Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
29. Permohonan Terakhir


__ADS_3

Seorang anak tak mengharapkan apapun selain bahagia bersama orang tuanya


Kuharap aku menjadi anak itu,


dan aku memang anak itu, dengan perilaku yang buruk.


Tapi, orang tua mana yang tak menginginkan anaknya bahagia?


---


Darka bagai dikejar-kejar setan ketika sampai di rumahnya. Rambutnya telah acak-acakan dan keringat bercucuran di pelipisnya. Wajahnya penuh rasa khawatir dan takut. Darka tak pernah merasa seperti ini.


Ia baru sadar, pengaruh gadis itu bisa sebesar ini.


"Ayah!" panggilnya dengan sisa tenaga. Hari telah malam dan ia yakin Ayah Ibunya telah tidur.


*Sore itu Darka menangis di depan kamar rawat Lita, menjaga dan mendoakan gadis itu ketika sedang diperiksa. Setidaknya Lita akan punya seseorang yang menunggunya sampai ia sadar. Darka menunggunya sampai malam, tak henti-hentinya berharap Lita akan baik-baik saja.


Ketikan akhirnya dokter dan beberapa asistennya yang memeriksa keluar, namun rupanya tak hanya itu, Lita yang telah diberi beberapa alat yang entah apa itu--Darka tak tahu, ikut keluar entah akan dibawa ke mana.


"Kenapa sama teman saya, dok?" tanya Darka khawatir. Keadaannya sudah kacau saat itu, sehingga dokter yang melihatnya pun prihatin.


"Kamu tahu Ayahnya ke mana?" Dokternya justru bertanya balik.


"Mungkin Ayahnya lagi kerja, dok. Kalau ada apa-apa dokter bisa kasih tahu saya," kata Darka memaksa. "Teman saya sakit apa, dok? Separah apa?"


"Saya akan menunggu Ayahnya tiba. Kamu pulang saja. Selamat malam, nak, jangan lupa untuk istirahat. Teman kamu akan baik-baik saja," balas dokter itu, dan begitu saja ia meninggalkan Darka dengan tanda tanya yang semakin bertambah besar.


Darka *** rambutnya frustasi. Matanya kembali berair, ia menangis tanpa suara dan jantungnya tak henti berdebar kencang memikirkan keadaan Lita.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Ayah Lita datang. Badan dan wajahnya terlihat lelah dan Darka memberitahu keadaan Lita yang tiba-tiba pingsan dan dibawa ke ruangan khusus. Ayah langsung berlari dan menanyakan keadaan anak putrinya.


Dalam sebuah ruangan, Ayahnya keluar dengan wajah putus asa. Darka semakin khawatir melihatnya.


"Kenapa, om?"


"Lita butuh operasi ..." Ayahnya mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. "Gaji om belum diterima."


Saat itu juga Darka langsung berlari. Menempuh jarak menuju rumahnya dan berharap ia mendapat pertolongan. Matanya terus berair*.


"Ayah!" panggil Darka sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya dengan pelan. "Ayah, tolong buka. Dar—"


"Baru pulang? Ke mana aja kamu? Ini jam berapa? Beraninya—"


"Ayah, aku butuh bantuan."


"Kenapa sih?" Ibu muncul di belakang Ayah dengan wajah setengah tidur. Matanya langsung membelalakkan kala melihat Darka dengan keadaan kacau dan menangis. "Kamu kenapa, Darka?" tanyanya khawatir dan langsung memeluknya.


Darka mengambil napas. "Tolongin temen Darka, Bu."


Ibu melepas pelukannya dan menghapus air mata Darka, membersihkan wajahnya dengan sayang. Dari wajah Darka yang begitu serius, Ibu yakin ada apa-apa yang terjadi. "Temen kamu kenapa?"


"Kamu tawuran?" tanya Ayah, berprasangka buruk.


"Ayah," kata Ibu, memperingatkan. Kemudian Ibu menatap Darka dengan lembut, menyentuh kedua pundaknya supaya Darka merasa lebih rileks. "Kamu bersihin badan dulu, makan dulu, baru kita bicara. Oke?"


Darka menipiskan bibirnya. Bahkan sampai kini pun Ibunya masih percaya, bahkan setelah ia menjadi anak yang buruk, bahkan setelah ia menghilangkan Sifa. Sekali lagi, Darka menangis.


"Makasih, Ibu," kata Darka terharu dan segera melangkah kaki menuju kamarnya. Ia akan membersihkan diri kemudian turun lagi, ia akan mendinginkan diri kemudian beraksi lagi.


Sesuatu yang terburu-buru kadang akan menjadi buruk.


Akhirnya sampailah pada waktu di mana mereka bertiga berkumpul. Darka berhadapan dengan Ayahnya, sementara Ibu duduk di sampingnya. Mereka hanya diam beberapa waktu, menunggu Darka bersuara.


"Darka baru aja ketemu Sifa, Bu," kata Darka memulai. Membuat Ibu terkejut dan menatapnya tak percaya.


"Hah?"


"Apa?" Ayah tampak sangat tak suka. "Sifa udah meninggal gara-gara ikut kamu naik mobil itu. Jangan menghayal. Ayah cuma ingin kamu belajar supaya jadi dokter yang hebat. Susah, ya? Padahal enak juga buat kamunya nanti."


Darka tertawa hambar. "Darka juga udah berusaha, Yah. Darka juga suka belajar, tapi kapasitas otak Darka nggak sesuai keinginan Ayah. Darka harus gimana?"


Tangan Ibu bergerak mengelus-elus punggung anaknya supaya lebih tenang. "Yah, ngomongnya pelan-pelan. Ibu nggak mau ada debat-debat pake teriakan lagi."


"Oke," kata Ayah akhirnya lebih dingin. "Sekarang maumu apa? Dan apa tadi? Kamu ketemu Sifa?"


Darka meneguk ludah. Merasa sangat bersalah pada Lita. Bahkan untuk menciptakan bahagianya, Lita kini harus tak sadarkan diri.


"Temen aku punya keistimewaan, dia pertemukan aku sama Sifa dan karenanya temen aku sekarang keadaannya memburuk. Dia bantu aku untuk mengikhlaskan kepergian Sifa." Darka menghapus air matanya yang sudah banjir sejak pertama kali ia bersuara. Ia menatap Ayahnya dengan tekad kuat. "Aku akan turutin apa kata Ayah. Aku serius. Tapi tolong bantuin temen aku, Yah."

__ADS_1


Ayah terdiam. Tampak keberatan atas cerita Darka. "Kamu jujur?"


"Oke, aku ngerti." Darka tertawa kecil. "Ayah pasti nggak percaya. Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit."


"Dia sakit apa?"


"Aku nggak tahu, tapi dia butuh operasi," balas Darka frustasi, namun justru jawabannya semakin membuat ragu Ayah membesar.


"Hanya teman dan kamu sampai begini. Kamu harusnya mengerti, kamu udah besar," kata Ayah datar. Ia bangkit dan hampir meninggal ruang keluarga ini jika Darka tak berdiri menyusul dan berhadapan dengannya.


Ibu ikut bangkit. "Darka, Ayah, pelan-pelan. Ibu akan pergi kalau kalian sampai saling marah."


Darka menggigit bibirnya, menahan amarahnya demi Ibu. "Dia mengorbankan waktunya untuk aku bertemu Sifa, Yah. Selama ini, jujur, aku merasa buruk karena perlakuan Ayah setelah Sifa meninggal. Aku hidup karena Sifa, dia suka menemaniku jika aku dimarahi kalian," jelas Darka dengan sia-sia suaranya.


Ia menatap Ibunya, dulu Ibu juga sering kecewa karena dirinya bodoh. Namun, setelah Sifa tak ada, Ibu berubah, lebih lembut padanya dan menyemangatinya, jelas sekali terpaksa. "Ibu sebenarnya benci sama aku, kan? Gara-gara aku, Sifa, anak kesayangan Ibu satu-satunya hilang."


"Darka, kamu anak Ibu, nak!" seru Ibunya sedih, ia menangis. "Ibu minta maaf kalau selama ini Ibu kurang memuaskanmu. Kita semua terpukul karena Sifa pulang duluan. Harusnya kita saling menguatkan, kan?"


Darka tak kuat. Ia tertawa, tapi air matanya terus keluar. Wajahnya terasa mati rasa, sementara di depannya, wajah Ayah tampak mengeras, menahan marah.


"Ayah nggak punya waktu--"


"Ayah dan Ibu nggak pernah ngabulin keinginan aku satu kali pun. Sampai aku lelah dan nggak lagi memohon untuk mendapatkan sesuatu. Selama ini aku berusaha untuk menurut, meski beberapa kali aku memberontak," potong Darka dengan sisa-sisa suaranya yang serak dan sarat akan putus asa. "Sekarang, sekali lagi aja, bolehkah aku memohon?"


Ibu menatapnya tak tega, lalu mengangguk dengan air mata yang jatuh ke lantai. Ibu benar-benar menangis kini, menyadari betapa tersiksanya Darka selama ini. Tubuh Ibu luruh di sofa, menangis sejadinya.


Kepergian Sifa tak hanya menggerus hati Ibu, namun juga Darka. Mungkin juga Ayah, namun beliau tidak menunjukkannya secara terang-terangan.


"Aku akan jadi anak baik, Yah," kata Darka memelas, berusaha meluluhkan Ayah. "Aku akan jadi hitam yang membahagiakan Ayah, menjadi warna simbol kebahagiaan Ayah. Aku akan jadi seperti itu, Yah. Aku janji."


Ayah mulai menatapnya, namun tak berucap apa-apa bahkan ketika Darka telah menyatukan kedua tangannya dengan sungguh-sungguh memohon.


"Tolong selamatkan temanku," pinta Darka sepenuh hati. "Dia udah bantu aku ketemu Sifa. Asal Ayah dan Ibu tahu, Sifa baik-baik aja di sana dan sedih lihat kita nggak akur terus. Sifa akan bahagia kalau kita juga bahagia."


Ayah masih bergeming. Darka menghela napasnya, benar-benar lelah menghadapi Ayahnya ini.


Pada akhirnya, Darka berlutut. Menyatukan kedua tangannya dengan wajah memelas penuh air mata.


Melakukan permohonan dengan sungguh-sungguh, seolah ini yang terakhir kalinya.


"Selamatkan Jelita, Yah..."


***


Ayah menjambak rambutnya frustasi. Secara meterial ia tak punya biayanya, namun ia juga tak bisa membiarkan anak putrinya tak sadarkan diri seperti itu.


Setiap hari Ayah telah bekerja keras.


Dia pergi pagi hari setelah menemani anak putrinya sarapan yang sesekali bercerita. Mereka berbahagia dahulu, menghabiskan waktu-waktu yang ada sesempat-sempatnya. Kemudian Ayah akan pergi, banting tulang, memeras keringat dan mengais rupiah agak anak putrinya tetap bertahan.


Tak peduli dirinya di pandang rendah karena makan dari sisa-sisa di tempat sampah, tak peduli terik matahari saat dirinya mengambil sampah-sampah untuk dijual, tak peduli seberapa lapar dan haus dirinya, yang terpenting sekarang adalah hidup dan masa depan putrinya.


Ayah selalu berdoa, memohon ampunan dan meminta bantuan agar hidupnya kembali normal. Ia tak mau tersiksa dan sedih lagi.


Namun hutangnya kini bagai kumpulan gunung yang tak mau lebur, tak ada yang lowongan kerja untuk dirinya yang telah berusia ini. Ayah frustasi, hampir tak memiliki jalan keluar.


Ia akhirnya memutuskan untuk berhutang lagi, tak peduli ganasnya bunganya. Ia akan berusaha sampai akhirnya, untuk menebus dosa-dosanya.


"Om, Ayah saya mau bantu." Sebuah suara tiba-tiba datang, membuat Ayah mendongak dan mendapati Darka yang menatapnya khawatir. "Om jangan khawatir. Jelita boleh dioperasi sekarang, kan?"


Ayah mengangguk haru, kemudian berhambur memeluk Darka dengan air mata berlinang.


"Terimakasih, nak..."


Darka membalas pelukan itu. Ia tersenyum tipis dan menepuk-nepuk punggung laki-laki yang sama sedihnya itu. "Sama-sama, om. Terimakasih telah mempunyai anak sebaik Jelita. Saya berterimakasih."


"Hm?" Ayah tak mengerti, namun tak memikirkan lebih lanjut tentang hubungan anaknya dengan Darka. Ia melepas pelukannya dan mencari-cari keberadaan seseorang. "Ayah kamu mana?"


"Mengurus administrasi," jawab Darka.


Sementara Ayah Lita langsung berlari menyusul keberadaan Ayah Darka, Darka duduk di kursi tunggu depan ruang operasi itu. Ia tak henti-hentinya berdoa.


Semoga permohonan terakhirnya tak berakhir sia-sia.


Tentu Ayah adalah orang yang ketat. Meski ia berterimakasih atas bantuan Lita mempertemukan Darka dengan Sifa, Ayah meminta Darka untuk menuruti perkataannya tanpa membantah dan Darka menyetujuinya.


Sehingga terlaksanalah operasi untuk Lita. Untuk memperpanjang umurnya, untuk mempertemukannya dengan Darka dan bahagia bersama.


Semoga.

__ADS_1


***


Darka tak tahu bagaimana keadaan Lita. Seminggu setelah Lita dioperasi, kondisinya tak sadar. Darka tak diberitahu kapan Lita bisa sadar dan hanya bisa tersiksa di sisa hidupnya.


Sekolahnya terasa sepi meski ada teman-temannya dan fans-nya yang masih menyemangati ketika tahu Lita sakit. Hidupnya terasa kosong bahkan saat Ayah mengijinkannya bergabung dengan teater dan setiap hari Minggu Darka bebas untuk melakukan apapun untuk setelahnya harus turut pada segala titah Ayah.


Darka hidup, tapi jiwanya mati.


Tak ada yang bisa menghidupkannya lagi. Separuh jiwanya tak sadarkan diri, bagaimana dia bisa dia hidup normal?


"Darka," panggil Ibunya, mengetuk pintu kamarnya saat Darka sedang sibuk belajar, sesuai perkataan Ayahnya. Bahkan ia lebih menghabiskan waktu bersama Putra, belajar bersama karena Putra pintar. "Ibu masuk, ya."


"Iya," balas Darka sekenanya.


Langkah Ibunya terdengar. Ibu akhirnya berada di sampingnya, menatapnya dengan sedih dan terluka. "Kamu suka banget sama Jelita, ya."


Darka tersenyum pedih. "Iya, Bu. Darka cinta mati sama dia."


"Tenang aja, Ibu yakin Jelita pasti sadar dan sembuh lagi," kata Ibu menguatkan, ini klise tapi Darka sedikit lega karenanya, menemukan kepercayaan yang sama pada Ibu.


"Semoga, ya, Bu," balas Darka sepenuh hati. "Aku kangen banget. Jelita itu jutek, tapi manis. Jelita itu gengsi, tapi baik. Jelita itu kadang sadis, tapi bercandanya lumayan."


Ibu tertawa, mengacak rambut anaknya kemudian menyerahkan sebuah amplop merah muda dengan senyuman. "Ini dari Ayahnya Lita, buat kamu."


"Hm?" Darka menatapnya dengan heran. "Dari Jelita, ya pasti?"


"Mungkin. Kamu buka aja, baca sendiri, Ibu mau siapin makan malam. Nanti pas Ibu panggil kamu keluar, ya."


"Siap, Bu," balas Darka sewajarnya.


Sepeninggalnya Ibu, Darka membuka amplop itu dan sederet kata-kata yang ditulis rapi oleh tangan Lita tampil. Membuat matanya memburam dan mulutnya langsung mengumpat.


"Jangan nangis, bego, aish," kesalnya sambil menghapus secara kasar air matanya.


Darka akhirnya mulai membaca surat itu.


Hai, Darka


Kalau lo baca ini, berarti gue lagi sekarat, ya?


Darka tertawa kecil membacanya. "Lo kalau ngomong suka sadis gitu, ish, kesel Dede."


Lo jangan nangisin gue. Nggak boleh.


Langsung aja, ya. Ada yang mau gue sampein. Gue bilang ke Ayah gue buat ngasih surat ini seminggu setelah ultah lo, 5 Juli, kalau gue masih belum sadar juga


Atau mungkin udah mati


Kalau gue memang benar-benar udah pergi, lo nggak perlu salahi diri lo karena mengira gue berkorban buat mempertemukan lo sama adik lo lewat tubuh gue


Gue ikhlas melakukan itu dan nggak boleh ada yang menyalahkan diri


Lo alasan terbesar gue bisa ketawa, bisa hidup enjoy, setelah Ayah tiba-tiba berubah dan gue menghabiskan banyak waktu sama dia


Tapi sayang ya, gue sakit dan nyusahin dia yang usianya udah hampir setengah abad. Gue sedih banget, Dar, tapi ada lo. Gue nggak tega buat nangis dan akhirnya gue hampir nggak pernah nangis kecuali saat pertama kali sadar bahwa gue mengidap penyakit ginjal ini


Gue nangis, saat itu malam, nggak ada siapa-siapa dan gue takut


Tapi paginya, Ayah hadir, dia berubah total. Ayah gue baik banget dan perhatian, gue semakin bersyukur dan tabah untuk menerima bahwa waktu gue bahagia hanya tinggal sedikit


Maaf ya, Darka, kalau selama hidup gue nyakitin hati lo. Sumpah, berpikir bahwa gue akan meninggalkan lo dan bikin lo sedih lagi membuat gue ingin menjauh dan hilang


Berharap lo lupain gue. Gue tau lo sedih banget saat kehilangan Sifa, nah, gue nggak mau itu terulang kembali


Tapi lo keras kepala, masih juga temuin gue. Gue jelas nggak tega dan akhirnya gue balas semua jasa lo dengan hadirnya Sifa


Gue udah berusaha keras, Darka, tolong tepuk tangan


Dah...


Dengan air mata yang luruh, Darka bertepuk tangan. Perasaannya berkecamuk, bercampur. Ia tertawa dan menangis. Ia tersiksa namun tersenyum. Ia merasa sakit, namun juga ada bahagia yang membuncah dalam dirinya.


Sakit karena ditinggal Lita yang kondisinya masih tak sadarkan diri dan bahagia karena hidupnya terisi oleh gadis itu.


Ini benar-benar seperti dalam drama, namun Darka tak mengharapkan akhir yang sedih


Tentu saja, ia akan selalu yakin Lita akan kembali padanya. Dia adalah tulang rusuk Darka yang hilang.


Darka akan menunggu Cahaya-nya.

__ADS_1


***


__ADS_2