya Lita rasakan. Ini bukan salahnya, pun bukan pula Darka.


“Ka-kalian ngapain sih belain tu cewe? Gara-gara dia kan repurtasinya hancur?” Grace, salah satu yang memulai kompor duluan mengibaskan rambutnya dan melangkah maju meski sebenarnya gentar.


“Oh, bukannya salah lo?”


Kalimat Anwar membuat keadaan kembali gaduh. Grace kini sudah menunjukkan wajah yang merah karna menahan emosi.


“Udah-udah, jangan ribut gini dong ini kan sekolah.”


“Yah, ini lagi tukang lipstik,” cemooh Putra pelan.


Tia muncul entah dari mana dan menarik Grace mundur. “Kita belum tau foto Darka Lita itu bener atau enggak, jadi gue harap gak ada lagi yang bikin rumor gak enak. Sekolah juga udah mutusin kalau ini akan diselidiki sampai seminggu ke depan, gue–”


“Lo diem.”


Tia otomatis bungkam karna terkejut ketika Sandi memenggal kalimatnya dan menatap Tia dengan tajam. Suaranya yang terdengar marah menyita perhatian banyak orang di koridor. Keadaan semakin tegang dengan tatapan Tia yang berubah menjadi gelap dan bibir yang tertarik ke bawah.


“Eh ada apa nih! Hei-hei masuk ke kelas masing-masing jangan ngumpul di koridor!” guru pengawas datang sebelum Lita sempat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Semuanya bubar dari koridor. Anwar, Putra dan Sandi membantu Lita membersihkan lokernya yang penuh sampah.


“Lo tenang aja Lita, kita percaya sama lo.” Anwar tersenyum tipis, memberikan Lita sedikit ketenangan dan juga rasa bahagia karna masih ada yang percaya padanya dan Darka.


Meski hatinya gundah ketika memikirkan Darka yang harus menerima hukuman dari Ayahnya dan dikurung selama satu minggu.

__ADS_1


“Darka, maaf.”


__ADS_2