
Niel dan Dokter Pian saat ini tengah berbincang diruang pribadi. Mereka membicarakan tentang perpindahan Naya ke villa yang ada ditengah hutan.
Niel benar-benar akan memindahkan Istrinya itu pagi ini. Sebenarnya Dokter Pian tidak mengijinkan keputusan dari Niel, namun ia mengerti betapa bahayanya nyawa Naya saat ini.
Ia tahu kalau banyak musuh Niel yang mengincar nyawa orang-orang tersayang Niel, bahkan Dokter Pian tahu kalau Eric adalah musuh bebuyutan dari Niel
"Kau aku tugaskan satu bulan untuk merawat Istriku di villa itu, nanti akan banyak penjaga kepercayaan ku di villa itu." Ucap Niel
"Lalu? Kau mau kemana?." Tanya Dokter Pian heran
"Aku akan mencari Elin." Ucapan dari Niel membuat mata Dokter Pian membulat tak percaya
"Apa kau serius? Bukannya Elin sudah lama tidak ditemukan? Dan bagaimana kau bisa mengenali wajahnya?." Pertanyaan beruntun dari Dokter Pian membuat Niel berpikir sejenak
"Aku akan meminta tes DNA kepada semua orang." Ucapan dari Niel lagi-lagi membuat Dokter Pian tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Niel
"Apa kau gila?!." Dengan suara meninggi
"Mungkin, apapun akan ku lakukan demi Istriku." Balas Niel dengan tenang
"Sampai kapan?." Tanya Dokter Pian dengan suara yang mulai merendah, bagaimana pun Dokter Pian tidak berhak untuk melarang Niel melakukan hal yang akan membahayakan nyawanya sendiri
"Sampai Istriku sembuh."
"Apa kau yakin?." Selidik Dokter Pian memastikan kembali keputusan dari Niel.
"Hem... Kau persiapkan saja barang-barang yang kau butuhkan." Perintah Niel dan langsung keluar dari ruangan Dokter Pian.
Niel kembali keruangan Istrinya yang tak jauh dari ruangan Dokter Pian.
__ADS_1
Sebelum Istrinya terpisah dengannya Niel ingin memeluk dan menghujani pipi Naya dengan ciuman.
Karena saat Naya dibawa ke villa nanti, Niel tidak akan ikut, bahkan Naya nanti akan dibawa menggunakan Helikopter yang berada diatas atap Rumah sakit itu.
Para penjaga yang melihat kehadiran Bosnya langsung membungkuk
"Apa ada yang aneh?." Tanya Niel
"Tidak ada, Tuan." Mendengar balasan dari Anak buahnya hanya ditanggapi anggukan kecil oleh Niel, iapun segera masuk kedalam.
Niel menatap wajah pucat Istrinya dengan sendu, baru saja Istrinya sembuh kini kembali sakit lagi.
Saat ia tidak memperdulikan kehadiran Istrinya, masalah sama sekali tidak berdatangan, namun sekarang, beribu-ribu tantangan yang akan Niel dan Naya lewati untuk hidup bahagia tanpa masalah.
"Maafkan aku, sayang." Mengecup kening Istrinya "Aku akan merindukan mu." Lirih Niel
Bagaimana tidak, setelah ini mereka berdua akan bertemu kembali setelah melewati satu bulan lamanya, tapi lebih lama lagi kalau para jomblo yang melewatinya.
Seseorang mengetuk pintu dari luar, Nielpun segera beranjak dari tempat duduknya dan meghampiri pintu kecil itu
"Ada apa?". Yang baru saja membuka pintu tersebut
" Semuanya sudah siap, Tuan." Balasnya membungkuk
"Baiklah.... Panggil Dokter Pian kesini!." Perintah Niel dingin
"Baik, Tuan." Langsung mengundurkan langkahnya dan pergi
Niel menatap tubuh Istrinya yang terbaring diatas brangkar rumah sakit, menatap dengan sendu dan air mata yang baru saja lolos dari sudut pelepuk matanya
__ADS_1
"Kita akan bertemu kembali, sayang.... Kau harus sehat disana." Gerutu Niel
Niek benar-benar akan mencari Elin yang sudah lama menghilang, padahal dia sendiri tidak tahu wajah Elin saat ini bagaimana, namun jika menemukan Elin adalah keselamatan bagi Istrinya, Niel rela melakukan hal itu.
Bagaimanapun ini semua adalah kesalahan nya yang sudah membahayakan kehidupan Naya dan Keluarganya.
"Apa sekarang berangkatnya?." Tanya Dokter Pian yang baru tiba
"Hem." Hanya itu saja yang saat ini bisa Niel ucapkan, karena ia tidak kuat jika mengiyakan perkataan dari Dokter Pian dengan mulutnya sendiri.
Para mafiso masuk kedalam ruangan Naya. Brangkar milik Naya langsung digrombongi oleh mereka, itu adalah demi keselamatan Naya.
Musuh mungkin saja sudah ada didalam rumah sakit tersebut, maka dari itu Niel tak tanggung-tanggung menyuruh mereka untuk menggerombongi brangkar Naya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung......