Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
28. Kepergian Kelam


__ADS_3

Kusuguhkan imbalan yang setimpal atas kebaikan, kesabaran, ketabahan, keramahan dan ketulusan hatimu


Maaf atas jahatku, tegaku, egoisku, marahku, ketusku dan raguku pada dirimu yang telah menemaniku setiap saat


---


"Kak, aku nggak tau gimana lagi caranya untuk berterimakasih."


"Aku tulus bantuin kamu. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Curahin aja semua keluhmu, jangan sampai ada yang terlewat. Oke?"


"Oke, kak."


"Semoga tubuhku masih kuat, ya."


"Kak, aku agak nggak-"


"Ini untukmu. Kamu harus tenang, luruskan semua permasalahan yang keliru antara kamu dan kakakmu. Jangan lagi-lagi mengeluh karena kasian sama aku."


"Em... oke deh, kak."


"Bagus."


Suara pintu yang terbuka membuyarkan konsentrasi Lita pada arwah Sifa dan beralih menatap Ayah yang baru saja masuk dengan senyuman lebar.


"Pagi, ayah," sapa Lita ceria.


"Kamu ngobrol sama siapa? Barusan Ayah denger suara kamu," kata Ayah heran, tangannya membuah segelas air mineral sambil berjalan mendekat.


Lita berdeham kecil, lalu menatap langit pagi yang nampak bersih dan damai. "Ayah, aku mau jalan-jalan sama Ayah."


"Minum dulu," balas Ayah lembut.


Senyum Lita mengembang. Ia meminumnya dan saat itu Ayahnya mengelus rambutnya dengan sayang. Lita merasa hangat, nyaman dan bahagia.


"Ayo, Yah," ajak Lita sambil merentangkan tangannya. "Gendong, ya? Please."


Ayah tertawa. Senyumnya mengembang lebar dan langsung berbalik, menyerahkan punggungnya untuk ditumpangi Lita. "Silahkan tuan putri."


Lita segera mengeratkan pelukannya pada leher Ayah dan Ayah menggendongnya kemudian. Ayah terkejut karena Lita tak seberat yang ia kira dan itu membuatnya sedih. Mengapa tak dari dulu ia menyayangi Lita dengan semestinya?


"Mau ke mana dulu?" tanya Ayah, tersenyum lebar dan berharap sedihnya bisa hilang.


"Aku mau liat kolam ikan yang ada kura-kuranya, air mancur yang ada di taman sama atas rumah sakit. Aku pengen liat pemandangan dari atas sama menikmati angin," jelas Lita riang, menyuarakan keinginannya selama seminggu ini berada di rumah sakit.


Kemarin teman-temannya satu kelasnya datang, menjenguk. Lita jelas terkejut sekaligus terharu, tak menyangka selama ini mereka juga peduli pada Lita. Teman-temannya di Waktu Malam juga datang, bahkan Mia menyempatkan diri untuk hadir dan mendoakannya agar cepat sembuh.


Darinya Ayah berterimakasih karena telah merawat Lita saat dirinya belum sadar. Lita pun amat bahagia, waktunya menjadi lebih berwarna dan terisi.


Mereka bercanda sampai sore, lalu Darka datang. Laki-laki itu masih sama manisnya, tingkah lakunya yang membuat Lita tertawa terpingkal-pingkal dan kini ia sedang sekolah.


Lita sangat menantikan kedatangannya.


"Banyak juga ya destinasinya." Ayah tertawa bahagia. "Kalau begitu kita ke kolam yang ada kura-kuranya dulu, ya?"


"Oke!" Lita berseru semangat. "Ayah, go!"


Ayah langsung berjalan agak cepat, melewati koridor yang lenggang karena masih pagi. Sesekali ia menirukan suara mobil, rem dan mengguncang Lita seolah melewati rintangan.


Mereka bersenang-senang. Lita tertawa bahagia seolah dirinya adalah anak usia lima tahun karena Ayah memperlakukannya seperti itu.


Tak lama, sampailah mereka di kolam dekat ruang tunggu utama dan Ayah menurunkan Lita agar anaknya itu bisa melihat kura-kuranya.


Lita masih tertawa saat Ayah membernarkan tatanan rambutnya yang sedikit acak-acakan. "Makasih, Ayah!"


"Sama-sama," balas Ayah, benar-benar berusaha untuk tak menangis. "Kamu bahagia banget, ya. Kamu harus sembuh biar Ayah bisa setiap hari gendong kamu."


"Emang aku nggak berat, ya?" tanya Lita dengan senyum sedih. "Ayah nanti capek."


Ayah menggeleng, menolak mentah-mentah ucapan Lita. "Ayah nggak bakal pernah capek untuk bahagiain anak Ayah satu-satunya."


"Aku nggak mau sedih lagi, Yah. Kasian orang-orang yang lihat, nanti mereka ikut nangis. Aku nggak suka lihatnya," balas Lita sambil tersenyum. "Apalagi kalau Ayah nangis. Aku jadi kesel. Ayah jadi susah, ya?"


"Itu kura-kuranya nongol!" seru Ayah tiba-tiba, mengalihkan pandangan Lita.


Melihat dua kura-kura yang muncul, mata Lita berbinar dan senyumnya kian mengembangkan. "Ih, lucu. Pengen megang."


"Jangan, nanti mereka gigit," kata Ayah mengingatkan.


Bahkan ketika melihat air mancur yang berada di taman itu, Lita masih begitu gembira. Seolah emosi yang ia punya hanya bahagia dan bahagia.


Tangan Lita mengulur, menyambut air yang mancur kecil di depannya dengan tatapan berbinar. "Uh, sejuk."


"Kan masih pagi," kata Ayah yang berada di sebelahnya. "Udaranya juga nggak kalah sejuk."


Lita mendongak, menatap ke arah sang Surya yang telah bersinar menyapa hari ini. Bibirnya kini cemberut. "Harusnya kita liat mentari terbit. Pasti indah."


"Mau ke atap sekarang?" ajak Ayah dengan senyum lebar.


"Iya, aku mau," balas Lita disertai anggukan cepat yang tak kalah senangnya dengan Ayah yang langsung jongkok di depannya, menyuguhkan punggungnya sebagai kendaraan.


Masih dengan digendong Ayah, Lita mengeratkan pelukannya pada lehernya. Bukannya Lita berniat untuk menyusahkan Ayah, namun ia ingin menikmati kedekatan dengan Ayah. Sudah jarang sekali rasanya menghabiskan waktu dengan Ayah.


"Ayah," kata Lita saat dirinya dan Ayah sedang menaiki tangga menuju lantai berikutnya, ke atap.


Beruntung kamar Lita berada di dua lantai teratas, jadi Ayah tak masalah untuk menaiki tangga menuju ke sana.


"Ya, apa?"


"Kalau Ayah lelah, aku naik kursi roda aja," kata Lita pelan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ayah kuat! Bentar lagi nyampe, kok!"


"Ya udah. Ayah, fighting!" ujar Lita menyemangati.


Ayah tertawa dan tak lama kemudian, mereka sampai di atap. Lita langsung berbinar lagi melihat pemandangan pagi dengan cahaya matahari yang hangat menerpa tubuhnya setelah diturunkan Ayah.


"Woah, Ayah, ini indah," kata Lita kagum. "Kalau aja ada Ibu, kita pasti lebih bahagia, ya."


"Iya," sahut Ayah setuju. "Kalau ada Ibu kamu nggak bakal kayak gini. Semua salah Ayah."


Lita langsung terkejut saat menoleh dan mendapati Ayah dengan air mata berlinang. Ayah berusaha untuk tak menangis, namun hatinya tak menuruti. Lita segera mendekat, ia menghapus air mata Ayah dengan hati teriris.


"Ini semua takdir Tuhan, Yah. Ayah nggak perlu merasa bersalah. Kita nggak salah," kata Lita pelan, dan akhirnya air matanya pun ikut luruh.


Isakkannya mulai terdengar dan refleks membuat Ayah merengkuhnya dengan erat. "Maafin Ayah, nak."


"Nggak apa-apa, Yah." Lita menenggelamkan kepalanya di dada Ayah. "Makasih udah mau jadi Ayahku dan selalu ada di sampingku."


Sungguh, hati Ayah seperti dipukul-pukul sampai hancur ketika mendengar perkataan tulus anaknya. Semua perlakuan buruknya, Lita tak pantas menerimanya.


"Ayah... sudah jahat sama kamu, nak, maaf," pinta Ayah lagi-lagi, dengan lirih dan mata yang sudah kabur dengan air mata. Ia sesegukan sambil memeluk anaknya dengan erat. "Makasih udah mau menerima Ayah, nak. Makasih..."


"Mau seburuk apapun Ayah, Ayah tetap Ayahku," balas Lita pelan, ia juga sama hebatnya menangis dan sesegukan. "Yang paling menyayangiku dan aku sayangi di dunia ini."


***


"Hai."


Lita tak tahu mengapa dirinya begitu senang mendapati Darka datang pada sore ini. Laki-laki itu masih memakai seragamnya, terlihat sekali baru pulang sekolah. Senyumnya mengembang di wajah lelahnya, membuat Lita ikut tersenyum menyambut kedatangannya.


"Belajar apa tadi?" tanya Lita, merasa terbiasa karena kemarin ia belajar dari catatan-catatan Darka.


Darka melepas tasnya dan duduk di kursi samping ranjang Lita. "Hari ini gue nggak ngerti sama pelajaran, tapi ada sesuatu yang harus gue kasih tahu."


"Hm, apa?"


"Ta-da," kata Darka sambil menunjukkan secarik kertas yang sudah ia persiapkan. "Ini adalah daftar biodata lo. Gue ingin lebih dalam mengenal lo. Dipikir-pikir gue mulu yang cerita. Sekarang giliran lo."


"Hm? Ah, oke-oke." Lita tertarik dengan permainan Darka.


"Nama?"


"Jelita Geannesa."


"Ada artinya, kah?" tanya Darka penasaran.


Lita menggeleng pedih. "Ibu gue-"


"Oke-oke. Lanjut aja ya, hobi lo apa?" potong Darka yang mengerti dan tak ingin membuat suasana jadi sedih. Melihat Lita, ia jadi tak ingin lagi melawan Ayahnya.


"Hobi, ya? Hm," pikir Lita merasa bingung sendiri.


"Berada di kamar."


"No. Itu namanya malas, bukan hobi." Darka menyilangkan tangannya di depan dada, membentuk tanda X. "Hobi itu contohnya akting, kayak gue. Nyanyi, nari, baca, tulis puisi, mancing, masak, main badminton, dan lain-lain."


"Oh, gitu." Lita mengangguk-angguk, namun setelah dipikir-pikir ia sepertinya tak punya hobi. Hidupnya selalu lurus dan monoton. "Gue bingung, Dar."


"Ck." Darka memutar bola mata, tak habis pikir. "Ya udah, gue bantuin cari hobi. Hobi lo sekarang adalah menatap ketampanannya Darka Samudra."


Lita langsung menabok lengan Darka yang tertutup baju seragam dan melotot. "Nggak!"


"Dih, salting nih ceritanya," goda Darka sambil tertawa geli. "Lanjut deh ya, cita-cita lo apa?"


"Mati."


"What?!" Darka tampak tak habis pikir. "What do you mean? Semua orang pasti mati dan itu bukan cita-cita, Jelita. Jangan aneh-aneh, gue nggak suka."


Lita memutar bola mata sambil tertawa. "Kalau begitu, gue nggak punya cita-cita."


"Hidup lo bakal gimana coba kalau nggak ketemu gue? Hobi nggak ada dan cita-cita pun nggak ada," ledek Darka kesal. "Gue cariin cita-cita deh kalau gitu."


"Terserah."


Darka mulai berpikir. Ia menatap Lita sambil berpikir, begitupula dengan Lita yang terus menatap mata cokelat terang Darka dengan penasaran.


"Aha!" seru Darka, menemukan sesuatu.


"Apa?"


"Cita-cita lo jadi istri Darka Samudra, aja. Gue akan bantu buat mencapainya, serius," kata Darka tak main-main.


Lita lagi-lagi menepuk lengan Darka. "Jangan aneh-aneh!"


"Nggak aneh, perasaan. Gue serius," balas Darka percaya diri.


Darka tak tahu, betapa tertekannya Lita saat ini. Saat diharapkan masih bisa hidup saat seluruh tubuhnya kini terasa mati rasa.


"Lanjut deh, tanggal lahir lo kapan?"


"2 September," jawab Lita. "Lo kapan?"


"Kapan, ya, hm?" Darka tampak berpikir, namun selanjutnya ia membulatkan bola matanya. "Sekarang 5 Juli, kan? Anjir, gue ultah sekarang, Jel!"


Lita tersenyum. "Bagus. Gue punya kado yang pas, kalau begitu."


"Kado yang pas?" Mata Darka berbinar. "Mana?"


"Harusnya kita ke atap dulu. Gue pengen lihat sunset sama lo, tapi kayaknya gue nggak kuat." Lita tersenyum tipis, kecewa.

__ADS_1


Darka yang mengerti langsung menghiburnya. "Lewat jendela di samping lo juga bisa kalau liat sunset mah. Jangan paksain tubuh lo, gini aja gue seneng."


Lita tak bagaimana untuk membalas ketulusan Darka dan kebaikan yang menyertai laki-laki itu.


"Gue bakal kasih waktu lo buat ketemu sama adik lo."


"Hah?" tanya Darka kebingungan. "Adik gue?"


Lita tersenyum, kemudian mengangguk kecil dan matanya tiba-tiba terpejam. Tubuhnya langsung jatuh dan Darka segera menahannya.


"Jelita!" seru Darka khawatir, berharap Lita membuka matanya. "Hei, lo kenapa? Gue panggil dokter, ya, tung-"


"Kak, ini aku, Sifa." Lita tiba-tiba sadar dan bersuara. Perkataan seketika membuat Darka mematung, ia menatap Lita dengan pandangan meneliti.


"Si-sifa?"


Tubuh Lita itu mengangguk. Secara fisik dia Lita, namun kini yang mengendalikannya adalah Sifa, adiknya Darka. Maka kini, yang bicara adalah kehendak dan kata-kata Sifa. "Hai, Kak. Apa kabar?"


"Ka-kamu asli?" tanya Darka takut-takut.


Lagi, Sifa mengangguk. "Aku bisa sampai satu jam ngobrol sama Kakak. Nanti waktu aku udah selesai, bilang makasih banyak ke Kak Jelita ini. Dia baik banget."


Darka mulai memberanikan diri untuk meraih tangan milik tubuh Lita itu dan menggenggamnya erat. "Kamu ... Kakak kangen."


Darka merengkuh Sifa. Erat dan sarat akan kerinduan. Sifa membalasnya tak kalah erat. Mereka saling terharu, mengeluarkan air mata bahagia.


"Maafin Kakak, Dek. Kamu-"


"Aku minta bantuan Kak Jelita bukan buat dengerin ocehan Kakak yang minta maaf terus-menerus, tapi aku mau Kakak ikhlasin aku. Kakak nggak boleh menyalahkan diri atas kematian aku. Bantu aku, ya?"


Darka melepas pelukannya. Ia menghapus air matanya dan tersenyum sedih. "Kabar kamu gimana, Dek?"


"Baik, Kak. Kakak juga, kan?" tanya Sifa sama sedihnya.


Darka mengangguk berkali-kali. "Kakak baik-baik di sini. Kamu juga, ya."


"Iya, makanya Kakak jangan nyalahin diri terus. Aku nggak bisa pulang dengan tenang kalau Kakak terus begitu. Ikhlasin aku, ya?" pinta Sifa lagi.


"Iya, Dek, iya. Kakak akan ikhlasin kamu." Darka lagi-lagi menghapus air matanya yang turun. "Semuanya takdir Tuhan, ya."


"Bagus." Sifa mengangguk dan mengedarkan pandangannya ke jendela, melihat sore yang indah. "Kakak nggak boleh sia-siakan hidup yang indah ini. Kaka lanjutin aja kehidupan Kakak, sesuai yang Kakak mau, nggak perlu terpaku dengan aku dan harapan-harapanku."


Darka tersenyum getir. Tak tega membayangkan masa depan cerah milik adiknya harus berakhir secepat itu.


"Kebahagiaan Kakak, kebahagiaanku juga. Damai juga sama keluarga. Jadikan keluarga kita yang paling bahagia meski aku sudah tak ada, pokoknya kalian harus baikkan! Aku sedih lihatnya." Sifa menatap Darka dengan hasrat menggebu. "Ayah, Ibu dan Kakak harus bahagia! Apalagi di samping Kakak ada Kak Jelita yang baiknya kayak bidadari."


Darka terharu, mempunyai adik sedewasa Sifa. "Iya, dek, iya."


"Jaga baik-baik Kak Jelita, deh, Kak. Jangan main-mainin cewek melulu. Aku selalu lihat hidup Kakak, aku tahu semuanya. Kak Tia dan fans-fans Kakak. Ayah dan Ibu." Sifa menoleh, menatap Darka dengan serius. "Kakak mau jadi aktor, ya? Cita-cita Kakak, kan?"


Darka mengangguk. "Tapi Ayah nggak restuin."


"Bilang aja dan Kakak harus berusaha sekuat tenaga."


"Oke," balas Darka semangat. "Seru, ya, kamu bisa ngomong gini sama Kakak pake wujudnya Jeli, lagi. Jadi gemes."


Tanpa melewatkan kesempatan, Darka mencubit pipi milik Lita dengan gemas dan itu membuat Sifa menabok keras tangan Kakaknya itu. Darka menjauhkan tangannya yang nyeri dengan wajah terluka.


"Kakak kurang ajar sama Kak Jelita!" serunya marah. "Akibat aku pinjem tubuhnya Kak Jelita ini fatal, lho."


"Apa?!"


"Dia bisa hilang ingatan. Tentang Kakak dan teman-temannya. Kecuali keluarganya," balas Sifa.


"Kok kamu nggak bilang, sih? Udah, keluar sana, kasian Jeli!"


Lagi, Sifa menabok lengan Darka dengan keras.


"Aw! Sakit, dong!"


"Nyebelin, ish!"


"Cita-citamu sekarang apa? Masih model?" tanya Darka tiba-tiba, wajahnya berganti serius dan ada sedih dalam matanya. "Kalau kalau masih hidup gimana, ya. Ish, kok Kakak jadi cengeng gini, ya?"


Sifa hanya melihatnya dengan tatapan sedih, saat Kakaknya kini menangis.


"Kamu selalu Kakak jahilin, nemenin Kaka bergadang, main keluyuran komplek pake sepeda, makan eskrim bareng, balapan mandi, sampai nyanyi-nyanyi nggak jelas sampe Ayah Ibu marah." Darka menatap Sifa dengan mata memerahnya. "Kapan ya bisa gitu lagi?"


"Kak," kata Sifa tiba-tiba berubah takut. "Kayaknya Kak Jelita udah nggak kuat, deh. Aku keluar sekarang, ya."


"Hah?" Darka gegalapan, merasa sangat singkat bertemu adiknya itu dan segera merentangkan tangannya. "Kalau begitu, pelukan terakhir?"


Sifa memeluk Darka dengan erat. Mereka saling mengeratkan pelukannya, sarat akan kasih sayang antar saudara.


"Dah, Kakak. Makasih udah ikhlasin aku."


Lalu tubuh itu terasa berat dalam dekapannya. Darka tersentak, langsung melepaskan pelukannya yang terakhir dengan Sifa itu dan menatap Lita yang matanya kini terpejam dan tak sadarkan diri.


"Jelita?!" Darka panik, ia segera memencet tombol untuk memanggil dokter dan mendekap Lita lagi dengan jantung berdebar, khawatir.


"Lo kuat, Jelita, please. Lo kuat." Darka menangis hebat tanpa suara. "Lo belum liat kamar gue yang pink dan penuh Hello Kitty, lo belum denger gue nyanyi, lo belum liat teater gue, lo belum gue kenalin ke Ayah Ibu. Ayo, please. Jangan sekarang."


"Tolong jauhkan dia dari pasien, saya akan periksa pasien Jelita!"


Suara instruksi dokter itu membuat Darka terperangah dan langsung dijauhkan, melihat Lita yang tak sadarkan diri dan ditangani oleh dokter sedemikian rupa hingga membuatnya tersiksa.


"Jelita ayo, lo kuat!"


***

__ADS_1


__ADS_2