Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
13. Dia yang Sebenarnya


__ADS_3

Malu jujur sesat di jalan


(d-bigboss)


---


Darka mengendarai motornya menembus udara dingin malam dengan kecepatan tinggi. Jaketnya berkibar-kibar di terpa angin. Dibalik helm yang menutupi seluruh wajahnya, binar pada mata Darka telah menghilang. Pandangannya seolah gelap dan kosong.


Jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 8 malam ketika Darka menghentikan motornya. Pemuda itu menoleh ke sisi kiri jalan. Darka tidak tahu kenapa dari banyaknya tempat yang bisa ia tuju, langkahnya malah berhenti di rumah gadis itu.


Lampu kamarnya masih menyala. Dia barang kali belum tidur.


“Darka?”


Darka membelalak. Ia menoleh ke belakang. Lita datang dari arah berlawanan dengan sebuah kantung plastik di tangannya.


“Kenapa lo malem-malem ke sini?” tanya Lita. Ia mendekat ketika tak mendapat satu pun jawaban yang keluar dari mulut Darka. Siang tadi selepas mengantar dirinya, Darka masih baik-baik saja, tapi kini Darka sepucat mayat hidup.


Darka pun tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berusaha menenangkan diri, tapi malah berakhir menemui Lita.


“Gue … gak tau kenapa.”


“Hah?” Lita mengerjap bingung. “Darka kesambet apa sih?” ia menghela napas dan merogoh plastik berisi dua kaleng minuman dan memberikannya satu pada Darka.


“Makasih,” Darka meneguknya. Lalu mereka diam sambil bersandar pada motor Darka, menunggu siapapun untuk memulai pembicaraan.


Ya. Begini saja sudah cukup bagi Darka.


Udara malam yang sejuk, suasana sunyi, dan gadis itu. Tapi bagaimana jika Lita tahu yang sebenarnya? Apa sikap Lita masih akan sama? Apa Lita masih bersedia menemaninya? Bahkan jika hanya dengan sekaleng minuman tanpa pembicaraan satu pun?


Darka takut jika semua jawaban itu adalah tidak. Mendadak, rasa manis pada minuman kalengnya menjadi pahit.


“Lita.” Darka memecah keheningan.


“Iya?”


“Gue pernah bilang kalau gue bakal selalu ada di pihak lo kan?” tanya Darka dengan suara beratnya yang tersirat keputusasaan.


"Iya, kenapa?" Lita balik bertanya dengan raut wajah amat bingung. Tak mengerti sama sekali dengan arah pembicaraan Darka malam ini.


Biasanya, cowok itu selalu menggodanya, tertawa dan ceria.


"Apa lo juga akan sama?" tanya Darka sambil menatap mata Lita dalam-dalam. "Apa lo masih akan mengulurkan tangan untuk gue?"


Lita hanya mampu mengerjap, kemudian perlahan ia mengalihkan pandangannya ke depan. Ia tak memberi jawaban, namun bukan berarti ia menolak atas pertanyaan Darka.


"Kenapa harus lo, ya? Kenapa gue harus sama cewek baik-baik kayak lo?" tanya Darka sambil tertawa. "Eh, lo nggak keberatan kan gue pengen akrab sama lo?"


Lita mengerutkan kening. Kali ini hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


“Gue." Darka mendekat dengan senyum misterius, ia kemudian berbisik diantara hembusan angin malam di telinga Lita. "Gue pernah bunuh orang."


Lita hampir tersedak minumannya sendiri. Ia menoleh sepenuhnya pada Darka yang masih menatap kosong. Darka bisa menangkap keterkejutan Lita sekaligus secercah tatapan was-was di matanya. Pemuda itu tersenyum kecut.


“Ma-maksudnya?”


“Lupain aja tentang malem ini, Jelita Geannesa.”


***

__ADS_1


Keesokannya, Lita hanya dapat memikirkan kata-kata Darka. Setelah pemuda itu mengatakan hal aneh padanya, Darka pergi pegitu saja, melajukan motornya pergi dari rumah Lita.


Lita mendesah gusar ketika melihat Darka, yang baru saja ia pikirkan datang dari arah parkiran. Tidak biasanya Darka datang pagi, biasanya malah selalu terlambat. Lita tidak tahu kenapa ia segera bergerak untuk bersembunyi di balik salah satu pilar koridor.


Tunggu, kenapa pula Lita menghindari Darka? Apa karna kata-katanya semalam?


“Dia nggak kelihatan kaya seorang pembunuh loh, Lita.”


“UWAAH!” Lita terkejut. Ia segera menutup mulutnya sambil mengatur degup jantungnya akibat hantu anak kecil yang rupanya mengikutinya sejak semalam. “Jangan ngagetin! Sshh!” ia menaruh telunjuknya di depan bibir, isyarat untuk tidak berisik.


Meskipun pada kenyataannya, hantu biasa suaranya tidak bisa didengar. Kecuali oleh orang-orang seperti Lita.


“Maksud kamu apa tadi?”


Hantu anak kecil itu menatap Darka yang sudah berjalan jauh. Lalu kemudian menatap Lita. “Aku mati dibunuh. Jadi aku tahu mata seorang pembunuh.”


Lita meringis sekaligus menaruh rasa penasaran pada penyataan hantu anak kecil itu.


“Tapi kakak yang kemarin gak kelihatan seperti pembunuh. Dia baik kan?” hantu itu kemudian perlahan menghilang dari pandangan Lita yang baru menyadari bahwa ada luka tusuk di dadanya.


Hantu anak kecil itu benar, Darka begitu baik pada Lita. Mana mungkin Darka … ah, sudahlah. Malam tadi, mungkin saja menjadi bagian dari candaan Darka mengingat cowok itu memang sifatnya begitu.


Lita tidak pernah ingin mempercayai seorang hantu, tapi kali ini, karena ini adalah Darka, Lita hanya berharap bahwa hantu itu mengatakan yang sebenarnya.


Ia melangkah gontai menuju kelas.


Sementara di lain pilar, seorang pemuda menatap kepergian Lita.


Darka, yang sebelumnya mendengar samar suara Lita tapi tak kunjung melihat gadis itu ikut bersembunyi. Pandangannya menyanyu. Apa tadi Lita benar-benar sedang menghindarinya?


***


“Ini tujuh keajaiban dunia.”


“Darka kesurupan jin ambis anjir.”


“WEH MA BRO, YO WHAT’S UP?”


Putra, yang batreinya selalu full charge merangkul Darka yang sedang membaca buku, pemuda itu hanya merespon dengan bergumam singkat. Anwar dan Sandi saling bertatapan, bertanya lewat pandangan masing-masing, tapi keduanya sama-sama mengangkat bahu, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Darka.


“Ini kayaknya otaknya ada korslet sedikit kemarin soalnya di lempar pake penghapus Bu Eko.” Putra, yang baru menyadari perubahan Darka segera melepas rangkulannya


“Ayo lah, Dark ke kantin, gue merinding gini liat lo baca buku.”


Darka mengangguk sambil menutup bukunya. Anwar, Sandi, dan Putra sudah seperti kembar tiga yang kehilangan salah satu kembarannya saat melihat Darka berjalan mendahului dengan wajah datar. Biasanya pemuda itu sudah membalas satu per satu bacotan mereka, tapi hari ini berbeda.


“Ayo lah, udah, penghapus Bu Eko ada penunggunya kali jadi gitu si Darka. Nanti pas ketemu fansnya juga balik lagi.” Anwar memilih tak ambil pusing dan menyusul Darka.


Tapi dugaan Anwar benar-benar salah. Darka melamun selama mereka makan di kantin. Fans yang kini kembali bergerak mendekati Darka ketika melihat kesempatan dengan tak adanya Lita hanya diladeni dengan senyum tipis.


“Kak Darka, cewe yang kemarin mana?”


“Itu Kak Lita-Lita yang itu bukan sih?”


“Kak Darka berantem ya? Yes, gapapa kak berantem aja!”


“Eh si anjir malah di semangatin berantem sama Lita,” celetuk Putra.


“Abis kalau ada Kak Lita kita jadi susah deketin kak Darka.”

__ADS_1


“Gue sama Jeli baik-baik aja kok.” Darka menjawab singkat. Membuat Anwar, Sandi, dan Putra semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara Lita di tengah antrian siomay hanya dapat menutupi wajahnya dengan tudung jaket merahnya, berusaha tak terlihat oleh siapapun, termasuk Darka. Tapi tentu saja ia bisa mendengar semuanya.


“Lo kenapa deh kaya orang eskimo gitu tudungnya dipake? Gue malah kegerahan gini anjir.” Tia, yang kali ini menemani Lita membeli siomaynya ikut merasa aneh dan protes.


“Gapapa, lagi pengen aja.”


Tia melirik kumpulan geng Darka dan fansnya. Kalau dipikir-pikir, Lita yang akhir-akhir ini sering bergabung, hari ini malah memilih makan di kelas setelah membeli siomay di kantin.


“Lo lagi marahan ya sama Darka?”


Lita cepat-cepat menggeleng. “Gue sama Darka baik-baik aja kok,” jawaban yang sama dengan yang diberikan Darka.


Namun setelah seminggu berlalu, kata ‘baik-baik aja’ itu seolah melambung entah kemana. Lita tidak terlihat menempel dengan Darka. Darka pun jadi lebih sering ada di kelas dari pada di kantin. Keduanya seolah menjaga jarak dari bertemu di depan publik.


Darka tidak bodoh, tentu saja setelah ia mengakui ‘hal itu’ tempo hari, keadaannya akan berubah seperti ini. Hanya saja, ia tidak benar-benar menyangka.


“Tapi kalau gua gak kasih tau, dia bakal selamanya ngira kalau gue orang baik.” Darka menutupi wajahnya dengan buku perpustakaan.


Ya, pemuda itu sudah tidak tahan berlama-lama di kelas selama seminggu ini dan memutuskan kabur ke perpustakaan saat jam kosong.


“Iya, Jeli. Gue bukan orang yang sebaik itu.”


***


“Lita, tolong ambilin absensi ibu ya? Kayaknya ketinggalan di perpustakaan.” Bu Eko meminta Lita yang segera mengangguk.


Hari ini adalah pelajarn Bu Eko, guru killer, Lita tidak mau cari gara-gara dan bergerak cepat menuju perpustakaan. Kalau dingat-ingat, Bu Eko adalah guru yang pernah melempar penghapus papan tulis pada Darka karna tak konsen belajar.


Sambil menuruni tangga, Lita memikirkan waktu-waktu menyenangkan atau merasa terselamatkan, yang jika bukan karna Darka maka Lita tidak akan merasakannya. Sekarang bertatap muka saja Lita tidak pernah lagi dengan Darka.


Sudah berapa lama? Mungkin baru seminggu, tapi bagi Lita rasanya sudah lama sekali.


Lita segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir Darka dari pikirannya. Gadis itu membuka pintu perpustakaan dan langung menemukan lembar absensi milik Bu Eko yang tertinggal di atas meja perpusataan.


Ia baru saja akan keluar setelah mengambil lembar absensi, tapi matanya menangkap seorang pemuda di pojok ruangan dengan buku yang menutupi wajahnya.


“Darka?”


Lita tidak tahu apa yang membuatnya berani berjalan mendekat untuk memastikan. Ia berjongkok di depan pemuda itu dan memberanikan diri untuk menyingkirkan buku yang menutupi wajahnya.


Itu benar-benar Darka.


Tapi darka yang kini dilihat Lita sedang menutup matanya dan menangis.


Matanya membengkak, hidung dan bibirnya merah, dan masih ada air mata yang tersisa. Wajah Darka lebih pucat dari yang terkhir Lita lihat seminggu kemarin.


Iya, Darka yang biasanya selalu tertawa dan membuatnya jengkel. Darka yang Lita pikir punya banyak sisi terang yang menyenangkan. Jemari Lita bergerak tanpa sadar untuk menghapus air mata Darka yang bergulir, namun Lita berhasil menghentikannnya tepat saat Darka terbangun. Ia membelalak kaget, sama halnya dengan Lita.


“Sorri.”


Darka mengusap kasar wajahnya dan segera bangkit dari tempatnya, meninggalkan Lita yang masih terpaku di sudut ruangan.


Kata-kata itu kembali menghantui Lita.


“Iya Jelita. Dia rapuh. Rapuh banget.”


Lita seolah baru saja melihat topeng yang remuk dan menunjukkan wajah asli Darka yang tak pernah pemuda itu tunjukkan secara nyata.

__ADS_1


***


__ADS_2