Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
05. Seimbang


__ADS_3

Manusia adalah makhluk sosial, mereka saling membantu dan dibantu


Itu yang aku lakukan padamu


---


Lita melangkah ragu memasuki gerbang sekolah yang masih gelap. Ini terlalu pagi untuk murid manapun yang berangkat ke sekolah. Siapa pula murid yang mau datang jam 5 pagi? Kalau bukan karna baju olahraganya tertinggal di toilet perempuan lantai 2, Lita tidak akan mau.


Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya keras keras, mengumpulkan keberanian sambil mencengkram tali ranselnya. Lita melangkah masuk.


Sekolahnya bukan sekolah yang paling menyeramkan sekabupaten, tapi tentu saja mahluk-mahluk itu berada di mana-mana. Sebagian dari mereka tidak begitu menyeramkan dan hanya mengikuti sesaat, sebagian dari mereka sangat menyeramkan. Semenyeramkan rumor yang memperkuat keberadaan mereka.


Makanan yang ia makan di minimarket semalam rasanya nyaris teraduk-aduk dan membuat perutnya mulas sekarang.


Lita menaiki tangga menuju lantai dua. Letak toilet perempuan itu ada di sudut koridor. Biasanya toilet itu hanya ramai saat semua murid perempuan ganti baju di siang hari, selebihnya tidak ada yang pernah berani sendirian ke sana dan memilih toilet di lantai pertama. Lita berusaha mengingat apa yang dikatakan gadis-gadis di kelasnya saat berbisik tentang kabar burung kematian si gadis toilet.


Dulunya, gadis itu korban bullying dan ditemukan mati bunuh diri di kamar ketiga. Meski terkadang ia tidak menampakan diri, Lita tahu gadis toilet itu tidak pernah meninggalkan tempatnya. ‘Mereka’ yang lebih jahat dikelilingi aura yang lebih gelap disertai bau busuk, Lita tidak mau sampai harus melihatnya terlalu lama.


Dari depan pintu toilet yang gelap saja, hawa dingin mencengkam sudah menyambut Lita, menghantarkan bulu-bulu halusnya berdiri. Gadis itu menundukkan pandangannya, tidak mau melihat apapun yang ada di depannya kecuali baju olahraganya yang tertinggal diatas wastafel.


Lita menyambar bajunya dan segera berbalik.


BLAM!


Pintu toilet perempuan tertutup. Lita mencengkram baju olahraganya, jantungnya nyaris mencelus ke perut. Lampu toilet yang sebelumnya menyala mulai remang-remang. Lita bisa mendengar pintu toilet ketiga terbuka secara perlahan.


Kreeett ….


Gadis toilet itu berpakaian seragam yang lusuh. Wajahnya pucat pasi. Lehernya keunguan, luka bukti bekas gantung diri yang dilakukannya. Kukunya hitam dan membusuk. Langkahnya semakin dekat dan dekat.


Ini bukan kali pertama ia melihat makhluk lain di sekolah, tapi sungguh, dia adalah yang paling berpenampilan mengerikan. Benar-benar membuatnya hampir lupa bernapas.


“Jelita, kamu bisa melihatku ya?”


Lita memejamkan matanya. Tangannya terus menarik engsel pintu toilet yang tidak mau terbuka seolah terkunci dari luar.


DUG! DUG! DUG!


“Tolong! Siapapun buka pintunya!” Lita berteriak frustasi, menggedor-gedor pintu toilet dan hampir menangis. Tangannya gemetaran, udara dingin seolah mencekiknya begitu saja semetara gadis toilet itu tertawa dengan suara anak kecil yang membuat Lita lemas.


“Tenang Lita! Dia cuma hantu! Dia cuma hantu!”


“Jelita, kamu bisa melihatku kan?”


“PERGI! Jangan ganggu gue!” Lita berteriak sekuat tenaga, mengumpulkan semua keberaniannya dalam satu tarikan suara. Gadis toilet itu berhenti tertawa.

__ADS_1


BAM! Pintu toilet ketiga tertutup.


Lampu toilet kembali menyala terang dan suara-suara itu berhenti. Lita menghembuskan napasnya lega. Gadis itu mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menoleh kebelakang.


“Nggak, Lita. Lo harus keluar, jangan liat apapun di belakang.”


Tapi Lita tetap menoleh. Dan tidak ada siapapun di sana. Pintu toilet ketiga masih tertutup rapat. Lita memeluk baju olahraganya dan berniat kembali menghadap ke depan, keluar dari toilet perempuan.


Dan gadis toilet itu dalam sekejap mata berada di depannya.


“Tolong bantu aku, Jelita!”


“AAAHHHHH!”



Darka menendang bekas minuman kaleng yang menghalangi jalannya ketika ia mendengar suara terikan yang dikenalnya. Dia kira akan mendengar suara-suara yang tak diinginkan dan membuatnya takut, namun rupanya datang pagi untuk mengingat dari orang tuanya tak seburuk itu saat mendengar suara dari Si Jaket Merah.


Namun, nyatanya ini membuatnya sedikit khawatir.


Ia melihat sekeliling, berusaha mencari asal suara. Darka berlari menyusuri anak tangga sambil terus memanggil nama Lita.


“Jelita? Jelita lo dimana?!” Darka menoleh pada ujung koridor lantai dua yang remang-remang. Perasaannya jadi tak enak. “Jelita?”


Pemuda itu memutuskan itu mengikuti firasatnya dan berlari menuju toilet perempuan. Darka berusaha membukanya, tapi terkunci. Ia tidak mungkin mencari petugas kebersihan sekolah sekarang yang biasanya memegang kunci toilet.


Darka menggeram saat tidak mendengar jawaban apapun. Ia segera mendobrak pintu toilet dengan melemparkan tubuhnya melawan pintu toilet.


BLAM! Pintu toilet terbuka. Darka membelalak saat menemukan Lita terkapar setengah sadar di lantai toilet perempuan.



“Nih minum dulu.” Darka menyodorkan segelas teh hangat. Lita mengangguk dan mengambilnya dari tangan Darka.


Gadis itu menatap Darka yang kini duduk di sisi ranjangnya. Lita pernah mengalami hal serupa dan ia tidak sadarkan selama seharian penuh karena tidak ada yang menolongnya. Tapi, pagi ini Darka menyelamatkanya. Lita tidak tahu bagaimana harus berterimakasih.


“Darka.”


“Apa, sayang?”


Lita melotot. “Serius dulu.”


“Akhirnya lo mau serius juga sama gue Lita!” Darka sudah memasang muka mupeng sementara Lita menarik napas penuh kesabaran.


Pemuda itu terkekeh. "Oke, oke, serius."

__ADS_1


Darka benar-benar memandang Lita dengan keseriusan di matanya. Ia tahu ada yang berbeda dengan Lita, dan sekarang Darka semakin penasaran.


“Makasih karena lo udah bantuin gue hari ini."


Darka mengacungkan jempolnya sambil tersenyum tipis. "Emang di toilet ada apaan sampai lo tepar gini?"


"Di dunia ini, ada sesuatu yang nggak harus lo tau. Ada batasnya." Lita menatap Darka datar.


"Oh, oke. Gue paham." Darka **** bibirnya, menahan rasa gemas. Rasanya ia ingin sekali mencubit pipi Lita habis-habisan. Mengapa gadis itu membuatnya semakin penasaran?


“Nih makan dulu, gue bisa makan nanti,” Darka menyodorkan roti ke hadapan Lita.


“Tapi, lo bukannya belum makan dari semalem?”


Darka mengerutkan keningnya. “Lo tau dari mana?”


Lita langsung menutup mulutnya. Ia ingin sekali menampar pipinya sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa seceroboh ini memberi tahu Darka kalau dia tahu bahwa semalam Darka bertengkar dengan orang tuanya?


“Um, gue liat lo di minimarket semalem.”


Darka melongo. “Terus?”


Lita mengelus tengkuknya. “Lo … kayaknya abis berantem sama seseorang dan main keluar buat nenangin diri.”


Lita menatap Darka, berpikir bahwa pemuda itu mungkin akan marah padanya, tapi Darka tetap diam dan malah terkekeh. Membuat Lita jadi ingat dengan jelas apa yang dikatakan hantu itu kepadanya.


“Iya, Jelita. Dia rapuh. Rapuh banget.”


Darka yang semalam sangat berbeda dengan yang kini Lita lihat. Darka yang sepertinya tanpa beban dan diberkahi segala macam bahagia.


Pemuda itu menghela napas dan malah memberikan jari kelingkingnya. Lita tak mengerti dengan gerakan tiba-tiba Darka.


“Gue lupa bilang. Kita harus bikin kesepakatan. Bisa dibilang ini balasan karena udah gue bantu." Darka berkata serius, membuat kening Lita mengerut. "Lo harus bisa jaga kartu. Soal gue di minimarket dan jaket favorit gue, jangan kasih tau siapa-siapa. Pinky swear?”


Lita menahan senyum di sudut bibirnya yang membuat Darka terpengarah. Batinnya menjerit-jerit. Lita bisa senyum! Cewe itu bisa senyum juga!


Darka menyadari perubahan raut wajah Lita yang tampak ragu untuk menyetuhnya.


“Kenapa? Tangan gue gak bau terasi, Jelita Geannesa.”


“Bukan itu–” Lita menghela napas, tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.


“Okay, kalau gitu dicium aja.” Darka mengecup kelingkingnya.


Lita memutar bola matanya, jengah juga kesal. “Pokoknya lo gak boleh kasih tau siapa-siapa. Kalau semuanya bocor, gue nggak segan buat balas dendam.”

__ADS_1


"Dengan begitu kita impas." Lita bangkit, meninggalkan Darka tanpa kata-kata lagi. Membuat laki-laki menarik senyum lebar kemudian tertawa kecil.


Sial, mengapa Darka semakin penasaran?


__ADS_2