Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
23. Mengambil Jalan Terbaik


__ADS_3

Yang membuat luka bukan orang lain atau keadaan, tapi kita sendiri


Kalau aku dan kamu tak menjadi kita,


mungkin luka ini tak pernah ada


---


“Lagi, ya, Lit, lo ngapain sih jalan sama Darka segala?”


Tia kesal sendiri sambil membersihkan laci meja Lita yang ternyata juga diisi sampah. Lita hanya menghela napas. “Gue gak tau kala ada orang yang bakal kaya gitu.”


“Lo tuh harusnya jadi orang jangan terlalu baik, Lit. Lo tau kan Darka itu fansnya banyak banget, gimana kalau mereka tau lo tuh sebenernya emang udah jadian sama Darka?”


Lita memang sudah memberi tahu Tia soal kejadian di rumah Anwar tempo hari sejak dirinya dan Tia semakin akrab lewat pesta ulang tahun saat itu. Bagi Lita yang ia bisa percayai sekarang hanya Anwar, Sandi, Putra, dan Tia.


“Gue gak jadian sama Darka,” Lita harus mengulang itu setiap kali Tia membalas.


Gadis itu tertawa kecil. “Lo suka Darka, Darka suka lo, kalian jalan bareng, sama aja kaya pacaran kan? Bedanya cuma gak ada status aja.”


Pembicaraan ringan Tia dan Lita harus terpotong ketika mendengar bisikan lain soal kedekatan mereka dari anak-anak kelas Lita yang melihat mereka.


“Tia ngapain sih sama anak itu? Bantuin bersihin sampahnya lagi.”


“Tadi di koridor Tia juga belain dia bareng Anwar, Sandi, Putra kan?”


“Tia mau aja dimanfaatin.”


“Darka kenapa gak sama Tia aja sih? Tia kan baik. Emangnya–”


“Terus! Terus aja.” Tia menoleh ke belakang. Ke asal suara. Ia melotot memandangi mereka yang berbicara di belakangnya.


“Tia, udah.” Lita menarik ujung baju Tia. “Gausah dipeduliin, nanti juga mereka capek sendiri.”


“Ih, tapi mereka nyebelin banget. Kok lo tahan sih?”


“Udah biasa, ayo buang sampahnya aja.”


Tia akhirnya tersenyum dan berjalan keluar bersama Lita. Tetapi sesaat kemudian, raut wajahnya berubah menjadi serius. Keningnya berkerut pertanda sedang memikirkan sesuatu. Lita memiringkan kepalanya, melihat wajah Tia lebih dekat.


“Kenapa, Ti?”


“Gue tau, ini lancang banget sih sebenernya tapi …”


“Ya?”


“Lo kenapa gak putus aja sama Darka?”


Lita membelalak. Kenapa Tia mengatakan itu? Umurnya hubungannya dan Darka saja belum menginjak satu bulan.

__ADS_1


“Apa lo gak berpikir, hubungan lo sam Darka cuma nyakitin lo aja? Fansnya Darka tuh banyak banget, Lit. Kaya gini itu cuma permulaan doang. Gue khawatir lo bakal alamin yang lebih dari ini.”


Sebenarnya, Lita juga sudah sadar akan hal itu. Bukannya Lita tidak merasa bahagia atau khawatir dia tidak akan bisa bahagia, gadis itu lebih memikirkan Darka yang bahkan dikurung selama seminggu di kamarnya. Dan benar kata Tia, ini baru awal.


“Lagipula lo liat apa sih dari Darka? Iya sih dia ganteng, tapi kan cuma itu doang. Dan lo tau kan alesan gue putus sama Darka?”


Lita menatap Tia dengan tatapan bertanya. Dia tidak pernah tahu kenapa Tia putus dengan Darka. Lita cenderung tidak peduli dengan hal yang tidak bersangkutan padanya dan tidak penting.


“Darka selingkuh. Dia mutusin gue di depan banyak orang di kantin. Lo gak takut Darka bakal kaya gitu ke lo? Cowo itu cuma manis di bibir.”


-


Lita memikirkan kata-kata Tia disepanjang perjalanannya menuju rumah. Langkahnya terhenti ketika dari jauh, ia sudah dapat melihat sebuah motor terparkir di depan rumahnya.


“Darka?” Lita segera berlari menghampiri, dan dugaannya betul.


“Hai, Jeli,” sapa pemuda itu, dengan suara parau yang terdengar lemah.


Mendadak, Lita jadi panik. “Lo ngapain ada di sini, bukannya lo dikurung di rumah selama seminggu? Kalau sampe ketauan gimana?” Lita celingak-celinguk, khawatir ada yang datang dan Darka akan menerima hukuman yang lebih parah.


“Gue kabur.” Darka menjawab singkat. Pemuda itu tersenyum melihat wajah panik Lita meski hanya sebentar, menunjukkan gadis itu masih peduli.


Lita kembali menatap Darka. Hatinya terenyuh ketika melihat bibir Darka terluka.


“Lo… ditampar?”


Darka tersenyum kecut. “Ini bukan apa-apa dibanding yang udah lo alamin di sekolah Jeli.”


“Pulang, Ka. Kalau Ayah lo kabur hukuman lo bisa ditambah.”


“Gue mau ngomong sama lo, Jeli.”


“Darka–”


“Please?” Darka menatapnya dengan mata yang memohon, membuat Lita tak kuasa untuk menolak Darka.


“Oke. Tapi gak boleh lama-lama ya, Ka. Lo bisa–”


“Iya, iya bawel banget sih?” Darka tertawa meski suaranya terdengar serak. Ia menyerahkan helmnya pada Lita.


Lita mengerutkan keningnya. “Kita mau kemana?”


“Nanti juga tau.” Darka menunggu Lita mengambil helmnya. Gadis itu tak kunjung menerima helm Darka dan membuat pemuda itu memasangkannya sendiri pada Lita. “Dipake, Jeli bukan diliatin.”


Mereka segera melesat dengan motor Darka, membelah angin sore yang terasa dingin. Dengan Lita, yang ragu untuk berpegangan pada jaket Darka. Gadis itu pada akhirnya hanya hampir menyandarkan kepalanya pada punggung Darka, meski tak menyentuhnya sama sekali.


-


“Di sini, sunsetnya indah banget, Jel. Lo harus liat.”

__ADS_1


Darka berjalan mendahuli Lita. Mereka sudah melepas sepatunya sejak menginjak pasir. Lita tak pernah tahu bahwa di dekat tempat kerjanya ada pantai  kecil yang tidak banyak dikunjungi orang. Darka memang selalu penuh kejutan.


“Kadang, selain rumah Anwar gue suka ke sini. Tapi selalu sendirian.”


Darka berbalik, berjalan mundur sambil menatap Lita. Gadis itu merapihkan rambutnya yang diterpa angin sore.


“Tapi sekarang gue bisa punya seseorang yang bisa gue ajak ke sini.”


Lita menatap Darka. “Gak pernah ada siapapun yang lo bawa kesini?”


Darka menggeleng. “Cuma Jelita Geanessa. Dan gue harap begitu terus sampai waktu yang gabisa diketahui kapan.”


Itu artinya, Lita tak perlu khawatir akan apa yang dikatakan Tia soal Darka akan menyakitinya. Lita percaya pada Darka. Namun sejak awal memang bukan hal itu yang membuat Lita memikirkan saran dari Tia. Justru kalimat dari Darka yang membuatnya tekadnya semakin bulat.


Lita menunduk. Mengikuti jejak kaki Darka yang tercetak di atas pasir. Jejak kaki Darka yang jauh lebih besar dari jejak kaki Lita. Gadis itu mulai megikuti kemanapun jejak kaki Darka melangkah. Sampai air laut menyapunya.


“Sampai sini.” Lita berhenti.


Darka menoleh ke belakang, tak mendengar apa yang Lita katakan. “Apa?”


Sementara Darka berhenti melangkah, langit bersemu merah. Matahari sudah setengah tenggelam di ujung garis pantai. Alih-alih menjawab Darka, Lita menolah pada sisi laut pantai dan menikmati warna oranye yang menyala redup. Darka tersenyum pada Lita. Benar, matahari terbenam di pantai itu sangat indah. Tapi tidak pernah seindah Lita.


Gadis itu menyisir rambutnya ke belakang telinga agar tak lagi terbawa angin. “Sampe sini Darka. Cuma sampe sini gue bisa nemenin lo ke pantai.”


Darka mengerutkan keningnya. Mendadak mendapatkan firasat buruk. “Ma-maksudnya?”


“Lo akan terus berhadapan sama hal-hal yang sulit kalau lo tetap sama gue.” Lita tersenyum tipis. Darka melangkah mendekat, tapi Lita berjalan mundur seolah menyuruh Darka untuk tetap diam di tempat.


“Jeli, apapun itu yang ada di pikiran lo, jangan–”


“Kita selesai aja ya, Ka?”


Darka membelalak. Jantung mencelus. Dia tidak bisa kehilangan Lita sekarang. Tidak ketika semuanya begitu indah dan dunianya kembali terang. Tidak sekarang.


“Kalau lo tetap sama gue … semuanya akan jadi sulit buat lo.”


“Lo gak pernah jadi beban buat gue Jel! Lo justru orang yang udah bikin gue sedikit demi sedikit jadi Darka yang dulu.” Darka berusaha meyakinkan Lita untuk tidak pergi.


“Tenang aja, Darka, gue akan tetap jadi temen lo. Kaya waktu pertama kali inget?”


Darka menggeleng. Dia tidak pernah melihat Jelita Geanessa sebagai ‘hanya’ teman sejak awal. Darka selalu melihat Lita sebagai seorang perempuan.


“Gue akan selalu terbuka sama lo, Darka. Selalu. Bahkan gue akan berusaha untuk tak membuat lo sedih.” Lita menambahkan, karna jelas itu adalah tugas terakhirnya yang ia janjikan pada adik Darka.


“Jel, lo udah janji sama gue.”


“Maaf, gue gak bisa nempatin itu semua.” Lita menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang sudah dibasahi air mata.


“Jel, please?”

__ADS_1


Lita berbalik, berjalan dengan memunggui Darka yang masih terpekur di tempat. Seharusnya Lita melakukan ini sejak awal agar tidak melukai siapapun. Baik dirinya, ataupun Darka. Gadis itu menangis dan tak ingin menoleh ke belakang.


Dia tidak ingin melihat Darka yang semakin rapuh dan tak mampu untuk mengejar Lita, menghentikannya sekali lagi, atau hanya sekedar bertanya apakah semuanya cuma mimpi.


__ADS_2