
Hari tak terasa sudah semakin siang, pasangan suami-istri itu baru saja terbangun.
Naya menatap suaminya dengan sangat dalam, sama seperti Niel yang juga menatap balik istrinya.
"Selamat siang nyonya muda..." Sapa Niel lembut, seraya menyentil hidung mungil Naya.
"Hihihiii, selamat siang kembali tuan muda..." Sahut Naya cengengesan.
"Apa tidur nyonya muda malam tadi sangat nyenyak?" Tanya Niel lagi.
Naya hanya mengangguk senang, ia menoleh kearah jam yang berada diatas laci.
Sontak Naya sangat terkejut melihat arah jarum jam yang menunjukkm sudah pukul 10 siang.
"Nn-nielku, cepatlah mandi. Naya akan menyiapkan pakaian untuk, Niel..." Perintah Naya gugup, apalagi ini untuk pertama kalinya Naya bangun kesiangan.
Niel terkekeh, ia tau kenapa istrinya begitu.
"Baiklah, nyonya muda." Niel mencium kening Naya lembut, ia segera beranjak pergi kekamar mandi.
Sementara Naya, wajahnya memerah. Jantungnya berdegub dengan cepat, namun tidak dengan perasaannya.
Perasaan Naya sangat tidak enak, keringat dingin perlahan keluar dari dahi Naya.
"Ada apa ini?" Gumam Naya kebingungan, sekaligus takut.
Saat suara air yang berjatuhan dari dalam kamar mandi, Naya baru tersadar.
Gadis polos itu menepis pikirannya yang tidak enak, ia segera menyiapkan pakaian untuk suaminya.
----------
Dimarkas Eric, beberapa anak buah Eric sudah menyiapkan perlengkapan yang akan di butuhkan nanti.
Dua anak buah Eric sudah dikirimkan untuk mengawasi tempat keberadaan Naya.
__ADS_1
Eric pun sudah mengetahui kalau Niel saat ini sedang berada di villa itu.
Tentu saja Niel tidak akan menculik Naya sekarang, ia harus menunggu Niel kembali ke kota.
Waktu yang lumayan lama untuk pulang ke kota akan dimanfaatkan oleh Eric.
Bahkan Eric sudah memastikan, kalau Niel tidak akan kembali pada waktu siang, tetapi malam hari.
Pada saat malam hari itulah yang membuat Eric merasa senang, karna akan memudahkan rencananya untuk menculik Naya.
"Jangan lupa siapkan bom asap, dan buat mereka semua tertidur agar tidak ada yang menghalangi nantinya!" Perintah Eric tegas.
Bagaimanapun, Eric masih belum mengetahui wajah Naya yang sebenarnya, pria itu hanya mengetahui nama saja.
Pria itu akan menyesali apa yang ia perbuat nanti kepada Naya.
Gadis yang sangat polos menjadi incaran seorang mafia, tentu saj itu sangat menyeramkan.
Setelah Eric berhasil menculik Naya, ia berencana ingin membawa Naya ketempat yang sulit ditemukan oleh Niel.
Karna cepat atau lambat Niel pasti akan menemukan keberadaannya.
Dan masalah Niel yang melakukan pencarian tentang anak yang berumur 18 tahun, sudah dihentikan.
Karna semua anak buah Niel sudah memeriksa semuanya, namun tidak menemukan apa-apa.
Tetapi, semua orang melewatkan satu anak gadis yang polos itu.
Naya, hanya gadis polos itu yang belum dilakukan tes DNA.
"Kau lihat saja nanti, Tuan Niel. Istri kesayangan mu itu akan menderita dan lenyap ditanganku, hahahaaa...!" Tawa jahat Eric menggelegar didalam ruangan itu.
Para anak buah Eric dibuat merinding mendengarnya, karna pria itu akan benar-benar menuntaskan semua dendamnya kepada Naya.
Jika Naya ia lenyapkan, maka Niel juga akan lenyap dengan sendirinya.
__ADS_1
Itulah yang dipikirkan oleh Eric.
"Adikku, sebentar lagi pria itu akan kehilangan orang tersayangnya, sama sepertiku yang kehilangan adik tersayangku." Ucap Eric, ia menangis namun disertai dengan tawa jahatnya.
------
Naya dan Niel baru saja selesai makan siang, selepas makan siang selesai Naya mengajak Niel untuk pergi jalan-jalan didekat villa.
Naya menggandeng tangan Niel dengan sangat erat. Niel yang melihat istrinya begitu senang merasa tidak tega.
Niel belum memberitahu istrinya, kalau ia akan kembali nanti malam.
Karna jika Niel memberitahukan hal itu, maka sudah bisa ditebak kalau Naya tidak akan mengizinkannya untuk kembali.
Apalagi Niel yang tidak bisa menyia-nyiakan waktunya untuk mencari adik Eric.
Nielpun berniat akan mengambil beberapa helai rambut istrinya itu, meskipun Niel tidak yakin kalau istrinya adalah adik Eric.
Karna kedua orang tua Naya mengaku kalau Naya adalah putri kandungnya, bahkan Niel sudah mengancam mereka.
Namun, mereka berdua tetap tidak mau mengakui.
"Apa yang Nielku pikirkan?" Tanya Naya bingung, ia menatap suaminya dengan alis yang terangkat sebelah
"Ah, tidak ada sayang..." Jawab Niel gelagapan.
"Benarkah?" Mata gadis itu menyipit, menatap suaminya dengan penuh selidik.
"Iya, sayang." Setelah menjawab pertanyaan dari istrinya, Niel langsung saja menggendongnya.
"A-apa yang Nielku lakukan?" Tanya Naya gugup.
"Tentu saja Nielmu ini akan melemparnya kelangit." Sahut Niel bercanda, diiringi tawanya yang begitu bahagia.
Sementara Naya, ia begitu gugup sampai-sampai ia menggenggam erat baju Niel.
__ADS_1
"Hahhaa, tenanglah sayang... Aku hanya bercanda."