Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
08. Undangan Pesta Pertama


__ADS_3

Kehadiran yang tak diinginkan bisa menghasilkan energi buruk yang membahayakan jiwa


---


"Gue Tia, dari XI IPA 3. Selamat, lo diundang ke pesta ulang tahun gue. Datang, ya, please?"


Lita mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba didatangi oleh Tia. Ia sedang menyimpan baju olahraganya di loker, dan Tia menyodorkan undangan pesta ulang tahunnya dengan senyuman.


"Gue—"


"Please, please, please. Sebenarnya kita belum akrab, tapi gue pengen. Lo selalu sendiri dan gue ingin mengajak lo, bergaul dan punya banyak temen itu rame, lho." Tia mengambil tangan Lita dan menggenggamnya dengan tatapan penuh berharap. "Gue bakal temenin lo. Ayo, ya, ya, ya? Gue bantu. Sayang kalau lo begini terus."


Lagi, Lita mengerutkan keningnya. Dia melakukan kontak fisik dengan Tia, tapi tak ada bayangan apapun. Seolah kekuatannya hilang.


Kenapa lagi ini?


"Kenapa lo peduli banget sama gue?" tanya Lita seraya menjauhkan tangannya dari jangkauan Tia. Melihatnya, Tia jelas tergores hatinya, namun ia tak menyerah.


"Gue pengen jadi temen lo. Ayolah, Jelita, jangan mengurung diri. Lo bisa dalam bahaya," buku Tia dengan frustasi. "Kalau lo punya temen, lo bisa ditolong. Jangan sendirian. Lo sebenarnya ingin punya banyak teman, kan?"


"Jangan berkata seolah tahu semua kehidupan gue." Lita menggertakkan giginya menahan emosi.


Tia membuang napas tak percaya. Dia tertawa hambar. "Gue cuma pengen nolongin lo. Salah, ya?"


Lita tak menjawab, ia tertegun. Baru menyadari betapa tulusnya Tia untuk mengajaknya berteman. Ia berpikir Tia memiliki maksud lain, ketika Tia hanya ingin menolongnya.


"Gue kasih waktu buat lo ambil keputusan. Pestanya nanti malam, jam 7. Gue siapin dress buat lo, nih," jelas Tia seraya menyodorkan paper bag yang sedari tadi ia tenteng.


Tak enak untuk lagi-lagi menolak, Lita menerimanya dengan berat hati. Ia mengambil napas panjang. "Kalau gue nggak datang, ng—"


"It's oke, gue nggak terlalu maksa. Tapi agak baiknya lo datang, gue akan seneng banget." Tia tersenyum lebar. "Kalau begitu, gue ke kelas duluan, ya. Daaah."


Lita mengangkat tangannya, melambai kecil saat tubuh Tia mulai menjauh.


Bertapa baiknya Tia, ketulusannya mengajaknya berteman, Lita merasakannya untuk pertama kali dan ia hampir menangis.


***


Lapangan sekolah mendadak ramai dengan suara-suara lengkingan sore ini.


"NGANTRE DEK, NGANTRE! TENANG, WAKTUNYA SATU JAM LAGI, MASIH LAMA!"


"JANGAN RIBUT-RIBUT, NTAR JUGA KEBAGIAN ASTETENG!"


Anwar dan Sandi berteriak di sebelah Putra ketika melihat antrian adek kelas yang ingin berjumpa dan menyapa Darka secara resmi. Mereka mengadakan sebuah acara meet and greet bersama Darka setelah KBM selesai karena gurunya rapat untuk membahas jadwal evaluasi akhir semester.


Ini semua ide Putra, untuk mengecek seberapa kuat fans Darka di sekolah ini dan dirinya juga yang dirugikan. Harus mendisiplinkan, mengatur waktu dan berteriak sampai rasanya suaranya akan hilang.


"ABIS, DEH, ABIS, WAKTUNYA! UDAH, PULANG-PULANG!" teriak Putra keras, bermaksud untuk mempercepat. "LANJUT!"


Fans selanjutnya langsung berseri-seri, berbeda dengan yang sebelumnya, ia cemberut kecewa karena waktunya sangat singkat. Darka mengajak high-five, lalu berterimakasih.


Darka sebenarnya agak lelah. Memberi senyum, menandatangani, selfie sampai disuruh memakai bando. Dia merasa jadi artis beneran.


"Gile nggak sih, ini kalau gue perkirakan hitung, ada dua ratus orang, breh," kata Anwar sambil berdecak kagum melihat antrian untuk meet and greet Darka dengan harga Rp. 5.000,00.


Awalnya ia hanya berekspetasi setidaknya 50 orang akan datang, namun justru 4x lipat yang datang. Anwar benar-benar bangga menjadi teman Darka.


Biasanya Darma berjumpa fansnya di kantin, Anwar merasa itu sedikit tak nyaman. Dan sepertinya, ke depannya Darka harus mengadakan acara resmi tersendiri.


Semuanya diuntungkan.


"Darka benar-benar pake pelet," balas Sandi sambil terkekeh. "Tapi dia ngeles pas gue tanya. Nggak percaya gituan, katanya. Eleh, nggak percaya gue."


"Goblok!" Anwar menabok paha Sandi sambil tergelak.


"Nama gue Darka Samudra, elah, bukan Darka Samudara," decak Darka saat menerima Doodle namanya yang diminta untuk ditandatangani.


"Hush!" Putra menyikut lengan Darka sambil melotot. "Jangan ketus-letus!"


"Maaf, ya, dek, lain kali benerin namanya, ya," kata Putra pada adik kelas yang gugup itu.


"Iya, Kak," jawabnya pelan.


Darka memutar bola matanya, kemudian menandatangani kertas bergambar Doodle itu dengan malas-malasan. Ia tersenyum, menggenggam tangannya, dan bertatapan mata.


"Makasih udah suka sama Kakak," katanya lembut. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya hingga membuat perempuan di depannya ini lemas.


Anwar dan Sandi memerhatikan dengan mata nelangsa, betapa intinya mereka. Sementara Putra, cowok itu sudah seperti manajernya Darka saja.


Sejak sepuluh menit yang lalu, Lita melihat Darka dan antrian itu dari lantai dua. Entah apa yang mengikatnya untuk menatap pemandangan itu. Harusnya ia pulang saja.


Apa yang membuat kelam milik Darka hanya berupa hitam saja? Mengapa ia langsung pusing saat menyentuh cowok itu? Siapa Darka?


Semua itu mengganggu Lita beberapa hari ini. Ia tak mampu memecahkan, tapi ingin sekali tahu. Ia tak berani bertanya, tapi sangat penasaran.


"Jelita," sapa seseorang tiba-tiba, membuat Lita sedikit tersentak dan langsung tersenyum canggung.


"Oh, Tia."


"Jadi 'kan datang?" tanyanya semangat.


Lita memilin tangannya, bingung. Melihat gelagat itu, Tia tersenyum maklum.


"Nggak apa-apa kalau lo masih butuh waktu, tapi alangkah baiknya, ya, lo datang. " Tia lagi-lagi mengatakan hal yang membuat Lita tak enak hati saat melihat wajahnya. "Gue akan berharap tinggi nanti malam. Kalau begitu, gue akan pulang untuk siap-siap. Daaah!"


Lita tersenyum. "Daaah."


Ketika Lita akhirnya berjalan turun untuk pulang setelah Tia hilang dari pandangannya, ia merasakan sesuatu tak beres saat melewati koridor di sebelah lapangan yang mana di sana Darka dan teman-temannya berada.


"EH, SI JAKET MERAH! DAR, DAR!"

__ADS_1


"JELI?!"


"WOI INI DUA LAGI, MAU KE MANA, BANGSUL?!"


"TUTUP AJA TUTUP, ENEK GUE!"


"DIH, ANJIR!"


"ELO LAH GOBLIN NAPA DIKASIH TAU ADA SI JELITA!"


"JELIIIIIII!"


Lita rasanya ingin menghilangkan saat ini juga. Saat ia berusaha berlari, tangan Darka sudah mencengkram bahunya hingga dirinya tak bisa lari lagi. Dengan cepat Darka berdiri menghadap Lita dengan senyum lebar.


Napasnya agak terengah-engah dan rambutnya acak-acakan karena berlari. Melihatnya, ada sebagian hati Lita yang berseri-seri, tak mampu menolak pesona Darka.


"Hai," sapa Darka dengan senyum lebar. "Jelita."


"Apa?" tanya Lita ketus.


"Buset, ramah dikit napa," tegur Darka kecewa. "Gue mau nanya."


Lita menatap Darka datar, seolah berkata, 'kalau nanya ya nanya aja'.


"Lo ikut pesta ultah Tia?" tanya Darka. Ia sebenarnya sudah tahu pasti jawabannya, tapi ia ingin mencoba membujuk. Entahlah, belakangan ini Lita membuatnya penasaran.


Mengernyit, Lita akhirnya membuang napas. "Kenapa orang-orang ngajakin gue terus?"


"Woah, lo diajakin?" tanya Darka terkejut. "Asli? Sama siapa?"


"Tia."


"Hampir semua orang di angkatan kita diundang. Ajaib kalau lo sampai diundang, secara lo kan no life," ejek Darka sambil tertawa, benar-benar bermaksud bercanda.


Lita mendengus tak suka. "Gue udah kebal. Justru seneng kalau nggak diundang," balas Lita angkuh.


"Dih, kenapa sih," kata Darka heran.


"Gue nggak kenapa-kenapa."


"Lo harusnya merasa tersanjung. Lo harus banget datang. Sama gue, oke?" Darka memaksa seraya menatap mata Lita dalam-dalam.


"Apasih," kata Lita merasa terganggu.


"Sip deh," balas Darka seolah-olah Lita setuju akan pertanyaannya. "Gue tunggu jam 7. Ah, sori. Maksudnya, gue jemput jam 7. Bye!"


"Eh!" Lita berseru tak terima saat Darka berbalik dan meninggalkannya begitu saja. Lita melongo seperti orang bodoh dibuatnya.


Darka benar-benar gila.


***


Seumur hidupnya, Lita tak pernah pergi ke sana. Tempat kelap-kelip, huru-hara, lalu-lalang dan sesak orang-orang. Itu tak baik untuk Lita. Ia bisa bersentuhan kapan saja dan mungkin ia akan jatuh pingsan saking seringnya. 


Lita selalu penasaran. Bagaimana suasananya, apakah akan berbeda dengan yang ada di pikirannya?


Oleh sebab itu, kini Lita bercermin. Menaburi wajahnya dengan bedak dan mengolesi bibirnya dengan lipbalm. Tia meminjamkannya seperangkat alat make-up, namun yang Lita pakai hanya dua item. Selain tak bisa memakainya, Lita pun tak suka berlebihan.


Gaun yang dipinjamkan Tia berwarna biru laut, tampak cocok dengan warna kulit Lita yang cerah. Lengannya hanya menutup siku dan panjangnya sebatas lutut. Lita agak tak nyaman, namun ia mencoba keluar dari zona nyamannya.


Berkat Tia, Lita memikirkan bagaimana ia hidup. Dirinya adalah makhluk sosial. Setidaknya, ia harus mulai membiasakan diri untuk berubah.


Selesai. Dia memakai flat shoes putih, pinjaman Tia juga. Ayah belum pulang, karena itu ia leluasa untuk pergi setelah meninggalkan surat pendek untuk Ayah baca.


Maaf, Yah


Lita akan pulang agak larut. Nasi gorengnya ada di dapur, kalau Ayah lapar, makan aja


Akhirnya, Lita membuka pintu, merasakan udara malam meniup rambut sebahu yang ia gerai. Dingin menerpanya, namun Lita mengembangkan senyum. Sungguh, ia suka kondisi seperti ini.


Lita mengutuk diri. Mengapa baru sekarang? Setelah mengerti hidup ini sulit, dan akan lebih sulit lagi saat dirinya hanya berdiam diri.


Seharusnya dari dulu. Lita hanya tak perlu kontak fisik. Harusnya ia berbaur saja.


Sebenarnya Lita menanti Minggu depan tiba, di mana dirinya akan bekerja sebagai kuntilanak di rumah hantu.


Pasti akan menyenangkan.


Lita banyak takut selama ini hingga menutup diri, menutup harapan dan cita-citanya.


"Hai."


Lita benar-benar kaget. Suara itu tiba-tiba terdengar. Darka berada di hadapannya, memakai setelan kasual dengan wangi maskulin yang mampu memabukkan kedua inderanya.


"Lo ngapain?" tanya Lita bingung.


"Gue tau rumah lo dari TU," lapor Darka sambil tertawa. Darka melihat penampilan Lita dari atas sampai bawah. "Sori ya gue liat privasi lo. Btw, you are beautiful, Je."


Bohong jika kini kuping Lita tak panas. Ia wanita, dan wanita mana yang tak tersipu saat dipuji oleh laki-laki setampan Darka? Lita tertawa dalam hati, buru-buru menampar diri untuk sadar.


"Gue sebenernya agak kaget karena lo rupanya ikut. Tapi syukur deh, gue ada gandengan, hehe," kata Darka sambil menyodorkan sikunya, berharap Lita menggandengnya.


Lita mendengus kecil, menatap siku Darka tanpa minat. "Kalau mau anterin gue jangan macem-macem. Gue bisa pergi sendiri."


"Ye, galak amat sih, untung pangerannya sabaran."


***


"Baju itu punya siapa? Menurut gue, lo ini tipe orang yang mustahil punya baju pesta." Darka masih tak bosan untuk bersuara sejak detik pertama mereka berada dalam mobil untuk menempuh jarak menuju rumah Tia.


Di samping Darka, Lita hanya bergeming sejak tadi, menatap panorama malam dari kaca di sebelahnya.

__ADS_1


"Hei, Jeli. Gue nanya sama lo. Jawab dong," tegur Darka agak kesal sebab Lita tak kunjung bersuara.


"Gue bukan Jeli," balas Lita ikut kesal. "Ini pinjaman dari Tia. Puas, lo?"


"Ooh, dari Tia. Seperti yang gue duga," tanggap Darka biasa saja.


"Lo ini orangnya nggak mau ribet, ya? Irit ngomong dan jarang senyum. Orangnya cuek banget, sombong dan mudah marah." Darka bersuara lagi, tapi kini membuat Lita menoleh padanya dengan pandangan tak suka.


"Lo nggak ikhlas gue nebeng di mobil lo? Lo bisa turunin gue sekarang."


"Tuh, kan, marah."


"Ya, gue emang gini. Lo harusnya jangan berurusan sama gue kalau nggak suka," balas Lita kesal.


Darka mendelik untuk kali pertama di hadapan Lita. "Untung gue sabaran."


Tak mau kalah, Lita balas mendelik.


Darka mengambil sesuatu di belakang saat lampu merah menyala. Ia kembali ke depan dengan tangan yang membawa jaket pink bermotif Hello Kitty. Lalu menyodorkannya pada Lita.


"Pake nih. Nanti lo alergi bisa pingsan. Di sana kan banyak orang-orang. Tutupin tangan lo. Gue rela, kok," kata Darka saat Lita mengernyit bingung. "Tapi jangan bilang-bilang ini punya gue. Ntar gue malu."


"Pake aja sih, ribet amat," ketus Darka sambil menyerahkan jaketnya begitu saja pada Lita.


"Oke," balas Lita singkat. Benar juga kata Darka. Mengapa ia tak kepikiran untuk menutup tangannya? Tanpa basa-basi, ia memakai jaket itu dan aroma khas Darka tercium olehnya.


"Udah gue cuci sih kalau kata lo bau," jelas Darka tanpa ditanya. "Besok balikkin, ya."


Lita tak menjawab, hanya mengiyakan permintaan Darka dalam hati.


***


"HAPPY BIRTHDAY TIALANA MARISSA!"


"HAPPY BIRTHDAY RATU GINCU!"


"HAPPY BIRTHDAY CINTA!"


"MAKASIH-MAKASIH." Tia balas berteriak saat berangsur-angsur teman-temannya mengucapkan selamat bertambah umur padanya.


Ruangan sudah mulai sesak dan Lita merasa sesak saat memasukinya. Ia berjalan ke dalam, bersama Darka di sampingnya. Hal ini sontak saja menjadi perhatian banyak orang.


Supernova sekolah datang bersama seseorang yang dirumorkan membawa kutukan. Ditambah jaket Hello Kitty yang amat nora kelihatannya.


Ekspektasi Lita runtuh saat menyaksikan suasana pesta yang tak beda jauh dari umumnya. Sesak, kelap-kelip, huru-hara, lalu-lalang, bising, bercampur aduk. Lita sampai mau mati saja rasanya.


"Cihuy, dapet juga nih gandengan," kata Anwar saat melihat temannya bersama Lita. Ia mengernyit melihat jaket yang dikenakan Lita. "Mending jaket lo buka deh, nggak pantes," komennya jujur.


"Lo jangan gitu dong, kasian," bela Darka, sesungguhnya untuk dirinya sendiri. "Malam ini dingin, Jeli pengen paket jaket."


Lita ingin membela diri, namun ingat bahwa cowok ini ingin merahasiakan cintanya pada Hello Kitty. Jadi Lita memilih untuk diam.


"Disogok berapa dollar, bro?" tanya Sandi sambil terkekeh. "Perasaan kemarin ditolak."


"Pake pelet kali," timpal Putra ikut tertawa.


"Bacot kalian," kata Darka pedas. Ia beralih pada Lita dan tersenyum. "Ayo samperin Tia."


Lita mengangguk. Ia mengikuti langkah Darka di belakang. Kerumunan orang yang ia lewati terhalang oleh jaket ini, Lita amat berterimakasih. Rumah Tia besar, megah dan luas hingga membuatnya terperangah saat melihat lampu utama yang begitu tinggi.


Ketika sampai di depan, di mana Tia berdiri dengan kue tart besar di hadapannya, Lita menampilkan senyum.


"Selamat ulang tahun, Tia," katanya agak meninggikan suara di tengah dentuman musik.


Tia tersenyum. "Makasih udah datang."


"Tia, happy birthday," kata Darka setelahnya. Ia tersenyum biasa, berbeda dengan wajah Tia yang berusaha untuk gembira.


Hei, siapa yang tak sedih saat mantan gebetannya datang bersama perempuan lain?


"Kalian barengan rupanya," kata Tia sambil tersenyum memerhatikan Lita dan Darka. "Silahkan nikmati pesta ini. Anggap rumah sendiri, oke?"


Lita hanya mengangguk lagi. Ia berniat meninggalkan Darka untuk pergi ke belakang. Awalnya Darka mencegahnya, tapi Lita memaksa dan akhirnya ia pergi setelah mengatakan di mana tepatnya akan berada. Darka akan menikmati pesta sendiri.


Pesta sama sekali bukan dunianya. Banyak bising-bising yang bercampur aduk di telinganya. Lita pusing. Jadi ia berada di belakang, dekat pintu masuk, melihat berjalannya pesta dari jauh. Penghuni dunia lainpun ikut hadir, Lita pura-pura tak bisa melihat mereka.


Jujur, itu sangat sulit dan mereka berisik.


Nyanyian ulang tahun mulai menggema, disusul suara kembang api, lalu peniupan dan pengudaraan harapan seorang Tia untuk tahun ini.


Lita merasa pusing, ia tak kuasa. Akhirnya dirinya menyender ke tembok, memejamkan mata sesaat.


Pesta masih berlangsung, Tia mempersilahkan undangan untuk makan sepuasnya pada meja-meja yang telah disediakan.


"Je, nih minum dulu—AWAS!"


Lita tak diberi waktu panjang untuk menenangkan diri setelah membuka matanya dan melihat Darka dengan dua gelas jus jeruk. Darka kemudian berlari ke arahnya dan menarik tubuhnya untuk di dekap, dilindungi, sementara dibalik punggung cowok itu jatuhlah lukisan besar yang kacanya langsung pecah berhamburan.


Suaranya keras, menegaskan betapa beratnya lukisan itu. Orang-orang berjerit terkejut karena suara itu dan musik langsung dimatikan.


Kejadian itu cepat terjadinya. Tak memberi Lita waktu untuk menyadari bahwa kini wajahnya sangat dengan dengan dada Darka yang bisa ia dengar degup jantungnya. Jantung dirinya juga berdebar kencang.


Aroma cowok itu masuk dalam pikirannya. Menjadi hal terakhir sebelum pikirannya mulai melalang buana. Sayup, ia mendengar kericuhan orang-orang yang terkejut karena lukisan besar itu tiba-tiba jatuh dan mereka ketakutan.


Kemudian, Lita benar-benar kehilangan kesadarannya.


Yang Lita sadari adalah paham bahwa tanpa Darka, ia tak tahu akan bagaimana nasibnya setelah malam ini.


Terimakasih, Darka.


***

__ADS_1


__ADS_2