
Naya masih berdiri dengan tatapan tak percaya.
Gadis polos itu melongo, menatap sosok pria yang sangat mirip dengan suaminya.
Sementara sosok pria yang tengah berdiri dihadapan Naya, ia hanya bisa menahan tawa gemasnya.
Pria itu tak lain adalah Niel sendiri, ia baru saja tiba di Villa itu tanpa sepengetahuan orang-orang Villa.
Helikopter yang digunakan Niel untuk pergi ke villa ia hentikan lumayan jauh dari lokasi villa, agar tidak membuat orang-orang curiga.
Niel ingin sekali mencubit pipi istrinya yang tengah terbengong tak percaya akan kehadirannya itu.
"Ish! Menyebalkan sekali. Naya melihat Niel dimana-mana..." Ucap Naya, ia mendengus kesal dan langsung pergi menuju kamar mandi.
Niel yang mendengar ucapan istrinya itu tak bisa menahan tawanya lagi, iapun tertawa lepas.
Bulu kudup Naya merinding saat mendengar suata ketawa seorang pria.
Naya yang belum masuk kedalam kamar mandi, ia kembali menoleh kebelakang dengan rasa takutnya.
Naya memejamkan matanya, ia masih tak berani melihat langsung penampakan itu.
Pelan-pelan Naya membuka matanya, dan betapa terkejutnya Naya saat melihat Niel yang berada dihadapannya.
"Eh copot." Kejut Naya, ia melebarkan matanya begitu lebar, namun tak membuat bola matanya keluar.
"Gadis kecilku." Ucap Niel lembut, ia menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Naya.
Naya seperti orang linglung, ia masih menatap Niel dengan bingung.
"Dimana-mana selalu ada bayangan, Nielku. Akh!! Naya sangat merindukan, Niel." Ucap Naya lagi.
Karna masih tak mempercayainya, Naya memegang kedua pipi Niel dengan berjingkit, karna tubuh Niel cukup tinggi.
"Ini benaran." Sorak Naya gembira.
Naya meraup wajah Niel dengan kasar, sementara Niel yang wajahnya diraup oleh sang istrinya hanya bisa menghela napas pasrahnya.
"Yey." Tanpa ragu-ragu lagi, Naya langsung loncat untuk memeluk suaminya itu.
Untunglah Niel sangat sigap, ia langsung menangkap tubuh istrinya itu.
"Ini Nielkukan?, suaminya Nayakan?" Tanya Naya dengan polos serta cerewetnya.
"Iya, sayangku. Ini suaminya Naya..." Balas Niel lembut.
"Naya merindukan, Niel..." Lirih Naya.
Naya meletakkan dagunya dibahu Niel yang bidang itu, ia menghela napas.
"Nielmu ini juga merindukan, Nayanya..." Balas Niel lembut.
Niel membawa istrinya agar duduk diatas tempat tidur, ia meletakkan istrinya dengan hati-hati.
"Dari mana?" Tanya Naya, ia menatap Niel dengan tajam.
Gadis yang tadinya polos kini berubah menjadi sangat arogan.
Bahkan tak disangka, Naya langsung menjewer kuping Niel, namun tidak kuat.
"Aw-aw..." Ringis Niel yang berpura-pura sakit.
__ADS_1
"Ah, maafkan Naya, Nielku..." Seru Naya.
Gadis itu langsung melepaskan jewerannya, tentu saja gadis polos itu ingin memberi suaminya pelajaran karna sudah membuatnya kesepian.
"Kamu tidak salah, sayang. Yang salah akulah, karna tidak ada waktu menemanimu..." Ucap Niel lembut.
Niel memegang kedua tangan Naya dan menciumnya bergantian.
Naya tersipu malu, wajahnya tiba-tiba memerah seperti tomat.
Jantung Naya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, keringat panas dingin sudah siap untuk keluar dari tubuh Naya.
"Apa kau baik-baik saja, sayang?" Tanya Niel cemas, saat melihat wajah Naya yang memerah serta keringat didahi Naya yang sangat nampak basah.
Naya bergeleng kepala dengan gelagapan, ia seolah-olah tak bisa berfikir harus berbicara apa lagi.
"Nielku, apa Naya boleh bertanya?" Tanya Naya manja, ia memanyunkan mulutnya.
"Iya, Naya mau tanya apa?" Tanya balik Niel.
"Siapa itu Eric?" Naya mengucapkan itu dengan perasaan ragu serta takut.
Namun, tidak dengan Niel.
Niel begitu terkejut saat istrinya bertanya masalah Eric.
Padahal, istrinya tidak pernah diberitahu oleh anak buah Niel serta Niel sendiri masalah tentang Eric.
Tapi, Naya sekarang malah bertanya siapa itu Eric.
Niel menatap istrinya itu dengan penuh selidik, agar Naya mengerti dan menjelaskannya.
Niel menghela napas, untunglah Naya hanya mengetahui nama Eric saja untuk saat ini.
Setelah ini, sudah dipastikan Niel akan memarahi para penjaga yang sudah berbicara sembarangan masalah Eric didekat istrinya.
"Tidak usah difikirkan, sayang. Itu tidak penting bagimu..." Ucap Niel lembut.
Tentu saja hal itu bukanlah urusan Naya.
Naya yang masih penasaran siapa itu Eric, ia berniat ingin bertanta kepada yang lain.
Sebenarnya, Naya tidak mendapatkan kabar masalah Eric dari anak buah Dafa.
Namun, Naya selalu saja mimpi bertemu seorang pria, dan pria itu bernams Eric.
Kini keduanya memilih untuk kembali keluar dari kamar, karna Naya ingin bermain dengan suaminya itu.
Niel yang hanya sebentar saja berada di villa itu, ia tak bisa menolak permintaan dari istrinya.
Naya begitu senang, ia menggandeng tangan Niel seraya menuruni anak tangga.
Kedatangan Niel yang baru saja turun dari tanggan, membuat orang-orang villa itu terkejut tak percaya.
"Selamat datang, tuan." Ucap seorang pria tegap seraya membungkuk.
"Hm." Balas Niel yang hanya berdehem singkat.
Kini semua orang sudah kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
__ADS_1
Naya mengajak suaminya itu untuk menonton video drakor yang ada diponselnya.
Ditemani beberapa camilan serta minuman segar.
Niel yang tak menyukai drakor tersebut, ia hanya bisa pasrah demi istrinya.
"Nielku dari mana, sih? Kok baru pulang?" Tanya Naya dengan cemberut, sembari memasukkan camilan kedalam mulutnya.
"Hhehee, aku lagi kerja, sayang. Banyak urusan kantor yang harus Niel urus, dan Niel juga sering pergi keluar negri..." Jelas Niel lembut.
Tapi, tentu saja itu adalah kebohongan Niel demi menutupi semua hal tentang Eric.
Naya yang tak ingin bertanya apa-apa lagi, ia memilih untuk mengangguk.
Mereka berdua duduk diatas sopa panjang ruang tengah.
Orang-orang yang melihat Naya begitu bahagia atas kehadiran Niel, mereka menjadi ikut senang.
Namun, mereka juga sangat sedih karna akan melihat keduanya berpisah lagi.
"Nielku, cium..." Pinta Naya cengengesan, ia memanyunkan bibirnya.
Niel yang mendengar permintaan istrinya itu langsung terkekeh.
Tanpa dimintapun, Niel akan mencium istrinya itu.
Bahkan, Niel bisa saja mengambil haknya yang sampai sekarang belum ia lakukan.
Untuk sekarang, tentu saja Niel tidak bisa melakukannya.
Karna, Niel tak ingin membuat istrinya hamil dikeadaan genting seperti ini.
Cup! Cup! Cup!
Niel mencium kedua pipi tembem Naya serta kening Naya dengan lembut.
Naya menjadi malu, saat menyadari permintaannya yang salah tempat.
Tentu saja Naya menjadi malu, karna banyaknya orang yang melihat saat mereka berciuman.
"Tidak usah malu, sayang..." Ucap Niek terkekeh.
"Ish enggaklah, Nielku...." Balas Naya yang mencoba mengelak sindiran dari suaminya.
"Massa?" Tanya Niel menggoda.
Perasaan Naya menjadi gugup, karna ditatap oleh suaminya dengan sangat menusuk.
"Naya ngantuk..." Ucap Naya, sembari menguap dan menutup mulutnya.
Padahal, itu adalah alasan Naya agar ia bisa mengalihkan pembicaraanya dengan suaminya itu.
Sebab, Naya tak bisa berbuat apa-apa jika sudah digoda oleh suaminya.
.
.
.
Ig:@anahmsr♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1