Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
e p i l o g


__ADS_3

Darka memperhatikan tampilannya pada pantulan cermin. Dia tampak rapi dengan pakaian formal sehingga menambah ketampanannya menjadi berkali-kali lipat.


Semakin bertambahnya usia, pemuda itu menunjukkan karisma dan kedewasaannya. Darka yang dulu masih terlihat imut diusia belasan sekarang berubah menjadi Darka dewasa dengan wajah tajam.


“Mas Darka, udah siap? Wawancaranya mau dimulai.”


Darka menoleh, mendapati seorang pria membuka pintu. Dia tersenyum sejenak, lalu menganggukkan kepala.


Darka melihat cermin sekali lagi, menarik napas sebentar lalu menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum sekali lagi sembari menatap dirinya lurus.


“Mari kita selesaikan semua lebih cepat.”


***


Darka mempunyai impian yang sangat ia idam-idamkan sejak dahulu.


Menjadi aktor, mempunyai teater sendiri, melatih dan berlatih dengan orang-orang yang mempunyai mimpi yang sama.


Meskipun menjadi aktor dan mendirikan teater sudah ia lakukan, namun itu belum tentu menjadi tolak ukur Darka bisa dikatakan sukses.


Teater yang ia dirikan harus mengalami pasang surut. Awal dibukanya banyak yang mendaftar, beberapa tahun kemudian banyak yang keluar. Pernah juga Darka hiatus dari dunia akting hingga membuat namanya jarang dibicarakan oleh masyarakat.


Tapi, Darka bukan orang yang akan menyerah dengan mudahnya. Ia akan terus berjuang hingga meraih impiannya.


Kini, ia berhasil.


Untuk pertama kalinya, ia diundang ke acara Talkshow dan berbicara banyak di depan kamera sebagai Darka Samudera. Berkat aktingnya di film yang baru saja ia bintangi mendapat apresiasi yang bagus dari masyarakat, Darka sukses menjadi aktor ternama yang memenangkan acara penghargaan.


‘Mas Darka, gimana nih perasaannya setelah sekian lama akhirnya masuk nominasi penghargaan film?” tanya pembawa acara yang merupakan seorang wanita cantik.


“Yang pasti senenglah, mbak. Terkejut juga karena nggak nyangka bakalan menang, padahal saya dateng aja udah syukur gitu diundang. Gak kepikiran bakalan menang. Namun pada akhirnya, usaha dan penantian saya selama ini terbayarkan juga,” jawab Darka tenang.


Pembawa acara itu tersenyum. “Mas pantes sih dapat penghargaan sebagai aktor terbaik. Mas bener-bener menghayati perannya, padahal kalau dilihat-lihat karakter Mas dalam film sama di kenyataan beda banget.”


Darka terkekeh pelan. “Namanya juga aktor, Mbak. Harus bisa memainkan film sesuai dengan perannya.”


“Film yang Mas perankan ini kan tentang seseorang yang ditinggalkan orang yang ia cintai untuk selama-lamanya. Kira-kira Mas ada nggak seseorang yang Mas kenal mengalami kisah ini? Atau, Mas sendiri yang mengalaminya?”


Raut wajah Darka perlahan berubah. Tak menampakkan senyumnya yang khas. Pemuda itu terdiam sebentar, lalu menjawab pertanyaan si pembawa acara tersebut.


“Saya yang mengalaminya sendiri, Mbak. Makanya menghayati banget.”


***

__ADS_1


Langkah kaki Darka membawanya pada suatu tempat yang begitu ia benci, namun disana ada seseorang yang begitu ia cintai.


Tempat yang paling ia tak sukai, namun disana ada seseorang yang begitu ia sukai.


Ada seseorang yang begitu berharga bagi kehidupannya, seharusnya ia tersenyum ketika menemuinya, namun setelah ia sampai disana bahkan setelah meninggalkan tempat itu, ia justru menangis pilu.


Tangannya membawa sebuah buket bunga di sebelah kanan, mengangkat bunga itu lalu menghirupnya dalam-dalam. Ia kembali menatap lurus ke depan, membuang nafas perlahan agar rongga dadanya terasa lebih tenang. Tak sesak seperti biasa ketika mengunjungi tempat ini.


“Hai.”


Darka jongkok di tempat yang ia datangi itu, memandangi sebuah benda itu lamat-lamat, membacanya perlahan. Pikiran dan hatinya berusaha menyinkronkan apa yang ia terima.


Sebuah kenyataan yang sebenarnya hendak ia tolak. Ia tak terima. Tak menerima takdir yang sudah digariskan Sang Pencipta kepada setiap umatnya. Berkali-kali seperti itu.


Benda itu adalah sebuah batu nisan.


Bertuliskan nama Jelita Geannesa disana.


Gadis itu pergi. Untuk selama-lamanya.


Setelah koma beberapa tahun, Lita sadar dari tidur lelapnya. Gadis itu menyadari bahwa betapa hidupnya berharga bagi orang-orang yang ia sayangi. Terbukti dengan banyaknya mereka yang menunggu Lita untuk sadar.


Termasuk ayahnya dan juga, Darka.


Tanpa permisi merebut atensinya, mengubah ketidakpedulian menjadi peduli yang begitu banyak hingga rela menjadi benang merah antara Darka dan adiknya, Sifa.


Dan juga tanpa permisi, merebut hatinya.


Takdir memang tak bisa ditebak. Darka dan Lita, dua insan yang saling berbagi lalu jatuh cinta itu harus terpisah.


Oleh maut.


Beberapa hari setelah sadar, Lita tiba-tiba kejang. Ginjalnya ternyata tidak menerima respon yang lama terhadap tubuhnya.


Gadis itu pada akhirnya menyerah. Ia pun pergi untuk selamanya. Meninggalkan segala kenangan yang begitu indah untuk hidup seorang pemuda bernama Darka Samudera.


“Aku kangen.”


Darka mengatakannya berulang kali. Setiap hari, setiap waktu jika teringat akan Lita.


“Aku kangen kamu, Jel.”


Lagi. Ia mengatakannya. Kali ini Darka menunduk, bahunya naik turun. Kemudian, air matanya pun tumpah di depan makam Lita.

__ADS_1


Lagi. Terus seperti itu.


Darka mengangkat kepala, mengusap air matanya kasar. Ia kemudian menggelengkan kepala cepat. “Nggak, nggak. Jeli nggak suka lihat Darkanya nangis,” kata Darka. “Aku harus kuat. Kata Jeli, Darka enggak boleh nangis hehehehe. Maaf ya, Jeli Jeli, aku suka kelupaan.”


“Kamu pasti seneng kan deket terus sama Ibu kamu?”


Darka berbicara lagi. Pemuda itu berusaha ceria, tenang, dan santai agar tampak kuat di depan Lita yang mungkin sedang memperhatikannya.


“Aku habis diundang sama televisi, jadi bintang tamu,” kata Darka mulai bercerita.


“Mereka bahas tentang film aku. Yang ituloh tentang dua orang saling mencintai tapi nggak bisa bersama karena si ceweknya pergi selama-lamanya,” Darka membasahi bibir bawahnya sejenak, lalu melanjutkan ucapannya, “kayak kisah aku, sama kamu.”


Pemuda itu mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa sarkas. “Kenapa sih aku nggak bisa kuat di depan kamu? Kamu pasti nggak akan suka kan kalau aku gini-gini terus?” tanyanya sambil mulai menitihkan air mata lagi.


“Maaf, Jel, kalo aku belum bisa tegar di depan kamu. Maafin aku ya,” ujar Darka mengusap-usap nisan Lita. Mencoba kembali tenang.


“Kamu beneran udah kenalin aku ke Ibu kamu kan? Kenalin sebagai pacar? Atau sebagai calon suami?”


Darka memasukkan tangannya ke dalam saku jas nya, mengambil sesuatu. Sebuah cincin permata yang nampaknya sederhana, namun mempunyai kesan yang begitu mewah.


“Cincin ini bagus kan?”


Kedua sudut bibir Darka melengkung ke atas, tangannya mengusap-usap cincin itu.


“Dulu, impian aku cuma satu. Pengen jadi aktor. Dikenal banyak orang, dicintai banyak orang, dikagumi banyak orang, diperhatiin banyak orang.”


Darka kemudian menatap nisan itu, tangannya beralih mengusap nisan itu penuh sayang. “Impianku jadi nambah satu, yaitu hidup bahagia sama kamu.”


“Nggak terasa ya empat tahun kamu udah pergi. Aku nggak nyangka aku sekuat ini,” kata Darka lagi. “Makasih, Jel.”


“Makasih sudah hadir di hidup Darka. Makasih karena telah mengubah hidupku. Ayahku, Ibuku, dan juga Ayahmu. Mereka sekarang sehat dan bahagia. Aku juga harus bahagia kan?”


Darka mengangkat wajah, menengadahkan kepala memandangi langit yang begitu cerah. Tak ada nuansa kelam yang dihadirkan oleh alam. Seolah, semesta mendukung Darka untuk bahagia menjalani hidupnya walau tanpa seorang wanita yang ia cintai.


Darka menutup mata merasakan angin sepoi menerpa wajahnya. Angin yang membawa ketenangan, kedamaian, seolah membawanya terbang.


Darka membuka mata, melihat kearah nisan itu sekali lagi. “Aku pulang, ya. Aku janji setelah pulang dari sini, aku akan hidup jauh lebih baik sesuai dengan keinginan kamu.”


Hari itupun Darka benar-benar menepati janjinya. Hidup bahagia dengan lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Sang Pencipta padanya.


Pemuda itu tak lagi menangis ketika mengingat Lita. Namun, ia berdoa agar gadis itu tenang disana.


Lita akan selalu bersemayam dihati Darka Samudera. Memori singkat tentang gadis itu tidak akan Darka hilangkan. Sampai kapanpun.

__ADS_1


S E L E S A I


__ADS_2