Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
24. Yang Kembali


__ADS_3

Hal yang paling aku benci di dunia ini adalah


Melihatmu menangis, sebab diriku yang terlalu buruk untuk orang sebaik dirimu


---


Happy reading!^^


"Lo udah makan?"


"Sama apa? Kalau gue tadi beli nasi uduk di deket rumahnya Anwar."


"Gue nggak suka mentimun, jadi dikasih ke Anwar. Heran gue, Anwar itu kayak suka semua makanan. Kalau lo, ada nggak makanan yang nggak lo suka?"


"Jelita."


Tak dihiraukan lagi.


Darka merasa hubungannya dengan Lita kembali ke nol. Setelah banyaknya hal-hal yang dilalui bersama, rasa yang telah saling terjalin, semuanya hancur seolah tak bisa disatukan lagi ketika seminggu yang lalu Lita menyuarakan keinginannya untuk menjauhi Darka.


Darka terpaksa menyetujuinya, ia tak ingin Lita akan mendapatkan sakit lagi ketika bersamanya.


Semenjak dirinya bersuara, terus bersuara dan mengucapkan segala kata, tak ada satu katapun balasan dari Lita. Gadis itu hanya menunduk sambil menaut-nautkan tangannya seolah itu adalah rajutan.


Mereka sedang menunggu ruang untuk pemeriksaan dibersihkan dan disiapkan. Mereka duduk di satu kursi yang panjang, saling bersebelahan dengan baju seragam pasien yang sama.


Darka berdeham dan mencolek bahu Lita hingga gadis itu menoleh padanya dengan kening berkerut.


"Je, kalau gue ngomong kasih jawaban dong. Berasa lagi ngomong sama hantu, hm," keluh Darka masih dengan nada bercanda. "Kita baru ketemu lagi hari ini. Gue seneng, tapi lo kayaknya nggak. Sekolah pasti susah, ya?"


Lita ingin berbicara sejujurnya, bahwa dirinya tersiksa saat di sekolah. Ia ingin menangis sejadinya, karena hatinya begitu sakit tanpa bantuan Darka.


Namun dusta merasuki hatinya.


"Ini rumah sakit. Lo jangan berisik. Nanti pasien yang lain ke ganggu," balas Lita kesal. "Suara lo tuh kegedean."


"Oh? Jadi gue harus bisik-bisik? Oke-oke, gue ngerti. Kayaknya seru juga, ya. Kalau gitu ayo ngobrol," kata Darka sambil berbisik, justru makin semangat.


Lita memutar bola matanya, tak habis pikir dengan pikiran Darka.


"Lo tuh ya," decak Lita, kehilangan kata-kata.


Melihatnya, Darka tertawa kecil. "Jangan bosan-bosan temenan sama gue, ya. Gue seru dan akan bikin lo seneng. Oke?"


Lita hanya tersenyum tipis. Hubungannya dengan Darka tak bisa diperdalam. Bahkan sebelum mereka benar-benar menjalin hubungan yang resmi, sudah ada petaka yang menghampiri dan masing-masing mendapat luka.


Lita hanya tak bisa membayangkan ke depannya akan bagaimana. Ia ingin Darka juga bahagia, begitupula dengan dirinya. Lita agak pesimis, namun ia harap Darka bisa mengerti.


Selain itu, ada sesuatu yang membuat Lita semakin yakin untuk membuat Darka bahagia, tanpa dirinya.


"Je, lo nggak inget sesuatu gitu?" tanya Darka masih sambil berbisik karena menurutnya ini lebih menarik.


"Hm?"


Darka berdecak kecewa melihat wajah Lita yang kebingungan setengah mati. "Asli lo nggak inget?"


Lita menggeleng.


"Pikunan ih, cantik-cantik," ledek Darka dengan wajah jenaka.


Tangan Lita langsung melayang, menepuk bisep cowok di sampingnya dengan wajah kesal.


"Ciee, udah berani nabok," goda Darka. "Kesel, ya?"


"Apasih lo," kata Lita lagi-lagi tak habis pikir. Ia menggeser tubuhnya, mencipta jarak antara dirinya dan Darka. Lita benar-benar tak bisa bercanda atau tertawa bersama Darka.


Itu tak boleh. Bahaya.

__ADS_1


"Gue tuh kayak lo! Kesel, tau nggak?" tanya Darka mulai menggebu-gebu, ia ikut bergeser mendekati Lita dan berbisik lagi. "Gue pengen cubit pipi lo karena cuekin gue lagi, gue pengen ngacak-ngacak rambut lo karena nggak pernah tertawa atas candaan gue lagi, gue pengen ngetekkin lo karena lo sekarang berubah."


Semua perkataan Darka menohok hati Lita telak. Ia merasa sangat bersalah. Benar, Lita telah berubah.


"Maaf, Dar, tapi gue harus kayak gini," kata Lita serius. Ia amat berharap Darka bisa paham.


"Tuh, lo gini lagi. Argh, kesel gue!" seru Darka akhirnya bersuara normal kembali. "Kurang tabah apa lagi gue? Udah diputusin tanpa alasan, sekarang dicuekin. Beuh, sakit, Jelita. Rasanya sakit banget."


Rasanya Lita ikut merasakan sakitnya. Dirinya juga sakit, namun membayangkan dirinya menjadi Darka, ia pasti akan sangat marah.


Betapa sabarnya Darka. Dia baik. Lita berharap Darka akan selalu bahagia.


"Je, lo inget nggak, harusnya hari ini gue tampil teater dan lo harusnya nonton," kata Darka, mengubah topik pembicaraan begitu saja. Seolah dirinya baik-baik saja atas perlakuan Lita yang bisa dibilang sangat mengoyak hatinya.


Lita berusaha mengendalikan diri. Jika Darka biasa saja, seharusnya Lita lebih bisa baik-baik saja.


"Oh, iya, gue inget."


"Kesel banget gue nggak ikutan. Lo juga, kan?"


Lita tersenyum tipis. Karenanya, Darka mendapatkan banyak petaka. Ia juga menyayangkan Darka yang harusnya tampil teater hari ini, justru berada di sini untuk diperiksa.


"Maaf, ya. Gara-gara gue—"


"Gue juga salah sih. Kenapa pengen banget liat mata lo dan seseorang mengambil foto kita. Lalu kita dijebak dan justru malah ada di sini." Darka tertawa hambar. "Salah kita, deh. Setuju?"


Lita menunduk, semakin merasa bersalah. Ia merapatkan bibir, menahan air mata yang tiba-tiba saja ingin keluar.


"Semua orang pernah salah dan punya dosa, Je."


Mengapa dirinya dipertemukan dengan seseorang seperti Darka? Seseorang yang menutup sikap dewasanya dengan senyuman bodoh yang kerap kali membuat orang-orang ingin memukul kepalanya.


***


"Bagi siapapun yang membuat dan menyebarkan foto hoax tentang Darka dan Jelita beserta kejadiannya, akan dihukum setimpal." Pak Azel mengumumkan hal itu di atas mimbar untuk pembina upacara setelah upacara selesai. "Bagi pelaku yang tak menyerahkan diri satu minggu dari sekarang, akan diproses untuk mendapatkan surat keluar sekolah. Dimohon setelah ini tak terjadi kasus serupa dan bagi pihak yang dirugikan kami meminta maaf sebanyak-banyaknya. Damai itu indah. Terimakasih."


Guru-guru mulai mendekatinya, meminta maaf dan akan berusaha menghukum seseorang yang bertanggung jawab.


Darka tertawa hambar. Bagi siapapun yang membuat skenario ini, dia benar-benar membencinya.


Sementara untuk Lita, dia mendapatkan perlakuan yang sama. Tak ada lagi mata yang memandangnya rendah atau jijik. Semuanya telah kembali normal, meski beberapa orang masih ada yang menatapnya aneh.


Lita berharap pelaku yang mungkin membencinya itu bisa menampakkan diri dan akan Lita beritahu betapa tersiksanya dia berkat perbuatannya.


Selepas upacara, kegiatan sekolah berlangsung seperti biasa.


***


"Ayah mau bertanggung jawab atas keputusan ayah ngurung Darka seminggu itu?"


Ayah yang sedang membaca koran ditemani secangkir kopi itu mendongak menatap anaknya yang baru saja pulang sekolah dan sudah menuntut sesuatu lagi.


"Maaf," kata ayah sungguh-sungguh. Setelah mengetahui anaknya tak bersalah, ayah merasa tak enak hati sekaligus lega. "Makasih karena tak mengecewakan ayah."


"Sekarang Darka kecewa sama ayah. Kenapa nggak percayaan banget, sih?"


"Nggak ada ruginya kamu belajar seminggu itu. Kenapa kamu marah?" tanya ayah tak mengerti.


"Temen Darka, yah. Dia harus sendirian menghadapi caci maki, tatapan menghina dan umpatan keji di sekolah. Sementara Darka di rumah, dilindungi. Ayah pikir Darka enak begitu? Bagaimana kalau anak ayah yang mengalaminya?" Darka meneteskan matanya, tak kuasa membayangkan perasaan Lita.


Ia diberitahu Anwar, Sandi dan Putra tentang perlakuan yang diterima Lita selama satu minggu kemarin. Semua itu membuat Darka tak berani muncul di hadapan Lita.


Tadi, di sekolah pun ia tak menemui Lita atau mengajaknya bersama.


Ayah terlihat terkejut, tapi ia langsung berdeham. "Ayah 'kan udah bilang maaf."


"MAAF AJA NGGAK CUKUP, YAH!" seru Darka emosi. Nafasnya memburu.

__ADS_1


"DARKA!" balas ayah marah.


Teriakan itu memekakkan telinga Ibu dan akhirnya ia turut menghampiri, meninggalkan pekerjaannya di kamar yang sedang membersihkan debu.


Ayah dan Darka menoleh menatap kedatangan ibu dengan raut bersih dari emosi apapun.


Namun, satu detik kemudian setitik air bening dari matanya meluncur.


"Kalian, bisa nggak, sehari aja damai? Ibu lelah."


***


Ini sudah dua Minggu. Lita dan Darka tak lagi sedekat dulu. Mereka benar-benar seperti orang tak kenal dan Lita bersyukur atasnya. Ia tak perlu khawatir akan membuat Darka sakit hati lagi.


Hidupnya berjalan seperti biasa, lurus dan tak berarti. Lita baru saja pulang sekolah dan masuk ke rumahnya.


Lita tak mengerti mengapa ayahnya tiba-tiba berdiri di hadapannya selepas ia membuka sepatu dan meletakkannya di rak samping pintu. Keningnya mengerut, menanyakan sesuatu.


"Ayah nggak kerja? Kenapa, yah? Ayah sakit? Aku—"


Perkataan Lita tertelan kembali saat ayahnya memeluknya secara tiba-tiba. Pelukan itu erat, sarat akan rasa bersalah dan membuat air mata ayah tak terbendung lagi.


"Ayah minta maaf, nak. Maaf, maaf, maaf—"


"Ayah kenapa sih?" Lita melepas pelukan itu dengan paksa. Dirinya mulai mengira yang tidak-tidak dan menatap Ayah dengan khawatir. "Ada apa, yah?"


Ayah mengusap air matanya dengan kasar. "Ayah bodoh."


"Hah?" Lita masih bertanya-tanya.


"Ayah nggak perhatian sekolah kamu. Kata tetangga kamu dituduh yang nggak-nggak ya di sana? Ayah baru tahu, maaf ya—"


"Kejadiannya tiga minggu yang lalu, yah. Hari ini udah selesai."


Ayah termenung, benar-benar merasa tertembak di ulu hati. Rasanya benar-benar sakit, melihat wajah datar anaknya menatapnya.


"Kalau seandainya ayah tahu, udah pasti ayah akan bela kamu habis-habisan. Kenapa kamu nggak cerita, nak?" tanya ayah frustasi. Air matanya hampir menetes. "Ayah merasa sangat nggak berguna, ayah merasa sangat bersalah."


Lita menggigit bibir bawahnya, menahan haru juga amarah yang membuncah dalam dadanya. "Aku kan nggak salah, ngapain repot-repot, ngapain ayah repot-repot. Ayah nggak perlu merasa bersalah juga, ini kan masalahku."


"Tapi kamu jadi dihina-hina dan dijelek-jelekan. Ayah nggak suka," balas ayah marah. "Akan ayah bunuh pelakunya."


Lita terkekeh, sebenarnya agak heran dengan sikap ayah. "Nggak perlu, yah. Kita damai aja. Semuanya udah beres, kok."


"Ibu kamu pasti sedih. Ayah nggak perhatikan kamu dengan baik," keluh ayah frustasi.


"Ayah kenapa hari ini?" tanya Lita akhirnya menyuarakan keheranannya.


Selama ini dirinya dan ayah seolah hidup dalam dunia yang bersekat. Tak memperdulikan satu sama lain dan hanya mencela dalam hati. Namun kali ini ayahnya secara terang-terangan mencemaskan Lita.


"Ayah kenapa emang?" Ayahnya balik bertanya.


"Ayah beda. Biasanya ayah nggak begini." Lita berusaha kuat-kuat agar air matanya tak tumpah. "Biasanya ayah nggak cemas sama aku, nggak perhatiin aku, nggak merasa bersalah sama aku. Ayah seolah bukan ayahku dan aku bukan anak ayah. Kita seolah orang asing yang tinggal satu rumah."


Hati ayah benar-benar terkoyak. Bodohnya, ia baru menyadarinya sekarang. Setelah banyaknya air mata anak gadisnya yang tumpah tanpa sempat ia hapus.


"Biasanya ayah nggak begini dan ... aku sedih..." akhirnya air mata Lita tumpah. Membuat ayah langsung mendekapnya erat-erat seolah Lita akan hilang. "Tapi sekarang... aku senang ayah begini."


Ayah hanya mampu menahan air mata, meratapi kebodohannya juga merasakan kesedihan anak sematawayangnya.


"Maaf, nak... ayah baru kembali sekarang. Ayah akan berusaha menjadi ayah yang baik, nak. Janji."


"Makasih, yah... udah kembali."


"Mari kita sama-sama buat ibumu bahagia, nak."


Dengan senyum pahit, Lita mengiyakan perkataan ayahnya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


***


__ADS_2