
Niel terdiri kaku menatap tubuh Istrinya dari balik kaca kecil yang ada didepan pintu ruangan ICU, karena dirinya masih dilarang untuk masuk kedalam.
Niel terus saja menyalahkan dirinya karena sudah membuat Istrinya seperti itu.
Ya, Naya dinyatakan kritis oleh pihak dokter, dan dokter menyatakan bahwa Naya tidak akan membuka matanya selama beberapa hari.
"Nay.... Maafkan Nielmu yang bodoh ini!." Lirih Niel
Karena tidak terlalu memperhatikan sekitar, Niel tidak menyadari bahwa ada musuh babuyutan nya yang tengah mengawasinya dari kejauhan.
"Hhahaaa, ternyata wanita itu adalah kelemahan mu, Niel!." Gerutunya tersenyum licik.
Kini Eric sudah tahu apa kelemahan dari Niel, bahkan ia mulai menyusun siasat untuk membuat Niel berlutut kepadanya.
Eric segera pergi, karena beberapa anak buah Niel tiba dirumah sakit itu
"Maaf, Tuan.... Sudah kami bereskan." Ucapnya sambil menunduk takut, karena ia tau bagaimana kalau Niel marah, apalagi kali ini orang yang ia sayang disakiti lagi.
"Apa dia senghaja?!." Masih memandanggi wajah sendu Istrinya itu
"Iya, Tuan.... Dia disuruh oleh musuh bebuyutan, Tuan." Ucapan dari anak buahnya membuat Niel langsung meluapkan amarahnya, tangan yang tadi sambil memusut wajah Istrinya dari kejauhan berganti dengan kepalan, bahkan urat-urat ditangan Niel keluar.
"Siksa sialan itu, tapi jangan sampai dia mati!.... Kalau dia sakit obatilah! Kalau dia sembuh siksa lagi dia!." Perintah Niel dengan aura membunuh.
"Baik, Tuan." Mengiyakan perintah Bosnya "Saya permisi, Tuan... Beberapa mafiso sebentar lagi akan sampai kesini." Sambungnya sambil membungkuk dan segera beranjal pergi meninggalkan Niel
__ADS_1
Kini Niel semakin membenci Eric, karena sudah mencelakai Istrinya.
"Jika sesuatu terjadi kepadamu, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri dan aku akan memenggal kepalanya." Janji Niel kepada Istrinya. Niel sama sekali tidak beralih dari posisinya sadari tadi, ia hanya sibuk berdiri sambil menatap Istrinya.
Niel sama sekali tidak memberitahukan keadaan Naya kepada kedua mertua serakahnya itu, karena itu hanya membuat mubazir saja kalau berbicara kepada dua orang serakah itu.
Niel sudah bisa menebak kalau orang tua Istrinya itu tidak akan memperdulikan keadaan Istrinya.
Benar saja dengan apa yang dipikirkan oleh Niel, bahkan saat ini orang tua Naya tengah liburan keluar negri karena uang yang dulu Niel berikan masih ada.
Dua orang tua Naya terus saja berfoya-foya, mereka sama sekali tidak memikirkan kondisi Anaknya itu.
Sedangkan dimarkas besar, saat ini Erix tengah duduh dikursi kebesaran nya sambil mengetuk-ngetuk meja besar miliknya
"Bagaimanapun, wanita itu akan ku rebut." Gerutu Eric dengan liciknya.
Entah apa yang dipikirkan Eric saat ini, yang terpenting dia akan merebut Naya dari Niel, dan Eric berniat ingin menyiksa Naya sebagai pembalasan atas hilang Adik kandungnya.
"Cepat atau lambat, kau akan berlutut dibawah kakiku, Niel." Menyeringai
Sedangkan Niel saat ini tengah melirik setiap anak buahnya yang tengah berbaria dihadapan nya.
Semua anak buah Niel ketakutan, karena kalau mereka dibuat begitu akan ada tantangan baru bagi mereka semua.
"Pistol!." Pinta Niel. Permintaan dari Niel membuat mereka semua semakin gemetar, karena ini adalah tantangan yang sangat mereka hindari.
__ADS_1
Akibat musibah yang menimpa kepada Istrinya membuat Niel semakin waspada, meskipun anak buahnya yang saat ini tengah ia awasi, karena tidak semua orang bisa dipercaya, bahkan orang yang kita sayang bisa berkhianat demi secuil janji manis.
Salah satu anak buah Niel menyerahkan pistol miliknya kepada Niel, dengan senang hati Niel menerima pistol itu
"Kau!." Menunjuk salah satu anak buahnya "Berdiri disana." Menunjuk kelorong-lorong sepi.
Ia yang saat ini pertama mendapatkan tantangan itu hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1