
Kini mereka semua sudah berada diatas balkon rumah sakit. Satu helikopter sudah ada dihadapan mata mereka semua.
Sebelum berpisah dengan istrinya, Niel terus saja mencium wajah istrinya itu.
Tekatnya yang ingin mencari keberadaan Elin sudah bulat.
Itulah satu-satunya jalan yang akan membuat hidupnya dan istrinya normal.
Niel tak ingin jika Eric akan menyakiti istrinya nanti, maka dari itu Niel ingin menyembunyikan istrinya selama ia mencari Elin.
Sebenarnya Niel tak yakin ia akan menemukan Elin dalam waktu satu bulan, sebab ia tak tau bagaimana wajah Elin sekarang.
Bahkan ia tak tau, Elin masih hidup atau tidak.
Mengingat waktu itu usia Elin yang masih anak-anak pada dasarnya yang tidak terlalu tahu dunia luar.
Para mafiso yang melihat kecintaan bosnya kepada sang istri ikut terharu.
Belum lama keduanya menikah, masalah sudah berdatangan menguji hubungan keduanya.
Batu kerikil tajam terus saja berhamburan didepan, membuat hubungan keduanya penuh perjuangan.
Dirasa sudah cukup lama ia menciumi dan memeluk istrinya, Nielmu melepaskan ciuman dan pelukan itu.
Niel menggendong tubuh istrinya yang masih koma itu. Berjalan perlahan naik keatas helikopter.
Setelah sudah berada didalam, Niel segera meletakkan tubuh istrinya itu di atas brangkar empuk yang sudah disediakan.
Niel lagi-lagi mencium istrinya itu, seraya berkata....
"Kita akan bertemu secepatnya, sayang...." Lirih Niel.
Iapun segera turun dari helikopter dan menghampiri Dokter Pian.
"Jagalah istriku, jika ada sesuatu terjadi padanya hubungi aku lewat telpon yang sudah disediakan." Ucap Niel tegas.
Dokter Pian mengangguk paham. Keduanya saling berpelukan.
"Aku akan menjaganya seperti adik perempuan ku sendiri." Ucap Dokter Pian menepuk punggung Niel.
Dokter Pian pun segera berpamitan kepada yang lainnya seraya melambaykan tangan kanannya.
Ada 10 orang berpakaian hitam didalam helikopter itu. Mereka semua masing-masing memegang senapan untuk berjaga-jaga.
Helikopter itu sudah memutarkan baling-balingnya, perlahan naik keatas.
Helikopter itu sudah berada diatas, Niel yang berada dibawah masih setia berpikir dengan keras.
"Semoga kau baik-baik saja disana dan tidak merindukanku..." Lirih Niel seraya melihat layar ponselnya yang ternyata walfafer ponsel Niel adalah foto Naya.
Mereka semua segera bubar dari atas balkon rumah sakit.
Tujuan utama Niel adalah bertemu Eric, ia berniat ingin meminta tes DNA Eric agar lebih memudahkan dirinya mencari Elin.
Tes DNA itu sangat kecil kemungkinan untuk menemukan Elin, namun Niel tak akan menyerah.
Niel berjalan dengan tatapan dinginnya, membuat siapa saja yang melihat akan merinding ketakutan.
Tak lupa ada 4 orang yang mengawal Niel didepan dan dibelakang.
Mereka berempat sama-sama berwajah sangar, dengan perawakan yang tinggi dan besar.
__ADS_1
Tak lupa juga, mereka memakai kaca mata hitam serta Tws yang saling terhubung satu sama lain.
Niel langsung masuk kedalam mobilnya sendirian tanpa ada pengawal, karna ia akan menemui Eric sendirian dimarkasnya.
Bukan pertama kali ini saja Niel sendirian jika pergi ke markas Eric, namun sudah berkali-kali.
Semua anak buah Eric tak ada yang berani menyentuh Niel, karna itu adalah perintah dari Eric.
Sebab, Eric tak suka jika musuh bebuyutannya itu dilukai oleh anak buahnya. Eric hanya menginginkan Niel terluka dari tangannya sendiri.
Niel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karna ia tak ingin membuang-buang waktu.
------------
Sementara disuatu tempat, atau bisa disebut hutan.
Sebuah helikopter baru saja mendarat ditanah lapang. Ada banyak orang yang sudah menunggu helikopter itu tiba.
Helikopter itu tak lain adalah helikopter milik Niel sendiri yang beberapa waktu lalu membawa istrinya untuk pergi ke tengah-tengah hutan.
Saat ini, ada dua Villa yang jaraknya berdekatan.
Tidak semua pria yang berada di Villa itu, namun ada juga sebagian wanita yang diutus Niel untuk menemani istrinya.
Villa itu terletak dititik tengah-tengah hutan, bahkan tidak ada jalan untuk menuju keluar hutan.
Pohon-pohon yang tinggi dan lebat melindungi villa tersebut. Udara yang segar pasti akan membuat istrinya lebih tenang.
Semua sudah dipersiapkan oleh Niel dengan sempurna.
Bahkan dibawah tanah ada ruangan atau bisa disebut kamar untuk berjaga-jaga, bisa saja nanti musuh bebutuyan Niel mengetahuinya.
Karna cepat atau lambat pasti keberadaan Villa ini akan diketahui oleh orang-orang.
Sepuluh orang yang sadari tadi mengawal mendorong brangkar Naya. Tanah yang sudah di ratakan dengan aspal membuat mereka bisa leluasan mendorongnya.
Naya dibawa masuk kedalam villa itu. Villa bernuasan kayu yang dilapis oleh tirai berwarna putih, serta perabotan yang lengkap.
Nuasan villa tersebut sama dengan villa yang satunya.
Bahkan stok makanan di villa itu sudsh lengkap untuk satu bulan lebih.
Saking lengkapnya keamanan, Niel sudah menyediakan telpon khsusu untuk menelponnya agar tidak bisa dilacak oleh mereka lewat ponsel Niel.
Sekuat-kuatnya Niel menggunakan keamanan pada ponselnya, pasti ada hackher handal yang mampu menembus keamanan ponselnya itu.
Naya dibawa keruangan khusus perawatan serta kamar untuk Naya nantinya.
Kamar Naya bernuasanya pink dan putih yang memiliki stiker hello kitty, semua peralatan make up lengkap dan baju yang tertata rapi dilemari.
Tubuh Naya diangkat dan diletakkan diatas ranjang yang empuk.
Sebelum keluar kamar Naya, Dokter Pian memeriksa keadaan Naya terlebih dulu.
"Adik yang malang..." Ucap Dokter Pian seraya menghela napasnya lirih.
Karna sudah selesai memeriksa Naya, Dokter Pian pun langsung keluar dari kamar.
Diluar, mereka dikumpulkan oleh tangan kanan Niel yang bernama Alya.
Alya adalah seorang wanita berumur 24 tahun, berparas cantik dan anggun.
__ADS_1
Para pria tidak ada yang berani merayu atau mendekati wanita itu, karna itu sama saja mengantarkan nyawanya sendiri kepada malaikat pencabut nyawa.
Alya adalah seorang agen pembunuh bayaran sekaligus tangan kanan Niel. Masa lalunya yang sangat tragis, membuatnya menginginkan menjadi pembunuh tersadis.
Berkat Niel, Alya bisa membalaskan dendamnya kepada sebuah agen mafia yang cukup kuat.
Seluruh keluarganya dibantai habis oleh para mafia itu, dan hanya Alya yang selamat.
Usia Alya waktu pembantaian saat itu adalah 13 tahun, namun ia sudah sangat cerdik dan berhasil lolos dari pengejaran kelompok mafia tersebut.
Alya adalah sosok wanita yang dingin dan cuek, ia tidak suka bergaul seperti layaknya wanita lain seumurannya.
Ia hanya sibuk dengan tugas-tugasnya yang diberikan Niel.
Kali ini tugas yang Niel berikan kepadanya adalah menjaga dan menemani Naya, maka dari itu ia juga ikut berada di villa tersebut.
Semua orang sudah berkumpul diluar villa. Mereka berdiri dengan tegap dan rapi.
"Kalian taukan, kalau bos menyuruh kita untuk menjaga istrinya?."
"Ya, kami tau!" Sahut mereka serempak.
Bukan pria saja yang berkumpul, tapi para wanita juga ikut berkumpul. Bahkan Dokter Pian juga ikut berdiri dibarisan paling depan.
"Bagus!" Tukasnya, "Meskipun villa ini berada ditengah hutan, kalian harus tetap waspada! Jangan lengah sedikitpun." Tegas Alya.
"Ya, kami paham!" Sahut mereka lagi.
"Jika kalian lalay, maka bersiaplah untuk mati."
Dorr!
Alya langsung menembak kesembarang arah, namun sasarannya tepat mengenai seekor burung yang tak sengaja lalu.
Mereka yang melihatnya langsung terperengah. Kagum serta ngeri tercampur didalam pikiran mereka semua.
Dokter Pian yang melihat langsung bakat yang Alya miliki merasa sangat kagum. Baru kali ini ia melihat langsung sosok Alya yang begitu tegas dan dingin.
Meskipun Dokter Pian sering berkunjung di markas Niel, tapi ia tak pernah bertemu dengan Alya, sebab Alya selalu ditugaskan Niel diberbagai tempat.
"Saya akan mengawasi kalian semua! Jadi kalian semua jangan bertindak bodoh!. Apa kalian paham?!!" Alya mengucapkan kalimat itu dengan lantang serta ancaman.
"Kami semua paham!" Jawab mereka.
"Bagus! Silahkan bubar dan kerjakan tugas kalian masing-masing!" Titah Alya.
Alya langsung meninggalkan mereka semua. Ia berjalan menuju ruang bawah tanah tempat dirinya untuk melakukan pengawasan.
Hanya Alya yang tau akan tempat ruang bawah tanah tersebut, karna Alya adalah orang kepercayaan Niel.
Jalur menuju ruang bawah tanah adalah dari kamar Naya sendiri, karna tidak akan ada orang lain yang berani keluar masuk dari kamar Naya kecuali, dirinya dan Dokter Pian.
Ig:@anahmsr
.
.
.
.
__ADS_1
.