Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
19. Cerita Aslinya


__ADS_3

Bahkan ini seribu kali lebih pahit dari sejuta ton getah pepaya


Aku butuh setetes madu, sayang-ku


---


“Aku Sifa, adiknya Kak Darka.”


Lita menatap Siska—lebih tepatnya Sifa dengan terkejut. “Kamu kok—”


“Aku sebenarnya pengen ngomong langsung sama kakak, tapi aku takut kakak takut.” Suara Sifa memelan. “Makanya aku masukin tubuh ini. Sekalian biar aku bisa ngomong langsung sama kakak.”


Lita menarik napas pelan, mulai memberanikan diri mendekat pada Sifa.


“Sebenarnya, aku juga menunggu saat-saat seperti ini datang.”


“Maksud kamu?” tanya Sifa tak mengerti.


“Darka pernah cerita kalau dia merasa bersalah sama kamu. Gara-gara dia, kamu jadi seperti ini,” kata Lita. “Aku belum yakin sama semua yang dia bilang, karena kamu emang beberapa kali aku lihat sering ikutin dia kemana-mana.”


“Termasuk waktu pertama kali kita ketemu. Anehnya, aku nggak bisa tahu kamu siapa sebenarnya.”


Bahu Sifa lemas, lalu ia menghela nafas panjang. “Makanya aku nekad merasuki tubuh ini. Aku ingin meluruskan segala kekeliruan pada kakakku itu.”


“Semuanya?”


“Sebenarnya aku ingin semuanya. Dan kamu yang sampaikan ke dia. Tapi—” Sifa diam sejenak, lalu melanjutkan. “Waktuku tidak banyak.”


“Kamu jelaskan dengan cepat, biar aku nanti yang sampaikan ke Darka. Bagaimana?”


Sifa mengangguk. Tanpa ragu, ia pun menjelaskan semuanya pada Darka.


“Kak Darka nggak perlu merasa bersalah atas kematianku. Semuanya adalah takdir Tuhan. Tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Aku sedih dia menyalahkan dirinya terus-terusan.”


Mata Siska yang diarahkan Sifa untuk menatap Lita, memiliki sorot serius yang penuh harap. "Tolong bilang ke Kak Darka, dia harus minta penjelasan ayah, ya, Kak. Aku—"


"Lho, hah? Kok?" Siska bersuara kebingungan. Kini Lita yakin Sifa telah keluar karena waktunya sudah habis. "Gue ngapain di sini?"


Lita tertawa, menutup kecurigaan Siska. "Lo ketiduran tadi."


****


Lita berjalan menuju kursi favoritnya di minimarket ini dengan lesu. Di kedua tangannya terdapat satu cup pop mie yang sudah diseduh dan juga air mineral dingin, makanan sehari-harinya.


Malam semakin larut. Cahaya bulan juga mulai meredup. Hanya bintang-bintang di langit yang begitu banyak malam yang ini tampak memamerkan cahayanya. Menemani setiap orang yang masih berlalu lalang, termasuk Lita.


“Suntuk banget sih muka kamu. Lagi ada masalah ya?”


Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar suara hantu yang satu ini. Lita mendongak,kini mendapati hantu itu duduk di depannya. Menopang dagu sambil melambaikan tangan ke arahnya. Tak lupa juga memasang senyum ramah seperti biasa.


“Kemana aja? Udah lama nggak kelihatan,” ujar Lita yang memang tak pernah melihat hantu itu lagi.


“Kamu kira Cuma kamu aja yang bisa kencan? Aku juga bisa kok,” jawab hantu itu percaya diri. Dia kemudian mengamati wajah Lita. “Kenapa sih? Mukanya suntuk banget.”


Lita menggeleng, “Gue cuma kecapean aja,” kata Lita seraya mengaduk-aduk mie nya tak minat. “Pinggang gue nih yang  beberapa hari ini sering sakit.”


“Kamu pasti kebanyakan kerja ya?”


“Apaan kerja gue itu Sabtu Minggu doang.” Lita memasukkan mie-nya ke dalam mulut kemudian mengunyahnya.


Hantu itu mencibir, “Kamu sadar nggak kalau ini bukan pertama kalinya kamu ngeluh soal pinggang kamu?”


Lita jadi teringat kalau ini bukan pertama kalinya ia mengeluh soal pinggang. Beberapa kali memang gadis itu sering merasa pinggangnya sakit.


“Gue kayaknya emang kurang minum kali, ya.”


Hantu itu mengangguk-ngangguk beberapa kali. “Kalo yang kamu pikirin bukan masalah pinggang, berarti ada masalah lain dong?” tanya hantu itu. “Pasti berhubungan sama cowok yang kemaren.”


Lita mengangguk pasrah, membenarkan ucapan hantu itu. Tanpa ia memberitahu, hantu itu sangat peka pada Lita.


Sejak pertama kenal, hanya hantu itulah yang bisa mengetahui apa yang Lita rasakan dan pikirkan.


Lita pun memberanikan diri bercerita. Dimulai dari pertemuannya dengan Sifa, alasan Sifa ingin berbicara dengannya, dan juga amanat dari Sifa yang harus ia sampaikan ke Darka, kakaknya.


“Jadi, dia nggak jelasin semuanya? Main pergi gituh aja?” tanya hantu itu usai mendengar semua ceritanya dari Lita.


“Bukan nggak mau, tapi waktunya yang emang singkat banget,” kata Lita. “Darka bersalah dan menyesal karena ngajakin Sifa lihat dia bagaimana nyetir mobil. Dia menganggap dari situlah Sifa meninggal padahal nggak.”


“Habis itu?”


“Selesai,” ujar Lita cepat. “Gue gatau kelanjutannya. Waktu Sifa bener-bener singkat banget. Gue hanya disuruh buat bilang ke Darka minta penjelasan ke Ayahnya. Karena, Ayahnya lebih tahu soal permasalahan ini semua.”


“Sayang banget ya. Jelasinnya sampai gantung gituh.”


Lita mengangguk setuju, “Mau gimana lagi. Sudah kejadiannya begitu.”


“Gue udah kirim Darka chat sekaligus voice note dari Whatsupp. Mudah-mudahan dia udah buka.” Lita membuka aplikasi chat nya, berniat memeriksa apakah Darka sudah membacanya atau belum.


Sesaat gadis itu mendesah pelan, bahunya ikut turun dengan lemah. Pesan yang ia kirimkan belum juga ia baca.


Apakah Darka sudah tidur?


****


Darka membuka matanya perlahan, mengucek-ngucek sambil meraba-raba di sekitar tempat tidurnya mencari hape lalu menekan tombol power. Pemuda itu mengernyitkan dahi, melihat jam yang tertera di hapenya itu.


05.30


Berikutnya, pemuda itu membuka mata lebar-lebar. Mendapati beberapa kali panggilan tak terjawab di layar.


Lita meneleponnya sebanyak lima belas kali.


“Wow.” Darka berdecak kagum, masih memandangi hapenya. “Segitu kangennya sama pangeran sampai di miscall beberapa kali gini.”


Darka mengubah posisi menjadi duduk bersila di kasurnya. Moodnya pagi ini benar-benar bagus, apalagi di misscall gebetan sampai beberapa kali. Membuat Darka jadi gede rasa tidak karuan.


Pemuda itu pun mencari kontak Lita, lalu menghubunginya.


“Halo, eneng selamat pa—”


“Ngapain nelpon jam segini?”


Pemuda itu cengar-cengir. “Kamu tuh ngapain miscall aku banyak banget. Kangen ya?” tanya Darka menggoda gadis itu.

__ADS_1


Terdengar dengusan kasar Lita yang ada sana. “Ditanyain malah nanya balik.”


Darka tertawa pelan. “Ada apasih? Penting banget ya?”


“Lo udah baca pesan gue?”


Darka mengerutkan dahi. “Pesan apaan?” tanyanya sambil menggaruk-garuk kulit kepala.


“Cek WA. Sekarang.”


“Entaran aja lah. Gue mau mandi,” ujar Darka. “Mumpung gue bangunnya cepat, lo mau gue jemput nggak?”


“Gausah. Gue nggak sekolah.”


“Yaa….kok gituh?” tanya Darka melirih. “Padahal mau berangkat bareng.”


“Gue lagi nggak enak badan.” Lita terdengar batuk sebentar, lalu melanjutkan. “Pokoknya lo baca sekarang pesan gue. Sorry nggak bisa nyampein secara langsung.”


Lita kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Alis Darka terangkat sebelah. Pemuda itu menjauhkan hape dari telinganya. Tangannya lalu sibuk mencari room chatnya dengan Lita. Lebih tepatnya tak perlu mencari karena pesan Lita berada paling atas sekarang.


Jeli jeli unyu (10)


Pokoknya lo jangan sampai emo…..


“Gila ini si Jeli ngapa ngespam gue yak,” gumamnya lalu membuka chat dari Lita.


Jeli jeli unyu  (10)


P


P


Woy


Gue mau ngasitau sesuatu sama lo


Gue tadi ketemu sama adek lo


(0:45)


Intinya, tanya sama bokap lo soal masalah ini.


Dia nggak jelasin semuanya.


Woy


Darka


Pokoknya lo jangan sampai emosi pas lagi ngomong sama bokap lo.


Darka terlihat bingung, dahinya semakin mengerut dalam. Ia hanya membaca pesan itu, namun belum mendengarkan voice note yang dikirim oleh Lita.


Pemuda itu menempelkan hapenya ke telinga, menekan ikon mikrofon agar bisa mendengar suara Lita.


“Dia bilang lo nggak perlu merasa bersalah sama kematiannya. Ini bukan salah lo. Emang udah takdir. Ini kesempatan lo buat nanya ke bokap, karena dia yang lebih tahu semuanya. Dia nggak bisa jelasin lewat gue karena ini masalah pribadi keluarga. Lagipula waktunya nggak banyak buat jelasinnya. Waktu dia buat merasuki tubuh manusia itu sangat singkat, apalagi dia merasukinya secara paksa.”


Dengan mendengar suara Lita yang ia kirimkan itu, Darka hanya bisa diam kehabisan kata. Buru-buru beranjak dari tempat tidurnya.


***


“Mana ayah?”


Ibu mengatupkan bibir, terlonjak kaget sebentar melihat putra tunggalnya itu tiba-tiba mencari ayahnya.


“Mana ayah?”


“Ngapain kamu cari ayah pagi-pagi?”


Tak lama kemudian, Sang ayah keluar dari kamarnya. Pemuda paruh baya itu menggulung lengan kemeja biru tuanya, memandang anaknya tak minat.


“Aku mau bicara sama Ayah.”


“Mau bicara apa kamu?” tanya Ayah ketus. Berjalan angkuh menuju meja makan, melewati Darka begitu saja. Tersirat kekesalan pada anaknya itu, teringat betapa keras kepalanya Darka.


“Soal Sifa.”


Ibu menoleh cepat kearah Darka. Mata wanita yang sudah berumur namun tetap cantik itu melebar seketika. Gerakan Ayah yang hendak duduk di kursinya jadi terhenti, mendengar ucapan Darka yang menyinggung soal adiknya.


“Ngapain kamu nanya-nanya Sifa.” Ayah mencoba bersikap tenang, walau sebenarnya merasa tak suka jika menyinggung tentang Sifa.


“Pasti ada yang Ayah sembunyikan dari aku tentang Sifa.” Darka menatap Ayahnya itu penuh sorot tajam, seolah ingin menembus kedua bola mata ayahnya yang tertutupi oleh kacamata bening itu.


“Menyembunyikan hal tentang Sifa?” cibir Ayah. “Bukannya kamu sudah tahu semuanya?” tanya Ayah lagi dengan sirat menyindir.


“Belum sadar juga rupanya?” Darka balik bertanya, menatap sinis ayahnya yang masih mempertahankan sikap angkuhnya.


“Ayah nggak mau cerita sesuatu?” Darka masih bertanya. “Atau, aku yang cari tahu sendiri?” tanya Darka lagi, berusaha memancing ayahnya agar jujur.


“Sifa mendonorkan jantungnya ke kamu.”


Darka menoleh, menatap Ayah tak percaya. Dunianya seakan runtuh mendengar ucapan ayahnya barusan. Ibu, yang sudah tahu semuanya, tetap masih terperangah mendengarkan kalimat pahit nan menyakitkan itu.


“Kecelakaan itu membuat Sifa terluka parah, kehilangan banyak darah, operasinya yang gagal, sehingga ia kehilangan harapan untuk dapat bertahan hidup.” Ayah akhirnya bercerita. Kelopak mata pria paruh baya itu tampak sayu. Setitik air di ujung matanya hendak turun kebawah, membuat pria itu mendongakkan kepala sebentar.


“Kamu yang saat itu sudah mempunyai jantung yang lemah juga kelihatan semakin parah. Kondisi tubuh kamu semakin memburuk. Kamu harus dioperasi, tapi tidak ada donor jantung yang dapat kami temukan.”


“Sampai akhirnya Sifa mendengar itu semua. Dia, dengan segala keikhlasannya, mendonorkan jantungnya untuk kamu.”


Darka kemudian terisak. Matanya memerah dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi. Pemuda itu, kembali rapuh. Hatinya remuk, pedih, semua bercampur menjadi satu.


Dia tak seharusnya mendengar ini. Adiknya yang paling ia kasihi, tak seharusnya melakukan ini semua.


Dia telah hidup menyusahkan dan menyedihkan. Betapa merasa buruknya Darka.


“Kenapa kalian nggak pernah cerita?” tanya Darka dingin. Pemuda itu memandangi kedua orangtuanya yang kini menundukkan kepala. Menyembunyikan wajah mereka.


“Kami nggak bisa, Nak.” Ibu yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara. “Sifa bilang untuk nggak kasih tahu kamu. Kamu nantinya jadi marah-marah nggak terima Sifa yang melakukannya.” Ibu membuang napas pendek, lalu kembali berucap, “Sifa mempercayai hidupnya bersama kamu. Dia percaya kamu bisa bahagia dengan jantung yang ia berikan. Jangan bertindak aneh-aneh, jangan kecewakan adikmu, Darka."


Darka menghapus air matanya kasar. Tanpa bicara, ia kembali masuk ke kamar. Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terpaku ditempat. Tak memanggil anak mereka. Darka perlu waktu untuk berdiam diri.


***

__ADS_1


"Kak, liat nih, gambar ikan aku, lucu kan?"


Darka yang masih berusia sepuluh tahun itu tersenyum melihat adiknya yang sibuk mewarnai gambar akuarium buatannya.


"Wah, kamu jago gambar, ya, dek! Bangga, deh, kakak!"


"Oh iya, dong," balas Sifa tertawa bangga. "Sifa gitu lho."


Darka ikut tertawa, ia mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas. "Iya, deh. Siapa dulu kakaknya, ya kan?"


"Ish, aku anaknya Ayah Ibu, ya!" balas Sifa agak kesal.


"Dih, gitu. Kakak sedih, kamu lebih sayang Ayah dan Ibu, ya, daripada Kakak?" tanya Darka tiba-tiba. Ayah dan Ibunya sedang berada di luar dan karenanya ia berani bertanya seperti itu.


Sifa tampak berpikir sebentar, namun akhirnya ia menjadi mantap. "Aku sayang semuanya!"


"Tapi Kakak sayang kamu doang," balas Darka serius. "Kamu pinter gambar, pinter nari, pinter nyanyi, pinter berenang, pinter matematika, pinter bahasa Inggris dan pinter menghafal. Ajarin Kakak dong!"


Wajah Sifa berubah sedih, ia menghentikan tangannya yang sedang mewarnai air akuarium dan beralih menatap Darka dengan sendu. "Kakak jangan bilang gitu. Aku sedih."


"Ayah sama Ibu lebih sayang sama kamu kayaknya, Dek." Darka berdeham, memaksa diri untuk kuat bercerita. "Setiap kali kamu mau ini-itu langsung dikabulin, eh, waktu giliran Kakak, bilangnya Kakak ini nilainya masih jelek-lah, ranking Kakak dapet dua puluh terus, banyak mainnya-lah, nakal-lah, Kakak tuh iri sama kamu, dek."


"Ish Kakak, jangan begitu," rengek Sifa merasa buruk. Dia hampir menangis.


"Ssstt, bukan salah kamu, dek. Kakaknya aja yang otaknya bego, nggak sepinter kamu," balas Darka tiba-tiba khawatir Sifa akan menangis. "Kakak nggak nyalahin kamu. Justru Kakak lebih sayang sama kamu daripada Ayah Ibu yang suka ngatain Kakak bodoh."


"Padahal Kakak jago akting sama nyanyi, ya!" seru Sifa semangat. "Kakak harusnya jadi artis aja!"


Darka tertawa. "Kakak juga pengennya gitu, tapi Ayah Ibu kan nggak suka Kakak, pasti nggak ngijinin."


Sifa cemberut. "Ada aku, Kak. Nanti aku bilangin."


"Kakak bakal seneng kalau Ayah Ibu mau dengerin kalau kamu yang ngomong."


Darka hanya bisa berharap, ketika Ayah Ibunya datang dan Sifa menyuarakan keinginannya, mereka bisa mengabulkan angan-angan Darka. Darka benar-benar tak bisa belajar dan otaknya menolak kecuali jika dia bermain peran atau bernyanyi.


Namun, Ayah Ibunya justru menolak, mereka marah.


"Kamu masih kecil, jangan aneh-aneh, deh! Fokus aja belajar kayak Sifa."


"Kamu lagi, Sifa, jangan terlalu urusin Kakak kamu. Fokus aja sama sekolah kamu, kalian punya hidup masing-masing. Ayah dan Ibu nggak mau kalian jadi orang nggak berguna di masa depan, turuti aja perkataan kami dan kalian akan bahagia nantinya."


"Tapi, Yah—"


"Susah ya turutin buat belajar yang bener, Darka? Permintaan Ayah memangnya seberat itu, ya?"


"Ayah, Kak Darka bisanya akting! Dia mau jadi artis, Yah!" seru Sifa keras, membela Darka yang hanya mampu tertunduk dengan mata menahan air mata.


Darka merasa benar-benar tak berguna. Ia tak menguasai eksakta ataupun olahraga, ia hanya ingin menjadi aktor.


Hari-hari berlanjut seperti itu. Dimarahi orang tua, dibela adiknya dan menangis. Darka ingin lenyap saja jika hadirnya tak bisa membuat satu orangpun bahagia.


"Kak, jangan sedih, kan ada adek," kata Sifa sambil memeluk Darka yang lagi-lagi menangis di kamarnya. "Aku juga sebenarnya ingin jadi model. Pake baju bagus dan difoto cantik. Itu impian aku, Kak. Tapi aku ingin bahagiakan dulu Ayah Ibu, aku tahu Ayah Ibu nggak setuju aku jadi model, mereka ingin aku jadi dokter.


Darka menangis karenanya. Mengapa adiknya begitu dewasa dan bisa berpikir jauh, sementara dirinya seperti ini?


Darka sangat menyayangi Sifa, lebih dari dirinya sendiri.


Sifa selalu ada. Di saat dia bahagia, sedih, frustasi, marah dan lelah. Darka berjanji akan sukses untuk adiknya, namun takdir berkata lain.


Ketika kejadian itu merenggang nyawa adiknya, hidup Darka tak berwarna lagi. Dia benar-benar menangis berhari-hari dan hanya menunduk saat dimaki-maki Ayah karena mengajak Sifa dalam kenakalannya.


Kini, keberadaan adiknya telah tiada, menyisakan harapan-harapan yang terpaksa pupus karena takdir.


Dan Darka ada untuk benar-benar menghapusnya, sebab dia kini telah hancur sehancur-hancurnya ketika mengetahui adiknya berkorban demi dirinya.


Jika tahu jantung yang ia miliki bukan milik adiknya, Darka sudah pasti akan menyia-nyiakan hidupnya yang telah hampa. Namun kini adiknya ada bersama, Darka benar-benar merasa tertekan.


Selama ini ia telah menjalani hidup yang buruk untuk pengorbanan adiknya. Darka bahkan tak berani untuk berkunjung dan menatap makam adiknya lagi.


***


Putra mengambil gorengan dari plastik hitam, memakannya pelan-pelan sambil memandangi seseorang yang tampak melamun tak jauh dari tempat ia duduk. Anwar yang sibuk bersama Sandi dengan satu hape sembari cekikikan akibat menonton video lucu. Putra menyenggol lengan Anwar sebentar, membuat Anwar mendelik pada Putra.


“Napa sih lo tuh—” Belum sempat ia menyembur Putra dengan omelannya, Putra sudah menunjuk kearah Darka.


Anwar ikut menoleh, memandang seseorang disana tengah duduk melamun seperti orang yang sedang memikirkab cicilan hutang.


“Kenapa lagi tuh bocah?” tanya Anwar berbisik pada Putra.


Putra mengangkat bahunya pertanda ia tak tahu. Sandi jadi berhenti tertawa karena menyadari Anwar sudah berfokus pada hal lain. Ia mengangkat kepala, terikut juga memandangi Darka yang masih setia dengan posisinya.


“Nggak di sekolah, nggak disini, masih aja begitu mukanya,” ujar Sandi berkomentar.


“Apa gara-gara si Jeli nggak masuk kali, ya?”


“Masa gara-gara Jeli nggak masuk,” jawab Putra. “Ada masalah kali sama siapa gituh.”


“Biasanya kalau ada masalah cuek-cuek aja tuh dia,” celetuk Anwar mengambil gorengan dari plastik, dan diikuti oleh Sandi.


“Kalo dia gituh jadi serem tahu.” Sandi mengunyah gorengannya sebentar. “Berasa lihat zombie.” Tunjuknya pada wajah Darka yang putih pucat dengan kantung mata yang tercetak jelas di bawah mata legamnya.


“Kita minta bantuan si Jeli aja buat ngasih hiburan?” tanya Anwar memberikan ide.


“Kagak usah, njir. Repot amat sampe bawa-bawa cewek,” sahut Putra.


“Tapi kan, guys. Daritadi banyak yang ngereceh di kelas, dia nggak ketawa sama sekali. Malah dia natap lurus ke depan,” ucap Sandi yang tadi selalu memperhatikan gerak-gerik Darka selama di kelas.


“Tadi aja Pak Anto ngelawak aja dia nggak nyahut. Kan biasanya dia heboh banget ngakak kalau denger Pak Anto ngomong lucu-lucu.” Kini giliran Anwar memberikan argumen, sembari menyebutkan nama guru Bahasa Indonesia mereka yang terkenal humoris sebagai pondasi dalam argumennya.


“Yaudah telpon si Jeli aja.” kata Putra final. “Lo ada kontaknya kagak?”


“Ya kagaklah,” jawab Anwar cepat.


“Apalagi gue,” sambung Putra, lalu melirik ke meja. Ada hape Darka yang tergeletak di dekat mereka.


“Yaudah ambil aja dari situ.” Anwar berujar, seolah tahu maksud lirikan Putra pada hape Darka.


“Entar kalo dia ngeliat, bilang aja minta kontak cewek baru,” jawab Sandi ngasal.


Pada akhirnya, ketiga cowok itu mengambil kontak Darka secara diam-diam dari hape pemuda tampan itu.


Kita doakan, semoga rencana mereka berhasil ya.

__ADS_1


***


__ADS_2