Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
18. Membalas Uluran Tangan


__ADS_3

Apakah dunia memang sesempit itu,


atau kita ... memang telah ditakdirkan?


Anwar masuk ke dalam kamarnya yang sudah mirip kapal pecah karena kedatangan teman-temannya. Pemuda tinggi berkulit tan itu melemparkan kantong kresek berisi minuman bersoda dan juga cemilan ke arah Putra yang duduk di lantai bersama Sandi, mereka berdua fokus memegang stik PS dan mata memandangi layar TV.


“Sakit woy,” ucap Putra sempat-sempatnya.


“Makasih, sayang,” kata Sandi agak keras membuat Putra menabok kepala pemuda itu.


“Tandai noh sayang lo. Kambing peliharaan bapak gue,” celetuknya lalu menjatuhkan diri di ranjang, bergabung bersama Darka yang sudah berbaring dengan tangan sibuk memainkan hape.


“Napa dah muka lo serius amat kayak lihatin cicilan utang,” kata Anwar mengintip layar hape Darka. Sayangnya, belum sempat melihat, Darka sudah menjauhkannya dari pandangan Anwar.


“Apa sih lo,” kata Darka tersadar usai menenangkan keterkejutannya. “Kepo bener.”


Anwar memicingkan mata. “Lo pasti lagi stalking someone,” tebak Anwar.


“Nggak,” ucap Darka mengelak, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Eh, lo kemaren bilang ke gue kenal sama Abra kan?”


“Ho’oh.” Anwar mengangguk mantap. “Kenapa emangnya?”


“Hmmm…begini….” Darka terlihat meragu, kurang yakin apakah sahabatnya ini bisa membantu.


“Tinggal bilang aja ribet amat.” Putra tiba-tiba nyeletuk.


“Kenapa, Dar? Lo naksir?” tanya Sandi tanpa dosa. Langsung saja Darka mengumpat kasar, membuat kedua cowok yang duduk di lantai itu tertawa pelan.


“Lo akrab kan sama dia? Bisa bantuin gue nggak?”


“Bantu ngapain?”


“Jadi gini…..” kata Darka menjelaskan rencananya pada Anwar. Rencana yang ia susun sejak semalam, yang dengan harapan juga bisa membantu Lita.


***


Lita berdecak kesal, kakinya mencak-mencak, tak terima dengan saran Darka yang menurutnya sangat-sangat tidak ingin ia lakukan. Apalagi sekarang dia duduk di kafe yang sangat familiar dengan dirinya dulu.


Tempat yang sering ia datangi ketika masih pacaran dengan Abra dulu.


“Pokoknya gue gamau, Dar,” protes Lita.


Darka mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Lita, tapi tak sampai menyentuhnya.


“Diem,” ucap Darka. “Ini kesempatan lo. Jangan disia-siain.”


“Gue bisa urus sendiri masalah gue.”


“Kapan, hah? Kapan mau lo urus,” omel Darka tajam. “Mending diselesainnya sekarang daripada nunggu besok-besok. Bisa-bisa sampe tahun depan jumpa tahun depan lagi nggak bakal kelar masalah lo sama dia.”


Lita menggigit bibirnya pelan. Tangannya jadi keringat dingin. Gadis itu tengah gugup, duduk dengan gelisah dikursinya.


“Dengerin gue,” ucap Darka membuat Lita menatap Darka.


“Kalaupun dia nggak percaya sama perkataan lo nanti, yang menjadi intinya sekarang adalah lo jujur. Lo jujur sama dia, dan jujur sama diri lo sendiri,” kata Darka menasehati.


“Tapi kan—“

__ADS_1


“Udah ah lo tinggal ngomong doang ke si Abra. Entar kalo dia macem-macem, lihat aja gue.” Darka menoleh, menunjuk kursi kosong yang tak jauh dari tempat Lita dan Abra duduk nanti. “Gue disitu tuh. Duduk memantau lo berdua.”


“Dar, si abracadabra dah dateng.”


Anwar muncul dari pintu depan kafe sambil berjalan cepat kearah Darka. Darka langsung bangkit dari duduknya, sesaat dia mengepalkan tangan keatas.


“Semangat, neng. Selesain dulu urusannya sama mantan, baru berurusan lagi sama aku ya,” kata Darka dengan nada centil.


Anwar langsung menarik kerah baju cowok itu dari belakang. Darka memekik pelan, namun ikut juga melangkah bersama Anwar menuju tempat persembunyian mereka.


Lita menarik napas, membuangnya pelan. Derap langkah kaki semakin mendekat kearah tempat ia duduk. Gadis itu yakin bahwa itu adalah Abra.


“Hmm, Abra.”


Abra menoleh, mendapati Lita yang duduk dengan tenangnya. Mata pemuda tinggi itu melebar, tak menyangka akan bertemu dengan mantan pacarnya disini.


“Ngapain lo disini?” tanya pemuda itu ketus.


“Ngg—gue—”


“Jangan-jangan si Anwar nipu gue, lagi,” gumam pemuda itu merogoh sakunya mengambil hape, berniat menghubungi Anwar.


“Sebenarnya gue yang mau ketemu sama lo.”


Abra mengernyit, tersenyum sarkas pada gadis itu. “Lo? Ketemu ama gue?” tanyanya sinis. “Segitu gamonnya ya sama gue sampe mau ketemu disini?”


“Bukan itu. Ada yang mau gue omongin sama lo.” Lita mengubah ekspresinya yang tadinya muram menjadi datar dan serius.


Sudah cukup. Gadis ini tidak perlu memasang wajah minta dikasihani di depan cowok tengil seperti Abra ini.


“Gue serius, Abra. Ada yang harus diselesain di antara gue sama lo.” Lita menatap Abra tajam, hingga membuat pemuda itu tak berkutik. Abra hanya mengangguk lalu mengambil posisi duduk di depan Lita.


“Ini soal kejadian waktu kita baru putus.”


Abra berdecak. “Oh, itu?”


Lita mengangguk, “Sebenarnya yang nyekek lo waktu itu, bukan gue.”


“Bukan lo?” tanya Abra tak percaya. “Jelas-jelas itu lo dan lo masih tetap bilang itu bukan lo?”


“Badan emang badan gue, tapi itu bukan jiwa gue,” ucap Lita tegas. “Dan tolong jangan ngomong sebelum gue jelasin semuanya ke lo. Paham?”


Abra sampai tertegun mendengar ucapan Lita yang disetiap katanya penuh penekanan. Aura gadis itu benar-benar kuat sampai Abra tak mengenali gadis ini siapa.


“Namanya Rena. Dia pernah suka sama lo. Dia bilang suka sama lo, tapi selalu lo tolak. Bahkan, sampai dia sakit hingga meninggal pun, lo nggak pernah sekalipun lihat dia.”


Abra merapatkan bibir. Matanya melebar mendengar nama gadis itu. “Rena? Rena udah meninggal?”


Lita mengangguk. “Dia dateng ke gue karena dia kesal sama lo. Gue gak pernah sampein pesan terakhir dia ke elo, karena lo pun udah kelewat benci sama gue.”


Dia bilang, lo jangan pernah mainin perasaan perempuan lagi. Setidaknya, kalo lo nggak suka sama cewek yang menyatakan perasaannya duluan ke lo, jangan lo permalukan dia. Tolak secara halus, bukan dikata-katain sebagai cewek murahan.”


Lita menghela napas sebentar. “Kalo lo sempat, datangi makamnya. Minta maaf, dan berdoa buat dia.”


Abra tampak sangat terkejut, yang cowok itu lakukan hanya diam dan membuat Lita mendengus kecil.


Gadis itu memajukan diri untuk menatap Abra lebih lekat. “Berdoa juga buat diri lo sendiri. Biar nggak suka nyakitin perasaan orang.”

__ADS_1


Abra memalingkan wajah, tak sanggup menatap wajah Lita yang masih memasang ekspresi datar di depannya. Pemuda tampan itu mendadak kehilangan kata. Lidahnya terasa kelu mendengar penjelasan mantan pacarnya itu.


“Mungkin ini semua nggak masuk akal buat lo. Tapi, itulah kenyataannya,” kata Lita lagi.


Lita menggeser kursinya ke belakang, lalu bangkit dari duduknya. “Gue rasa, masalah kita selesai. Semoga lo—“


“Lo tahu di mana makamnya Rena?”


Lita mengangkat alis, merasa senang akhirnya pemuda itu luluh juga. Ia menyebutkan tempat dimana Rena dimakamkan. Lalu, tanpa banyak kata, Abra pun pergi lebih dahulu. Meninggalkan Lita yang sudah tersenyum, merasa lega telah mengungkapkan semuanya.


Gadis itu menoleh kearah Darka dan juga Anwar. Kedua pemuda itu tersenyum senang, melihat ekspresi Lita begitu sumringah.


Kedua pemuda itu sedari tadi hanya diam menyimak, jadi tersadar. Yang mengubah Lita menjadi orang yang tertutup adalah insiden masa lalu tak terduga yang ia alami.


Lita lalu menatap Darka yang tengah mengangkat kedua jempol tangannya sebagai tanda ia bangga pada Lita. Gadis itu lalu terdiam. Teringat akan cerita-cerita lalu yang dialami Darka.


Ia masih ingat bahwa Darka adalah manusia rapuh. Dan Lita berniat juga meluruskan semuanya.


****


Lita pergi sejam lebih awal untuk bekerja. Malam ini, ia tidak diantar Darka karena pemuda itu sedang bersenang-senang dengan Putra, Anwar dan Sandi. Lebih tepatnya, menghibur Putra karena baru putus dari pacarnya.


Lita masuk ke ruang kostum. Ruangan ini merupakan ruangan tempat dimana mereka bersiap-siap.


Lita mengernyit, mendapati Siska duduk di sudut ruangan, menunduk sembari melipat tangan di dada. Gadis itu berniat mendekat, namun Siska sudah lebih dulu mengangkat kepalanya.


Siska tersenyum kearah Lita. Akan tetapi, ada yang aneh dengan senyumnya.


Seperti bukan senyum milik Siska.


Lita tersentak pelan. Ia mundur beberapa langkah, menyadari kalau sekarang yang ia lihat bukanlah Siska, teman sekerjanya.


“Kamu langsung peka rupanya.”


Raut wajah Lita berubah menjadi terkejut. Gadis itu semakin melangkah mundur ke belakang. Merasa takut mengapa Siska tiba-tiba kesurupan seperti sekarang.


Terlebih suara itu. Suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya.


“Si—si—siapa kamu?” Lita semakin takut. Sekarang, hantu yang berada dalam tubuh Siska itu tersenyum. Meskipun senyumnya kelihatan ramah, tetap saja Lita ketakutan.


“Kamu nggak perlu takut.”


“Jangan mendekat.”


Hantu itu berhenti di tempat. Lita memalingkan wajah, tak berani melihat wajah Siska—lebih tepatnya hantu yang berada dalam tubuh Siska itu.


“Jangan takut. Aku hanya datang sebentar saja, kok,” ujar hantu itu lembut.


“Langsung bilang aja kamu siapa. Seriusan ini aku takut banget.” Lita merengek, baru kali ini merasa takut pada hantu padahal biasanya ia tidak seperti ini.


Entahlah. Dia juga tidak tahu mengapa demikian.


“Aku Sifa.”


Rengekan Lita terhenti. Perlahan, gadis itu mengangkat wajah, mendapati hantu itu sudah tersenyum lagi padanya.


“Aku Sifa, adiknya Kak Darka.”

__ADS_1


***


__ADS_2