
Kini semua mobil yang bergiringan tadi memasuki pekarangan rumah Niel. Perjalanan mereka sangat lancar tanpa ada kendala sedikitpun, bahkan saat ini Naya tengah tertidur dengan nyenyaknya dipangkuan Niel.
Ada sedikit kekeraman dikaki Niel, namun ia menahan rasa keram itu agar Istrinya tidak terganggu, bahkan saat diperjalanan Niel lebih memilik perjalanan jauh agar tidak ada lobakan atau jalanan yang seperti naik gunung.
Karena Naya masih asik terlelap, Niel menggendong tubuh Istrinya untuk turun dari mobil itu. Niel membawa masuk Istrinya kedalam. Rumah itu sudah dibarisi oleh para pelayan dan penjaga, menyambut kedatanag Bos dan Istri Bosnya itu
Saat mereka ingin berbicara, Niel langsung menatap mereka semua dengan tajam. Mereka yang mengetahui isyarat itu hanya mengangguk saja. Mereka semua sama sekali tidak berbicara sepatah katapun.
"Apa kamarnya sudah siap?." Tanya Niel pada Nana dengan suara pelan, karena tidak bisa bicara Nana hanya mengangguk kecil
Naya sangat nyenyak, ia sama sekali tidak merasakan pergerakan sedikitpun. Niel menatap wajah damak Istrinya itu dengan tersenyum.
Pintu lift terbuka, Niel segera berjalan menghampiri kamarnya yang baru, kamar itu hanya bersebelahan dengan kamar sebelumnya.
Baru saja Niel meletakkan tubuh Naya diatas ranjang, Naya langsung membuka matanya, tapi anehnya.....
"Terima kasih, Nielku." Menggembungkan pipinya
"Eh, kenapa kau bicara seperti itu?." Tanya Niel terkejut saat Istrinya itu langsung membuka matanya denhan tersenyum
"Yah, kan Nielku tadi menggendong Naya turun." Balas Naya memanyunkan bibirnya
"Berarti......"
"Hhehee, sebenarnya Naya udah terbangun saat udah sampe tadi, tapi Naya gak mau membuka mata." Memutuskan perkataan Niel dengan kikuk
"Kau......"
Langsung menggelitiki Istrinya ditemanu tawa gemes dari mulut Niel, sedangkan Naya tak berhenti tertawa.
"Hhahaaa, Nielku stopp!!... Pe-perut Naya sakit, hhahaa." Pekik Naya cekikikan, seketika gelitikan dari Niel terhenti
__ADS_1
"Dimana sakitnya, sayang? Apa aku harus memanggil, Dokter Pian?." Pertanyaan itu membuat mata Naya membuat sempurna
"Naya gak papa kok, Nielku." Jawab Naya tersenyum dan......
Cup......!
Naya langsung mengecup bibir Niel sekilas, sehingga membuat Niel terkejut dengan tindakan dari Naya yang sangat singkat itu
"Sini." Menunjuk kearah pipi kanan nya
"Gak ah... Sini Nielku aja yang cium, Naya." Menggembungkan pipinya dengan bibir yang manyun
Cupppp, cuppp(mencium kedua pipi tembem Naya)
Cup.....!
Terakhir Niel langsung mengecup bibir Naya dan langsung memainkan nya. Naya hanya terdiam, karena ia tidak tahu bagaiman caranya untuk membalas kecupan dari Niel.
"Kok Nayaku gak membalas sih kecupan dari, Niel." Lirih Niel
"Emmmm, Naya gak tau, Nielku." Balas Naya dengan polosnya "Apa Naya boleh pinjem laptop milik, Nielku?." Timpal Naya ragu
Cup....!
"Kenapa kau bertanya seperti itu, sayang.... Tubuhku saja milikmu, berarti hartaki juga milikmu." Balas Niel lembut
"Hhehee, manah laptopnya?." Mengangkat satu telapak tangannya dihadapan Niel. Niel langsung membuka laci yang ada disebelah ranjangnya dan mengeluarkan laptop kecil miliknya
"Nih, mau buat apa?." Menyerahkan kepada Naya
"Hem... Naya pengen nonton drama sedih aja, Nielku." Balas Naya lembut "Nielku pasti belum pernah liat, iyakan?." Timpal Naya bertanya
__ADS_1
"I-iya, Nayaku." Balas Niel gelagapan, karena ia tidak tahu drama apa yang dimaksud oleh Istrinya itu
"Ambilin Naya tisu dulu ya, Nielku." Pinta Naya, tak lupa dengan wajah yang sengaja dibuat-buatnya
Tanpa menjawab, Niel kembali membuka laci kecilnya dan mengambil satu gulungan tisu wangi
"Makasih, sayang."
Cup.....!
Mencium pipi Niel sekilas. Naya mulai mengotak-atik laptop milik Niel
Niel yang terkejut melihat situs yang dicari Naya dan dianggap oleh Naya drama sedih adalah.......
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1