Indah Dalam Kelam

Indah Dalam Kelam
30. Bersyukur


__ADS_3

**Terimakasih


Untuk dirimu yang tak pernah menyerah atas diriku


Terimakasih**


---


5 tahun kemudian …


“Ayo cepat Darka nanti kamu terlambat!”


“Iya, sabar bu!”


Darka menyahut dari dalam kamarnya dan membenarkan dasinya sekali lagi. Ia mengenakan setelan jas formal dan menyisir rambutnya. Darka harus tampil rapih, hari ini hari yang sangat penting untuk Darka.


Pemuda itu segera menuruni tangga setelah siap. Ibu dan Ayahnya yang sudah menunggu di bawah, tersenyum menatap Darka. Senyum yang pulih kembali setelah bertahun-tahun lamanya sejak kehilangan Sifa.


Mobil mereka melaju dengan cepat dan terus memutar menghindari kemacetan jalan raya. Darka terus mengecek jam tangannya, memastikan agar dirinya tidak terlambat. Hingga mereka berhenti pada sebuah gedung teater yang sudah diisi reporter dan tamu undangan.


Darka menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Sekali lagi, pemuda itu membenarkan dasinya. Ibunya menoleh ke belakang, melemparkan senyum untu meyakinkan Darka. Ayahnya pun ikut mengangguk.


Pintu mobil terbuka. Darka melangkah diatas karpet merah. Seluruh reporter mengangkat kamera, perekam suara, dan buku catatan mereka. Para tamu undangan yang berada di atas undakan tangga terdepan ikut melipir dan menyambut Darka dengan seutas pita merah.


“Congrats ya, Ka.” Sunny, salah satu rekan Darka memberikan gunting untuk memotong pita.


Benar. Hari ini adalah hari peresmian gedung teater milik Darka yang selalu ia impikan. Gedung Teater Budaya Cahaya Pelita.


Darka memberikan pidato singkat dan menggunting pita merah tersebut. Dengan ini, gedung teater milik Darka resmi dibuka.


“Yeay!”


“Traktir makan-makan nih!”


“Congrats ma bro!”


Tepuk tangan paling keras terdengar dari Anwar, Sandi, dan Putra yang datang sebagai tamu undangan. Tanpa pikir panjang, Darka segera memeluk ketiga sahabatnya.


“Gila, sukses lo Ka. Ini impian lo sejak kecil kan?” Sandi menepuk punggung temannya sementara Darka mengangguk.


“Lo udah buktiin kalau lo bisa banggain orang tua lo.” Anwar tersenyum.


“Ekhm, jadi sekarang panggilnya pak guru, pak CEO, apa aktor Darka?” Putra menggoda Darka yang berawal dari guru kesenian dan kini merangkap menjadi pengusaha muda.


Darka tertawa. “Panggil gue CEO Darka yang ganteng.”


Putra pura-pura muntah.


“Berarti malem ini ada traktiran dong, Ka?” Sandi menyikut Darka.


Namun Darka menggeleng dan tersenyum kecut. “Nggak. Gue harus ke rumah sakit hari ini. Tapi next time pasti gue traktir.”


Anwar, Putra, dan Sandi saling bertatapan. Mereka menepuk bahu Darka untuk memberi pemuda itu semangat. “Tenang, Ka. Lita pasti bangga denger kabar lo yang sekarang.”


“Ya, seandainya dia bisa liat langsung … ”


Sandi menatap punggung Darka yang terlihat rapuh, tidak berubah meski sudah lima tahun berlalu. Bahkan ketika Darka sudah berhasil mencapai semua impiannya, mendapatkan kembali harmonis keluarganya yang dulu, Darka masih belum bisa bahagia sepenuhnya.


Masih ada gadis itu. Gadis yang akan Darka tunggu bahkan jika itu berarti selamanya.


-


Darka menghirup buket bunga yang ia bawa. Mawar putih seperti biasa. Langkahnya membawa Darka menuju sebuah kamar yang setiap minggu ia kunjungi.


Darka membuka pintu. Seorang gadis–bukan, seorang wanita sedang terbaring di atas ranjang. Masih dengan mata yang terpejam. Rambutnya sudah tumbuh panjang, wajahnya semakin cantik sesuai dengan namanya. Jelita Geanessa.


“Hai, Jeli.”


Darka menaruh buket bunganya diatas meja nakas dan menarik bangku untuk duduk di sisi ranjang.


“Jangan bosen liat gue ya. Hari ini gue baru aja buka gedung teater yang baru.” Darka mulai bercerita. Ini adalah kebiasaannya setiap kali bertemu dengan Lita.


Darka bilang, barang kali Lita terlalu emosi mendengar cerita Darka sampai tak tahan untuk bangun demi membungkam Darka, atau tak tega terus meninggalkan Darka bercerita sendiri dan akhirnya siuman.


“Iya, Je, akhirnya semua impian gue terkabul. Oh, ya gue nyempilin nama lo di nama gedung teater gue. Cahaya Pelita.” Kedua mata Darka menyayu. “Untuk Lita yang udah kasih cahaya di hidup gue.”


Darka menunduk. Tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Pemuda itu hanya diam, berharap Lita dapat membalas ceritanya seperti dulu ketika mereka masih SMA.


Lima tahun yang lalu, ketika oprasi transplatasi ginjal di lakukan pada Lita, keadaan Lita bukan malah membaik. Tubuhnya drop dan berakhir jatuh pada keadaan koma. Darka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya mendengar bahwa terjadi malpraktik selama oprasi berlangsung.


Yang Darka tahu, Lita-nya tidak pernah terlihat membuka matanya kembali sejak saat itu. Tubuhnya masih ada dan nyata di sini. Tapi Darka seolah kehilang Lita sepenuhnya.


“Lo tau apa yang orang-orang lakukan kalau semua impian mereka berhasil terwujud, Je?” Darka memecah keheningan.


Meski begitu, tak ada jawaban.


“Mereka punya mimpi yang baru. Atau mereka buat permohonan yang lain. Dan buat gue mimpi itu adalah liat lo bangun sekali lagi, Je.”


Darka menggenggam tangan Lita. “Lo bantu gue wujudin mimpi-mimpi sebelumnya. Dukungan dari lo, dan semua yang lo lakuin untuk bisa bikin gue bahagia lagi, itu semua yang bikin gue bisa bangkit setiap kali gue nyerah sama mimpi gue. Karna gue bakal mikir gini; kalau Jeli-gue bangun dan dia tahu, bisa-bisa gue dipukulin karna nyerah gitu aja! Padahal dia korbanin banyak hal buat gue.”


Darka tertawa hambar. “So here i am, Je. Orang yang udah lo beri cahaya di hidupnya. Lo mau kan bantu wujudin mimpi gue sekali lagi?” Darka memohon. Meski ia tahu hal itu tak merubah keadaan.


Genggaman tangannya menjadi lebih erat. Kedua mata Darka memanas. Ia kembali jatuh pada titik dimana ia akan menyerah dan berhenti berharap.

__ADS_1


“Please, bantu gue Je. Bangun. Kita kejar lima tahun yang lewat gitu aja buat bahagia sekali lagi, hm?”


Ketika Darka menghela napas karna merasa bodoh sudah berbicara sendiri dan hendak melepaskan tangan Lita, jemari Lita bergerak.


Darka membelalak dan berdiri dari kursinnya. Kedua mata Lita berkedut pelan, dengan suara melenguh pelan yang keluar dari bibirnya. Sekujur tubuh Darka rasanya dipenuhi kembali oleh harapan dan kebahagiaan. Ia segera berlari ke luar.


“Dokter!”


-


“Ini keajabain bisa liat lo sekali lagi, Lita.” Sandi, Anwar, dan Putra tersenyum menatap Lita. Mereka terpesona dengan Lita yang bertambah cantik setelah lima tahun.


“Udah jangan diliatin mulu, elah.” Darka dengan posesifnya menyingkirkan Sandi, Anwar, dan Putra dari hadapan Lita.


“Posesif banget anjir,” cemooh Putra yang ditanggapi dengan tawa kecil dari Lita.


Darka berlutut dengan bertumpu pada satu dengkul di hadapan Lita yang duduk di kursi roda untuk menyamakan tinggi mereka. “Makasih, udah wujudin mimpi gue sekali lagi.”


Lita mengerutkan keningnya tak mengerti. “Mimpi apa?”


Darka menggeleng. Ia bangkit dan mendorog kursi roda Lita. “Hari ini kita punya kejutan buat Jelita Geanessa yang boleh keluar rumah sakit!”


“Eh? Kejutan apa?”


“Ada deh! Bukan kejutan dong kalau gue kasih tau!”


Lita menghela napas dan hanya bisa tersenyum memaklumi Darka. Padahal ini hari pertamanya baru boleh keluar dari rumah sakit setelah terapi pasca koma, tapi pemuda itu sudah bersemangat saja.


Lita telah mendengar semuanya. Dari mulai Darka yang membantu biaya pengobatannya, Darka yang sukses mejadi guru kesenian, sampai Darka yang kini menjadi seorang pemilik salah satu gedung teater yang menyelipkan namanya.


Apa yang Lita lakukan pada Darka hingga pemuda yang kini sudah tumbuh dewasa dan sukses itu hingga menjadi sebaik itu padanya? Lita tak pernah merasa begitu dicintai seperti itu selain dari keluarganya.


-


Ternyata pesta yang dimaksud Darka adalah pesta barberque. Darka bahkan mengundang Ayah-Ibunya, serta Ayah Lita untuk menikmati. Ya, kecuali Lita yang baru saja keluar dari rumah sakit, dia harus menjaga makannannya untuk sementara.


“Terima kasih ya, selama lima tahun ini kamu yang udah bikin Darka berubah.” Ibu Darka menhampirinya ketika semua orang sibuk membakar daging.


Lita hendak bangkit dari kursinya dan menyalami Ibu Darka, tapi Ibu Darka mengisyaratkan agar Lita tetap duduk di tempat dengan senyum hangat.


“Saya selalu khawatir sama Darka. Dia selalu hidup di bawah tekanan, tapi saya bersyukur dia ketemu kamu. Sejak ia bertemu sama kamu Jelita, Darka jadi orang yang bener-bener beda. Dia seolah … ” Ibu Darka menatap Darka yang sedang tertawa di halaman karna berhasil mencoreng wajah Sandi dengan arang. “Punya harapan.”


Lita menunduk menyembunyikan wajah malunya. “Justru saya yang harus bilang makasih, tante. Darka yang udah memberikan saya kesempatan dalam banyak hal.”


“Panggil Ibu aja, sayang.”


“Hm?” Lita mengangkat kepalanya, ia terkekeh. Sekarang Lita tahu darimana Darka mendapat sifat yang social butterfly itu. “I-iya, Ibu.”


“IBUUU JANGAN GANGGUIN AYANGNYA DARKAAA.”


“Pokoknya, selamat datang di keluarga ya Lita.”


Ibu Darka mengatakannya seolah Lita hendak menikah dengan Darka, membuat Lita jadi ingin menertawai kemiripan keduanya. Namun rasa nyeri di pinggang Lita terus mengganggunya sejak tadi. Lita tahu ada sesuatu yang salah.


Darka menghampirinya dengan wajah penuh coreng arang, Lita segera menghapus ekspresi kesakitannya dan menahan tawa melihat Darka.


“Gue rela muka penuh areng kalau bisa bikin lo ketawa, Je,” kata Darka dramatis. Ia mendorong kursi roda Lita hingga sampai pada taman.


“Selamat ya, sayang.” Ayah Lita mengecup kening Lita. Satu per satu orang menyalami Lita akan kesembuhannya. Kemudian pesta kembang api dimulai.


Kembang api itu meledak di udara. Warna-warna yang indah seperti lima tahun yang lalu. Lita menatap Darka yang lagi-lagi mengejutkannya. Memorinya kembali pada saat Darka berjanji akan kembali pada Lita ketika ia sudah menjadi lebih pantas. Dan Darka selalu menepati janjinya.


“Untuk acara terakhir!” Sandi tiba-tiba membawa gitar, Anwar mengecek sound system yang berupa speaker JBL, sementara Adit memasang mik di depan sebuah meja kecil yang rendah.


Lita pikir itu semua untuk memutar lagu agar pesta semakin meriah, tetapi Darka menerima gitar yang diberikan Sandi. Ia berjalan menuju panggung mini buat-buatan itu dan menggenjreng gitarnya.


Pada awalnya, Lita tertawa dengan tingkah Darka yang ia pikir konyol, tapi sesaat setelah pemuda itu mulai masuk ke dalam harmoni lagu, Lita mengatupkan bibirnya dan mendengarkan.


“I wish I coul stand on a star


I wish I could be where you are


They say “don’t you ever give up”


It’s so hard to be somethin’ when you’re not.”


Darka kembali pada memori lima tahun yang lalu. Dimana pemuda itu hanya seorang murid SMA biasa yang selalu dituntut dan hidup di bawah tekanan Ayahnya. Juga rasa bersalahnya akan Sifa.


Sementara Lita kembali ke masa-masa dimana gadis itu masih ketakutan akan kekuatannya. Juga kehilangan seorang yang selama ini selalu menjadi tumpuan hidupnya.


“But I have walked alone with the stars in the monlit night


I have walked alone


No one by my side


Now I walk with you


With my head held high


In the darkest sky


I feel so alive.”

__ADS_1


Namun semuanya mulai berubah ketika Darka bertemu Lita. Darka seolah menemukan kesempatan untuk merubah segalanya. Juga Lita yang akhirnya dapat mengangkat kepalanya dengan berani. Tak lagi dibawah ketakutan yang sama.


“A drfit a lonely, little cloud


Above ground where I stand so proud


My face glowing loudly through the crowd


As I walk with the beauty of the night


But i have walked alone with the stars in the monlit night


I have walked alone


No one by my side.”


Darka kini mengingat memori ketika ini semua berawal dan ia kehilangan Lita untuk yang pertama kali. Selama satu minggu yang menyakitkan itu, Darka harus terkurung di dalam kamarnya bagai burung di dalam sangkar.


Lita harus berjuang sendirian di sekolah, dengan semua bisikan cemooh, loker yang diisi sampah, dan tangisan yang tidak dapat ia tahan sementara Darka tak bisa berada sisi Lita. Frustasi Darka sempat membuat pemuda itu menghancurkan cermin di kamarnya. Tak ada jam tidur juga makanan yang Darka nikmati.


“Now I walk with you


With my head held high


In the darkest sky


I feel so alive”


Lita menyeka bulir air mata yang tak ia sadari sudah mengalir di wajahnya sejak tadi. Darka membalas tatapan Lita dengan hangat seolah mengatakan padanya agar tak menangis.


Bagi Darka, yang terpenting Lita ada di sini. Mereka berhasil melalui itu semua. Lita bisa siuman dari komanya.


“But I have walk alone with the star in the monlit nigt


I have walk alone


No one by my side


Now I walk with you


With my head held high


In the darkest sky


I feel so alive.”


Ya, Darka kini lebih hidup sejak Lita kembali membuka matanya. Musik berhenti secara perlahan. Darka masih beridiri di atas panggung mini itu sampai tepuk tangan mereda. Namun sorot mata teduhnya tak pernah lepas dari Lita yang tersenyum lembut padanya.


“Untuk Jelita Geanessa dan cahaya yang dia bawa.”


Penutupan itu sontak membuat Sandi, Anwar, dan Putra sontak heboh di pinggir taman dengan mulut penuh daging bakar.


“WOHOO UDAH KAYA MAU NGELAMAR ANAK ORANG!”


“Petrus jakandor kapten!”


“OM INI DARKA JADINYA BOLEH GAK SAMA LITA?”


Lita tertawa hingga kedua matanya menyipit. Ia tak pernah tertawa sebebas itu. Bagi Lita, malam ini Darka bukan lagi gelap yang muram. Darka adalah gelap yang dapat membuat cahaya Lita menjadi lebih terang. Meski cayaha itu sebentar lagi harus redup.


Di sana, Darka menyimpan gitarnya dan berjalan ke arah Lita. Semua orang di sana hanya mampu melihat, terharu akan kekuatan cinta mereka.


Kemudian ketika lima langkah lagi Darka akan benar-benar berdiri di hadapan Lita, Lita tiba-tiba berdiri dari kursi rodanya, memaksa tubuhnya. Darka terkejut melihatnya, namun ia langsung berlari dan memeluk gadis itu dengan erat.


Mata Lita terpejam dalam-dalam, ia juga memeluk erat tubuh itu, mengucapkan sebuah kata dengan sungguh-sungguh. "Makasih, Darka. Makasih. Makasih. Makasih."


Air matanya luruh saat Darka membuat jarak. Ia melihat Darka dengan kesungguhan hatinya, sementara Darka menatap Lita dengan perasaan yang lagi-lagi sakit.


"Lo kenapa nangis? Nggak suka sama suara gue?" tanya Darka sambil menghapus air mata Lita tanpa berpikir panjang.


Kekuatan Lita seolah hilang, ia tak merasa gelap ataupun pusing. Senyumnya mengembang, terharu dan semakin menitikan air mata. "Darka, gue nggak pusing lagi."


Tangan Lita menyentuh tangan Darka yang berada di pipinya, merasakan hangat di sana. "Darka, gue seneng banget."


Darka tertawa harus. Kemudian ia menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Semua orang tahu apa yang akan dilakukan Darka selanjutnya, namun Lita benar-benar terkejut saat Darka perlahan mendekatkan wajahnya.


Senyum Darka mengembang lembut, matanya menatap teduh dan saat Lita menutup matanya, bibir Darka tak berjarak dengan keningnya. Itu terjadi agak lama, menandakan betapa seriusnya Darka pada Lita.


Sampai pada akhirnya, mata Lita terbuka kembali dan ia tersenyum lebar. Darka mengatupkan bibirnya, agak malu melihat Lita yang kini menatapnya dengan dalam.


"Lo--"


Perkataan Darka terpotong karena Lita tiba-tiba memeluk lehernya dengan erat. Gadis itu seolah tak mau pergi dan Darka heran karenanya.


"Jelita, lo segitu senengnya, ya?" tanya Darka, tertawa bahagia.


"Makasih, Darka. Maaf... juga..."


Dunia Darka seolah tak bernyawa lagi saat secepat itu, tubuh Lita ambruk dengan mata terpejam dan bibir sepucat porselen. Semua orang langsung panik, membawa Lita dan menyelamatkannya. Mereka sudah menangis, terisak dan sakit.


Namun yang Darka lakukan hanya diam, dia seolah menjadi patung yang tak bisa bergerak bahkan hanya untuk berkedip.


Ini... mimpi, kan?

__ADS_1


Bagaimana bisa seseorang yang tiba-tiba terbangun dari koma, lalu bangun dan kini tak sadarkan diri lagi?


***


__ADS_2