
Aku akan berubah
Menjadi Superman?
Bahkan aku rela berubah lebih dari itu demi kasihku
---
Darka menopang dagu di meja, mengerjapkan matanya berkali-kali. Perlahan mulut pemuda itu terbuka, terbayang akan kejadian malam itu.
“Good night and have a nice dream.”
“Ya, Tuhan, mengapa hati ini berdebar setiap kali mengingatnya,” gumam pemuda itu pelan.
“Yang berdebar tuh jantung. Hati nggak berdebar, tapi fungsinya mengeluarkan racun dari dalam tubuh.” Sandi meletakkan tas ranselnya di kursi, tepat di belakang Darka duduk. Sandi menggelengkan kepala, baru pagi-pagi Darka sudah berbicara aneh.
“Biarin, San. Namanya baru kasmaran,” celetuk Putra yang duduk di samping Darka, kembali pada kesibukannya membaca webtoon di hape.
“Oh, eneng Okky Jelly Drink, kau membuatku gila.”
Berikutnya, Darka bergerak gila di tempat duduknya. Membuat beberapa siswa lain mendelik kearahnya. Sandi hanya melengos kasar, membuka buku paketnya tanpa minat. Putra menendang kursi pemuda itu agar ia diam. Anwar, yang baru saja datang langsung saja menabok kepala pemuda itu.
"Hee ubur-ubur, masih pagi jangan kesurupan dulu.”
Darka meringis, mengusap-usap kepalanya. Pemuda itu lalu mengerucutkan bibir, mengepalkan tangan ke udara hendak meninju wajah Anwar.
“Beneran suka lo sama dia?”
Darka menolehkan kepala, mendapati Putra yang bicara padanya. “Maksud lo?”
“Sama Jelita. Lo beneran serius?”
Darka diam, cukup lama. Pemuda itu tampak berpikir, kemudian bertanya pada dirinya sendiri. Jelita Geannesa, benarkah perempuan itu yang akhirnya membuat Darka melambung tinggi?
Hingga beberapa menit terdiam, Darka menganggukkan kepalanya kukuh. “Gue serius.”
“Beneran?” tanya Putra, tak percaya si buaya darat namun menjadi sahabatnya itu menjawab dengan tegas.
“Selera lo ternyata sama cewek datar nan dingin ya, sob.” Sandi menepuk bahu Darka dari belakang.
“Sekarang dianya suka nggak sama lo?”
Alis Darka terangkat, “Maksud lo?” Lagi-lagi, itu yang keluar dari mulutnya.
“Kenapa nggak lo test aja dia ada rasa sama lo apa nggak?” Anwar menaik turunkan alisnya. “Biar mantep gituh ah. Emang lo mau pas nembak ditolak? Kan enggak.”
“Di tes lo kata lagi ujian semester apa?” cibir Sandi. “Eh, tapi coba aja siapa tahu seru.”
“Perasaan cewek woy jangan dimain-mainin.” Putra berkomentar, tak setuju dengan rencana Anwar.
“Bukan dimainin, yaelah,” sergah Anwar. “Cuma sehari aja kali. Lo pura-pura menghindar, milih jalan sama cewek lain. Terus, kita lihat, dia cemburu apa kagak.”
Darka mengacak rambutnya, berdehem kecil dan nampak berpikir lagi.
“Gimana?”
“Oke. gue setuju.”
***
“Sampe mata lo keluar dari lobangnya, itu room chat bakalan terus kosong kecuali lo yang chat duluan, goblok.”
Darka tak menjawab dan masih memperhatikan layar ponselnya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Putra gemas sendiri menyaksikan Darka yang dalam seminggu terakhir ini lagi-lagi murung karena seorang cewek. Cewek yang bahkan bukan primadona sekolah atau utas imut dan beken.
Astaga, ini cuma Jelita Geanessa.
Tapi Darka bisa uring-uringan karena tidak kunjung ada pesan dari Lita. Dia pikir Darka cuma bingung dengan perasaannya dan karena terpojok, mengatakan kalau dia benar-benar menyukai Lita. Nyatanya pemuda itu benar-benar serius.
Semenjak Darka membuka skenario kecil untuk mengetes perasaan Lita, gadis itu seolah lenyap. Gadis itu juga menghilang tak ditemukan di kantin. Diintip di kelas pun juga tak ada. Dia seolah menghindar dan tidak bisa ditemukan, padahal absennya tidak kosong. Meski sekali, Putra pernah melihat Lita di perpustakaan.
“Gue kangen Jeli.”
“HAH?”
Anwar, Sandi, dan Putra terkejut mendengar Darka melantur tiba-tiba. Apalagi yang disebutnya nama gadis itu. Kalau begini … Anwar, Sandi, dan Putra saling bertatapan.
“Ah, gue gak bisa kalau harus pura-pura deket sama cewe, gue udah gak ngerasain apa-apa. Kalau Lita beneran salah paham gimana?” ungkap Darka, sudah tak tahan lagi meski masih ragu untuk bertukar pesan pada Lita, masih menunggu gadis itu.
“Darka … udah bener-bener taubat njir?”
Yang pertama menceletuk adalah Sandi, diikuti anggukan Anwar dan Putra.
“Oke, kalau gitu kita buat rencana baikan sama Jelita sekaligus acara syukuran,” Sandi segera menyerobot bangku di samping Darka. Bodohnya Anwar dan Putra mengikuti dan memperhatikan dengan serius.
Darka mengerjap bingung. “Syukuran apaan?”
“TOBATNYA SANG KEGELAPAN!” Sandi mengangkat kedua tangannya dengan dramatis yang langsung dapat tabokan super keras dari Darka.
***
“Rencana pertama, kita bawa Lita ke rumah Anwar, bilang aja acara syukuran! Pokoknya harus sampe Lita mau ikut.”
Darka ragu Lita mau bicara dengannya di depan banyak orang. Pesannya pun juga belum tentu dibaca Lita. Jadi pemuda itu menunggu sampai sekolah sepi dan Lita pun biasanya mengerjakan tugas di sekolah.
Setelah lama menunggu, yang di dapatkan pemuda itu malah hal lain.
Emosi Darka naik sampai ke kepala. Wajahnya sudah memerah. Lita seharusnya tidak menunjukkan senyumnya sembarangan. Hanya Darka yang pernah melihat Lita tersenyum.
Rencana untuk bicara baik-baik dan membawa Lita tanpa paksaan jadi hancur begitu saja. Darka masuk ke dalam kelas dan menarik Lita dari kursinya.
“Oh ya, makasih–ah!” Lita tertarik sampai berdiri dan harus menubruk dada Darka. Gadis itu membelalakan matanya. “Darka?”
Darka masih tidak menggubris Lita yang menatapnya kebingungan. “Sorri, gue ada urusan sama Jelita, ayo.”
Lita pasrah saja ketika Darka memberikan tatapan tajam pada teman sekelasnya dan menariknya ke parkiran. Dia tidak berani mengatakan apa-apa saat melihat raut wajah Darka yang mengeras.
Terlebih ketika mendapatkan Sandi, Anwar, dan Putra di parkiran sekolah. Darka masuk begitu saja di kursi depan. Putra melemparkan tatapan bertanya yang dijawab gelengan kepala oleh Lita. Mereka segera menuju rumah Anwar dengan atmosfer yang tegang di dalam mobil.
***
“Sorri, gue narik lo kasar tadi.”
Darka menghela napas. Bersandar pada kursi yang berada di balkon rumah Anwar. Lita masih berdiri di pinggir pagar balkon sambil memperhatikan Darka yang sedang memijit pelipisnya.
Hari sudah malam dan mereka kini ada di balkon. Darka pernah bilang ini adalah tempat di mana dirinya akan datangi saat sedang bahagia atau sedih, namun Lita tak menangkap apa perasaan cowok itu.
“Dia tadi siapa?”
“Hm?”
“Cowo yang tadi. Yang sama lo.”
“Oh, itu Rangga. Dia nemuin buku gue yang keselip di meja guru. Gue cuma bilang makasih aja kok.”
“Terus kok deket-deket?”
__ADS_1
Lita jadi tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini berjalan dan kenapa pemuda di hadapannya sekarang menjadi seperti anak kecil. Mencuatkan bibir sambil meggerutu diam-diam.
“Dia cuma temen sekelas, Darka. Lagi, bukannya gue yang harusnya nanya sama lo siapa cewek yang waktu itu?”
Darka kini gegalapan, menatap Lita dengan wajah pias. “Ga-gak tau. Gue gak kenal dia.”
“Terus kok dirangkul?”
"Cemburu, ya?" goda Darka percaya diri, membuat Lita menghela napas lelah.
“Gue pulang ya?”
"No!"
Lita ingin sekali meluapkan seluruh emosinya sekarang sampai habis tak tersisa, tapi gadis itu tidak bisa. Pada akhirnya Lita hanya seorang cewek yang sedang dipermainkan Darka. Lita memutuskan untuk benar-benar melangkah pergi dari balkon.
Tetapi Darka segera meraih tangannya. Lita menatap Darka yang kini menunduk.
"Lo tau kan gue ini playboy? Gue suka mainin cewek. Gue gampang suka sama mereka, tapi cepet juga hilangnya," kata Darka dengan nada serius. "Gue tahu gue ganteng, sering sombong juga. Tapi sekarang gue mau insyaf, karena sekarang gue udah menemukan the one."
"Terus?" tanya Lita masih tak paham.
“Gue deketin cewek lagi karena mau liat apa lo bisa cemburu. Jadi gue coba buat deketin cewek lain. Jangan salah paham, Jeli. Apalagi sampe ngejauh, lo bikin gue kacau.”
Darka bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Pemuda itu seperti anjing yang ditelantarkan oleh pemiliknya di pinggir jalan.
“Cemburu?”
Darka mengangkat kepalanya. Menatap Lita yang berdiri, dari kursi yang didukinya. Darka harus mengambil langkah maju, dia tidak tahu harus melakukan apa jika ada pemuda lain yang berhasil merebut Lita darinya.
“Gue suka sama lo.”
Jantung Lita hampir mencelus ke perutnya. Gadis itu siap meleleh di tempat dengan kaki yang seperti agar-agar, lemas untuk berdiri juga perut yang seolah dipenuhi ribuan kupu-kupu.
“Gue serius dan gue bener-bener suka sama lo. Gue nggak minta lo buat balas perasaan gue.” Darka terkekeh. “Tapi gue minta lo buat nunggu gue.”
Lita mengerutkan keningnya. Darka melihatnya, dan ia tersenyum tipis.
“Gua bakal berubah jadi Darka yang lebih baik lagi dan kalau gue udah berhasil dengan mimpi-mimpi gue, gue bakal kembali lagi.”
Lita tersentuh dengan itikad Darka yang tak menginginkan apapun darinya sekarang. Tapi dengan jelas memintanya menunggu agar Darka jauh lebih pantas.
“Tunggu gue, mau kan, Jel?”
Lita masih mencerna sementara Darka terus menunggu jawaban Lita.
Kalau Lita mengangguk, ini artinya dia harus siap atas tawa dan luka apapun pada prosesnya dan Darka juga. Tapi Lita juga ingin tahu sampai batas mana dia bisa mengejar bahagianya. Juga apakah Darka bisa?
Tanpa sadar, Lita sudah tersenyum tipis dan mengangguk, menyerahkan hatinya untuk dijaga Darka.
“Iya. Gue akan nunggu lo, Darka.” Lita akan percaya pada Darka.
DUAR! DUAR!
Di saat yang bersamaan, kembang api meletus di atas atap rumah Anwar. Ketiga pemuda yang selalu bersama Darka itu dalangnya. Mereka tertawa sambil melambaikan tangan dari bawah. Ternyata ini semua adalah rencana sejak awal.
Darka tertawa. Tawa yang tidak pernah ia tahu bahwa dia bisa membuatnya. Tawa yang selepas itu setelah berdiri di bawah bayang-bayang. Untuk sementara, Darka dapat melupakannya.
Iya, dengan Lita di sisinya.
“Makasih, Jelita Geanessa.”
***
__ADS_1