Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
17. Mengulurkan Tangan


__ADS_3

Jangan suka menyimpan masalah sendiri kalau ingin masalah itu segera selesai


---


Sejak kejadian mereka saling berbagi, Darka dan Lita menjadi tambah dekat.


Saat istirahat, beberapa kali keduanya tampak bersama. Berada di atas atap sekolah, melepaskan penat usai mengikuti pelajaran.


Darka dengan cerita recehnya sukses membuat Lita sesekali tersenyum. Bibir gadis itu tak lagi kaku seperti biasa. Tapi tetap saja, tatapan dan ekspresi wajah gadis itu memang sudah bawaannya datar tidak bisa diubah.


Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di malam hari. Di minimarket, ditemani pop mie dan air mineral dingin, mereka lebih sering menghabiskan waktu. Darka sudah hapal betul kapan gadis itu akan datang dan jam berapa ia akan pulang. Sebisa mungkin Darka datang lebih awal agar ia yang menyediakan pop mie untuk gadis itu.


Darka juga hapal kapan Lita pergi bekerja. Sebisa mungkin pemuda itu akan datang menjemput Lita dan mengantarkannya bekerja. Sebisa mungkin juga Lita menolak tawaran Darka karena merasa merepotkan.


“Udahlah, Dar. Lo gausah dah ngantar jemput gue,” kata Lita berdiri di samping motor Darka, yang menjemputnya malam itu untuk berangkat ke tempat kerja.


“Yaelah santai aja napa, Jel.” Darka menepuk belakang motornya pelan, sembari mengulurkan helm pada Lita. “Buruan entar lo telat kerja.”


Lita melengos, menarik helm itu kuat dari tangan Darka. Ia naik dengan posisi duduk laki-laki. “Habis gue gajian, gue bayar utang gue.”


“Utang apaan?” tanya Darka mengernyit di balik helmnya.


“Ya, ini. Bensin motor, pop mie, sama air minum.”


“Ish, lo tuh, ya,” geram Darka. “Kan gue bilang nggak usah.”


“Tapi kan—”


“Udah diem. Gue mau ngebut,” ujar cowok itu sambil menyalakan mesin motor.


Lita melotot. “Jangan macem-macem lo,” katanya memberi peringatan.


“Iye-iye. Percuma ngebut, tetep aja nggak bisa pegangan ama gue kan?” tanya Darka menggoda. Lita hanya melengos, malas merespon ucapan pemuda tampan itu.


***


Lita memandangi teman sekerja mereka satu persatu dengan bingung. Mereka akan bekerja satu setengah jam lagi. Seharusnya kan mereka sudah mulai berdandan menjadi hantu, mengapa mereka belum bersiap-siap juga.


“Eh, Lita udah dateng.” Gio balik badan, memperbaiki kerah kemeja biru mudanya sambil tersenyum pada Lita.


“Lit, buruan siap-siap,” celetuk Anna dari pantulan cermin, tangannya sibuk memakaikan bedak di wajahnya.


“Kita hari ini nggak kerja?” tanya Lita masih tak paham akan situasi yang ia lihat.


“Kagak.” Bagas datang entah darimana tiba-tiba bersuara. “Kita hari ini libur.”


“Kok gitu?” nada suara Lita terdengar sedikit sewot, tak terima jika hari ini tidak bekerja. Bisa-bisa ia tidak digaji kalau melewatkan satu hari saja hari kerjanya. Padahal hari kerja di tempat ini juga hanya dua kali seminggu.


“Mau ditraktir nyai ronggeng. Satu bulanan tempat ini. Lebih ke syukuran sih, kan tempat kerja kita lumayan rame,” ujar Dara menyebut Mia si pemilik tempat ini dengan sebutan “nyai ronggeng”, berusaha mencepol rambutnya yang sedari tadi ia coba namun masih tampak berantakan.


“Nih parfuman dulu biar wangi,” sahut Gio membawa botol parfum lalu menyemprotkan parfum itu ke seluruh badan Lita. Lita menggoyang-goyangkan tangan saking tak tahannya akan aroma parfum yang terlalu menyengat itu.


“Jahil bangit dah si Gio,” sahut Ana tertawa. Kemudian beralih menatap Lita. “Udah, Lit. Siap-siap dulu. Bentar lagi kita berangkat.”


Lita berjalan pasrah menuju meja rias. Kini gadis itu menghias dirinya agar wajahnya tampak lebih baik.


“Lit, jangan lupa cowoknya dibawa ya. Kasian nganggur di luar.”


“GIO UDAH DEH.”


****


“Jadi kalian gak kerja hari ini?”


Lita menggeleng, “Libur dulu satu hari, besok ya kerja lagi.” Ujarnya sambil turun dari motor.


Mulut Darka membentuk huruf O tanpa suara. Ia mengerti maksud gadis itu. Darka melepas helm, mengacak-acak rambutnya. Kemudian berjalan disamping Lita, memasuki tempat makan yang Mia katakan kepada mereka.


Mereka pergi secara terpisah. Mia mengendarai mobilnya bersama dengan Gio, Dara, dan Ana, sedangkan Bagas dan Siska naik motor bersama karena Bagas tidak mau naik motor sendirian tanpa boncengan. Gio mau-mau saja menjadi teman Bagas tapi Bagasnya tidak mau. Takut dibilang homo sama orang-orang soalnya kalo Gio naik motor suka meluk-meluk pinggang yang bawa motor.

__ADS_1


“Gituh banget sih lo gas ama gue. Kata elo gue adalah pacar lo yang paling setia,” ucap Gio penuh dengan drama.


Semua tertawa kecuali Bagas dan Lita.


Lita hanya tersenyum segaris. Sudah biasa.


“Diem lo, tai.” Kata Bagas kesal. Siska duduk disampingnya menepuk-nepuk punggung cowok itu.


“Makanya, gas. Cari pacar sana.” Sahut Ana baru kembali sehabis memesan makanan mereka semua.


“Baru diputusin dia. Efek heartshakernya masih kerasa.” Jawab Gio asal.


“Heartbreaking kali maksud lo.” ujar Dara menimpali.


“Masa?” tanya Gio bingung.


“Au dah males gue.” Siska jadi menepuk punggung pemuda itu. Mia hanya menggelengkan kepala kecil mendengar perdebatan anak buahnya itu.


Darka hanya ikut menyumbangkan tawa saja. Maklum, mereka semua ini belum terlalu akrab pada Darka. Darka juga harus jaga image. Seenggaknya disinilah Darka akan mendapatkan pengakuan sebagai cowok ganteng nan kalem. Begitu.


“Lah, Darka. Kok diem-diem aja?” tanya Mia pada Darka. Darka langsung menggaruk lehernya salah tingkah.


“Napa dah? Ketularan Lita jadi pendiam gituh yak?” celetuk Gio, membuat Lita langsung melotot.


“Mampus dipelototin Lita.” Dara menunjuk-nunjuk wajah Lita yang menatap Gio garang. Lita langsung mengubah ekspresi wajahnya itu, kemudian menggelengkan kepala tanda mengelak ucapan Dara.


“Ampun nyai, ampun.” Gio menunduk pada Lita beberapa kali. Meski kerap menjahili Lita, Gio tetap saja takut jika gadis itu memasang wajah garangnya.


“Darka gausah sungkan sama kita. Kita orangnya baik-baik semua kok.” Ujar Ana, tampak tak memberi batasan pada Darka.


“Iya, kak. Santai,” jawab Darka. Ana memang lebih tua empat tahun dari Darka. Tepatnya, lebih tua dari mereka semua kecuali Mia.


Setelah hampir tiga puluh menit mereka menunggu, pesanan mereka pun datang. Bagas dan Gio sudah heboh mengambil mangkok mie ayam pesanan mereka dari si abang pelayan. Langsung diletakkan di depan mereka yang seharusnya dioper dulu kepada orang yang duduknya paling ujung.


“Selamat makan,” ujar Siska nyaring setelah mencak-mencak karena pesanannya terlambat datang.


Semuanya tak menyahut karena udah kelaparan.


“Yang ngobrol sama lo pas kita lagi kerja itu siapa?”


Pertanyaan Dara sontak membuat Lita terkejut dalam diamnya. Darka mengangkat alis, memperhatikan Lita yang sudah bungkam seribu bahasa.


“Bukannya itu Darka ya?” sahut Siska yang saat itu posisi sebenarnya agak jauh dari Dara dan juga Lita.


“Bukan.” Kini giliran Ana yang nyahut.


“Yang kemaren itu lebih tingi dari Darka, tau.”


Lita membasahi bibir, lalu memberanikan diri menjawab. “Itu temen gue.”


Gio menggaruk pelipisnya, “Kalian lagi musuhan ya? Masa gue lihat dia lihatin lo sinis banget, Lit.”


Darka cengo, tidak mengerti siapa yang mereka bicarakan. Perasaan teman cowok yang Lita punya hanya Darka, tidak ada yang lain.


“Udah udah,” ujar Mia menengahi. “Lihat tuh muka Lita habis kalian tanya-tanyain. Dia jadi bingung kan.”


Mia menatap Lita sambil senyum, merasa mengerti bahwa Lita tidak suka ditanyai yang macam-macam. “Udah, kamu lanjut makannya aja. Gausah dijawab pertanyaan mereka.”


Lita mengangguk kecil. Jiwanya serasa meringan usai Mia menutup pertanyaan yang dilontarkan oleh teman sekerjanya itu.


Sementara Darka hanya memperhatikan dengan kalem. Namun, ternyata penasaran juga siapa orang yang dimaksud.


***


Darka melipat tangan di dada, memperhatikan Lita di depannya sudah duduk dengan tenang usai mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin minimarket. Keduanya memutuskan singgah ke minimarket sebentar berhubung ini belum jamnya mereka pulang—yakni jam sebelas malam.


Setidaknya masih ada waktu satu jam lagi untuk bersenang-senang.


Mereka berdua tak minat memakan pop mie. Perutnya sudah cukup kenyang dengan traktiran Mia tadi.

__ADS_1


Jadilah yang diambil hanya dua minuman kaleng.


“Jadi, siapa yang mereka maksud?”


Gadis itu mengangkat satu alisnya. “Apanya?”


“Cowok tinggi yang ketemu sama lo pas lagi kerja.”


“Bukan siapa-siapa," jawab Lita cuek, tangannya sibuk membuka tutup kaleng minuman dingin itu.


“Katanya bakalan cerita apa aja,” sindir pemuda itu. “Ujung-ujungnya main rahasia-rahasiaan juga.”


“Cuma masa lalu, Darka.”


Darka berdecak, menatap gadis itu dengan wajah datarnya. “Pantesan sampe nggak bisa jawab.”


“Atau jangan-jangan, itu mantan lo ya?” tanya Darka menebak.


Lita melengos kasar, wajahnya kini nampak frustasi. Lagian, kenapa sih tadi mereka menyinggung soal Abra di depan Darka?


Kalau begini, Lita harus bagaimana?


Kalaupun jujur tentang Abra, bisa-bisa Darka malah menjauh. Karena ada cerita tak mengenakkan terjadi diantara dia dan mantan kekasihnya itu.


“Diam berarti, iya.” Darka tersenyum miring, mengambil minuman kalengnya dan membuka dengan santai. Mengabaikan Lita yang sudah memelototinya tajam.


“Emang mantan gue,” ucap Lita pelan.


“Namanya Abra.”


“Ooohhh…” Darka diam sejenak,l. “Yang namanya sengaja keceplosan itu.”


Lita mengumpat. Mengenggam erat minuman kaleng di tangannya, menahan diri agar tidak melemparkannya ke wajah tampan Darka.


Darka tertawa pelan. “Becanda, njir.”


"Nggak lucu."


“Kok bisa putus sih?”


Lita membasahi bibir bawahnya, meletakkan minuman kaleng itu dan membenarkan posisi duduknya agar terlihat sedikit lebih nyaman.


“Ada kejadian yang nggak mengenakkan terjadi,” Lita mulai bercerita. Sebentar menghela nafas berat, lalu melanjutkan. “Gue putus sama dia gara-gara dia udah punya cewek lain.”


Raut wajah Darka berubah menjadi orang yang terkejut. Mulutnya ikut menganga tak percaya.


“Emang gue nggak terima diputusin. Tapi, ada kejadian dimana gue kesurupan dan nyamperin Abra ke kelasnya. Dari cerita anak kelas itu gue tau, ternyata yang ngerasukin gue marah-marah nggak terima diputusin Abra. Gue nyekik leher Abra sampe lehernya luka gara-gara kuku gue. Beberapa orang misahin gue, lalu gue pingsan. Gue nggak tau kejadian selanjutnya gimana. Tapi mereka yang melihat, udah ngecap gue gila dan salah ”


Darka mendengarkan begitu serius. Telinganya berusaha menangkap semua apa yang Lita ceritakan padanya.


“Saat gue bangun, ada satu hantu yang lihatin gue terus-terusan. Dia nangis dan bilang makasih karena gue udah berkenan dimasuki arwahnya dia. Padahal gue gak tau kalau beneran tubuh gue gampang dimasuki sama arwah, karena gue frustasi saat itu.”


Liya bergidik ngeri saat membayangkannya. “Dia ternyata pernah suka sama Abra. Abranya nolak dia terus-terusan. Mulai dia sakit sampai ia tiada, Abra sama sekali gak pernah lihat dia.”


Sejak kejadian itu, Abra memutuskan pindah sekolah. Sebelum pindah, dia ngata-ngatain gue, menyebar rumor gue sampe orang-orang liat gue dengan aneh. Setelah itu hidup gue terasa seperti neraka di sekolah.”


Darka mengernyit, memberanikan diri membuka suara. “Kenapa lo gak jelasin aja ke Abra yang sebenarnya?”


“Hah,” Lita membuang nafas kasar.


“Jangankan jelasin. Ngomong sama dia kemaren aja ketus banget ke gue,” omel gadis itu.


“Tapi kalo ginikan dia salah sangka mulu sama lo,” komentar Darka. “Gini aja deh, gue bakalan bantu lo selesaikan urusan lo sama si abracadabra itu.”


“Caranya?”


“Entar dah gue pikirin,” jawab Darka penuh keyakinan.


Kemudian, Lita hanya menatap Darka tertegun. Hanya mengucapkan kalimat seperti itu, Lita langsung yakin bahwa Darka bisa membantunya.

__ADS_1


Sementara Darka tersenyum tak jelas, sudah tahu apa yang akan dilakukannya.


**


__ADS_2