
Dorrr!!!!
Satu tembakan meleset diatas kepala Anak buah Niel, bukan Niel yang menembak, tapi seseorang yang ternyata sadari tadi memperhatikan mereka.
Niel yang tadi hendak menembak langsung terkejut. Semua penjaga langsung berlarian untuk menangkap orang misterius itu.
Sedangkan Niel tidak kemana-mana, ia mengerti bahwa ini adalah siasat dari musuhnya agar bisa mencelakai Istrinya itu lagi.
Kalau Niel lengah sedikit saja, mungkin Istrinya akan jadi korbannya lagi.
Niel kembali menatap Istrinya dari kaca kecil itu, menatap sendunya Istrinya, karena tidak sabar lagi untuk menemui Istrinya itu, Niel langsung nekat masuk kedalam ruangan Istrinya.
"Sa-sayang." Menciumi wajah Naya dengan lembut. Niel tak henti-hentinya menggenggam tangan Istrinya itu dan menciumnya.
"Kau cepatlah sembuh, Nielmu ini sangat merindukan mu." Bisik Niel
Sedangkan diluar rumah sakit, saat ini Anak buah Niel kehilangan jejak dari orang misterius itu, mereka sudah mencari kemana-mana, namun mereka tidak menemukan orang itu lagi.
Dengan langkah seribu takut mereka semua kembali untuk menemui Bosnya, mereka sudah sangat ketakutan kalau Bosnya nanti akan marah kepada mereka semua.
Mereka menunggu diluar pintu VIP, semuanya saMa sekali tidak berani mengetuk pintunya, karena mereka sudah gagal menangkap orang tadi.
Dokter Pian yang memperhatikan mereka semua langsung berjalan menghampiri.
"Kalian kenapa?." Tanya Dokter Pian, karena Dokter Pian mengenal mereka semua, sebab Dokter Pian sering ke markas untuk mengobati mafiso yang sakit.
"Ga-gak ada apa-apa, Dok." Balas salah satu penjaga gelagapan. Mendengar suara gelagapan itu membuat Dokter Pian mengeryitkan dahinya
"Jujur!." Menatap semua penjaga itu dengan tajam
__ADS_1
"Ga......"
Klikkk
Pintu ruangan Naya dibuka oleh Niel, ia langsung menatap semua anak buahnya itu dengan tajam seperti iblis.
"Mana dia?!." Tanya Niel dengan dingin. Mendapat pertanyaan itu membuat mereka semua membeku, tidak ada yang berani menjawab, mulut mereka semua terasa dilem oleh lakban.
"Jawab!." Bentak Niel yang sudah kehabisan sabar karena lama menunggu jawaban dari semua anak buahnya
"A-anu, Tuan....."
"Cepat!." Potong Niel
"Ka-kami ketinggalan jejak." Sambungnya gemetar
"Bodoh!." Lontar Niel kesal
"Kali ini kalian ku maafkan, tapi ingat! Kalau nanti kalian melakukan kesalahan lagi, maka bersiap-siaplah tersiksa!." Ancam Niel dengan tegas dan kembali masuk kedalam
Dokter Pian yang ikut mendengar itu langsung merinding, karena ia tahu kalau ancaman Niel barusan bukanlah main-main.
"Matilah kalian." Sindir Dokter Pian dan segera ikut masuk kedalam ruangan Naya, karena ia ingin memeriksa keadaan Naya sekarang.
Sedangkan diluar, mereka sangat bersyukur karena kali ini selamat dari harimau ganas itu. Karena tak mau membuat kesalahan lagi, salah satu penjaga itu menelpon para mafiso yang berada dimarkas untuk segera menemui mereka dirumah sakit.
Mereka menyuruh beberapa mafiso untuk berjaga disetiap lorong-lorong rumah sakit tersebut.
"Bagaimana keadaan Istriku?." Tanya Niel
__ADS_1
"Kondisinya mulai membaik, tapi dia tetap tidak akan sadar." Balas Dokter Pian yang mulai lirih, ia juga merasa kasihan dengan Naya yang terus saja mengalami musibah.
"Kau akan ikut denganku!." Perkataan dari Niel membuat Dokter Pian heran
"Kemana?." Tanyanya
"Kau akan tau nanti! Yang penting persiapkan semua alat-alat dan obat-obatan untuk Istriku nanti, karena besok akan pindah." Balas Niel. Niel besok ingin membawa Istrinya ke villa yang ada ditengah-tengah hutan, karena villa tersebut sudah selesai dibuat oleh para orang-orang terpecaya.
"Baiklah.... Kalau begitu saya keluar dulu." Pamit Dokter Pandi, Niel hanya menganggukkan pelan kepalanya tanpa menoleh sedikit pun.
"Kau akan baik-baik saja sayang setelah ini." Mengecup kening Istrinya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......