
Ketika telah percaya, telah dekat, telah penasaran
Segala hal terbuka
---
Lita menyandarkan diri di kursi, melipat kedua tangannya di dada seraya merenung sejenak. Mengabaikan pop mie-nya yang sedari tadi tak ia sentuh. Kemudian, ia merutuk kecil, merasa bodoh sendiri.
“Gue kok bego banget sih,” gumamnya sambil menghembuskan napas kasar. Dia jadi teringat akan pesan ibunya ketika masih hidup, kemudian merasa menyesal.
“Jangan kasih tau kekuatan kamu ini ke siapa-siapa ya.”
“Emang kenapa, Bu?” tanya Lita kecil, yang baru saja diberitahu oleh ibunya mengenai keistimewaannya.
“Ibu takut pas orang-orang tahu kekuatan kamu, mereka jadi memandang kamu aneh,” kata Ibu. “Belum lagi sama orang-orang yang manfaatin kekuatan kamu untuk hal-hal yang nggak baik. Bahaya, Lita.”
Gadis itu meracau pelan, memukul pelan kepalanya sendiri. “Sinting, sinting, sinting.”
Lita merasa bersalah telah ingkar janji pada ibunya.
“Kalau si Darka itu bocor gimana? Kalau dia manfaatin gue gimana coba hah? Bisa mati gue,” lanjutnya sembari mengusap-usap wajahnya kasar.
“Ck ck ck. Baru kali ini aku lihat seorang gadis tak bergairah hidup merengut tidak jelas.”
Lita menatap ke depan. Si hantu minimarket itu memandang Lita prihatin, menopang dagunya sambil menggelengkan kepala kecil. Hantu itu sudah ada sejak Lita masuk ke dalam minimarket dan menyeduh pop mie nya.
“Diem lo,” ucap Lita pelan namun ketus. “Gue gak minta lo buat komentar,” lanjutnya sambil meraih pop mie yang mulai dingin lalu memakannya.
“Ihh aku kan gak ngomong sama kamu.” Balas hantu itu tidak kalah ketus. Mengikuti gaya duduk Lita, terus memandangi wajah gadis di depannya. Tampak gelisah memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi ke depannya.
“Kamu pasti kepikiran cowok yang kemarin ya?” tanya hantu itu.
Lita mengangguk, “Gue keceplosan bilang kalo bisa lihat hantu.” Jawabnya tanpa menatap hantu itu. Fokus pada makanannya karena perut yang sedari tadi meronta-ronta minta makan.
“Serius?” pekik hantu itu, tak percaya apa yang ia dengar barusan.
Pasalnya ini Jelita Geanessa, yang bahkan untuk akrab dengan orang saja susahnya minta ampun. Akrab dengan si hantu ini saja hantu tersebut harus bekerja keras. Untung saja si hantu ini ramah. Terlebih setelah ia memberitahu tentang Darka, hantu tersebut merasa berjasa dalam hidup Lita.
Hantu itu kemudian tersenyum miring. “Kamu mau tahu sesuatu gak?” tanya hantu itu, membuat gerakan Lita yang hendak memasukkan mie itu ke dalam mulutnya menjadi terhenti.
Lita hanya berdehem, melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi. Membiarkan si hantu memberi tahu hal yang ingin ia sampaikan.
“Kayaknya cowok itu gak akan macem-macem deh sama kamu.” Hantu itu mulai menjelaskan. “Justru kalian sekarang makin dekat kan?” tanya Hantu itu menaik-naikkan alisnya.
“Biasa aja.” ujar Lita datar. Hantu itu cekikikan melihat Lita berusaha tenang usai digoda seperti tadi.
“Halah. Kamu bilangnya biasa aja ehh ternyata di dalam hati sudah tumbuh benih-benih cinta aww,” goda hantu itu lagi.
“Gue tonjok juga ya lo.”
“Aku ditonjok. Darka nya juga ditonjok dong,” kata hantu itu tak mau kalah. “Oh iya, gak mungkin juga Darka ditonjok, kan dia istimewa.”
Lita memutar bola matanya malas, “Terserah lo, setan.”
Hantu itu tertawa keras, merasa menang telah menjahili gadis itu. Tak biasanya ia melihat Lita berusaha tenang seperti tadi.
“Kamu tenang aja. Dia gak akan manfaatin kamu kok,” sahut hantu itu berniat menenangkan Lita akan rahasianya yang telah diketahui oleh Darka. “Malahan, kekuatan kamu itu membantu dia.”
“Itu artinya gue dimanfaatin dong,” balas Lita ketus.
“Kagak elah.” Hantu itu kembali berujar, “Dia nggak akan minta kamu, tapi kamu kayaknya yang bakal nawarin diri.”
Lita kemudian terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
“Kamu gak penasaran kenapa aku pernah bilang kalau dia rapuh?”
****
Sejak Lita diberitahu oleh ibunya bahwa ia mempunyai keistimewaan yang membuat dia berbeda dari yang lainnya, semua begitu dirahasiakan serapat mungkin agar tidak ada yang mengetahuinya.
Termasuk ayahnya sendiri.
Bahkan sampai ibunya telah tiada, sekarang pun, Lita tetap diam tak memberitahu.
Ia akan dianggap aneh, mengatakan hal-hal yang tidak wajar tentang makhluk lain. Tidak dikatakan pun dia sudah dianggap aneh dan pengacau karena beberapa dari hantu tersebut sering menganggunya.
Pesta ulang tahun Tia adalah yang terparah. Lita sangat malu hingga merasa tak pantas untuk berteman dengan gadis cantik itu.
Gadis itu memeluk kedua lututnya seraya meletakkan dagunya di atas lututnya itu. Ia telah pulang dari minimarket sejak satu jam yang lalu. Sekarang ia sudah di tempat tidurnya, namun kedua mata hitam legam miliknya belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan hendak tertidur.
Dia masih memikirkan beberapa hal, termasuk perkataan ibunya tentang hantu. Sekali lagi, ia harus mengingat hal yang menyakitkan itu.
__ADS_1
“Kamu mesti inget. Kalau hantu itu kelewat seneng atau kelewat marah, dia bisa bikin angin buatan. Tapi, cuma kamu yang bisa ngerasain angin itu.”
“Kalau anginnya teduh dan sejuk, hantunya lagi senang. Kalau anginnya bikin kamu gak nyaman, berarti dia lagi marah.”
“Berarti, kemaren hantu yang di pesta Tia lagi marah sama gue?” tanya Lita entah pada siapa. Ia jadi teringat kalau angin yang ia rasakan waktu itu sangat membuat dia tidak nyaman.
Lita mengubah posisi nya menjadi duduk bersila, menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal. Menganalisis rentetan kejadian yang ia alami.
“Kenapa gue nggak tau hantu itu siapa?”
Lita bercerita pada hantu minimarket itu kalau dia mengacau di pesta ulang tahun Tia. Ia mengatakan kalau ada hantu yang menganggunya hingga membuat sebuah lukisan terjatuh.
Dan Darka pun menolongnya.
Lita tak tahu hantu itu siapa.
Baru kali ini ia merasa tak bisa menebak siapa hantu itu. Bahkan usai hantu itu mengacau, hantu tersebut menghilang entah kenapa.
Kasus yang ia alami sama seperti Darka. Ia tak bisa membaca masa lalu Darka, ia juga tak bisa menebak siapa hantu yang mengacau di pesta ulang tahun Tia itu.
Lita kemudian merebahkan diri. Matanya lurus menerawang langit-langit kamarnya. Kamar yang minim pencahayaan karena Lita tak suka tidur dalam keadaan lampu menyala. Menarik bantal gulingnya, lalu ia letakkan diatas tubuhnya dan dipeluk.
Pikiran gadis itu kembali teringat akan respon si hantu itu.
“Bisa jadi hantu itu ada hubungannya dengan Darka.”
“Darka ada hubungannya sama hantu? Dia pernah pacaran sama hantu?”
Lita menutup mulutnya, memekik tertahan. Merasa ngeri sendiri jika dugaannya memang benar. Gadis itu langsung mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, menutup wajahnya di bantal. Tak lupa menarik selimut yang berada dibawah kakinya. Lalu membungkus diri seperti berada di dalam karung beras.
Lita sedang merinding. Ada hantu yang memperhatikannya di balik pintu. Membuatnya ketakutan dan memaksakan diri untuk tertidur.
****
Bel istirahat langsung menyadarkan Lita yang sedari tadi menenggelamkan wajahnya di tangan, tak berniat mengikuti pelajaran hari ini. Pelajaran pertama begitu membosankan, itupun karena Lita tidak suka mata pelajarannya dan juga karena ia kurang tidur.
Dia benar-benar tak bisa terlelap, walau hantu itu tak menganggunya lagi. Intinya bukan karena hantu itu sebenarnya.
Tapi karena rapuhnya Darka yang bisa jadi alasannya ada pada seorang hantu.
Lita membenarkan hoodienya, beranjak dari bangkunya, dengan cepat melangkah keluar dari kelasnya.
Dia harus menemui seseorang sekarang.
****
“Gak sudi dia sama manusia ubur-ubur macem lo,” sambung Anwar dan dibalas Putra dengan menoyor kepala pemuda itu.
“Neng Jennie, Abang Sandi padamu, sheyeng,” sambung Sandi lebay.
“Kampungan banget sih lo semua. Kayak gak pernah lihat cewek cantik aja.” Darka menggelengkan kepala kecil, memandangi teman-temannya dengan pandangan prihatin.
Darka tidak sadar bahwa kelakuannya ketika ngefanboy lebih menjijikkan dari ketiga temannya.
Pandangan Darka tak sengaja tertoleh pada pintu kelas, disana tampak seorang gadis berjaket merah sedang mengedarkan pandangan seperti tengah mencari seseorang.
Darka mengangkat tangan lalu melambaikannya agar gadis itu bisa melihat keberadaannya.
“Jeli, Jeli!” panggil pemuda itu pelan.
Sesaat kemudian, Lita melihatnya. Kemudian, gadis itu menggerakkan tangannya, menyuruh cowok itu untuk mendekat padanya.
Darka dengan senang hati beranjak dan mempercepat langkahnya.
“Apa sih neng? Neng kangen ya sama abang?” goda Darka sambil menaikturunkan kedua alisnya bersamaan.
Mata Lita langsung melebar, refleks menabok lengan pemuda itu pelan.
Tiba-tiba Lita terhuyung ke samping, memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
“Jeli.”
Darka juga terkejut, bahkan tangannya terulur ke depan hendak menyentuh gadis itu supaya tak terjatuh. Namun ia urungkan. Darka takut jika ia menyentuh Lita, gadis itu akan semakin pusing.
“Gue gak papa kok,” sela Lita cepat. Masih memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, tapi tak semengerikan tadi. Syukurlah ia tak sampai pingsan.
“Bisa kita ngomong sebentar? Tapi jangan disini.”
*****
Setelah berdebat tentang dimana tempat yang enak untuk mereka bicara, akhirnya Darka pun sepakat mengikuti keinginan Lita untuk bicara di atap.
__ADS_1
Sebenarnya Darka tidak suka berada disini.
Tempatnya sangat sunyi, membuat Darka jadi parno. Terlebih dia sudah tahu kalau Lita ini bisa lihat roh halus.
“Lo serius disini beneran gak ada?” tanya Darka entah sudah berapa kali, memastikan apakah Lita berbohong atau tidak.
Lita menatap Darka jengah, “Gausah mikir yang macem-macem bisa gak sih?”
“Jawab dulu disini ada atau enggak?”
“Gak ada, Darka. Gue udah berapa kali bilang gak ada ya gak ada.”
Darka merapatkan bibir, menciut mendengar omelan gadis di depannya itu. Lita jika mengomel seperti ini terlihat semakin garang dan menakutkan.
“Yaudah mau ngomong apa,” kata Darka ketus. Tenang saja, ia hanya pura-pura marah agar terlihat lebih garang dan supaya Lita ketakutan.
Sayangnya, Lita tak peduli sama sekali.
“Kalo misalnya gue kasitau rahasia gue, lo juga harus kasih tau rahasia lo,” kata Lita penuh penekanan.
“Hah,” pekik Darka merasa bingung sendiri. “Ngapain bagi-bagi rahasia?”
“Gue mau tau,” tegas Lita.
Darka tersenyum miring, lebih terlihat seperti menggejek. “Jadi, itu ya syarat agar abang bisa memiliki eneng.”
Lita merutuki dirinya. Dia lupa kalau yang diajak bicara sekarang ini adalah orang yang kurang waras.
“Bukan itu,” ujar Lita dingin. “Ada suatu hal yang harus lo tahu tentang gue,” lanjutnya serius.
"Apa?"
“Gue bukan hanya bisa lihat hantu, tapi bisa menerawang masa lalu seseorang waktu melakukan kontak fisik.”
Mulut Darka menganga, sempat mengeluarkan teriakan namun tak terlalu kuat. Ia menatap Lita tak percaya.
“Jadi…lo selama ini…..” Darka terdiam sejenak, lalu menatap Lita dengan pandangan takjub seraya bertepuk tangan.
“Baru kali ini ada orang seperti lo,” ucapnya memuji, tak berniat menjelek-jelekkan Lita sama sekali.
“Lo ngejek gue,” sahut Lita melihat ekspresi berlebihannya Darka. Darka langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat.
“Gue serius, Jel. Itu keren banget,” tukas Darka penuh keyakinan. “Ngapain juga gue mengejek. Bagi gue, keistimewaan lo malah jadi anugerah, tau.”
Lita mendadak beku. Tak percaya ada yang mengatakan hal itu padanya, selain ibunya sendiri.
Matanya menerawang, berusaha menemukan kebohongan di mata milik Darka. Sayangnya, ia tak temukan.
Darka benar-benar tulus memujinya.
Gadis itu menarik napas lemah, “Sekarang giliran lo.”
“Apa?”
“Rahasia lo."
“Kan udah.” Darka berjalan menuju sofa yang terlihat kusut dan agak berdebu itu. Mendudukkan dirinya disana.
“Hello kitty itu bukan rahasia besar buat gue.” Lita masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Darka yang sebenarnya berusaha santai menghadapi Lita.
“Gue masih menunggu.” Lita benar-benar menyudutkan Darka.
Darka melengos kasar, merasa tak suka.
“Terus kalo lo tau, lo mau apa?” tanyanya dengan sedikit sirat emosi pada kalimat itu.
“Setidaknya lo punya tempat berbagi.”
Darka terdiam.
“Karena kita adalah teman. Gue mau berteman dengan lo. Gue mau jadi pendengar yang baik bagi temen gue.” tegas Lita.
“Gue gak tau tentang masa lalu lo ketika kita bersentuhan. Justru gue malah pingsan, gue juga gak tau kenapa,” jelas Lita.
“Makanya gue mau denger langsung dari lo.”
Hati Darka langsung mencelos mendengarnya. Gadis di depannya, entahlah. Melihat Lita yang mengungkapkan tentang siapa dirinya, membuat Darka berpikir apakah harus mengutarakan masalahnya pada gadis yang baru ia kenal itu.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Berharap, mampu menceritakan ini di depan gadis itu.
Darka Samudra dan ceritanya yang pilu pun siap didengarkan oleh Lita.
__ADS_1
***