
Hari kini sudah mulai sore, rencana sebentar lagi akan dijalankan. Kesedihan yang mendalam akan dirasakan oleh mereka semua, terutama pria itu.
Saat ini Niel baru saja selesai membuat kue blackforest spesial untuk istrinya. Bahkan ia yang membuatnya belum menyicipi sama sekali kue itu, karna Niel hanya ingin istrinyalah yang terlebih dulu menyicipinya.
Karna kue sudah selesai dibuat, Niel segera membangunkan istrinya dikamar atas.
Pintu kamar terbuka, dan menampakkan sosok gadis polos yang tengah tertidur dengan lelapnya.
Wajah damai dari Naya membuat hati Niel bergetar, iapun mendekati istrinya.
"Kau sangat cantik sayang..." Niel membelay pipi Naya dengan lembut, ia duduk disebelah tubuh Naya.
Karna merasa geli, Naya pun mengeliat dan membuka matanya perlahan.
"Nielku." Sarkas Naya dengan suara seraknya, ia mengucek-ngucek matanya namun masih enggan untuk duduk.
"Nielku mau tidur?" Naya tersenyum kearah suaminya, tangan Naya mengusap pipi Niel dan mencubitnya.
"Aww..." Rengek Niel berbohong, ia berpura-pura kesakitan.
"Ni-nielku kenapa?" Sontak membuat Naya langsung duduk, ia memandang wajah suaminya lembut.
"Naya mau kue nggak?"
Naya berfikir sejenak, kemudian ia membelay perutnya yang rata. Naya menelan ludahnya, mengingat adegan-adegan di film yang ia lihat.
Adegan itu berputar-putar didalam pikirannya, ia bergedik geli.
"Nielku." Naya memanggil dengan bibirnya yang manyun, ia cemberut.
"Iya, sayang. Naya mau makan kue?" Niel menepuk-nepuk pucuk kepala istrinya dengan pelan.
Naya bergeleng, ia memainkan dua jari telunjuknya. Ragu, itulah yang Naya pikirkan.
Dede bayi." Naya bergumam dalam hatinya pelan.
"Naya pengen dicium." Naya merengek layaknya bayi yang ingin minta disusui, wajahnya begitu cemberut.
__ADS_1
Sedangkan Niel yang mendengarnya, ia terkekeh geli. Melihat kelakuan istrinya itu, ia ingin sekali memakan habis istrinya saat ini.
"Baiklah-baiklah, sayang. Niel akan menciummu..." Niel mencium kening Naya lembut.
Tapi, Naya tiba-tiba mendengus kesal. Hal itu tentu saja membuat Niel bingung, ia tidak mengerti kenapa istrinya tiba-tiba kesal kepadanya.
Bahkan Naya menusuk paha Niel dengan dua jari telunjuknya, ia merasa greget dengan suaminya.
"Hey-hey, sayang. Ada apa denganmu, kau mau apa biar Niel turutin." Bujuk Niel, ia menganggkat wajah istrinya agar menatap kedua matanya.
"Naya mau mandi Nielku, tunggu ya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Naya segera beranjak turun dari tempat tidur dan berlari menuju arah kamar mandi.
Niel bergeleng kepala, ia menghela napasnya. Bukannya Niel lelah dengan sifat polos dari Naya, namun ia lelah karna harus menahan dirinya agar tidak memakan istrinya itu.
Jika tidak karna keadaan, mungkin saja Niel akan memakan istrinya itu agar istrinya bisa sepenuhnya milik dirinya.
Nielpun akhirnya beranjak berdiri, ia membuka pintu kamarnya berniat ingin menyuruh seseorang untuk mengambilkan kue buatannya.
"Kemari." Panggil Niel.
"Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya setelah membungkukkan badannya.
Pria yang disuruh Niel mengangguk dan segera mengundurkan diri untuk pergi ke ruang dapur.
Niel kembali menutup pintu kamarnya, ia berjalan kearah sopa empuk yang berada disudut kamar.
Suara percikan air masih terdengar sampai keluar, Niel mengambil ponselnya yang ada didalam saku celana.
Tak selang lama, pria yang Niel suruh untuk mengambilkan kue tadi kini sudah kembali, ia mengetuk pintu beberapa kali.
Mendengar suara ketukan pintu membuat Niel menoleh kearah pintu kamarnya, dan menoleh kearah pintu kamar mandi juga yang masih enggan menampakkan wujud istrinya.
Niel beranjak untuk mengambil kue itu dan kembali kedalam, ia menaruh diatas meja kecil yang ada didepan ranjang.
Suara percikan air didalam kamar mandi sudah berhenti, pintu perlahan terbuka.
Niel menatap pintu kamar mandi yang baru saja terbuka, menampakkan istrinya yang baru selesai mandi.
__ADS_1
Rambut Naya tergerai basah, ia masih mengenakan handuk selutut ditubuhnya.
Naya mencengir kuda melihat kearah suaminya, ia tau kalau dirinya begitu lama didalam kamar mandi.
"Yank." Rengek Naya, ia masih berada didepan pintu kamar mandi tanpa bergerak untuk menghampiri suaminya.
Niel tersenyum, ini untuk pertama kalinya istrinya itu memanggil dirinya dengan sebutan seperti itu.
"Iya, sayang. Kemarilah, jangan berdiri disana..." Ujar Niel dengan melambaikan tangannya.
Naya bergeleng kepala, ia cemberut dan memanyunkan bibirnya.
"Gendong, kaki Naya keram." Naya menundukkan kepalanya, alasannya ini sungguh tidak masuk akal.
Benar saja, gadis polos itu hanya berpura-pura dengan beralasan yang sulit dipercaya.
Namun, alasan itu berhasil membuat Niel khawatir dan repleks ia langsung menghampiri istrinya.
"Kenapa baru bilang, sayang..." Niel menggendong istrinya menuju sopa panjang yang sebelumnya ia duduki.
Mendudukkan bokong istrinya dengan pelan-pelan.
Karna Naya baru saja selesai mandi, dan rambutnya yang masih basah hal itu membuat baju Niel ikut basah.
"Baju Niel." Naya menunjuk baju suaminya yang basah akibat dirinya.
"Tidak apa-apa, sayang. Niel akan mengeringkan rambut Naya dulu." Niel mengambil handuk kecil miliknya dan segera mengeringkan rambut Naya.
"Yank, sinih..." Panggil Naya lembut, Nielpun berjongkok didepan istrinya.
Cup!
Tanpa diduga, Naya mencium bibir Niel lembut. Kelakuan Naya barusan membuat Niel terkejut, karna istrinya yang tiba-tiba mencium bibirnya.
Kedua bibir itu masih menempel satu sama lain, wajah Naya memerah ia memejamkan matanya.
Hembusan napas keduanya terada dikulit wajah masing-masing.
__ADS_1
Perlahan Niel mengangkat kedua tangannya, ia mengalungkan tangannya dileher istrinya.
Menekan tengkuk istrinya agar memperdalam ciumannya.