
Mobil yang ditumpangi Niel dan Naya baru saja terparkir didepan Mall besar itu. Naya yang tadi ceria langsung cemberut saat melirik dari dalam kaca mobil.
Naya melirik kesana-kemari mencari orang-orang yang biasa rame kini tidak ada satupun orang disekitar Mall itu.
"Kok Mallnya sepi, Nielku." Menoleh kearah suaminya dengan wajah masam
"Mungkin libur mereka, sayang." Balas Niel lembut
"Yah, terus Naya gak bisa main donk." Memunyungkan bibirnya
Cup....!
Niel lagi-lagi mengecup bibir Istrinya itu dengan secepat kilat, ia sama sekali tidak memikirkan sang sopir yang berada didepan.
Naya yang mendapatkan ciuman itu sangat kaget, karena ia masih belum siap.
"Naya main dirumah teman Niel aja, ya." Bujuk Niel dan diangguki kecil oleh Naya
"Jalan!." Perintah Niel
Mobil itu kembali menghidupkan mesinnya dan segera keluar dari tempat parkiran Mall. Naya sadari tadi hanya cemberut sambil menopang kepalanya dibahu Niel
Sedangkan Niel tengah memejamkan matanya sambil memikirkan sesuatu
Elinn, kau kemana?." Batin Niel
Karena parjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh, Naya akhirnya tertidur, sama seperti Niel yang juga ikut tertidur.
10 menit kemudian, mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan mansion yang sangat besar.
Banyak sekali para penjaga yang berdiri disetiap halaman mansion itu dengan wajah dingin dan tubuh kekar.
Semua penjaga itu memakai baju hitam yang sangat ketat dan rapi. Niel segera membawa Istrinya untuk keluar dari mobil itu
__ADS_1
"Mereka semua, apa yang mereka lakukan, Nielku?" Tanya Naya melirik mereka satu persatu.
" Dia hanya berjaga, sayang." Menggusuk lembut kepala Naya
Semua yang melihat Bosnya dan datang langsung membungkukkan badannya bersamaam yang lainnya dengan serempak.
Bahkan Naya yang melihatnya langsung tercengang, namun wajah Naya langsung disentil oleh Niel.
"TauAh, Niel jahat." Merajuk dan memalingkan wajahnya masam
"Hhahaaaa, kau kenapa?." Ejek Niel
"Tau!." Ketusnya
"Kalau Naya begitu terus kita gak jadi main, nih." Sindir Niel memelas, seketika mata Naya langsung membulat sempurna dan menoleh kearah Niel yang berada disebelahnya
"Ini Naya gak merajuk lagi, Kok.... Cepat! Mana permainan nya." Melirik kesana-kemari dengan kedua matanya
Keduanya berjalan ketaman belakang dimana taman yang sudah dipersiapkan beberapa wahana permainan Anak kecil dan orang dewasa.
Naya yang melihat wahana permainan itu langsung terperengah kagum, ini untuk pertama kali baginya pergi kewahan ini untuk bermain, karena dulunya Naya hanya berjualan saja saat ada sebuah wahana bermain.
"Terima kasih." Langsung memeluk Niel dengan kuat
"Sama-sama, sayang.... Kan ini semua sudah kewajiban Nielmu ini untuk menuruti semua kemauan, Istrinya." Tutur Niel lembut
"Hem.... Naya pengen main itu." Menunjuk kesebuah permainan wahana istana boneka dengan ceria
"Baiklah, sayang." Langsung mengajak Istrinya untuk mendekati wahana bermain itu, namun......
Dor....
Suara tembakan satu kali yang terdengar ditelinga mereka berdua langsung menghengtikan langkahnya.
__ADS_1
Saat Niel menyadari bahwa Istrinya tidak boleh mendengar suara yang seperti itu langsung menoleh kearah Istrinya yang ternyata kini sudah mematung dengan penglihatan yang kosong.
Saat tubuh Naya hendak terjatuh dengan sigap Niel menangkapnya
"Sayang, ka-kau ke-kenapa? Ki-kita akan ke-kerumah sakit." Menggendong Istrinya dengan langkah berlari. Para penjaga yang melihat bosnya kembali seperti itu merasa kebingungan
"Bereskan sialan itu!." Perintah Niel dengan amarah dan langsung membawa Istrinya masuk kedalam. Mobil itu langsung jalan dengan kecepatan tinggi, karena Naya masih tak sadar dari keterkejutan nya.
Niel yang melihat Istrinya seperti itu sangat ketakutan, saat ini seperti bukan, karena biasanya Niel tidak pernah sama sekali ketakutan.
Dan kini Tuhan mengirimkan seseorang untuk Niel yang benar-benar membuatnya ketakutan seperti itu
"Sayang, sayang bangun." Menepuk-nepuk pipi Naya, namun Naya masih tidak merespon apapun
Kini mobil yang ditumpangi Niel dan Naya telah sampai tepat didepan rumah sakit itu. Niel kembali menggendong tubuh Istrinya membawa keluar, ia langsung saja berlari menghampiri brangkar yang sudah disediakan oleh Dokter Pian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Bersambung.......
__ADS_1